BLack Roses

BLack Roses
37.Devin



Aku duduk menatap meja, ku taruh kedua tanganku di atas meja, tampak di situ kuku memanjang dari jariku yang kurus, semua terlihat memanjang.


Aku tak puas, sekarang aku melihat kedua kakiku, aku menatap lama pada keduanya, tapi aku tidak bisa menaruhnya di atas meja, sehingga aku tidak bisa melihat apakah kukunya memanjang atau tidak?!!.


Hal itu sangat menggangguku, aku mulai menangis dan mengigiti kuku panjangku.


Di meja yang kosong tiba - tiba ada sekuntum mawar berwarna kuning, ada sebuah tangan yang meletakkannya di situ, aku tak berani melihat wajah milik siapa itu!.


Kutatap terus mawar itu karena aku tak berani mengambilnya, kuhabiskan siangku untuk menatapnya terus dan terus, sampai aku lupa tak menyentuh makananku.


Sampai wanita berbaju putih mulai mengajakku kembali masuk ke kamar lagi, aku berjalan menurutinya, saat akan berlalu pergi aku menoleh ke belakang! ternyata mawar itu masih di sana, aku menghentikan langkahku dan melepaskan pegangan tangan wanita berbaju putih, dan setengah berlari kembali menuju meja untuk mengambil bunga mawar berwarna kuning itu.


Aku kembali berjalan setelah kudapatkan mawar itu, aku merasa senang sekali, aku mulai tertawa dan aromanya membuatku merasa nyaman.


Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata, aku terus memandanginya di kamar yang gelap! aku bangun dari tempat tidur menuju jendela kemudian aku memandangi bunga ini di bawah sinar rembulan.


Hari berganti dan siangku berada di tempat yang sama, sekarang aku tidak menaruh tanganku di atas meja, karena ada yang ku tunggu!.


Lama aku menunggu meja itu masih kosong, kemudian ada tangan yang menaruh sesuatu di atas meja itu seporsi makanan, aku menjadi tidak sabar! aku melempar seporsi makanan untukku itu hingga jatuh berserakan di lantai.


Sekarang meja telah kosong lagi! aku kembali duduk dan menunggu.


Sekuntum mawar kuning telah ada di atas meja, ada tangan yang menaruhnya di situ, sekarang aku tidak takut dan menunggu untuk tidak mengambil mawar itu, aku langsung mengambilnya dan ahaaaa aku memilikinya.


Aku berlari menuju kamar, aku mulai sibuk mencari mawar yang kemarin dan aku menemukannya di sebelah bantal, lalu aku menaruh mawar kedua di situ juga.


Hatiku sangat bahagia, aku duduk di kasur dan terus memandanginya, sampai aku tak menyadari ada tangan yang membawa sendok berisi makanan yang siap di suapkan ke mulutku.


Aku terus membuka mulutku dan menelan apapun yang di masukkan ke mulutku tanpa melihat siapa yang memberikannya, karena pandanganku tak bisa teralihkan dari dua kuntum mawar ini.


Hari terus berlalu, tak terasa di sini telah tertumpuk bunga mawar berwarna kuning, ada yang berusaha mengambil yang telah layu, tapi aku selalu menangis histeris saat ada yang mencoba melakukannya.


Aku tak ingin kehilangan bunga- bunga ini meskipun hanya sebuah saja, aku sangat menyayanginya.


Aku mendongakkan kepalaku, saat siang ini tangan itu meletakkan mawar kuning lagi.


Sekarang aku bisa melihat sorot matanya, itu sebuah wajah beralis tebal berjanggut panjang, dia tersenyum menatapku.


Kemudian dia duduk dan meletakkan tas kecil berisi makanan di sebuah wadah kecil, dia membukanya dan mulai memberikannya kepadaku, aku membuka mulutku dan mulai makan dengan lahap.


Setiap hari dia datang, aku mulai terbiasa dengannya.


Aroma parfumnya juga selalu menusuk hidungku, terkadang membuatku terbangun tengah malam karena teringat aromanya, aku tidak terlalu suka karena membuat kepalaku berputar- putar.


Siang ini dia datang membawa benda yang tak pernah kulihat sebelumnya, benda tipis yang bisa di lipat, dia mulai menghidupkannya di depanku, aku mengamatinya apa yang terlihat di sana! kemudian dia memberiku sebuah cermin, dia menyuruhku menatap wajahku di cermin kemudian dia mengambil cermin dan melihat wajahnya sendiri di cermin seperti yang sudah kulakukan.


Setelah itu dia menyuruhku untuk kembali melihat tayangan tadi, dia memutar kembali video pernikahan itu, dan aku mulai mengamatinya lagi.


Seketika aku merebut cermin di tangannya, kulihat wajahku yang terpantul di cermin, kemudian aku melihat video itu lagi, begitu seterusnya! sampai dia menghentikanku.


Aku menatapnya, dia juga diam menatapku! aku mulai memegang wajahnya, kuamati tiap inci di wajahnya itu! aku berharap menemukan sesuatu yang mungkin aku cari tapi aku belum tahu itu apa! dia membiarkan tanganku terus meraba wajahnya.


Sampai di titik aku merasa lelah, aku melepaskan wajahnya.


Aku kembali menatap tajam ke bawah, kumainkan ujung jari di kakiku, dan aku tenggelam dalam ayunan kakiku itu.


Dia berdiri dan akan beranjak pergi, " aku akan datang lagi besok, berjanjilah kamu akan menungguku."


Aku hanya diam tak menyahuti perkataannya, aku masih asyik dengan ujung jariku itu.


Udara dingin malam ini menggigit tubuhku, aku tenggelam dalam pusaran mimpi, aku melihat seorang pria tertidur lelap, ku ambil sekuntum mawar berwarna kuning dari sebuah vas krisral dan kuletakkan di dekat kepalanya, kutatap wajahnya sejenak dan aku berniat pergi.


Devin!!!!!? aku terbangun dari tidurku," dia devin! dia devin! aku mengingatnya dia devin!"


aku menangis sesenggukan sendiri di tengah kegelapan.


Datanglah dua orang wanita masuk kedalam kamarku, mungkin mereka di kagetkan dengan suara teriakanku yang melengking di tengah keheningan malam, mereka menghidupkan saklar lampu dan mulai mengecek keadaanku.


Aku memeluk wanita yang ada di hadapanku itu, aku menangis di bahunya " aku mengenal pria yang datang mengunjungiku setiap hari itu! dia devin mantan suamiku, aku mengingat semuanya! hikkkkkss hikkkkk.


Wanita itu melepaskan pelukanku dan menatapku sambil tersenyum senang " selamat mbak, akhirnya mbak terbangun dari mimpi panjang, selamat datang di dunia nyata!" aku mengangguk senang.


Siang ini aku menunggu dia dengan tidak sabar, seperti biasa dia membawa sekuntum mawar berwarna kuning dan sebuah tas kecil berisi kotak makan.


Aku berdiri dan terus tersenyum, saat dia menyadari sikapku tidak seperti biasanya, dia pun terlihat penasaran.


Dia berdiri dan mendekatiku, " ada apa hari ini? tatapanmu tidak seperti biasanya? apa kamu baik - baik saja?!"


devin!!! kamu devin!!!


aku menunjuk padanya, dan aku terus menyebut namanya! dia bersorak dan berhambur memelukku!.


"Apa kamu ingat segalanya licy?"devin berbisik di telingaku.


Aku semakin membenamkan diriku di dalam pelukannya, entahlah aku sangat merindukan pelukan ini.


" Kamu ada di dalam mimpiku semalam, aku ingat pernah memberimu sekuntum mawar berwarna kuning di dekat wajahmu sebelum aku pergi!"


aku mulai menangis sesenggukan, devin melepaskan pelukkannya, dia menatap wajahku yang telah basah oleh airmata.


Sebuah saputangan dia keluarkan dari saku celananya, dia mengusap wajahku yang basah.


"Entahlah apa yang terjadi padaku, tak banyak yang kuingat"


hikkkkkk hikkkkkks.


Devin mengajakku duduk, dia hanya mengamatiku yang bicara sambil menunduk.


Devin mulai mengeluarkan laptop berwarna putih dari tas punggung yang di bawanya, " tenanglah licy aku akan membantumu mengingat masa lalumu."


Banyak video dan foto- foto yang dia tunjukkan padaku, aku tersenyum kemudian menangis melihat semua itu,


devin membiarkan aku bermain dengan pikiranku sendiri.


" Tunggulah di sini licy, dan kamu boleh melihat semua gambar dan video di dalam laptop ini! siapa tahu bisa membantumu, aku akan menemui dokter sebentar."


Tanpa menoleh aku menganggukan kepala, aku terlalu asyik melihat video dan foto di sini, foto pernikahanku dengan devin.


Devin datang bersama dokter, kemudian mereka berdua duduk menemaniku.


" Bagaimana dokter? apakah aku mendapatkan ijinmu untuk membawa dia pulang! aku akan membawanyaa kembali ketempat- tempat yang akan membuat ingatannya mungkin bisa pulih, dan dia bisa sembuh?!"


dokter tidak menjawab pertanyaan devin, dia malah asyik memperhatikanku.


" Baiklah pak devin, dia bisa di bawa pulang! tapi dengan satu catatan! dia harus rajin kontrol ke sini, karena dia pasien dalam pantauan.


Ada kasus penting yang menunggunya, dan pak devin harus bertanggung jawab penuh kepada dia dan pusat rehabilitasi ini, saya akan memberi surat tembusan ke pihak kepolisian,"


devin mengangguk senang.


" Siang ini pak devin bisa membawanya, biar pegawai saya yang mengurus semua keperluannya, saya berharap keputusan ini bisa berguna untuk kesembuhannya, saya permisi."


Dokter berlalu meninggalkan aku berdua bersama devin, devin mulai memegang tanganku, dan aku menatapnya dengan sebuah senyuman.


" Kita akan pulang licy, aku berharap kamu bisa tenang dan bisa mengendalikan diri, tidak mudah mendapatkan ijin dari dokter, aku berharap usahaku tidak sia - sia."


Aku mengalihkan perhatianku dari laptop dan mulai melihat devin, aku menguatkan pegangan tanganku dan berharap devin bisa mengerti isyarat ini, bahwa aku setuju dengan niatnya itu.