
Aku terisak memegang batu nisan ini, hal yang kurindukan setiap detik, pertemuan yang selalu ku tunggu, alvin!!sekarang aku ada di hadapanmu.
Aku peluk al fatih dan ingin ku sembunyikan kedalaman duka ini, kenyataan pahit yang mengiris- iris relung sukmaku, aku tak ingin anakku bisa merasakan kesakitanku.
" Terima kasih ibu telah mengajakku kesini, ini adalah hal paling membahagiakan yang ku tunggu selama bertahun- tahun, sungguh ibu aku sangat mencintai alvin! penderitaan yang ku tanggung selama ini seakan lebur disini dihadapannya, datang ke sini seakan mengobati kerinduanku padanya."
Ibu menatapku dan dia mulai menangis, dia duduk di sebelahku menatap sayu ke batu nisan yang bertuliskan nama alvin, kami berdua tenggelam dalam pusaran duka.
" Mari kita pulang licy, kelihatannya anakmu sudah lelah."
Lamunanku seketika lenyap, aku menatap al fatih yang sedari tadi diam, dia seakan memahami dukaku dan tak mau menggangguku, tak ada kegaduhan atau rengekkan darinya, dia membiarkan suasana sunyi dan hening.
Sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam, al fatih tidur di pangkuanku.
Ibu alvin akan mengantarku pulang ke rumah ayah, sekarang aku tak ragu lagi untuk menunjukkan tempat tinggal kami, dia bisa datang kapan saja untuk bertemu cucunya, aku ingin ibu alvin memiliki harapan hidup baru saat bersama dengan anakku, dan ku harapkan al fatih bisa menggantikan tempat alvin di hatinya, semoga dia bisa menghapus dukanya, dan hidup bahagia lagi seperti dulu sebelum alvin pergi.
Sampai di rumah ayah, ibu alvin berpamitan dan dia meminta maaf karena tidak bisa masuk kedalam rumah untuk bertegur sapa dengan ayahku.
Dia ingin segera kembali pulang karena tidak ingin meninggalkan suaminya terlalu lama, aku pun bisa memahami kondisinya, aku pun seandainya ada di posisi ibu alvin pasti juga akan melakukan hal yang sama.
Aku menghela napas lega, semua berakhir dengan indah sekarang tak ada lagi yang kutakutkan, aku bisa meneruskan hidupku dengan ketenangan.
Dan anakku akan mulai bersekolah, surat nikah sudah di tanganku, dan akta kelahiran al fatih bisa di urus setelah semua surat - surat ini lengkap, agar anakku bisa segera bersekolah, tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat buah hatiku tumbuh besar, sekarang dia akan memasuki fase baru dalam kehidupannya.
I' m so happy!!.
Aku sekarang bisa tidur dengan nyenyak setiap malam, aku tak lagi gelisah saat mendengar suara decit pintu dan jendela saat di terpa angin, hal yang ku takutkan dalam hidup telah hilang, pamanku telah binasa dan keluarga alvin sekarang tidak lagi memusuhiku, ahhhhhh dunia terasa indah, terima kasih ya Allah, aku sangat bersyukur dan mulai sekarang aku berjanji akan lebih giat beribadah untuk menunjukkan rasa syukur atas kebahagiaan yang kurasakan kini.
Pagi yang cerah datang dengan rutinitas baru, hari ini al fatih mulai bersekolah.
Hari pertamanya membuat aku dan ayah sangat repot, aku mempersiapkannya dengan sangat rapi aku ingin hari ini membuat anakku bersemangat dan bahagia.
Ayah telah bersiap untuk mengantar cucunya itu, dan al fatih setengah berlari keluar dan dengan sigap sudah duduk di boncengan kakeknya, dan mereka pun meluncur menuju sekolah baru.
Sengaja hari ini ayah tidak bekerja, dia tidak ingin kehilangan moment pertama cucunya bersekolah, ayah ingin menungguinya di sana.
Baiklah! aku di rumah akan mempersiapkan kejutan manis untuk mereka berdua, hari ini aku ingin memasak makanan istimewa untuk mereka berdua.
Aku ingin hari ini tidak akan di lupakan anakku seumur hidupnya, dan sejak pagi jantungku berdebar kencang, mungkin karena aku terlalu bahagia sehingga detak jantungku terpacu kencang tak terkendali.
Haaaahaaaaa! ini adalah pengalaman pertama buatku.
Pekerjaan dapur selesai, aku tinggal menunggu kedatangan mereka berdua saja.
Aku pergi kehalaman rumah, menghirup aroma wangi bunga mawar yang di terbangkan angin sampai ke hidungku, hemmmmzz seketika otakku terasa rileks dan nyaman, ini adalah surgaku.
Sebuah mobil sedan berwarna merah berhenti di depan pekarangan rumah, aku tidak tahu mobil siapa itu?! di rumah alvin tidak ada mobil itu, berarti yang datang bukan ibunya alvin, lantas siapa dia?
Seorang wanita turun dari dalam mobil di ikuti dua orang pria bertubuh kekar, itu alexandra!.
*K*enapa dia datang ke sini? apakah dia akan menawarkan perdamaian yang sempat tertunda di rumah alvin?
aku sangat penasaran.
Dia menghampiriku tanpa bicara dia menampar mukaku, sikapnya itu benar- benar membuatku terkejut!
sontak aku ingin membalas perlakuannya itu, tapi dua orang pria yang datang bersamanya menghalangiku.
Tangan kekar mereka mencengkeram tanganku sampai aku tak mampu berkutik, " tak mungkin aku mebiarkanmu merasakan kebahagiaan! sekarang aku akan menghabisimu, dan aku ingin anakmu sebarang kara di dunia ini! aku ingin anakmu juga menderita! itu adalah hal yang pantas yang harus kamu terima karena merebut alvin dariku dan menghancurkan kehidupanku!."
Keringat dingin mengucur deras di dahiku, aku mulai berteriak meminta tolong tapi dua pria ini membekap mulutku sampai aku kesulitan bernapas apalagi mengeluarkan suara.
Aku meronta mencoba melepaskan diri, tapi kekuatanku tak mampu mengalahkan kekuatan pria- pria ini.
Melihat wajah ketakutanku, sontak membuat alexandra tersenyum bahagia.
Aku tidak mengerti kenapa pagi ini begitu sepi, kemana semua tetanggaku apakah semuanya sudah pergi bekerja?!sekarang aku sendirian tak ada yang akan menolongku!.
Alexandra bersiap untuk menembakku, dan tak ada yang bisa ku lakukan untuk menolong diriku sendiri.
Tiba- tiba sebuah motor menabrak pria yang mencengkeramku dari belakang, pria itu jatuh terjungkal.
Ayah berkelahi dengan pria - pria ini, hal itu membuat alexandra panik dan menodongkan pistol ke arah ayahku.
Dan dorrrr! sebuah tembakan terlepas! ayahku jatuh tersungkur di tanah.
Aku mengambil langkah seribu berlari meraih anakku, yang masih terduduk di tanah karena terpelanting dari motor ayah, aku menggendongnya dan berusaha lari menjauhi alexandra yang mulai kalap.
Sebuah tembakan di arahkan kepadaku, dan peluru itu tidak mengenaiku tapi menembus punggung al fatih yang sedang berada dalam gendonganku.
Kami jatuh terjerembab ke tanah, kulihat darah mengucur deras dari punggung anakku, napasnya mulai tersengal - sengal, aku panik dan gemetar melihat anakku begitu.
Aku berdiri dan mengambil sebuah pot beton di hadapanku dan ku hantamkan kepada alexandra yang bersiap menembakkan peluru selanjutnya, dia jatuh tersungkur,
pistolnya jatuh ke tanah, aku meraihnya dan ku tembakkan berkali- kali ke arah alexandra.
Alexandra tak bergerak lagi, pria yang datang bersamanya tadi mulai berusaha menangkap dan menghentikanku,
tapi beberapa warga yang datang tiba- tiba menghentikan aksi mereka.
Aku shock dan menjatuhkan pistol yang kupegang tadi ke tanah, aku menghampiri tubuh ayah yang bersimbah darah, dia tak bergerak lagi!
tiba- tiba aku teringat pada anakku al fatih, ku tinggalkan tubuh ayah dan aku berbalik lari menuju anakku yang tengah meregang nyawa.
Semua orang mulai berdatangan dan berusaha menolong kami, ada seorang warga yang menelepon ambulans untuk membawa anakku ke rumah sakit.
Tangan kecilnya yang bersimbah darah berusaha meraih wajahku, aku menangis dan menjerit- jerit,
" bertahanlah nak, kamu akan baik- baik saja! sebentar lagi ambulans datang!"
Tatapan mata anakku lambat - lambat mulai meredup, aku menggoncang - goncang tubuhnya yang mulai lemas tak berdaya, anakku berhenti bernapas! matanya tetap terbuka memandang sayu ke arahku.
Aku berteriak histeris " tidakkkkkkkk!!!!!!"
tidakkkkkk!!!! tidakkkkkk!!!!!
aku memeluk tubuh al fatih dia tidak meresponku lagi, dia tidak bergerak lagi!!
kuciumi bibirnya, ku gigit hidungnya dia tidak berteriak kesakitan seperti biasanya, anakku telah pergi!!.
Haaaaaaaaaaaaaahaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!
jeritanku melengking ke udara, gaduh suara orang di sekitarku tak mampu mengusikku lagi, aku merasa tak menginjak dunia lagi, aku merasa telingaku berdengung dan aku tak mampu mencerna apapun lagi.
Semuanya terasa gelap, semuanya terasa sempit, semuanya terasa sesak!!!.