
Orang yang menunggu keajaiban adalah orang yang kehilangan kepercayaan dirinya, aku harus berjuang meskipun seperti tidak mungkin tapi semuanya perlu di coba, demi keselamatan buah hatiku.
Keluarga alvin hanya manusia biasa sama sepertiku, aku tak perlu takut berlebihan, aku akan menghadapi apapun itu.
Akan ku tunggu apa yang ingin mereka lakukan, dan aku ingin mengakhirinya sekarang juga, aku lelah berlari dan sembunyi.
" Ayah, putar balik mobilnya!( pekikku)" ayah terlihat bingung, tapi melihat ekspresiku ayah tak bertanya apapun dia pun memutar balik mobilnya.
" Kita mau kemana licy?"
ayah mulai penasaran, napasku cepat tak beraturan. Sekarang tak ada yang bisa menghentikanku lagi dan tak akan ada yang bisa menakutiku lagi.
" Kita kembali ke apartemen! aku ingin tahu apa yang di inginkan ibunya alvin, kalau aku lari sekarang aku takut dia akan membuntuti kita dan menemukan rumah ayah, hanya itu surga kita tempat kita merenda bahagia, aku tidak ingin mereka menghancurkan rumah surga kita."
Melihatku begitu ayah tersenyum, " itu baru anak ayah! kita akan menghadapinya, meskipun apapun hasilnya,
setidaknya kita telah menyingkirkan rasa takut kita, kita tak boleh tunduk pada sesama manusia atau pada harta mereka."
Aku mengangguk cepat, syukurlah ayah tidak menghalangiku kali ini.
Sesampai di apartemen, aku turun dari mobil dan aku melarang ayah dan anakku mengikutiku masuk kesana,
ayah menurutinya, dan aku pun berlalu masuk kedalam apartemen sendirian.
Di dalam ibu alvin masih dalam posisi semula sebelum ku tinggalkan, sepertinya wanita itu benar- benar terpukul,
sehingga dia tenggelam dalam kesedihannya sendiri, tanpa menghiraukan orang - orang disekitarnya.
Aku mendekatinya, dia mengangkat wajahnya dan menatapku, airmatanya masih berlinang, tatapannya tak lagi tajam, matanya sembab terbalut airmata.
Dia langsung memelukku, tubuhnya bergetar dan dia mulai menangis lagi, " maafkan saya alicyaa, selama ini kamu berjuang sendirian melahirkan dan merawat anak alvin, sedangkan aku sibuk mencarimu karena ku kira kamu membawa lari harta alvin, meskipun pengacara alvin sudah mengatakan kalau kamu sudah menyerahkan semua kepada kami, tapi tetap saja saya tidak percaya! maafkan keserakahan saya! harta telah menutup mata hati saya, sekali lagi maafkan saya alicyaa."
Dia memelukku erat, dan aku tidak kuasa menolaknya.
Aku membiarkan bahuku basah oleh airmatanya, setelah dia tenang baru aku melepaskan pelukannya itu.
Keteganganku pun berkurang mendengar semua pengakuannya itu, aku pun mulai bisa menenangkan diri, dan ibu alvin wajahnya pun terlihat melunak.
Aku membantunya berdiri, dan mengantarnya duduk di kursi, " kenapa kamu kembali kesini? bukankah tadi kamu sudah pergi?"
mendengar pertanyaannya itu sekarang aku yang merasa bingung harus menjawab apa.
" Saya kembali hanya ingin tahu kenapa anda masih mencari saya? saya tidak membawa apapun barang milik alvin! saya sudah menghibahkan semua kepada anda, sungguh!
pengacara alvin saksinya, hanya apartemen ini saja yang tersisa hadiah dari alvin untuk saya, kalau anda menginginkannya saya siap memberikan kepemilikannya kepada anda, tapi saya mohon tolong jangan ganggu hidup keluarga saya, biarkan kami hidup dengan tenang!"
Ibu alvin terdiam, pandangannya kosong.
" Tadinya saya begitu marah padamu alicyaa, saya merasa kamu lah penyebab kematian alvin, dan sebagai gantinya saya pun ingin kamu juga mati! nyawa di balas nyawa.
Tapi melihat anakmu, aku bersyukur tidak membinasakanmu dulu, saya tidak tahu kalau ada anak alvin di dalam dirimu, saya sudah sangat kejam kepadamu!
"Kesalahan kalian hanyalah jatuh cinta, sebenarnya hati kecil saya tidak menyalahkan cinta kalian, alvin adalah korban keserakahan saya, dia sudah memenuhi keinginan saya dengan menikahi alexandra, dia sudah cukup berkorban demi saya! tapi dia di kalahkan oleh cintanya kepadamu, sehingga dia memilih cintanya daripada tetap patuh pada saya, lama saya baru menyadari kesalahan itu, saat tersadar semuanya telah hancur."
Ibu alvin mengusap airmatanya" saya tidak akan mengganggu ketenangan hidupmu alicyaa! tapi saya mohon berilah saya kesempatan untuk ikut juga memberikan kasih sayang kepada anak alvin! saya mohon!"
Aku diam seribu bahasa, otakku masih meraba- raba ketulusan di matanya.
Bagaimana mungkin aku membiarkan nenek sihir ini mendekati al fatih! bagaimana kalau nanti dia mencekik anaku itu??bisa saja sekarang dia hanya bersandiwara.
"Ibu bisa mendekatinya sendiri, saya tidak bisa memaksakan apapun padanya, kalau dia bisa merasakan ketulusan ibu saya yakin kalian bisa saling menerima."
Ibu alvin menatapku, dan dia mulai tersenyum kemudian dia memelukku.
Ada perasaan nyaman di dalam dadaku yang masih bergemuruh, entahlah apakah wanita ini memang telah mengaku kalah, atau ada permainan terselebung di dalam kerumitan pemikirannya, atau memang ada ketulusan dalam dirinya?! entahlah sekarang aku menjadi bingung apa yang harus ku putuskan.
Kata- kataku padanya tadi hanya berupa kiasan, nanti aku akan membisikkan pada al fatih untuk tak mencoba mencari kasih sayang dari wanita ini, huhhh aku tak sudi tangannya yang berlumuran darah menyentuh anakku, bisa saja dia menghisap darah anakku selayaknya seorang drakula.
Bulu kudukku tiba- tiba berdiri, membayangkan dia akan memiliki waktu dengan anakku? aku tak mungkin membiarkan hal itu akan terjadi.
Tapi apakah memang aku tak memiliki nurani? dan terjebak dalam egosentris yang membenamkan aku dalam kekelaman jiwa? lalu apa bedanya aku dan dia??
otak ku berputar sangat keras, sedangkan wanita ini masih sesenggukan di pelupuk matanya masih tersisa airmata, apakah tangisannya ini sebuah kepalsuan? ataukah memang menggambarkan kedalaman jiwanya yang terluka?!.
Apa sekarang yang harus kulakukan?
Aku berdiri dan meninggalkan wanita ini duduk sendiri, tapi dia tak menghalangi langkahku seperti sebelum- sebelumnya.
Aku berjalan keluar menuju mobil pick up ayah, wajah cemas ayah seketika sirna saat dia melihatku keluar dari apartemen dalam kondisi baik- baik saja.
Aku mengatakan kepada ayah kalau aku ingin memberi kesempatan ibunya alvin untuk bertemu dengan al fatih, awalnya ayah tidak menyetujuinya, tetapi saat ku katakan kalau aku tidak ingin menjadi sama seperti wanita itu, barulah ayah meluluskan keinginanku itu.
Kami masuk ke dalam bertiga, bagaimanapun juga sikap ibunya alvin meninggalkan trauma yang cukup mendalam bagiku, meskipun dia mengatakan ingin berubah tapi aku sulit untuk mempercayainya begitu saja.
Aku menatap al fatih, pelan - pelan aku menjelaskan padanya kalau wanita yang duduk termenung itu adalah neneknya, ibu dari ayahnya.
Al fatih terlihat bingung, awalnya dia takut dan memegang erat tanganku saat aku ingin mengajaknya menemui neneknya itu, dia kemudian membisikkan di telingaku sebuah pertanyaan " kalau memang orang itu tidak jahat, kenapa tadi dia memukulmu ibu?"
mendengar pertanyaannya sekarang aku yang bingung harus menjawab apa, sejenak aku diam otaku berpikir keras dan terlihat anakku menatapku dengan sabar demi menunggu sebuah jawaban dari mulutku yang tiba- tiba terkunci, aku harus memikirkan sebuah jawaban yang tepat yang akan membuat al fatih mau menemui neneknya itu, tapi apa??.
" Al fatih dengar ibu? nenek merasa sedih karena ibu pergi darinya dan membawamu pergi! dia marah kepada ibu karena dia sangat merindukanmu, sekarang kamu bisa mengerti betapa besar perasaan sayang untukmu nak?"
mendengar kata- kataku al fatih mulai tersenyum, ketakutannya tiba- tiba sirna.
Dia berjalan sendiri mendekati neneknya itu, melihat al fatih di depannya ibu alvin langsung memeluk anakku itu dan dia mulai menangis lagi, mendengar tangisannya tergambar kepiluan jiwa yang mampu mencairkan hati sebeku apapun.
Mereka berdua berpelukan lama, aku pun tak mampu menahan airmata haru, mereka berdua seperti meluapkan kerinduan yang seperti telah lama terpendam.
Suasana begitu hening, mata semua orang terpusat kepada mereka berdua.
Aku menghela napas lega, sungguh di luar perkiraanku, semua berakhir dengan bahagia, bagaimanapun dia adalah neneknya, dan al fatih adalah darah dagingnya, tak mungkin dia akan membunuh anakku dan menghisap darahnya seperti drakula yang sempat ku kuatirkan, aku harus bersikap adil dan bijaksana.