
Hari ini sidang perdana kasusku, aku tidak ingin ada pengacara yang membelaku, cukuplah pembela umum yang di sediakan pemerintah, begitu banyak yang hadir di persidangan, aku tak sanggup menatap mata - mata penuh kebencian itu, tak ada yang kukenal kecuali devin yang duduk di kursi paling depan, dia menatapku dalam, tapi tak sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Semua datang menghujat, mencaci dan melontarkan kata - kata yang penuh dengan amarah.
Semua tuduhan yang di lontarkan pihak lawan ku balas dengan anggukan kepala saja.
Aku ingin semua ini segera selesai, dan aku bisa memulai waktuku dalam penebusan dosa, mulai sekarang aku akan berhenti membela egoku.
Sidang berlangsung lancar tanpa hal yang berbelit - belit, tak ada saksi dari pihakku dan memang aku tidak ingin ada yang meringankan tuduhan atas diriku.
Sampai palu hakim pun di ketuk sebagai keputusan akhir, dia memberiku hukuman 20 tahun penjara, aku menyambutnya dengan senyuman kecut.
Ada seorang lelaki paruh baya yang bertepuk tangan saat keputusan di bacakan, sikapnya itu membuat aku menengok kepadanya, aku tidak tahu siapa dia tapi dari penampilannya yang perlente aku yakin itu pasti keluarga alexandra.
Aku tidak melihat ibuku hadir, aku yakin dia pun tahu tentang kasusku yang sudah di gembar gemborkan media televisi, mungkin dia malu untuk datang ke sini, ah aku memang hanya sampah, bahkan ibuku pasti tidak ingin mendekatiku karena takut aroma busuk nasibku akan mengganggu hidupnya yang harmonis dan bahagia.
Bude halimah pun terlihat hadir, aku yakin dia ingin memastikan kalau aku mendapatkan hukuman setimpal atas pelenyapan nyawa suaminya, aku tak mampu menatap matanya.
Baiklah semua telah selesai, dan waktunya aku kembali kedalam gelapnya jeruji besi, seorang sipir wanita menggandengku untuk di bawa kembali kedalam penjara, perjalananku terhenti saat seorang wanita paruh baya tiba - tiba berdiri dan memelukku, dia ibu alvin.
" Licy, biarkan ibu menolongmu untuk naik banding, aku yakin kamu tidak bersalah kamu hanya perlu menceritakan kejadiannya kepada ibu!" mendengar bisikan ibu alvin di telingaku, membuatku meneteskan airmata.
Aku yakin wanita ini pun telah kehilangan harapan hidupnya sama sepertiku, tapi aku menggelengkan kepala atas bantuan yang ingin di berikannya, aku ingin melakukan penebusan dosa, aku sudah tidak memiliki impian atau harapan di luar sana, lalu untuk apa aku berusaha untuk mengurangi masa hukumanku.
Aku melanjutkan perjalananku, tapi sekarang devin yang menghentikanku, dia memberiku sekuntum bunga mawar tapi kali ini bukan kuning tapi mawar berwarna putih, dan sebuah al- Quran dan seperangkat peralatan sholat.
Dia memegang erat tanganku, aku yakin dia ingin menyemangatiku, dia tahu ini pasti tidak mudah untuk kujalani.
Aku memantapkan kaki untuk pergi, aku menatap mata devin yang mulai merah siap untuk pecah tangisnya, aku memalingkan mukaku aku tak ingin melihat sesuatu yang bisa melemahkanku.
Selamat tinggal semua!
Sipir ini menjebloskanku kedalam jeruji besi, aku terkunci sekarang, aku tidak tahu seperti apa hidup di dalam sini.
Aku menatap benda yang di berikan devin, tak terasa airmataku menetes diatasnya! ini adalah dua benda yang di berikan devin saat menikahiku dulu! tak kukira benda ini yang akan menemaniku menghabiskan sisa waktuku di penjara ini, hikkkkkkssss.
Di sini ada seorang lagi narapidana wanita, dia memperhatikanku dari atas tempat tidurnya, dia tidak menyapaku atau sekedar berkata " hai" tapi aku juga tidak peduli dengannya.
Sekarang aku hanya sibuk dengan perasaanku sendiri, dan aku tidak mau terlalu memikirkan hal lain.
Wanita itu menghampiriku, " serahkan semua barang yang kamu bawa itu!" aku menatapnya tajam, " baiklah ambil semuanya!!" aku menyerahkan semua barang yang kubawa, tak terkecuali benda pemberian devin tadi, aku tidak mau menuruti emosiku, di sini aku ingin memulai hidup dengan karakter baru, aku tidak mau mengotori tanganku dengan darah lagi, meskipun aku bisa melawannya tapi aku tidak mau melakukannya.
Aku menjauhi wanita itu, dan lebih memilih duduk sendiri di pojok ruangan, aku tenggelam dalam diam.
Anganku melayang - layang, teringat anakku! dia adalah anak yang manis dan pintar, sayangnya dia harus pergi begitu cepat, waktu berputar begitu cepat, sangat cepat!!seandainya waktu bisa kuputar kembali, aku ingin memeluknya lamaaaa!! hikkksss hikkkkkss.
Wanita itu mendekatiku lagi, aku mendongakkan kepalaku
" aku sudah tidak punya apa - apa lagi!" tapi dia tak meminta sesuatu dariku, tapi dia mengembalikan peralatan sholatku dan juga al- Quran nya.
Aku menerimanya dengan suka cita, karena hanya dua benda ini saja yang kubutuhkan.
Aku mendekapnya erat di dadaku, aku akan memulai hidupku dengan dua benda ini, semoga aku akan menemukan jalan yang terbaik sebagai jembatanku kembali kepada sang pencipta.
Malam mulai datang merayap, aku masih enggan berdiri dari tempat dudukku semula, ada sebuah tempat tidur dari besi tadinya ada sebuah kasur tipis dan sebuah selimut diatasnya, tapi teman sekamarku itu telah mengambilnya dan menumpuk dua kasur itu menjadi satu, begitu pun selimutnya, bauklah aku tak peduli.
Aku akan tidur di lantai saja, segala sesuatu yang menyakitkan pasti baik untukku, aku harus membiasakan diri dengan rasa sakit itu.
Aku bisa mati di sini, tapi lebih cepat lebih baik! aku terus memaksakan mataku untuk terpejam.
Senyuman ayah masih tergambar jelas di mataku pagi itu, dan senyuman al fatih yang berangkat sekolah untuk pertama kalinya.
Aku tersenyum sendiri mengingatnya, dia bolak balik ke kamar mandi saking tegangnya, ah anakku seandainya saja kita masih memiliki banyak waktu bersama, hikkkkk hikkkks.
Sekarang ibu sendirian di dunia ini nak, entah untuk takdir apa ibu harus menjalaninya?ibu masih belum bisa memahami kemauan sang pencipta.
Sebuah suara besi di pukul memaksaku membuka mata, sekarang masih pagi buta, tapi mereka seakan tidak sabar untuk memaksa kami bangun dari kelelahan.
Semua penghuni lapas ini mulai keluar satu persatu dari jeruji besi, dan mulai keluar satu persatu.
Di sini ada sebuah mushola kecil, bagi yang muslim di persilahkan untuk sholat shubuh, sedangkan yang beragama lain mereka di beri kesempatan untuk membersihkan diri di kamar mandi yang berjejer - jejer di sebuah lorong sempit.
Aku di sini merasa seperti seperti sedang berada di sebuah sekolah asrama.
Matahari mulai menyingsing, kami di kumpulkan di sebuah lapangan untuk melakukan senam pagi, tak seperti yang ada di dalam film - film kalau penjara adalah tempat yang menyeramkan, hal itu sama sekali tidak terlihat di sini.
Banyak yang tertawa dan bersenda gurau selama senam berlangsung, bahkan ada saja yang usil dan membuat mereka tidak terlalu serius melakukan gerakan - gerakan senamnya.
Selesai senam kami di giring memasuki beberapa ruangan, di dalam ruangan - ruangan itu telah menunggu beberapa kegiatan yang aku tidak tahu itu apa, karena banyak terdapat mesin - mesin besar, aku sendiri masuk ke ruangan yang berisi alat - alat tekstil, di sini banyak terdapat mesin jahit yang bertenaga listrik.
Ternyata benar, di sini aku bisa memulai hidupku yang baru, ini pertama kalinya aku memegang alat semacam ini.
Waktu berlalu tak terasa, kegiatan tadi membutuhkan sebuah konsentrasi yang tinggi, membuat aku bisa mengalihkan perhatian dan dukaku, dan bisa merilekskan pikiranku yang masih kacau.
Siang menjelang kami di giring ke sebuah ruangan mirip kantin, di sini kami di suruh duduk dengan rapi, aku tertawa di dalam hati, sungguh aku merasa seperti kembali ke bangku sekolah.
Hanya saja di sini makanan yang di sediakan sangat sederhana, hari ini kami mendapatkan menu sayur sop, tahu goreng dan sebuah krupuk.
Aku bersiap untuk menyantapnya, karena apapun itu kuanggap sebagai rezeki yang patut di syukuri.
Belum habis makananku seorang sipir datang menghampiriku, dia mengatakan kalau ada seseorang yang ingin menemuiku.
Aku tidak tahu siapa yang datang, tapi aku juga ingin tahu siapa yang punya keperluan denganku.
Ternyata yang datang adalah devin, dia membawakan aku begitu banyak barang, mulai peralatan mandi, peralatan tidur dan beberapa baju hangat.
Aku mengucapkan terima kasih atas simpatinya itu, kukira aku tidak akan bertemu dengannya, tapi dia masih meluangkan waktunya untuk mengunjungiku di sini.
Dia bicara sambil sesekali menyeka airmatanya, aku baru menyadari bahwa dia mantan suamiku ini ternyata ikut bersedih atas nasib yang menimpaku ini, kukira tak sebesar itu perhatiannya padaku, " devin apakah kamu sudah melakukan apa yang kuminta? bagaimana tanggapan bude halimah? apakah dia mau menerima pemberianku itu?!"
devin mengangguk, " awalnya dia menolak karena dia berpikir itu darimu, saat kukatakan kalau semua itu dariku barulah dia mau menerimanya."
" Licy, berhentilah berpikir tentang orang lain, berpikirlah tentang dirimu!"
aku menatap devin tajam, " tidak vin, aku tidak ingin memikirkan tentang diriku! malah sekarang aku ingin kamu mencari keluarga lelaki yang kubantai di taman kapan hari! berilah dia santunan juga! aku memiliki sebuah apartemen pemberian alvin, tolong jualkan itu, kuncinya ada di customer service kamu bisa menunjukkan fotoku maka mereka akan memberikan kuncinya padamu."
Aku memberikan alamat apartemenku, semoga saja uang hasil penjualannya bisa membantu korban tangan dinginku itu, ku hela napas panjang! hal itu juga bisa mengurangi beban dosa di dalam hatiku.
Devin hanya mengangguk saja tanpa banyak berkomentar, dia mungkin sudah memahami betapa keras kepalanya aku, tak mungkin aku akan dengan mudah mengubah sesuatu yang sudah menjadi keputusanku.
Sebelum pergi devin memberiku handphoneku yang mungkin dia temukan di dalam ranselku, aku menerimanya, "kupikir mungkin kamu akan membutuhkannya licy, aku tidak tahu apakah petugas di sini mengijinkannya atau tidak?! aku pamit."
Devin berlalu pergi, dan aku pun kembali ke tempatku semula, di kantin tempat aku belum menghabiskan makananku, setelahnya aku kembali keruanganku menaruh begitu banyak barang yang dibawa devin untukku.