
Hari mulai gelap hujan pun sudah mulai reda, aku menggigil kedinginan, sepertinya aku harus pergi dari tempat ini! menunggu lebih lama aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada tubuhku yang mulai rapuh.
Sebuah sepeda motor berhenti di depan gerbang, mataku silau karena lampu depannya yang sangat terang tepat di depan mukaku.
Dia menghampiriku yang masih terduduk, dia mengulurkan tangannya dan menarikku naik keboncengan sepedanya, aku lemah dan dia membantuku untuk berpegangan erat padanya.
Suara deru motor yang nyaring membuat seseorang membuka gerbang dan membiarkan motor masuk kedalam pekarangan rumah, kami tidak berhenti di depan rumah tapi terus masuk dari samping dan sampai di belakang rumah yang berhalaman luas.
Dia membantuku turun dan mengajakku duduk di sebuah kursi kayu panjang, sedangkan dia turun dan membuka jas hujan yang di kenakannya, melihat penampilannya aku baru menyadari kalau dia mungkin salah satu dari anak punk yang kuikuti kesini tadi, tapi dilihat dari raut muka sepertinya dia lebih dewasa di bandingkan anak - anak yang lain tadi.
Mendengar kedatangannya semua anak punk berhambur keluar mendekatinya, dia menyerahkan bungkusan dalam tas kresek berwarna hitam.
Mereka semua mulai menyadari kehadiranku, aku memang hanya diam karena kepalaku mulai terasa pusing.
Ada seorang gadis yang menarik tanganku dan membopongku berjalan menjauhi kerumunan menuju ke sebuah ruangan, " namaku aira kak!"
aku menatap wajah di depanku, dia berpenampilan seperti lelaki tapi melihat wajahnya yang lembut aku tahu kalau dia adalah seorang gadis.
Dia memberiku sebuah celana dan kaos oblong, " itu bajuku kurasa muat untuk kakak pakai," aku menerimanya tanpa bicara, dan gadis bernama aira tadi berjalan keluar meninggalkanku seorang diri, aku mulai melepas baju basahku, dan memakai baju pemberiannya tadi, lututku sangat sakit saat aku memakai celana jeans ini, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menahan rasa sakitnya.
Aku merasa lega sekarang, karena badanku mulai menghangat dan aku berjalan keluar kembali ke tempat mereka berkumpul.
Aku duduk diantara mereka yang sedang asyik makan, aira menyodorkan padaku semangkok bakso tapi aku tidak mau menerimanya," maaf aira aku tidak suka bakso, dulu aku suka tapi sekarang tidak! makanan ini membuatku teringat hal yang menyedihkan!" aira mengambil kembali mangkok bakso yang terlanjur di sodorkannya padaku.
Aku lebih baik kelaparan, daripada memakannya! alvin aku sangat berduka karena kepergianmu, hal yang mengingatkanku padamu akan kuhindari agar aku tidak terjebak dalam kekosongan jiwa yang akan mengosongkan pikiranku juga, aku harus tetap waras untuk penebusan dosa yang aku sendiri belum tahu caranya.
Dan sekarang aku merasa sangat lapar! aku akan menahannya sampai aku tidak mampu menahannya lagi.
Di ujung ruangan aku melihat gelas dan botol besar berisi air minum, aku berdiri dan mengambil air minum itu aku berharap ini bisa memuaskan rasa laparku.
Aku minum sambil memperhatikan mereka yang asyik makan bakso, sepertinya enak di udara yang dingin ini, sayangnya aku tidak bisa memakannya.
Aku duduk di depan api unggun yang di buat oleh mereka, rasa hangat mulai merayapi tubuhku.
Mereka semua berkumpul di sini, kenapa mereka tidak masuk kedalam rumah??! malah berkumpul di sini membuat api unggun untuk menghangatkan badan, aku sungguh tidak mengerti.
Aira kembali mendekatiku, dia memberiku sebuah apel aku sangat senang menerimanya " aira aku ingin bertanya kenapa kalian tidak masuk kedalam rumah saja untuk menghangatkan badan? kenapa kalian malah berkumpul dan membuat api di sini??"
aira tersenyum menjawab pertanyaanku dengan santai,
" ini bukan rumah kita kak, ini rumah orang yang kita sendiri tidak tahu ini milik siapa ?! kami di sini cuma numpang buat tempat berkumpul selama rumah ini masih kosong."
Aku tidak ingin bertanya lagi, kurasa aku tidak ingin terlalu jauh mencampuri urusan mereka, cukup bagiku mereka berkenan memberiku tempat berteduh sekarang, esok aku akan pergi dari sini.
Melihat mereka tertawa lepas tanpa beban cukup mengobati kepenatanku hari ini, aku menyandarkan kepalaku di kursi kayu menatap ke satu titik di kobaran api unggun yang jilatannya seperti sekumpulan penari yang bergerak bersama membentuk gerakan mengerucut ke atas menuju langit hitam, sampai kuterlelap.
Mataku silau oleh cahaya matahari pagi yang membuka hari, seperti diriku semua anak - anak punk pun tertidur di depan api unggun yang telah padam hanya beralaskan tikar saja, tapi mereka tertidur sangat pulas.
Aku mulai memperhatikan mereka satu persatu, saat mereka tidur aku baru bisa membedakan laki - laki dan perempuan, aku sangat terkejut karena disini hanya ada satu perempuan yaitu aira.
Aku berdiri mematung di depan mereka, mereka memiliki kehidupan dan urusan sendiri, mereka keluar dari kehidupan yang penuh aturan dan membangun aturan mereka sendiri, aku semakin penasaran seperti apa hari - hari yang mereka jalani?!.
Aku berdiri cukup lama tapi mereka tidak menyadari kehadiranku, sampai aku lelah dan beranjak pergi ke kamar mandi.
Setelah ini aku akan pergi, meskipun aku tidak tahu aku akan kemana! aku berjalan menuju anak - anak punk berada untuk berpamitan.
Dari jauh aku mendengar mereka asyik mengobrol, terdengar tawa mereka renyah sekali.
Aku tidak melihat mereka masuk kedalam kamar mandi ! huhhh mereka jorok sekali, aku lamaaa di dalam kamar mandi dan tak seorangpun mengusikku, termasuk aira .
Aku mengintip dari balik jendela, mereka bertiga berdiri dan akan beranjak pergi, ada pria dengan kemeja kotak - kotak yang seperti tidak asing bagiku, aku mulai memperhatikannya tapi mereka keburu pergi.
Aku mengambil langkah seribu mencoba mengejar mereka, tapi mereka bertiga naik ke dalam mobil dengan cepat dan meluncur pergi.
Aku diam sejenak mencoba menelusuri wajah itu, ya ampun (aku menutup mulutku), dia devin aku ingat kemeja itu! aku pernah melihatnya beberapa kali memakai kemeja itu saat dia mengunjungiku di penjara!!.
Aku berlari cepat masuk kedalam, aku ingin tahu untuk apa devin menemui anak punk di sini ! devin sangat agamis dan aku yakin dia sangat menjaga pergaulannya! lalu sekarang dia bergaul dengan anak - anak jalanan ini, aku sungguh tidak mengerti!!.
Masuk kedalam aku langsung menemui aira, hanya dengan dia aku bisa mengobrol dengan leluasa, " aira aku mau bertanya? ada kepentingan apa 3 pria tadi datang kesini?"
aira menatapku curiga, mungkin dia berpikir kenapa aku menanyakan hal tersebut.
"Mereka dari sebuah LSM kak! mereka mengajak kami bergabung dengan mereka, mereka ingin memberi kami harapan untuk mewujudkan mimpi !"
mendengar penjelasan aira aku merasa lega, kukira devin yang ingin bergabung dengan anak - anak punk ini!.
" kakak mengenal mereka?" aku mengangguk cepat,
" salah satu dari mereka itu temanku! sebenarnya aku ingin menemuinya tapi aku tidak bisa!" aku menutup wajahku dengan tangan, ada sebuah rasa yang menyesakkan saat aku tidak bisa pergi menemui devin.
"Ayo aku antar kak di mana rumahnya?" aku menatap aira sejenak lalu aku memeluknya! aku merasa sangat bersemangat, " kamu serius aira?" dia menganggukan kepala cepat.
Aira bersiap dengan sepeda motor dan aku langsung duduk di boncengannya tanpa banyak membuang waktu, aku ingin segera bertemu devin, banyak yang ingin ku ceritakan padanya.
Aku mengatakan alamat devin dan aira langsung tancap gas tanpa banyak bertanya, dia cuek! seperti sekumpulan anak - anak punk ini. Mereka seakan tidak terlalu peduli dengan kepergian kami, mereka tetap cuek dan asyik mengobrol saja.
Perjalanan cukup panjang hampir 2 jam aku duduk di boncengan aira, tapi semangat bertemu devin membuat aku melupakan rasa lelahku.
Sampailah kami di depan gerbang rumah devin, di pintu gerbang ada sebuah tulisan rumah di jual dan gerbangnya juga terkunci, aku sungguh tidak mengerti?! kenapa devin menjual rumahnya? karena setahuku dia sangat mencintai tempat ini!.
Aku duduk lemas, ku buka helm ku dan ku hapus peluh yang deras menetes di dahiku, siang ini cuaca sangat terik.
" Sekarang gimana kak?" aku menatap aira dan tetap diam, aku juga tidak tahu harus mencari devin kemana?!.
Ada seorang lelaki lewat di depanku, aku menghentikannya dan mencoba mencari tahu keberadaan devin, " maaf pak saya mau bertanya? kemana pemilik rumah ini??"
pria itu menatapku, " oh nak devin? saya tidak tahu dia pindah kemana! sekarang dia bangkrut makanya dia menjual rumahnya ini!."
Bangkrut??? apa maksud pria ini?? aku sungguh penasaran.
Pria ini berlalu dan akan segera pergi aku mencoba menghentikan langkahnya, " maaf pak! apakah bapak tahu kenapa dia bangkrut??" pria ini menghentikan langkahnya, "itu karena mantan istrinya yang sedang di penjara! wanita itu benar - benar wanita tidak baik! selain sudah membunuh beberapa orang dia juga membuat nak devin menderita! kalau aku bisa bertemu dengan wanita itu ingin rasanya kusiram dengan air comberan saja, sungguh dia contoh wanita yang hanya bisa menyengsarakan hidup orang lain saja!," pria itu pun berlalu tanpa menyadari kalau kata - katanya telah menghancurkan aku.
Seperti tersambar petir di siang bolong telingaku mendengar penjelasan pria itu, apakah yang dimaksud wanita tidak baik itu adalah aku?? mendadak aku gemetar! aku jatuh terduduk.
Aku harus segera bertemu devin! tapi di mana aku bisa menemukannya??!
melihatku sesenggukan aira segera memelukku, mungkin terlihat kalau aku benar - benar shock, aku tak mampu menahan tangisku lagi, kata - kata pria itu sangat tajam menghujam kalbuku.
Devin, di manakah kamu sekarang??
Aira meraihku dari tempatku terduduk, " kita pergi dari sini kak!"
sepanjang perjalanan aku hanya diam, pil pahit ini harus kutelan, benarkah kehadiranku hanya membawa malapetaka untuk orang di dekatku?? aku tidak tahu kalau kehadiranku dalam kehidupan devin justru menyeretnya dalam penderitaan??hikkkkkkls hikkkkkk.
Devin maafkan aku!!!.