
Aku kaget saat tersadar aku sudah berada di sebuah ruangan, tanganku tertancap jarum infus.
Ada seorang suster yang sedang sibuk menulis sesuatu sampai dia tidak tahu kalau sedari tadi aku melihatnya.
" Maaf suster aku kenapa dan sedang ada di mana?"
suster itu menoleh dan menghampiriku.
" Bagus , mbaknya sudah sadar.
Nanti ada catatan medis lengkap di di kertas ini, mbaknya tinggal tanda tangan saja.
Suster itupun menyodorkan sebuah kertas kepadaku,
aku menatapnya dengan marah, aku bertanya dia tidak menjawab pertanyaanku.Baiklah!
Dengan paksa aku mencoba melepas infus yang terlanjur menancap di tanganku, suster itu mulai panik dan kegaduhan pun mulai terjadi.
Tiba- tiba masuk dua orang laki- laki yang berusaha menghentikan kami.
Salah satunya aku mengenalnya , dia security di rumah alvin.
" Aku harus pergi!!"
aku meronta dan berusaha melepaskan diri, tapi tak bisa.
Dokter berusaha menenangkan aku, bukannya tenang aku mulai berteriak- teriak histeris.
Plaakkkkk!!
Security itu menamparku, seketika aku diam.
" Aku harus menemui alvin, aku ingin memeluknya di sana!" hikkkkk ,hikkkkksss
Aku mulai menangis mengeluarkan beban hatiku.
Security itu duduk di sebelahku," nona bisa masuk ke rumah tuan alvin tapi saya yakin nona tidak akan keluar lagi."
Aku menatap tajam kepadanya " Aku tidak perduli, kalau perlu aku akan mati dalam pelukan alvin, aku tidak ingin hidup lagi kalau alvin tiada! dia tidak boleh di kuburkan, sebelum aku melihatnya untuk yang terakhir kali, aku mohon bawa aku padanya!" aku mulai berteriak dan menangis lagi, dan security itu sontak memelukku, mengusap rambutku agar aku tenang.
" Demi Tuhan nona harus tetap hidup, setidaknya demi bayi yang ada di dalam perut itu, aku yang membawa nona ke sini, tadi nona pingsan di depan gerbang.
Semua orang di rumah sedang sibuk, aku berharap tidak ada yang menyadari kalau saya menolong dan membawa nona kesini!"
Aku sangat kaget mendengar ucapan security itu, dengan gemetar aku memegang perutku, seperti tidak percaya aku terus memegangnya dan berusaha merasakan kalau memang benar ada kehidupan dalam di situ.
Tak terasa airmataku berlinang, dia milik alvin,
aku memeluk kembali security yang sedari tadi tersenyum haru melihatku.
" Nama saya rahmat, saya bekerja di rumah itu sejak tuan alvin masih bayi, dulu saya sopir pribadi tuan alvin yang mengantar dan menjemput dia sekolah.
Sampai mata ini mulai rabun saya di pindahkan di pos depan sebagai security, tapi itu tidak mengurangi kedekatan saya dengan tuan alvin.
Bahkan saya orang pertama yang tahu saat pertama tuan alvin jatuh cinta kepada nona, bahkan kejadian kemarin juga salah saya."
Dia mulai diam, memandang ke bawah dan menelungkupkan tangan ke wajahnya.
" Sungguh maafkan saya, hikkks hikkk."
Aku berusaha menenangkan pak rahmat yang tidak bisa lagi membendung airmata kesedihan, mungkin sekarang perasaan kami berdua sama,
terpukul!!
" Sore itu nyonya menyuruh saya memperbaiki lampu yang mati, saya menaruh ponsel saya di meja, tiba- tiba ada pesan masuk berisi foto pernikahan nona dan tuan alvin.
Dan nyonya besar melihatnya, seketika itu nyonya besar mengancam saya , kalau saya tidak menceritakan kebenarannya, sungguh maafkan saya."
Saya tidak menduga semuanya akan berakhir seperti ini, saya menyesal.
"Keluarga mereka terlalu congkak, mereka bisa melakukan apa saja yang seperti mereka inginkan.
Termasuk memaksa tuan alvin menikah karena perjanjian bisnis, nona Alexandara adalah anak seorang pejabat dan juga kaya raya di kota ini, keuntungannya sangat besar kalau kedua keluarga itu bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan, mereka bisa membangun kerajaan bisnis yang kuat di negara ini, mereka bukan orang sembarangan."
" Non alicyaa harus pergi dari kota ini atau pun kalau bisa dari negara ini, mereka pasti akan mencari nona.
Tapi kata dokter, nona sangat lemah setidaknya butuh minimal 3 bulan nona harus bed rest diatas tempat tidur.
Pikirkan kemana nona akan pergi , besok pagi saya ke sini lagi, saya akan mengantar nona kemanapun nona inginkan, sebagai bentuk kasih sayang saya sama tuan alvin, saya ingin nona dan calon bayi itu aman."
Pak rahmat berlalu pergi meninggalkan aku, meninggalkan sebuah kenyataan yang masih belum kupahami, ada kehidupan lain dalam diriku, berlindung di dalam kehangatan rahimku.
Alvin meninggalkan sebuah kenangan yang memaksaku untuk bertahan untuk tetap bernapas di dalam dunia yang mulai membuatku sesak, dunia yang akan terasa hampa tanpa kehadirannya, dunia yang kubenci sejak aku di lahirkan, dan sekarang aku kembali harus membencinya! aku pikir hidupku akan berwarna bersama alvin, tapi ternyata takdir terjadi sebaliknya, aku benci takdirku ini.
Angin membawamu pergi
menghancurkan keyakinanku pada cinta
jika aku tidak bisa menjadi milikmu
maka aku tidak akan menjadi milik orang lain
meninggalkan kenangan yang tak mungkin usang
kenangan yang akan membelenggu jiwa dan pikiran untuk sebuah kasih sayang
yang tlah terbang.
Alvin!! tolong katakan bagaimana caraku bertahan tanpa dirimu. Hikksss hikkkk
menangis dan menangis lagi meskipun airmata telah habis dan berganti airmata darah, alvin tidak akan kembali.
Aku harus kuat demi dia yang menunggu untuk hadir di dunia ini, kehidupanku yang gelap tak akan kukenalkan pada anakku kelak.
Tapi aku masih belum tahu caranya? tiba- tiba aku teringat alvin pernah mengatakan tentang rekening bank ,aku belum pernah mengecek isinya, sebulan yang lalu aku berencana untuk kuliah dengan uang itu, tapi belum sempat melakukan pengecekan, aku berharap isinya cukup untuk biaya hidupku sebelum melahirkan, setelah itu aku akan mencari pekerjaan untuk tetap bertahan dengan anakku.
Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata, semakin kupikirkan semakin aku ketakutan, sungguh aku tidak menduga aku mengalami semua kejadian ini, kehidupan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, berurusan dengan egoisme orang - orang kelas atas, kukira hidupku begitu saja sederhana dalam kehidupan masyarakat menengah ke bawah, tidak terjebak dalam kerumitan hidup orang- orang kaya yang penuh dengan hal yang diluar kemampuanku untuk menerkanya.
Waktu berlalu begitu saja, pagi pun menjelang,
aku harus bersiap sebelum pak rahmat datang.
Sebelum pergi aku harus tahu dulu berapa jumlah uang di rekeningku, agar mudah bagiku menentukan arah selanjutnya.
Sesuai janji dia pun datang, seperti tergesa- gesa dia mengajakku untuk segera pergi dari tempat ini.
Di tengah jalan aku meminta berhenti di sebuah atm, aku ingin mengecek saldo, harap - harap cemas aku masukkan kartu atm itu, dan tiba- tiba tanganku gemetar saat tahu isinya, mukaku pucat.
Tak kusangka alvin sekaya ini, uang yang di kucurkan padaku, bukan lagi jutaan tapi milyaran.
Ya Tuhan!!**s**ulit dipercaya
apakah alvin sudah tahu kejadian ini akan terjadi
dimana aku akan menjadi tidak berdaya dan membutuhkan dana ini??
Suara ketokan dari luar pintu mesin atm, membuyarkan lamunanku, aku menatap kembali ke mesin atm dan mengambil uang secukupnya.
Aku tidak bisa tinggal di apartemen lagi, aku harus pergi ke suatu tempat untuk menghindari keluarga alvin, tapi aku masih belum bisa pergi ketempat yang jauh aku takut akan kecapekan, kata- kata dokter itu cukup membuatku ketakutan.
Di dalam mobil aku berpikir dan terus berpikir, akhirnya kuputuskan aku akan kembali ke rumah nenekku yang cukup lama kutinggalkan.
Aku menyuruh pak rahmat untuk mengantarku ke rumah nenekku yang cukup dekat dari kota surabaya, hanya butuh waktu 3 jam perjalanan, kalau jalananan tidak macet, dan pak rahmat menyanggupinya.
Rumah nenek terlihat tidak terawat, tapi nanti aku bisa meminta tolong saudaraku atau tetangga untuk membantuku membersihkannya.
Setelah menurunkanku, pak rahmat pun berpamitan pulang.
Dia tidak ingin meninggalkan kecurigaan pada keluarga alvin, kalau dia menghilang terlalu lama.
Aku masuk rumah dan disambut dengan udara pengap dan debu yang membuatku batuk- batuk, suara langkah kaki di belakangku mengagetkanku.
Itu bude halimah saudara ibuku, yang memang rumahnya dekat dari sini, hanya beberapa meter saja.
Mungkin dia melihat kedatanganku, bude halimah menatapku curiga.
" Ada apa bude?"
bude halimah menyeret tanganku buru- buru menuju kursi, dia mengajakku duduk.
"Kapan hari keluarga suamimu devin heboh mencarimu ke sini, sumpah licy mereka kebingungan, mereka juga membawa serta polisi,
ada apa sebenarnya?
Mereka meninggalkan alamat dan nomer telepon, kalau seandainya sewaktu- waktu kamu pulang ke sini, mereka ingin bude memberitahu mereka."
Aku mulai menceritakan semua kisahku kepada bude halimah, dan dia mulai bisa memahami situasiku.
"Baiklah licy, bude akan membantumu mencari orang yang bisa membantumu di sini supaya kamu bisa beristirahat,
sekarang kesehatanmu dan calon bayimu itu yang utama, bude akan pulang dulu."
Rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan pahit,sekarang aku datang kerumah ini membawa kepahitan hidupku, aku hidup tapi serasa mati.
Bagaikan mimpi buruk aku kehilangan alvin, dia mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan hidupku.
Sayangnya dia pergi sebelum tahu bahwa aku mengandung anaknya, seandainya dia tahu aku yakin dialah orang yang paling bahagia.
Hikkkkk hikkkksss alvin!!
aku ingin ikut mati denganmu, tapi sekarang ada yang menghalangiku melakukannya.
Sakitnya karena kehilanganmu seakan tak mampu ku tahan, tolong katakan bagaimana caraku agar bisa melalui semua ini, tolonglah aku alvin!!
Suasana tetap hening, aku bicara pada nasibku sendiri, pada dukaku sendiri hanya sendiri dan keadaan terus memaksaku untuk berlari.
Kenapa hidup memaksaku untuk terus berlari?
aku lelah!
aku lelah sekali !.