
Aku tertidur dalam kesedihanku, airmataku pun menjadi saksi bisu keterlelapanku.
Suara petir terdengar menggelegar di tengah deru suara hujan. Hemmmm kulirik jam di dinding pukul 23:00 tepat.
Aku terbangun, suasana malam ini sangat mencekam dinginnya udara serasa menusuk tulang, aku akan mematikan lampu dan kembali tidur.
Dari jendela samar- samar aku melihat seseorang.
Ya tuhan ! alvin belum beranjak dari tempatnya berdiri sore tadi, dia sudah tidak waras.
Ditengah deras hujan masih bisa kulihat pandangannya masih tertuju kesini, aku mondar- mandir di dalam kamar. Aku bingung harus apa? menolongnya itu akan melukai prinsipku, aku tak mungkin menjilat ludahku sendiri.
Tapi membiarkanya tengah malam di guyur air hujan, busyetttt!! dia bisa binasa.
Aku masih bingung, sampai jam menunjukkan pukul24:00 aku masih belum bisa mengambil keputusan.
Cittttttt!!!
Aku membuka pintu, aku tak sanggup menahan diri. Aku berhambur keluar lari menuju alvin berdiri, tak kuhiraukan hujan yang mengguyur tubuhku.
Kupeluk alvin yang mulai menggigil kedinginan, "apa yang kamu lakukan vin dengan begini kamu bisa melukai dirimu sendiri."
Seketika aku menarik tubuh alvin yang mulai membeku, berlari menuju ke kosanku.
Tanpa bereaksi alvin menurut saja saat aku membuka seluruh bajunya yang telah basah kuyup, aku membungkus badannya dengan selimut. Setengah berlari aku mengambil air minum untuknya, kuminumkan segelas air hangat dimulutnya tapi itu sepertinya tak membantu.
Sekali lagi kubenamkan tubuhnya dalam pelukanku dia masih menggigil.
Sungguh aku di landa kebingungan tengah malam aku harus kemana meminta pertolongan, aku mulai menangis ketakutan, sungguh aku takut akan terjadi hal buruk pada alvin dan kalau sampai itu terjadi semua karena kesalahanku.
Hikkksss,hikkk hikkkk aku menangis lagi, kugosok tangan dan kaki alvin dia tidak bereaksi dalam kepanikan aku membuka bajuku dan kubuka selimut alvin.
Aku mulai mencium membelai tubuhnya berharap tubuhnya akan menghangat, aku mulai tak terkendali. Sampai di titik alvin membalas ciumanku, ada kelegaan di hatiku.
Bisa kurasakan detak jantungnya yang mulai cepat dan kurasakan senjatanya pun mulai mengeras, hemmmzz dia mulai bereaksi membalas setiap aksiku.
Kami pun larut dalam pergulatan, keringat kami pun menyatu membasahi kasur di kosan dan gairah kami memuncak mengembara kedalam birunya samudera cinta yang tak mampu kami kendalikan.
Denting yang berbunyi di dinding menunjukkan pukul 03:00 dini hari, aku lihat alvin terlelap dalam pelukanku dia baik- baik saja.
Aku membangunkanya," alvin bangun kamu harus kembali ke mobilmu jangan tidur di sini sampai pagi.
Ini kosan bukan hotel, aku tak mau temankku memiliki pandangan buruk terhadapku dia sudah banyak menolongku."
Alvin mengiyakan, setengah berlari aku mengantar alvin kembali ke mobilnya, malam masih gerimis.
Aku akan kembali kekosan, aku janji besok pagi aku akan menemuimu lagi.
" Sayang berjanjilah kamu tidak akan kabur lagi ( tegas alvin)."
Mendengar itu alvin merengkuh dan menciumku, aku pun sudah kehilangan akal sehat ku, aku terjebak dalam kobaran api asmara dan aku tak mungkin mundur lagi.
Pagi terasa begitu lama kalau aku menunggunya, aku mulai mengemasi barangku sebentar lagi aku akan menemui soni untuk berpamitan.
Soni tersenyum saat aku mengutarakan maksudku, dia menyemangatiku untuk bisa memulai kehidupan baru, tak lupa aku mengirimkan salam untuk yulia temanku.
Alvin membuka pintu mobil untukku, senyuman mengembang dari bibirnya yang seksi. Aku akan melupakan sanksi dunia untuk bisa bersama alvin, tak akan kuhiraukan lagi keras dan berlikunya jalan yang akan kami tempuh nanti saat bersamanya aku tak akan takut menghadapinya.
Alvin erat memegang tanganku, sepanjang perjalanan kami tak mampu berkata- kata hanya senyuman kami yang menggambarkan kalau saat ini kami merasa begitu bahagia, sejak kejadian semalam aku takut akan kehilangan alvin, selamanya aku akan bersamanya.Sekarang aku pun tak perduli kalau pada kenyataanya sekarang alvin telah memiliki istri. Sungguh aku telah buta dan tuli oleh perasaan cintaku ini.
Sepanjang perjalanan aku dan alvin menyanyikan lagu favorit kami berdua, kuch kuch hota hai.
Kedengarannya kampungan lagu itu tapi itu adalah lagu kenangan kami.Saat lagi suasana romantis kala itu terdengar ada seseorang yang memutar lagu itu, jadilah itu lagu kebangsaan kita berdua, bila kuingat kepingin ketawa sendiri, haaaahaaaa.
Tak bisa ku ungkapkan dengan kata- kata betapa bahagianya kami kala itu.
Dan sekarang suasana itu hadir kembali, alvin memegang erat tanganku sembari tangan satunya memegang stir mobil, sesekali dia menatapku dengan senyuman merekah di bibirnya yang seksi.
Aku tidak ingin kehilangan kesempatan kedua ini tak akan kulepaskan alvin untuk selamanya, tak akan!.
Tak sampai satu jam kami tiba di sebuah gedung apartemen yang cukup mewah, gedungnya menjulang tinggi letaknya juga di areal elit.
Alvin mengajakku masuk, sampai di dalam dia langsung menuju lift naik ke atas. Tanpa bertanya aku bisa menebak kalau apartemen ini sudah di milikinya sejak lama, ditambah lagi semua pegawai disini rata- rata mengenalnya, ada beberapa orang menyapanya saat berpapasan dengan kami.
Sampai di depan pintu aku tersenyum geli dipintu tertulis ALYCIA ARDIARTA ROOM, "hemmmmmzz jadi apartemen ini milikku begitu? " senyumku lempar pada alvin sembari ku cubit perutnya.
Alvin menganggukkan kepala, " apartemen ini udah lama kubeli khusus untukmu, sayangnya kamu menghilang sudah lebih dari dua tahun, jadi tempat ini kosong. Tapi sekarang si pemiliknya sudah datang."
Alvin membuka pintunya dan kami masuk ke dalam. Apartemen ini sangat indah sejenak aku berdecak kagum.
Ayo ! alvin menarik tanganku menuju kesebuah ruangan yaitu kamar, saat membuka pintu aku langsung disambut foto yang luar biasa besar yang di pasang di atas ranjang, itu foto kamu berdua.
Hemmmmmz alvin sangat mengenalku, suasana hitam putih menghiasai kamar tidur ini sangat indah." I love you" bisikku di telinganya.
Alvin menatap dan memeluk pinggangku, sejenak dia diam hanya menatap wajahku, " sayang jangan pernah berpikir pergi meninggalkan aku lagi, sungguh kamu adalah nyawaku, sejak kepergianmu aku seperti tak hidup lagi setiap detik aku berusaha mencarimu, baik itu di dunia nyata bahkan aku mencarimu di dunia mayantapi semua sia- sia bahkan aku mencarimu di tempat kerjamu, mereka bilang kamu menghilang tanpa resign terlebih dahulu, terakhir aku mencarimu kerumah nenekmu semua orang disana mengatakan kalau kamu sudah menikah, aku shock dan mulai berhenti mencarimu sampai kemarin saat pameran mobil itu, james mengirimkan foto mobil yang akan kubeli, disana ada gambarmu aku langsung mengambil langkah cepat untuk bisa menemuimu, aku bersyukur aku tidak terlambat.Benarkah kamu sudah menikah licy?".
Aku duduk dan mulai menceritakan semua kisah pernikahanku dengan devin, mendengar kisahku kulihat muka alvin berubah merah, giginya berdecit menahan amarah, " kalau aku punya kesempatan bertemu dengan devin dan istrinya aku akan menghilangkan mereka berdua dari muka bumi ini!" aku membenamkan kepalaku di dada alvin untuk meredakan amarahnya.
" Lupakan tentang masa lalu
yang terpenting sekarang kita akan memulai hidup yang baru sayang, kita akan membangun kehidupan yang lama kita impikan," ku peluk mesra alvin.
Lama kami terbenam dalam suasana hati yang bahagia yang tak mampu kami ucapkan dengan kata- kata,
selamat datang cinta selamat tinggal duka.