
Kembali ke indonesia serasa berada di alam mimpi, tanahnya di selimuti rumput hijau dan asri sepanjang mata memandang, udaranya sejuk menyegarkan pernapasan.
Kami serasa kembali hidup.
Bersyukur aku lahir di tanah ini, tempat aman tentram dan damai.
Devin tidak mengajakku kembali ke rumahnya, tetapi ke base camp LSM tunas bangsa.
Dia mengatakan kalau dia menjual rumahnya untuk di sumbangkan ke LSM ini, sekarang hidupnya adalah berkutat di misi kemanusiaan dan aku pun setuju dengannya, hidup kami sekarang adalah untuk nama pengabdian.
Seperti keinginan sebelumnya, devin meminta semua penghuni LSM untuk membantu mempersiapkan pernikahan kami yang akan di gelar sederhana, tanpa pesta seperti pernikahan pertama kami dulu.
Aku tidak ingin mengundang siapapun termasuk ibuku, biarlah sekarang aku hidup sebagai anak hilang, surat kematianku pun sudah di buat pihak LAPAS, jadi sekarang bagi dunia aku telah tiada.
Aku pun melarang devin mendaftarkan pernikahan kami di catatan sipil, cukup menikah secara agama yang terpenting kami sah di mata Allah saja.
Tanpa halangan berarti akhirnya pernikahan pun terjadi, dan sekarang aku resmi menjadi istri devin, pernikahan kami di sambut suka cita semua penghuni tempat ini.
Ada kecupan manis dari aira di pipiku, ini adalah pertemuan pertamaku dengannya semenjak kami berpisah di palestina, aku menyayanginya seperti adikku sendiri, sekarang dia sudah banyak berubah, identitasnya sebagai anak punk sudah lenyap, sekarang yang berdiri di hadapanku adalah gadis manis berhijab syari, dia telah menemukan hidayah di palestina.
Kami larut dalam kebahagiaan hari ini, sampai kegembiraan kami usai karena waktu telah menjelang malam.
Ini adalah malam pertamaku dengan devin, dia mengajakku masuk ke kamar.
Dia menggelar sajadah dan mengajakku sholat isya' yang tertunda akibat perjamuan pernikahan kami, kami sholat dalam ke khusyukan, airmata kami tidak berhenti menetes ada keharuan di hati kami karena telah sampai ke titik ini.
Selesai sholat devin tidak beranjak dari duduknya, dia memintaku tidur di pangkuannya, dia mengusap wajahku dengan lembut.
Kami diam dalam keheningan, sampai aku pun tertidur di pangkuannya.
Suara adzan subuh membangunkanku, aku pun telah berpindah tidur di atas kasur, tapi aku tidak melihat devin di sini.
Aku paksakan mataku untuk menghindari kantuk, dan beranjak bangun menuju mushola tempat ini.
Ternyata devin sudah berada di dalam mushola, duduk terpekur di deretan paling depan, tidak ada yang berani menegurnya.
Aku tidak tahu apakah yang ada di dalam benaknya, tapi dia adalah tipe orang yang tidak terlalu suka berbagi cerita kepada orang lain, dan kurasa rata - rata orang di sini sudah memahami karakternya.
Ah, devin aku harus belajar memahami dirimu! sampai sekarang pun aku belum bisa meraba seperti apakah dirimu, jalan pikirannya sukar di tebak.
Pagi menjelang waktunya memulai aktifitas lagi, karena kemeriahan pernikahan telah usai.
Kami pun mulai berkutat lagi dengan misi kemanusiaan, saat ini saja sudah menumpuk jadwal keberangkatan sukarelawan ke beberapa negara yang memang membutuhkan dukungan sukarelawan dari indonesia.
Semua akan berangkat secara estafet termasuk aku dan devin.
Ada suara ketukan di kamarku, aku membukanya dan ternyata itu adalah aira.
Aku mengajaknya masuk dan kami mulai mengobrol, " kak alicyaa minggu depan aku akan berangkat ke china, tapi sebelum berangkat aku ingin pulang menemui ayah dan ibuku, aku tidak tahu apakah aku akan kembali kesini dalam kondisi masih hidup, hikkkkss hikkkk."
Aira tidak mampu meneruskan kata - katanya, dia mulai menangis dan aku meraihnya untuk kubenamkan di dadaku.
" Aira, aku akan mengantarmu! nanti aku akan bicara kepada devin, kamu cukup memberitahunya alamat rumahmu.
Mendengar kesanggupanku aira mengembangkan senyum tipis di bibirnya, kulihat ada binar bahagia di sorot matanya.
Aku tidak pernah bertanya kepada aira alasan dia kabur dari rumahnya dan memilih tinggal di jalanan, tapi pasti alasannya sangat menyakitkan dan aku tidak ingin mengusik kehidupan pribadinya yang coba dia tutupi rapat - rapat itu, aku akan menunggu sampai dia sendiri yang ingin menceritakannya padaku.
Hari ini aku dan devin bersiap mengantar aira pulang, aku mengangapnya seperti adikku sehingga aku pun bisa merasakan penderitaannya.
Datang ke china yang sedang di landa konflik dan merebaknya wabah penyakit, pasti bukan hal yang mudah mungkin aira memahami hal itu, pilihan ini adalah keputusan berani.
Banyak sukarelawan yang gugur di lokasi kemanusiaan, sehingga butuh sebuah keyakinan yang kuat untuk bisa memantapkan hati menjalani misi ini tanpa pamrih.
Mungkin inilah yang di takutkan aira, pastinya terbesit ketakutan tidak lagi pulang ke tanah air dengan membawa tubuh yang bernyawa, sehingga dia ingin bertemu kedua orang tuanya sebelum pergi.
Aku sangat memahami kegelisahannya, untuk itulah aku sangat bersemangat untuk mengantarnya, aku ingin keluarga yang harmonis bisa terbentuk dengan kedatangan aira, sesuatu yang tidak kumiliki, aku berharap aira tidak mengalami kepedihan seperti diriku.
Mobil di pacu dengan cepat, tidak sulit menemukan lokasi rumah aira karena terletak di perumahan elit yang cukup terkenal di kota surabaya.
Aira berkelana dan berkeliaran di kota malang, pantas saja dia tidak pernah bertemu dengan orang terdekatnya.
Aku menjadi penasaran, sebenarnya permasalahan apa yang membelit aira dan keluarganya sehingga mereka berkonflik dan memaksa aira pergi dari rumahnya.
Kami sampai di alamat yang aira beri, sebuah rumah mewah yang memiliki gerbang menjulang tinggi.
Devin memencet bel dan aira turun dari mobil untuk bertemu security rumah ini, sepertinya sulit untuk bisa masuk kedalam rumah.
Pintu gerbang di buka dan devin membawa masuk mobilnya.
Halaman rumah ini sangat luas, dan rumahnya juga sangat besar, tetapi rumah ini begitu sepi seperti tidak berpenghuni.
Aira masuk rumah tanpa mengetuk pintu, aku dan devin mengikutinya dari belakang.
Sampai di dalam ada wanita paruh baya yang datang dengan tergopoh - gopoh, di ikuti seorang pria berperawakan tinggi berkepala botak, melihatnya aku seperti tersengat aliran listtrik.
Aku sangat mengenal sorot mata itu dan pria itu juga yang bertepuk tangan sangat keras saat vonis hukuman terberat di jatuhkan padaku saat di pengadilan, dia ayah alexandra!! apa hubungannya dengan aira???.
Tubuhku mulai gemetar, aku yang sedari tadi berdiri sejajar dengan devin mulai mundur perlahan.
Aira memeluk pria itu dan memanggilnya " papa"!!
aku seketika lemas, aku baru tahu kalau aira adalah adik alexandra.
Setelah mereka berdua puas melepaskan rindu, aira melepaskan pelukannya dan dia berbalik untuk mengenalkannya padaku dan devin.
Mata ayah aira terbelalak saat melihatku, " kamu alicyaa pembunuh itu!!!"suara ayah aira menggelegar membuyarkan keheningan rumah ini.
Devin terkejut begitu juga dengan aira, aku mulai menelan ludah dan ku gigit bibirku kuat - kuat.
Aira mulai menangis dan menutup mulutnya dia menatapku tajam tanpa berkata apa - apa, kemudian dia berlari kelantai atas sambil berlinang airmata.
Di sini ayah aira mulai tidak terkendali dia menghampiriku dan mulai menjambak rambutku, aku menangis menahan sakit.
Devin sangat terkejut dan dia berusaha menolongku, tapi cengkeraman tangan ayah aira sangat kuat, aku mulai mengerang kesakitan
Devin kehilangan kendali dan dia mulai menyerang ayah aira, untuk sesaat kami lupa yang kami hadapi adalah seorang pria tua.
Ayah aira jatuh tersungkur ke lantai, mulutnya berdarah karena mendapatkan bogem mentah dari tangan devin yang mengepal sempurna.
Suara tembakan mengejutkan kami yang sedang konsentrasi pada ayah aira, aku yang jatuh terduduk seketika berdiri dan mencari siapa yang sudah melepaskan tembakan ke udara.
Aira telah berdiri dengan amarah memenuhi wajahnya, matanya merah menyala.
Dia turun dari lantai atas dan mendekati tempat kami berdiri, dia menodongkan pistol kepadaku.
"Aku tidak menyangka kalau kak alicyaa yang kukenal baik adalah pembunuh satu - satunya kakak yang kusayangi!"
aira mulai merancu dengan berlinang airmata, sungguh aku tidak tega melihatnya begitu.
"Maaf aira! aku terpaksa menembak kakakmu karena dia akan membunuhku setelah membunuh ayah dan anakku!"
tapi aira tidak kehilangan kemarahannya meskipun aku sudah menjelaskan titik permasalahannya.
Dan tanpa bicara dia menembakkan sebuah peluru ke arahku, devin datang tiba - tiba dan menerima tembakan aira tepat di kepalanya.
Aku berteriak histeris melihat devin jatuh terjerembab ke lantai, aku ingin meraihnya namun langkahku terhenti karena tembakan kedua dari aira telah menembus dadaku! sama seperti devin aku pun terjatuh.
Darah mengucur deras dari dadaku, aku merasakan sakit dan diikuti rasa sesak yang membuatku sulit bernapas.
Aku menggeser tubuhku perlahan dan tanganku berusaha meraih devin yang sedang meregang nyawa, tatapan matanya tajam kearahku kulihat bibirnya bergetar, sampai tatapan itu redup dan matanya tak terbuka lagi, " devin!!!!"
aku berteriak histeris.
Kutatap aira dan aku hanya ingin mengucapkan kata maaf untuk terakhir kalinya, aku ingin meraihnya tapi dia tetap berada di tempatnya berdiri sambil berlinang airmata.
Aira mulai mengarahkan pistol di kepalanya sendiri, dan dia menarik pelatuknya cepat dan sebuah peluru telah bersarang di kepalanya membuat dia pun terjatuh tak bernyawa.
Masih bisa kulihat ayah aira berlari mendekati aira dan merengkuhnya dalam pelukannya.
Napasku mulai tersengal - sengal dan kulihat cahaya terang sedikit demi sedikit meredup.
Aku seperti berada di sebuah padang yang luas, tapi aku tidak sendirian di hadapanku ada alvin, ayah dan al fatih.
Dari arah lain datang devin dengan senyuman dan sekuntum bunga mawar di tangannya, dia memberikan mawar bewarna putih kepadaku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa sangat bahagia, semua orang yang kusayangi ada di sini.
Devin dan alvin menggandeng kedua tanganku! nama mereka hampir mirip dengan panggilan yang sama " vin!"
aku tertawa bahagia, kami berjalan beriringan dan kurasa kami sedang menuju ke sebuah tempat yang penuh kebahagiaan, tiada lagi airmata.
TAMAT.