
Entahlah harus di mulai darimana aku mencari jati diriku? 8 tahun itu bukan waktu yang sebentar! dan aku hanya mengingat tentang kehidupanku bersama devin, kenapa harus dengan dia?? seberarti itukah devin buat hidupku, tetapi sekarang dia bukan suamiku lagi! dan parahnya aku harus satu atap dengannya!!.
Kenapa ya Allah?? kalau aku harus pergi dari rumah ini aku harus kemana?? aku tidak tahu tentang kehidupanku yang lain selain dari pintu rumah ini, hikkkkkss hikkk.
Aku melamun sendiri di kamar ini, bagaimana sekarang caraku menghadapi devin di luar kamar ini, aku sangat malu tentang sikapku kemarin padanya!!.
Mataku menerawang jauh, perkebunan hijau yang membentang di kejauhan seakan menyegarkan pikiranku yang kalut, aku ingin kesana!.
Tapi aku tidak ingin bertemu devin, masih enggan! tapi bagaimana caraku keluar rumah???
Tiba - tiba terpikir olehku keluar lewat jendela, aku hanya perlu sebuah tali.
Aku mencari - cari sebuah tali di kamar tapi tak kutemukan! aku kembali duduk dan otakku mulai berputar - putar, mencari hal yang mungkin bisa membantuku melancarkan aksiku itu.
Pandangan mataku berhenti di tirai yang beterbangan di tiup angin yang cukup kencang pagi ini, nah!! sudah kutemukan yang kucari.
Aku menaiki kursi dan mulai melepas tirai satu persatu, aku ikat dan traallaaaa jadilah tali yang panjang, kurasa ini cukup sampai menyentuh tanah di samping rumah.
Aku keluar rumah mengendap - endap, kutengok rumah sepi, mungkin devin masih tidur.
Aku tersenyum puas, kulangkahkan kaki berjalan menyusuri jalanan menuju perkebunan, pagi ini udara dingin berkabut.
Hamparan perkebunan yang hijau menyegarkan mata, aku merasa begitu fresh, otak dan tubuhku terasa dingin, nyess!.
Aku melangkahkan kaki sambil menikmati suasana yang nyaris belum kutemui akhir- akhir ini, dari kejauhan aku mendengar suara gemericik air, naluriku mencoba mencari asal suara itu.
Sebuah sungai kecil mengalir di tengah pepohonan rindang, aku turun kebawah dan mulai bertelanjang kaki, aku tertawa sendiri menikmatinya.
Sebuah tangan menepuk bahuku yang asyik memainkan air di tengah aliran sungai, " berhentilah berpetualang licy, aku setengah gila mencarimu sedari tadi!."
Suara devin terdengar meraung - raung di telingaku, tapi aku tak menghiraukannya, tanganku masih asyik bermain air dan aku membenamkan setengah tubuhku dalam aliran sungai.
Devin terlihat kesal, dia keluar dari air dan mulai berjalan menjauhiku, dia menungguku di tepi sungai.
Melihatnya begitu, aku pun menghentikan kesenanganku dan aku mulai berjalan menuju kearahnya.
Dasar gunung es, dia sama sekali tak bisa menikmati hidup! bagaimana dia bisa bertahan dalam kekakuan setiap detik dalam hidupnya! membosankan.
Aku terus bersungut - sungut, aku sungguh kesal pagi ini!
" katakan padaku kenapa kamu mencariku??" mendengar pertanyaanku yang penuh tekanan di tiap katanya, devin mulai berdiri dan berteriak padaku, " kamu adalah tanggung jawabku! dan itu beban yang teramat berat untukku!! kamu tidak menyadari betapa pentingnya ingatanmu bisa segera pulih!! dan dengan santai kamu bermain air di sini??!! kamu ternyata benar - benar menguji kesabaranku!!."
Melihatnya begitu marah, aku pun tersulut emosi dan mulai terbakar dalam kobaran api amarah, " aku tidak meminta kamu menjadi penanggung jawab atas hidupku! aku bisa mengurusi hidupku sendiri!!!"
mendengar kata - kataku yang kasar, devin pun berkobar bahkan aku bisa melihat lidah api di matanya.
Api!!! tiba - tiba kepalaku pusing berputar - putar, aku seperti melihat penggalan kejadian api yang berkobar - kobar!! dan aku melihat pintu dan daun jendela yang terbakar, tapi aku tidak tahu itu rumah siapa??
Melihatku kesakitan, devin mulai mendekatiku dan mencoba mencari tahu kenapa aku begitu.
"Api devin, aku melihat api yang berkobar membakar rumah seseorang, pintu dan jendelanya panjang - panjang seperti karakter rumah zaman dulu! tapi itu bukan rumahmu!!."
Devin tak menjawab pertanyaanku, dia mulai mengajakku pulang, tapi aku berjalan terhuyung - huyung sambil memegangi kepalaku yang masih terasa sakit.
Melihatku begitu, devin kehilangan kesabarannya.
Dia milai membungkuk dan menyuruhku naik di di punggungnya, " ayo aku akan menggendongmu!!."
Rasa sakit yang tidak tertahan membuatku tak menolak kebaikan devin, aku naik ke punggungnya dan dia mulai menggendongku menuju rumah.
Devin duduk di depanku sambil terus menatapku yang sedang menikmati teh buatannya, " licy bagaimana kalau kita pergi ke rumah nenekmu?!" aku menatapnya sejenak, "iya kenapa tidak kepikiran kita pergi ke rumah keluargaku? tapi kenapa harus kerumah nenekku??! kenapa tidak pergi menemui orang tuaku??" aku masih tidak mengerti.
" Cepat ganti pakaianmu, kita pergi sekarang! aku tidak suka menunda- nunda sesuatu!."
Melihat devin begitu aku pun beranjak dari dudukku dan pergi ke kamar, aku pun ingin mencari hidupku yang hilang! dan segera pergi dari sini, kusimpan dahulu rasa penasaranku itu.
Bersama dengan gunung es ini, lama - lama aku bisa ikut membeku dengannya, dia yang moodnya tak mudah di tebak, cukup menguras emosiku.
Devin tak banyak bicara langsung tancap gas saja meluncur kearah yang aku tidak tahu kemana?!.
Hampir 1 jam perjalanan kami habiskan dalam kebisuan, devin menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah, aku tidak tahu ini rumah siapa.
Aku turun dari mobil dan mulai melangkah masuk, rumah ini nyaris rata dengan tanah, aku semakin masuk kedalam tapi aku tak menemukan apapun selain puing - puing bekas rumah yang habis terbakar.
Aku seperti bicara sendiri saat kusadari devin tidak ikut masuk kedalam, merasa sendirian aku kembali keluar dari rumah ini, " ini rumah siapa devin? kenapa kamu diam saja?"
terlihat wajah devin yang penuh rasa penasaran, dia tetap berdiri di tempat yang sama sejak sampai ke sini tadi.
" Apa yang kamu pikirkan?" aku mulai mengkorek penjelasan darinya, tapi dia tetap diam saja.
Tiba - tiba ada seorang wanita paruh baya yang datang setengah berlari, dia langsung memelukku.
" Licy, kamu masih hidup? kukira kamu terjebak dalam kebakaran rumah nenekmu dulu!."
Aku bingung dengan penjelasan wanita ini! aku melepas pelukannya yang nyaris membuatku kesulitan bernapas,
" siapa anda? apa saya mengenal anda??!"
wanita ini tertegun mendengar pertannyaanku, " ini bude nak, bude halimah! masak kamu lupa??!"
aku menatapnya lama, tapi aku tak mengingat apapun.
" Sekarang kamu datang bersama devin, bukankah kamu takut bertemu dengannya? dan dimana anakmu? bukankah terakhir ke sini kamu sedang hamil?"
mendengar kata - kata wanita ini dadaku berdegup kencang, berarti dia mengetahui tentang aku dari waktu yang hilang dari ingatanku.
" Ak akuuu hamil?"( aku mulai terbata - bata), wanita ini yang sekarang bingung dengan pertanyaanku.
Devin mendekati kami dan mulai memberi dia penjelasan, kalau aku kehilangan ingatanku.
Wanita ini mengangguk pelan, " aku tidak tahu lagi kabarmu sejak kebakaran itu, bahkan bude menganggapmu telah tiada, tapi kalau kamu mau mencari sesuatu, mungkin kalian bisa datang ke orang tua mu alicyaa, meskipun aku tidak yakin kalau kamu pergi kerumah salah satu dari mereka, karena yang kutahu kamu tidak dekat dengan mereka! sungguh bude ikut prihatin dengan yang sudah terjadi padamu!."
Sungguh ini berita besar, aku semakin tidak sabar untuk mencari tahu tentang kehidupanku dulu.
Kalau aku hamil dimana anak dan suamiku? aku menikah dengan siapa??! pertanyaan itu terus berputar - putar di dalam benakku.
Kami berpamitan dengan bude halimah, aku memeluk wanita itu, dan mengucapkan terima kasih.
" Alicyaa tunggu!" aku menghentikan langkahku, " aku ingin kamu tahu kalau suamimu adalah kekasihmu dulu sebelum menikahi devin, dia bernama alvin! dia sudah meninggal dunia dan kamu yang menceritakannya kepada bude, kalau memang kamu tidak mengingatnya! sekarang bude yang memberitahukanmu."
Aku merasa shock mendengarnya, tadinya ku pikir anakku pasti bersama suamiku kalau memang sekarang tidak bersamaku! kalau suamiku telah tiada lalu sekarang di mana anakku?"
tubuhku gemetar, perasaanku campur aduk! aku menarik devin untuk segera pergi dari tempat ini, " kita harus segera mencari tahu! bisa saja sekarang anakku sedang sendirian dan mencari - cari aku!!."
Kami meluncur dengan kecepatan tinggi, devin akan menuju rumah ayahku karena letaknya yang cukup dekat dengan kota ini, devin bercerita dia pernah datang sekali kerumah ayahku saat meminta ijin untuk menikahiku dulu, sayangnya ayahku tidak mau datang ke pernikahanku karena bukan aku sendiri yang memintanya.
Entah ada permusuhan apa antara aku dan ayahku itu?! aku tak bisa mengingatnya! sekali lagi aku penasaran.