
Pulang dari rumah sakit kami tidak langsung kembali ke rumah devin, dia mengajakku makan malam romantis, ada alunan musik akustik mengiringi acara makan kami.
Devin maju ke depan dan mulai ikut menyanyi, dia mengeluarkan kaca mata hitam dari saku celananya, aku tertawa melihatnya karena aku yakin ini pertama kalinya dia begitu, dia seperti masuk di dunia yang berbeda.
Aku bertepuk tangan mendengar suaranya, baru malam ini aku tahu kalau devin juga bisa bernyanyi, luar biasa akhirnya keluar sisi lain seorang devin yang mungkin tak ada seorang pun tahu kecuali diriku.
Aku bahagia sekali malam ini, mungkin ini bulan madu kami! aku tidak tahu berapa lama aku tinggal di rumah sakit itu, aku juga tidak ingat karena sakit apa aku di rawat di sana?!.
Selesai makan kami meluncur pulang, " devin berapa lama aku meninggalkan rumah untuk menjalani perawatan di rumah sakit? sebenarnya aku sakit apa?! kenapa aku tak ingat apapun?" devin tidak menjawab pertanyaanku,
dia malah menghentikan mobilnya, kemudian dia mengajakku keluar mobil dan menuju kedai es cream yang tak jauh jaraknya dari tempat kami berhenti.
"Baiklah! lupakan tentang pertanyaanku!" aku mulai merajuk,
tapi devin seperti tidak terpengaruh dengan mulut monyongku, tapi mungkin pertanyaanku tidak terlalu penting untuk di jawabnya, tapi aku yakin nanti dia pasti akan menceritakannya! mungkin sekarang dia ingin menikmati es nya.
Kami tidak menghabiskan banyak waktu untuk menikmati es creamnya, setelah puas kami beranjak pulang.
Sepanjang perjalanan devin lebih banyak diam, tak seperti di cafe tadi! di sana dia bernyanyi dan kelihatan ceria! sekarang dia murung seperti sedang di hadapkan pada suatu permasalahan yang besar.
Sungguh kepribadian yang aneh, moodnya bisa berubah dengan cepat.
Aku pun tak ingin menggangunya, saat dia marah dia bisa berubah jadi singa yang buas, ngeri!!! hiiii, aku mulai bergidik.
Sampai di rumah kondisinya sepi, aku tidak tahu kemana anggota keluarga yang lain.
Mau bertanya pada devin rasanya tidak mungkin, sekarang wajahnya berubah dingin, mungkin semua orang sudah tidur.
Di sini memang terbiasa tenang, nyaris tak ada suara televisi atau hiburan yang lain.
Masuk ke dalam suasana gelap! " kemana ibu? apa dia tidak menyadari kehadiran kita?" aku mulai bertanya pada devin.
Devin menyalahkan lampu dan mengajakku duduk, " semua orang sedang ada urusan di luar kota jadi untuk sementara kita akan tinggal berdua saja di sini."
Devin berdiri dan berlalu menuju dapur, dia mengambilkanku segelas air putih, aku meminumnya tanpa banyak berkomentar.
"Baiklah licy, kita istirahat di kamar ya!"
Aku mengangguk dan beranjak dari dudukku, kami pun naik ke lantai dua menuju kamar.
Lantai dua sangat berdebu, rumah ini seperti lama tidak di tinggali, aku semakin tidak mengerti.
Lantai dua sangat berdebu! setahuku ibu adalah pencinta kebersihan! lalu apa ini?!
Aku begitu penasaran, tapi sekali lagi devin tidak mungkin menjawab pertanyaanku saat wajahnya berubah dingin seperti itu.
Masuk ke kamarku udaranya pun pengap, aku nyaris merasa sesak dan sulit bernapas di sini.
Aku berjalan menuju balkon dan ku buka pintu kaca lalu ku biarkan udara masuk dengan harapan udaranya akan terganti.
Aku duduk di atas kasur, dan devin pergi ke kamar mandi,
" aku sudah menyalahkan pemanas air, kamu bisa mandi licy! aku akan kebawah ada yang harus kulakukan,"
aku hanya mengangguk mendengar perkataan devin.
Sebelum ke kamar mandi aku membuka lemari untuk mencari baju ganti, bajuku masih tertata rapi di sini, cuma sedikit berdebu.
Entahlah, berapa lama aku sakit sampai bajuku pun seperti lama tak kusentuh.
Hanya devin yang bisa menjawab pertanyaanku, banyak hal yang tidak kumengerti, kenapa tak banyak yang kuingat.
Apakah sakitku berhubungan dengan otakku?! semakin kucoba mengingat sesuatu, semakin menghilang rasanya memoriku.
Ya Allah, aku mulai merasa cemas! apakah sakitku ini beneran serius?!.
Aku bergegas mandi, setelahnya aku ingin segera menemui devin.
Aku tidak menemukannya di kamar, aku turun ke bawah mencoba untuk mencarinya.
Langkahku terhenti di depan televisi yang menyala, dan aku sudah melihat devin duduk tegang di situ sampai dia tidak menyadari kehadiranku.
Dia menatap tajam ke layar televisi, melihatnya begitu aku pun mengedarkan pandanganku ke arah yang sama dengannya.
Di situ aku melihat adegan seorang wanita bergelantungan di atas balkon rumah, dan wanita satunya berada di atas kepala wanita itu dan bersiap menginjak tangan yang jadi akses satu- satunya wanita itu agar tidak jatuh kebawah.
Wanita itu berteriak meminta tolong, tetapi tidak ada yang menolongnya termasuk wanita satunya yang memang sengaja menunggu wanita yang bergelantungan itu terjatuh.
Semakin ku amati aku seperti tidak asing dengan wanita di dalam layar kaca itu! karena penasaran aku mendekati televisi dan aku mengamati gambar yang sedikit buram itu, dan aku terkejut saat menyadari wanita yang akan terjatuh itu adalah diriku!.
Seketika aku berteriak histeris dan aku terduduk, aku merasakan perih di dadaku.
Devin datang mendekatiku, dan dia menatap tajam ke arahku, aku terdiam karena tidak tahu harus berkata apa.
" Gambar itu aku dapatkan dari kamera cctv di lapangan tenis di sebelah rumah yang berhadapan langsung dengan kamar aisyah!"
apa kamu mengingatnya licy??! kenapa kamu tidak mengatakan apapun?."
Aku terdiam tak mampu bicara, tiba - tiba banyak bayangan kejadian yang dengan cepat seakan berjalan di dalam ingatanku, semuanya tampak buram tidak jelas seperti sebuah siluet yang masih gelap, siapa aisyah??!.
Aku berdiri dan berlari pergi naik ke kamarku, aku terisak di atas bantal, berharap devin tidak akan mendengarnya.
Devin tidak menyadari dia baru saja membuka sebuah luka yang hampir aku lupakan, aku tak mengingat kejadian itu tapi saat melihatnya kembali di layar televisi, rasanya hatiku tersayat - sayat, perih!!!.
Entah apa yang terjadi padaku!! kenapa ada perasaan aneh di dalam hatiku, banyak hal yang terjadi dan membuatku mulai merasa tidak nyaman!.
Devin membuka pintu kamar dia masuk dan mendekatiku yang tertelungkup di atas kasur, " terkadang kita harus berdamai dengan rasa sakit licy, untuk mengajari hati kita menerima kenyataan sepahit apapun! apa sekarang kamu mengingat semua kejadian itu?!."
Devin duduk di sebelahku, dia menundukkan kepalanya! "kamu sudah pergi lama! dan meninggalkan luka juga untukku dan keluarga ini, ibuku sudah pergi lic!."
Devin mulai diam dan aku lihat ada bulir air jatuh dari pelupuk matanya.
Mendengar ceritanya, aku bangun dan duduk di sebelahnya karena aku mulai merasa penasaran, " ibu pergi kemana? devin tatap aku?"
"Ibu telah pergi untuk selamanya! dia terkena serangan jantung saat melihat tayangan cctv, tayangan yang sama seperti yang barusan kamu lihat, mereka tidak pergi keluar kota seperti yang kukatakan tadi.
Aku terngangah seperti tak percaya!" tidak mungkin ibu tiada aku baru meninggalkannya sebentar di rumah sakit, bagaimana dia pergi tanpa sepatah kata di tinggalkan untukku, devin katakan bahwa semua ini tidak benar, kamu hanya bercanda?!."
Devin menggeleng lemah, wajahnya muram.
" kamu pergi lama licy, hampir 8 tahun! apa kamu tidak mengingatnya? sejak kepergian ibu, ayah lebih memilih tinggal di panti jompo."
Devin mulai terisak, dia seperti tak mampu lagi menahan airmatanya, ini adalah pertama kali aku melihat devin selemah ini.
"Aku menjadi semakin bingung, bagaimana aku bisa pergi selama 8 tahun? kenapa aku tidak mengingat apapun?"
Devin baru menyadari, kalau aku dilanda kebingungan.
Aku mulai gemetar dan menggigiti kukuku sendiri, keringat dingin mulai membasahi dahiku, melihatku begitu devin segera membenamkan aku di dalam pelukannya.
Dia berusaha menenangkan aku, dadaku berdebar kencang! seakan aku tak mampu untuk menahannya agar tidak meledak, tubuhku bergetar hebat.
Devin membenamkanku dalam pelukannya semakin dalam, aku mulai bisa tenang dan mengendalikan diri.
"Tenanglah licy, jangan memikirkan apapun dulu! maafkan aku, saat ini kamu baru sembuh! aku akan pelan - pelan membawamu menyelami lagi memori yang telah hilang itu, aku juga harus bersabar.
Aku mulai sesenggukan, hanya menangis yang bisa kulakukan kini, aku menyimpan banyak pertanyaan di dalam benakku, aku akan mencari jawabannya satu persatu.