
Kejadian tadi sangat mengiris hatiku karenanya semalaman mataku tak mampu terpejam, aku terjaga.
Entah dimana suamiku itu aku sama sekali tak perduli,
aku masih belum bisa menerima perlakuanya kepadaku, termasuk memaksakan kehendaknya kepadaku untuk berhenti bekerja. Pekerjaan itu sangat kucintai dan aku sudah nyaman di situ dan dengan sekejap mata devin menyuruhku berhenti, sulit di percaya!.
Mentari pagi menyeruak di kegelapan,
aku menantang kehadiranya di wajahku yang masih basah oleh air mata, sedih, kecewa bergemuruh di setiap nadiku.
Kudengar decit pintu di buka, dan aku dengar langkah kaki mendekatiku yang tetap terdiam di depan jendela, aku tahu itu kehadiran siapa.
" Gantilah bajumu yang basah lic! aku bicara padamu!
devin mulai menarik tanganku, aku tetap tak merespon bahkan memandang wajahnya aku tak sudi.
Tak kuhiraukan akhirnya dia beranjak pergi.
Brakkkkk !!
Aku dengar pintu di banting, tubuhku mulai menggigil kedinginan. Lambat- lambatku berdiri, mungkin aku harus mengganti bajuku, aku tak mau sakit dan aku tak sudi dirawat oleh suamiku yang tak berperasaan itu.
Kubuka lemari dan alangkah terkejutnya aku, saat kudapati lemari ini kosong, kemana semua baju- baju yang baru kemarin sempat kutata rapi di sini? aku mulai penasaran.
Hemmmmmmzz,
yang bisa menjawab pertanyaanku hanya devin,
ya hanya dia.
Bergegas aku keluar kamar, tak kudapati devin di mana- mana, suasana masih sepi karena sekarang masih jam 5 pagi, adzan subuh pun belum terdengar.
Lamat lamat ku lihat dari balik jendela ada yang menyalakan api disamping rumah.
Aku mendekati asal kilauan cahaya itu, aku yakin itu api.
Ya, benar itu api dan ada devin disitu terlihat dia sedang membakar sesuatu, semakin dekat aku bisa melihatnya.
Ya tuhan!(pekikku), "apa kau sudah tidak waras? ini semua baju- bajuku? kenapa kamu membakarnya?"
devin menatapku tajam.
" Baju- baju ini sudah tak bisa di pakai lagi, semuanya harus di musnahkan!"
aku mendorong tubuhnya menjauh dari tumpukan baju yang sudah siap dia musnahkan.
Darahku mendidih, kutunjuk mukanya "baju- baju ini aku beli sendiri dengan hasil keringatku sendiri, kau tak punya hak untuk membakarnya!"(hardikku), tubuhku bergetar menahan amarah.
Devin balik menatapku tajam
"sekarang kau adalah istriku, dan yang berhak menentukan apa yang boleh dan tidak boleh kau pakai adalah aku, oh ya satu hal lagi yang harus kau pahami disini kau hanya menumpang jadi kau harus ikuti aturan tuan rumah, pahami itu!"
devin berlalu begitu saja meninggalkan aku yang terduduk tak berdaya.
Aku menangis sejadi- jadinya, kuluapkan semua kegetiran yang kurasakan. Ya tuhan cobaan apa ini? inikah karma untukku atas dosaku selama ini? begitu mahal harus kubayar semua yang kulakukan dulu? aku marah padamu tuhan!. Engkau sudah tidak adil padaku.
Hhhhikkks hikkkkss.
Semua yang terjadi padaku karena kesalahan orang tuaku ,mereka tidak menjaga dan mendidikku, hingga aku hidup liar tanpa aturan. Semua bukan salahku! air mata tak mampu kubendung lagi aku benci dengan hidupku, aku benci!.
Dengan langkah gontai aku kembali masuk rumah, habis semua dia bakar.
Dasar gila, kukira dia berpendidikan dan agamanya kuat, tapi kelakuannya seperti orang barbar! sungguh aku tak menduganya.
" Nak, ibu sudah menyiapkan semuanya" (dengan muka bingung)aku menoleh ke suara itu.
Oh ibu mertuaku , dia sudah berdiri di depan pintu kamar, sebelum aku mengucapkan sepatah katapun dia sudah beranjak pergi.
Dikamar aku kembali sesenggukan beberapa hari disini rasanya seperti di neraka.
Ya tuhan!
Bedebah devin! sunguh luar biasa sikapnya itu bisa tersembunyi dari wajah inocent dan sikapnya yang manis.
Dan mungkin hanya aku yang tahu wajah aslinya, baru beberapa hari sudah seperti itu bagaimana kalau sudah puluhan tahun ? sungguh aku ngeri membayangkannya.
Ya, aku sudah tak sanggup lagi malam ini aku harus pergi dari rumah ini, dan aku tak perduli dengan pernikahan ini dan sungguh aku tak perduli.
Kulihat lipatan baju di atas meja, aku menghampirinya dan benar, hahaha benar saja! itu yang di inginkan devin, baiklah akan ku pakai.
Hitam bercadar seperti dugaanku yang lebih mengejutkan ibunya pun tahu tentang ini.
wooooowwww luar biasa keluarga ini
hening senyap tanpa kegaduhan apapun tapi langkah mereka pasti sungguh aku harus pergi.
Kutunggu malam semakin larut, malam ini aku harus pergi dari rumah neraka ini, malam ini aku tidak melihat devin atau anggota keluarga yang lain, aku mengunci diri seharian di dalam kamar sama sekali aku tidak bertemu mereka.
Wah, bagus inilah kesempatan yang kutunggu , pelan- pelan aku membuka pintu, (citttttt)
didepan pintu masih tergeletak beberapa jenis makanan, yang mungkin di siapkan untukku sejak pagi, tapi aku tak sudi menyentuhnya, entah siapa yang meletakkanya aku tak perduli.
Suasana rumah gelap dan aku yakin semua orang sudah tidur, aku mengendap- endap berharap tak seorang pun akan mendengar langkahku, rumah ini cukup besar mereka pasti tak akan sadar kalau aku pergi keluar.
Selangkah demi selangkah aku berhasil menuju ruang tamu, selangkah lagi aku bisa keluar dari rumah ini.
Suasana yang gelap seketika terang saat seseorang menghidupkan saklar lampu, dan betapa terkejutnya aku saat ku lihat semua anggota keluarga sudah duduk di ruang tamu seakan mereka sudah sengaja menungguku.
( tergagap aku)
aku akan pergi dari rumah ini! semua orang hanya memandangku, ibu berdiri mendekatiku dan mengajak ku duduk.
"Licy, ( katanya lirih) ibu tahu semua yang terjadi padamu memang semua ini tidak mudah bagimu, tapi tolong berilah ibu kesempatan menceritakan hal ini padamu.
Semua hening, menunggu apa yang akan dikatakan ibu,
" kamu tahu nak, ginjal ibu dua- duanya sudah rusak sejak dulu dan mungkin kalau ibu tidak mendapat cangkok ginjal mungkin ibu sudah lama tiada( ibu menghela napas panjang), kamu tahu siapa yang sudah memberikan ginjal ini pada ibu? nenekmu!".
Seketika aku terperanjat, nenek? tanyaku kaget.
Ibu mengangguk , "ibu terikat janji dengan nenekmu untuk menjagamu, sejak lama kami mencarimu, terakhir kami melihatmu di pemakaman nenekmu.
Mungkin kau juga tidak menyadari kehadiran kami, sungguh kami ikut berduka apalagi sejak mendonorkan ginjal pada ibu, aku sering melihat nenekmu letih dan terlihat tidak sehat. Belum sempat kami menemuimu, kamu sudah pergi ikut ayahmu, kami mencarimu kesana tapi kata ayahmu kamu sudah kabur dari rumahnya, dan ( ibu terlihat tersenyum geli dan menggelengkan kepala)" kamu sudah membakar rumah ayahmu."
Sejak saat itu kami menyadari gadis seperti apakah kamu, dan pasti tidak mudah menghadapimu.
Kami akhirnya mendapatkan informasi tentangmu termasuk di mana kamu bekerja dan tinggal selama ini?
dan devin mulai mencari cara mendekatimu, termasuk ada di setiap kegiatan yang kamu ikuti.
Sampai ada kesempatan dia menyatakan cinta padamu, tapi sayangnya kamu menolak cintanya.
Saat itu kami merasa sudah kehilangan kesempatan untuk membalas budi nenekmu, kami pikir semua tidak bisa berjalan sesuai rencana kami untuk menjodohkanmu dengan devin.
Sampai akhirnya ada kabar kamu bersedia menikah dengan devin, kami teramat senang tanpa permasalahan apa pun kami meminangmu dan pernikahan berjalan lancar.
Lic, ini juga tidak mudah bagi devin dia rela berkorban menikahimu, hanya demi ibu.
Hanya agar ibu bisa membalas budi nenekmu sebelum ibu mati, sebagai bentuk baktinya pada ibu, ibu tahu kalian tidak saling mencintai, maafkan keegoisan ibu( ibu mulai menangis sesenggukan).
Aku terdiam tak mampu berkata- kata
sungguh aku tidak menyadari maksud kalian,
betapa bodohnya aku!huhhh.
Suasana kembali hening, tak satupun mereka berbicara hanya sesekali terdengar desahan ibu yang menahan airmatanya.
Aku shock mendengar semuanya, ternyata selama aku disini mereka semua bermain drama, luar biasa.