BLack Roses

BLack Roses
28.Semangat baru



Ah, alvin betapa aku merindukanmu!


Kupejamkan mata bersama bayangannya, airmata menetes mengalir begitu saja dari mataku yang terpejam, sekarang berilah kehangatanmu untuk aku bisa nyaman menyelami alam bawah sadarku untuk bisa bermimpi merengkuh dirimu, tenggelam dalam aroma napas penuh gairah.


Aku rindu kecupan manis di bibirku dan berdansa bersama di temani aroma bunga mawar putih yang menjadi identitas yang kamu berikan untukku, aku benar- benar merindukan nya.


Alvin ! aku janji tidak akan menangis, ini adalah airmata terakhir. Al fatih adalah alasan tak ada airmata lagi.


Pagi ini aku ingin bangun lebih pagi, sebelum adzan subuh aku harus sudah terjaga.


Aku mandi dan segera mempersiapkan sarapan untuk ayah, aku ingin selesai tepat waktu agar aku punya banyak waktu merawat anakku, dan ada satu hal yang ingin ku lakukan semenjak kemarin.


Selesai urusan di dapur, aku keluar rumah.


Kupandangi halaman rumah ayah yang luas, semenjak banjir kapan hari halaman ini di biarkan kosong melompong, sekarang aku ingin mengisinya dengan keindahan.


Aku mulai membersihkannya, dan aku ingin nantinya tempat ini siap untuk di jadikan taman mawar yang luas dan indah.


Aku ingin setiap pagi menghirup aroma wangi mawar dan memanjakan mataku dengan keindahannya.


Aku hanya perlu mengatakan niatku kepada ayah, aku yakin dia tidak akan menolaknya.


Suara berisik dari sapu lidi yang kupakai membangunkan ayah, dia sudah berdiri di hadapanku, serta merta dia berusaha merebut sapu lidi dari tanganku "jangan terlalu capek licy, kondisimu belum pulih benar!"


tapi aku tak menghiraukan ucapan ayah, aku tetap mengkomando tanganku untuk tetap menyapu.


Aku menghindari ayah, aku tidak ingin ayah merusak semangatku yang menggebu- gebu ini, dan ayah hanya bisa geleng - geleng kepala melihat kelakuanku.


Bersamaan dengan munculnya mentari pagi, pekerjaanku membersihkan halaman rumah selesai.


Aku bergegas mencuci tanganku dan pergi menuju kamar al fatih, ternyata dia masih bobok cantik, syukurlah! aku ingin saat pertama dia membuka mata ada senyumku yang pertama menghiasi matanya.


Aku menghela napas panjang, aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari bayi imut ini, " aku menyayangimu nak"


ku cium pipi lembutnya, dia menggeliat manja.


Hemmm, biarkan dia tidur dan bangun sesuai keinginannya, aku tak ingin menggangu bayi kecilku ini.


Aku keluar kamar dan bertemu ayah di dapur, aku ingin mengatakan keinginanku yang mulai dari tadi pagi sudah kurancang di benakku.


" Ayah, aku ingin membeli bunga mawar beraneka warna untuk ku tanam di halaman depan, apa ayah mengijinkannya?"


Sejenak ayah mengernyitkan dahinya, seperti sedang berpikir.


" Ayah yang akan membelikannya untukmu! ayah tak bisa mengijinkan kamu pergi sendiri, kalau kondisimu sudah pulih baru boleh pergi kemanapun yang kamu inginkan!"


hemmmm, baiklah( jawabku singkat).


Keputusan ayahku tidak mungkin bisa di ganggu gugat,


pagi ini aku tak ingin berdebat dengan ayah.


Sebelum ayah pergi aku mengajaknya untuk sarapan terlebih dahulu, aku tidak ingin perut ayah kosong.


Karena aku mengenal ayahku, saat dia melakukan pekerjaan apapun kalau dia terlalu fokus bisa sampai melupakan urusan perutnya.


Dia pun melakukan keinginanku meskipun dengan sedikit berat hati, karena biasanya pagi hari dia lebih suka merokok dan meminum segelas kopi, tapi sekarang semua harus berubah, ayah harus sehat dan memulai hidup sehat, karena aku masih ingin bersamanya lebih lama, aku berharap dia akan hidup lama sampai kelak al fatih dewasa.


Ayah sangat mencintaiku, sehingga apapun yang menjadi keinginanku dia berusaha memenuhinya, itu di lakukannya sejak aku kecil.


Sekarang pun dia berusaha mewujudkan impianku, dia memborong begitu banyak bunga mawar untukku, aku terngangah melihatnya, ayahku tersenyum bahagia melihatku sampai tak mampu berkata- kata.


Di depan rumah ayah terhampar berpuluh- puluh pot bunga mawar, ada beberapa orang yang sudah bersiap untuk membantu ayah menanam bunga- bunga ini.


Sungguh ini seperti mimpi, ayahku mulai tak terkendali.


Dia seperti bangkit dari tidur panjangnya, dan sekarang dia kembali seperti ayahku yang dulu, seseorang yang mampu mewujudkan sebuah mimpi, seperti alvin!


Hari - hari yang kulalui di rumah ayah, begitu berwarna. Bukan hanya tentang bunga mawar, ayah juga sangat memanjakan al fatih, rumah ayah sekarang lebih mirip toko mainan, setiap hari ayah membelikan mainan untuk anakku, begitu pun kebutuhan anakku yang lain, tak pernah terlewati untuk di penuhi oleh ayahku.


Ayah mulai berbisnis lagi, pekerjaannya mencari pasir sudah mulai dia tinggalkan, sekarang dia beralih menjadi pemasok pasir ke daerah sekitar kota ini, dia beralasan ingin menabung lebih banyak uang untuk masa depan baby al fatih.


Melihat semangat ayah, terbesit di benakku untuk kembali ke bangku sekolah mencari gelar seperti yang selalu di sarankan alvin dulu.


Aku pun ingin memberikan masa depan yang cerah untuk anakku kelak, dengan pendidikan tinggi aku memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, dengan harapan bisa mendapatkan gaji yang bagus untuk menopang kehidupan kami.


Sepertinya itu ide bagus, aku hanya perlu merundingkannya dengan ayah, aku akan mencobanya semoga ayah memberikan ijin, ah anakku sekarang begitu banyak hal yang ingin kulakukan dalam hidup demi untukmu !


Ayah bermain dengan baby al fatih, dia tertawa sampai terbatuk- batuk, ini kesempatan bagus untuk bicara dengan ayah, sepertinya suasana hatinya sedang bagus.


" Ayah, aku ingin bicara,"


ayah menoleh padaku , dia menggendong al fatih dan menghampiriku.


" Ada apa licy? sepertinya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan?"


Aku kembali ragu- ragu, tapi aku harus bicara " begini ayah, aku ingin kuliah lagi ! kita bisa bagi tugas untuk menjaga al fatih, aku akan mencari jam untuk menyesuaikan dengan jam kerja ayah, supaya tidak berbenturan bagaimana menurut ayah?!"


Cukup lama ayah diam, dia bukan tipe orang yang terburu- buru dalam mengambil keputusan, dan aku pun harus sedikit bersabar.


Ayah memberikan al fatih padaku, dia berlalu masuk ke kamarnya, tanpa menjawab pertanyaanku.


Hatiku berdesir, aku mulai menyesal mengatakan niatku itu, apakah ayah merasa tersakiti dengan keinginanku itu?


entahlah hanya dia yang bisa menjawab pertanyaanku, tapi sepertinya tidak sekarang!.


Aku menatap al fatih cukup lama, mungkin menurut ayah keinginanku terlalu berlebihan.


Perasaan yang menggebu- gebu yang sudah merusak suasana hati ayah, sekarang apa yang harus ku lakukan?


tapi aku tetap harus kuliah, tidak selamanya aku bisa mengandalkan ayah, tubuhnya mulai rapuh di makan usia


Sedangkan semakin lama pasti biaya untuk al fatih juga pasti semakin besar.


Aku bingung!


Ayah keluar dari kamar, dia menyerahkan padaku sesuatu,


" ini ayah tanam berpuluh- puluh tahun, tidak pernah ada yang tahu tentang ini termasuk istri dan anak- anak ayah."


Ayah menyerahkan sebuah kotak kepadaku, cukup berat sampai aku harus meletakkannya di atas meja,


sebelum aku bertanya, ayah membantuku untuk membukanya, setelah di buka aku di buat cukup terkejut isinya adalah perhiasan emas yang jumlahnya lumayan banyak.


" Kotak ini juga yang membuat ibumu pergi meninggalkan ayah, ini warisan dari orang tua ayah.


Dulu ibumu sangat menginginkannya, tapi kalau aku berikan padanya aku yakin sekarang tidak akan ada sisa untukmu!."


Aku hanya bisa memandangi isi kotak itu, dengan menunjukkannya sekarang aku tahu apa keputusan ayah.


"Licy, kamu tidak perlu kuliah dan bekerja, cukup rawat saja al fatih, aku akan menunjukkanya kepadamu dimana nanti ayah akan menanam kotak ini, kamu bisa mengambilnya kapanpun kamu mau!"


Aku hanya diam saja, tak mungkin aku memaksa ayah menuruti kemauanku ini, ayah tidak bisa mengerti tentang maksudku dia sudah salah paham.


Semua harta ini akan habis, tapi kalau ilmu aku bisa mempergunakannya seumur hidup.


Aku mulai lemas, sekarang pupus sudah harapanku untuk kembali ke bangku sekolah, tapi aku tidak bisa melawan kehendak ayah, tidak mungkin.


Sekarang aku lebih baik fokus ke perawatan al fatih, mungkin memang itu yang terbaik, aku sangat yakin dengan keputusan ayah, itu pasti yang terbaik untukku.


Baiklah!!