BLack Roses

BLack Roses
4.1Emosi tertahan



 


Hari ini hari pertama di rumah mertuaku sambutan keluarga mereka cukup hangat, ada sedikit kelegaan di hatiku.


"Tuhan tolonglah aku "


aku akan memulai kehidupan yang baru disini ,


semua ini pasti tidak mudah bagiku yang terbiasa hidup bebas.


Devin mulai mengenalkan aku ke semua anggota keluarga besarnya, dari yang ku lihat mereka adalah keluarga yang agamis, banyak yang menggunakan cadar.


Dan aku? (aku tersenyum kecut) aku hampir lupa cara sholat, terakhir melakukanya saat masih tinggal dengan nenekku.


Keluarga ini cukup hangat setelah berbasa - basi devin mengajakku ke kamarnya.


Dia menunjukkanya dan sejenak aku tertegun, kamar ini cukup luas tapi tidak ada tempat tidur di sini, hanya ada sebuah karpet bulu yang terhampar di sana.


"Maaf devin boleh aku bertanya? ( devin mengangguk),


kenapa tidak ada tempat tidur di sini, aku lihat kamar ini cukup luas?"


Sambil tersenyum devin menjawab kalau dia suka tidur di lantai, meneladani Rosullaallah.


"Hemmmzz kamu enggak keberatan kan lic?"


( aku menggeleng)


aku sama sekali belum tahu kalau devin sangat agamis ,sering ketemu di LSM swasembada pangan aku lihat dia biasa- biasa saja, bahkan nyaris tak pernah ngobrol tentang agama, baru hari ini aku mengetahui kalau dia sangat agamis.


*M*elihat hal ini dalam hati aku berjanji aku akan berusaha mengimbanginya.


" Baiklah sayang, ajari aku tentang ketekunanmu ( kataku manja)


devin hanya menatapku sambil tersenyum.


Berberes sudah selesai waktunya beristirahat, tapi sebelumnya aku berbenah diri aku yakin malam ini devin akan mendekatiku, setidaknya aku harus berusaha tampil semaksimal mungkin.


Benar saja devin masuk ke kamar dan dia mulai mencumbuku,


"sayang ajari aku cara bercinta seperti kekasihmu


yang telah mengambil kesucianmu itu!"


(jleppp langsung menusuk jantungku) kata-katanya langsung membuatku kehilangan mood untuk bercinta.


Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi, devin akan bercinta dengan melampiaskan emosinya padaku.


Dan benar saja, awalnya dia menindihku kemudian mencekik leherku nafasku tersengal - sengal devin hentikan !! (bentakku).


"Kamu menyakitiku, apa sebenarnya yang kamu inginkan? apakah kejujuranku yang telah menyakitimu?"


sejenak dia melepaskan tanganya dari leherku.


Aku lihat dia duduk terdiam di sampingku, aku bangun dan menatapnya dalam- dalam.


"Maafkan aku devin, mungkin aku tidak seperti yang kamu harapkan, tolong katakan padaku apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku itu? aku mohon jadilah devin yang selama ini aku kenal, devin yang perhatian, baik, dan lemah lembut."


Devin hanya diam duduk terpaku, lurus menatap tajam ke lantai.


"Maafkan aku kalau aku hanyalah barang bekas yang artinya aku hanya sampah bagimu, tapi aku janji mulai saat ini aku hanya milikmu ,tolong ajarilah aku hidup seperti yang kamu mau, ( devin mulai merespon ucapanku)ia memelukku erat .


"Maafkan aku lic, aku sangat mencintaimu tadinya aku berfikir kamu hanya milikku seutuhnya, mendengar pengakuanmu itu membuatku hancur tapi aku akan berubah kita akan memulai hidup yang baru, babak baru akan di mulai, aku janji aku akan menerimamu apa adanya."


Malam ini berlalu dengan romantisme, tidak seperti malam pertama pernikahanku, aku bersyukur.


Pagi hari aku bangun tapi devin sudah tidak ada di sampingku, kulihat jam weker masih jam 6 pagi kemana dia? bergegas aku bangun dan keluar kamar mencarinya. Aku lihat semua anggota keluarga berkumpul di ruangan keluarga, ya tuhan mereka sudah berkumpul dan tadarus Qur'an, malu rasanya! sedangkan aku baru bangun tidur.


Devin terlanjur melihatku kemudian dia seketika menghampiriku , hari ini kami sekeluarga berpuasa jadi area dapur yang harus di hindari ya!.


Tanpa basa- basi aku berbalik arah kembali ke kamarku, ketegasannya tak terbantahkan lagi.


Kamprett , hari ini aku akan mati kelaparan kenapa devin tidak mengatakan apa pun semalam, setidaknya aku bisa makan sahur, huhhhhh.


Entah hari apa ini? kenapa mereka semua berpuasa?.


Disini sangat berbeda dengan kehidupanku sebelumnya, pagi aku bekerja malamnya aku kelayapan bersama temanku satu kosan, entah cuma nongkrong, karaoke atau ke club malam.


Dan kegiatan itu nyaris tiap hari kulakukan, hanya satu bulan sekali aku jadi orang bener mengabdikan satu hari di hidupku berkutat di lembaga swadaya masyarakat, itu pun terasa berat kulakukan.


hihihhh, geli lihat kelakuanku sendiri dan harus menertawakan diriku sendiri.


Maka dari itu ke devinlah pilihanku, ku lihat dia yang paling aktif di lembaga ini, ya tentu saja karena dia salah satu donatur yang cukup royal dan di segani. Dia masih muda tapi punya dedikasi yang luar biasa terhadap hajat hidup orang banyak.


Devin perhatian lebih padaku karena ku pikir aku kenal dia udah lama, aku teman kecilnya meskipun tak banyak yang kuingat tentang itu, keluarganya sahabat nenekku.


Aku tak ingat kapan terakhir bertemu dengannya, sampai aku bertemu lagi denganya di lembaga lembaga swadaya masyarakat ini.


Lag i pula aku juga sudah punya kekasih alvin .


Hanya saja saat kutahu aku harus pergi dari alvin, aku memilih devin sebagai alat untuk melupakan kekasihku alvin, karena secara postur dan isi kantong mereka berdua tidak terlalu berbeda.


Hemmmmmz sejahat itulah pemikiranku hanya saja aku tidak menduga kalau devin secepat ini mengajakku menikah.


Baiklah hari ini aku harus mengikuti aturan di rumah ini, berpuasa!.


Bedug magrib berbunyi dan semua anggota keluarga berkumpul, mereka mulai berbuka puasa.


" Maaf ibu, aku mau bertanya apakah esok kita juga berpuasa seperti hari ini?devin tidak memberitahu apapun padaku?"


sembari tersenyum dia menjawab kalau puasa hanya di lakukan hari senin dan kamis, selasa rabu di panti asuhan, hari jumat di lembaga swadaya masyarakat, sabtu minggu baru di rumah saja heemmmzz , padat dan sudah terjadwal.


Tiba- tiba aku merasa kesempitan di ruangan yang sebesar ini, mukaku mulai pucat .


Apakah aku bisa hidup seperti mereka ? aku terbiasa bebas tanpa aturan apa pun dan sekarang aku harus hidup seperti mereka?


membayangkanya saja sudah membuatku sakit perut.


Apakah keputusanku salah memilih dan menikahi devin?


Sudah hampir satu minggu aku tinggal di rumah devin, ini waktu yang tepat aku harus bicara pada devin.


Aku sudah harus mulai bekerja, aku sudah kangen dengan lapangan golf tempat aku setiap hari mencari nafkah dan yang paling kurindukan adalah teman- teman ku beserta kehebohannya.


Kulihat sore ini devin sedang duduk santai di teras belakang rumah, aku menghampirinya.


"Sayang aku harus sudah mulai bekerja, bisakah besok?"


Tetap diam devin menatapku dan meletakkan kopi ditangannya, "kamu sudah tidak usah bekerja lagi, besok kamu resign, " ( makjleppp rasanya hatiku)!.


Dia mengambil keputusan tanpa bicara dulu denganku , terlalu , ingin ku tonjok mukanya aku benar- benar tidak mengerti isi di dalam kepalanya!.


Seketika tersulut emosiku


"tidak bisa!( pekikku ) kamu nggak bisa melarangku bekerja tanpa kita rundingkan dulu, aku belum bisa meninggalkan pekerjaanku itu!"


kulihat devin berdiri dan mendekatiku , aku tak sudi melihatnya! huhhh!.


"Besok aku akan mengantarmu resign dari tempat kerjamu itu! " tanpa basa- basi dia berlalu dariku,


serta merta aku mengejarnya dan menariknya masuk ke kamar untuk bicara lagi.


Dikamar aku mulai kehilangan kendali, "aku tidak mau berhenti bekerja!" (bentakku)


dan, plakkkkkk!!


satu tamparan mendarat di pipiku,


kuangkat tangankku untuk membalasnya tapi dia dengan sigap menangkap tanganku,


kemudian dia menyeretku ke kamar mandi dan membenamkan wajahku dalam air di bak mandi, aku terus meronta dan dia pun tak berhenti, sampai aku kehabisan energi dia pun berhenti dan mendorongku hingga terjatuh di sudut kamar mandi.


Aku terdiam.


apa ini Tuhan?


aku menangis sesenggukan, sendiri di sini


tak kulihat devin entah dia pergi kemana, menggigil badanku, aku merasa di perlakukan seperti hewan.


Tidak bisakah dia meredam emosiku dengan cara lain ?


hikkkss..hikkk hikkkkss, airmataku tak mampu kubendung lagi dan lama aku sendiri.


Seperti inikah potret kehidupanku di sini selanjutnya?alvin, bawa aku pergi dari sini! haaaaahhhaaaaah.


Kenapa takdir seperti ini yang harus aku jalani, kenapa kamu sudah menikah? kenapa kita bertemu di waktu yang salah? kenapa aku harus terbenam dalam kesedihan ini?


andai aku bisa sekarang aku ingin berlari mencarimu, meluapkan kerinduan dan emosiku padamu, tapi tak bisa!


malam berlalu begitu saja, aku kesepian!


alvinnnn !!.