
Aira memacu motornya sangat kencang, sampai itu membuatku berhenti melamun, dan harus sering memperhatikan jalanan karena aku takut dia lengah dan bisa membahayakan kami berdua, saat aku mengingatkannya untuk sedikit pelan dia hanya tertawa tanpa menghiraukan perkataanku, sepertinya dia bahagia saat adrenalinenya terpacu.
Hemmmzz, potret anak jalanan sejati !! aira oh aira .
Aira tidak membawaku kembali kerumah besar base camp mereka, tapi ketempat lain.
Perempatan lampu merah yang ramai menjadi tempat tujuan kami selanjutnya.
Mereka semua berkumpul mengamen di lampu merah, aira memarkirkan motornya dan menghampiri mereka,
sedangkan aku memilih tetap duduk diatas boncengan motor yang terparkir, aku tak ingin kesana menemui mereka seperti aira.
Kutatap wajahku di kaca spion terlihat aku begitu kurus, ada lingkaran hitam di bawah mataku yang membuatku terlihat jauh lebih tua! aku tidak ingat kapan terakhir aku menatap wajahku di cermin, begitu banyak hal yang sudah terjadi, semuanya seakan ikut menenggelamkan aku juga kedalam kegelapan yang tidak bertepi dan menjebakku dalam lingkar hidup yang suram.
Ah, takdir engkau membiarkanku hidup tapi telah membinasakan jiwaku dan membiarkan jiwa itu terpenjara dalam kekosongan.
Lama aku hanya memperhatikan mereka dan yang mereka lakukan tetap sama, ada sebagian yang mengamen dan sebagian mengobrol, terus seperti itu sampai hari menjelang sore, aku merasa haus dan lapar tapi tidak mungkin aku meminta kepada mereka, tetapi aku juga tidak mampu membeli makanan, karena hanya angin yang mengisi kantongku kurasa aku harus menahan kegalauan perutku ini entah sampai kapan.
Saat matahari akan tenggelam mereka semua baru beranjak pergi dari lampu merah, aira menghampiriku dan membawa motor berjalan pelan mengikuti sekumpulan anak punk dari belakang.
Entahlah mereka akan pergi kemana? karena setahuku ini berlawanan arah dengan rumah base camp mereka.
Kami berjalan cukup jauh, sampai akhirnya sampai di sebuah rumah besar yang di depan gerbangnya tertulis LSM taruna bangsa.
Kami semua masuk dan ternyata di dalam sudah sangat ramai, ada puluhan orang yang berkumpul di sebuah ruangan yang sama.
Masuk kedalam aku berharap bisa bertemu lelaki berkemeja kotak - kotak yang ku lihat tadi pagi, harap - harap cemas membuat mataku tidak berhenti mencari lelaki itu diantara puluhan orang yang hadir di sini,
tapi aku tidak menemukannya!.
Ah, devin di manakah kamu berada? dadaku sesak memikirkanmu!! banyak yang ingin kutanyakan padamu.
Mungkin aku salah lihat ! atau hanya mirip saja! ingin menangis rasanya!! karena aku tidak menemukannya di sini seperti harapanku semula, di mana kamu berada devin?!
aku menghela napas di dadaku yang mulai terasa sesak, harapanku pun pupus seketika, dan aku terjebak dalam diam.
Kami duduk bersama dengan semua yang hadir di sini, mereka membentuk lingkaran dan ada seorang pembicara yang berdiri di tengah - tengah kami.
Dia memberikan visi dan misi mereka mengumpulkan kami disini, ada yang sangat antusias dan ada yang cuek dan berbicara ngobrol sendiri tanpa menghiraukan pembicara di depan mereka.
Program mereka bagus, mereka mau menampung anak jalanan disini dan memberikan mereka keahlian dan keterampilan yang nantinya bisa di jadikan bekal untuk hidup berbaur dalam masyarakat.
Aku tertarik dengan misi mereka, kupikir kalau aku di sini setidaknya aku punya tempat tinggal dan ada yang bisa kulakukan sampai nanti aku menemukan hal yang ingin kulakukan, daripada aku mengikuti anak - anak punk teman aira itu.
Cukup lama aku menjadi pendengar setia di sini, dan di akhir acara kami di suruh absen dan tanda tangan bagi yang berminat mengikuti program yang mereka buat.
Mungkin aku adalah orang pertama yang melakukannya, dalam hati aku berharap semoga di sini aku bisa bertahan dari kecemasanku akan langkahku selanjutnya, aku akan bertahan di tempat ini terlebih dahulu sampai nanti aku temukan cara untuk mencari temanku devin.
Kami duduk bersama untuk tanya jawab dalam suasana santai karena acara telah berakhir, sampai hadirlah puluhan kresek berisi nasi bungkus dan air mineral yang kami sambut dengan suka cita.
Aku melahap nasi bungkus yang isinya nasi campur, dan aku makan seperti orang yang sudah tidak makan satu bulan, aku benar - benar lapar.
Ada suara tawa dari belakangku, saat aku menoleh ternyata tawa itu milik aira, " pelan - pelan kak, nanti tersedak!" aku hanya bisa meringis mendengar gurauan aira dan aku tidak peduli dengan keusilannya itu karena sekarang aku hanya fokus pada nasi campur ini.
"bagus untukmu aira, yakin kamu siap meninggalkan duniamu yang bebas itu? oh ya aku juga berniat ikut di sini ! kalau memang begitu kita bisa sama - sama terus setiap hari," mendengar ucapanku aira bertepuk tangan dan kami pun melanjutkan makan dengan hati bahagia.
Aira berpamitan dengan teman - teman yang lainnya, karena tidak ada seorang pun yang tertarik untuk tinggal di sini, hanya aira seorang.
Setelah berpamitan aku mengajak aira kembali masuk, di sini ada seorang wanita yang bernama bu vivi yang mengumpulkan para wanita untuk di giring menuju kesuatu tempat.
Kami di ajak masuk ke sebuah ruangan yang cukup luas, di sini telah tertata tempat tidur dari besi yang berjejer rapi tanpa penyekat, jumlahnya puluhan.
Diatas tempat tidur ada sebuah bantal dan selimut,
" ini adalah kamar kalian, maaf kondisinya hanya seperti ini ! tapi ibu harap kalian betah di sini, selamat beristirahat, kita ketemu besok pagi ya."
Bu vivi berlalu pergi aku dan aira bergandeng tangan mencari tempat tidur yang letaknya berdekatan.
Aku merebahkan tubuhku yang lelah diatas tempat tidur sederhana ini, ini pun rasanya sudah luar biasa daripada aku tidur di jalanan.
Aku teringat devin lagi, di mana aku bisa bertemu dengannya??! aku merasa bersalah padanya! ya Allah semoga ada kesempatan aku bisa bertemu dengannya, ingin kutebus dosaku padanya meski dengan cara apapun.
Sulit bagiku untuk memejamkan mata, tubuhku terasa sakit semua! bekas luka di sekujur tubuhku menyisahkan rasa perih yang tidak kunjung hilang, aku belum mandi dan mengganti bajuku seharian ini, mungkin keringat yang bercampur debu membuat luka - lukaku ini sakitnya semakin menjadi.
Aku tidak membawa apapun kesini, apalagi baju ganti! tapi rasa perih di sertai gatal yang terus menerus kurasakan membuatku tidak bisa tidur.
Aku bangun dari tempat tidur kubawa selimutku dan aku berjalan keluar kamar, besar harapanku untuk bisa menemukan kamar mandi.
Setelah berjalan mengelilingi rumah ini akhirnya aku menemukan juga kamar mandi yang letaknya di belakang rumah utama, aku masuk dan berniat mandi aku berharap bisa menemukan sabun di dalam sini, semoga kondisinya lebih baik dari kamar mandi di dalam penjara.
Aku beruntung semua yang kubutuhkan ada di sini, termasuk sabun cuci, aku sangat bersyukur sekali semua yang kubutuhkan ada di sini.
Air kuguyurkan keseluruh tubuhku, aku seperti merasa hidup kembali, dinginnya air membuat otot - ototku seakan bekerja kembali.
Selesai mandi aku membalutkan selimut keseluruh tubuhku, dan aku mulai mencuci baju yang kupakai tadi, aku menjemurnya di belakang rumah dan aku duduk di kursi taman yang tersedia di situ, kurasa aku harus menunggu bajuku sedikit mengering di sini sampai bisa kupakai kembali.
Menunggu membuatku merasa sangat mengantuk, aku tertidur sambil duduk, tak ada seorangpun yang datang kesini membuatku merasa sangat nyaman karena aku tidak terganggu dengan apapun.
Semilir angin membuat kantukku semakin parah sampai aku pun tenggelam kedalam alam mimpi yang tak berujung.
Suara adzan subuh memaksaku untuk membuka mata,
aku tergesa melihat jemuran bajuku, aku tidak ingin ada yang melihatku tidak memakai baju pagi ini, tapi anehnya tidak ada yang bangun atau sekedar kencing ke kamar mandi, sehingga suasana di sini masih sepi.
Aku memakai bajuku yang masih sedikit basah, tapi itu lebih baik daripada aku memakainya dalam kondisi kotor.
Aku kembali ke kamar, tapi di sini sangat sepi tak ada seorang pun, aku pun mulai bertanya - tanya kemana semua orang pergi??
aku berjalan keluar dan terus mencari, sampai kudengar suara berisik dari samping rumah, aku terus mencari dan sampailah aku di sebuah mushola, di belakangnya ada sebuah sungai mengalir dan kulihat hampir semua orang sedang asyik mandi di sana, sekarang aku baru tahu ternyata mereka semua ada disini.
Para lelaki sudah berkumpul di dalam mushola, sedangkan para wanita masih ada di sungai, ada yang mandi, mencuci baju dan ada yang sibuk mencuci sayuran yang jumlahnya cukup banyak, ini adalah hal yang sangat menakjubkan untukku, kesibukkan mereka menarikku untuk ikut bergabung dengan mereka.
Aku pun ikut tertawa bersama mereka, kami merasa menemukan hal yang berbeda dan menyenangkan di pagi buta ini, sampai bu vivi mengintruksikan kami untuk segera ke mushola karena sholat subuh berjamaah akan segera di mulai.
Awal yang menyenangkan di tempat yang baru, di sini kami merasa di perlakukan selayaknya manusia, selesai sholat para wanita berkumpul di dapur untuk memasak makanan untuk semua penghuni tempat ini, sedangkan para lelaki mulai mempersiapkan segala kegiatan yang akan di jalani semua orang hari ini, besar harapanku aku akan menemukan hidup yang baru berawal dari tempat ini.