
Aku menatap haru ibu alvin yang berpelukan dengan anakku, seakan konflik yang ada menguap ke udara.
Kulihat ibu alvin begitu bahagia dalam pelukan al fatih, dia tertawa sambil menangis, sungguh pemandangan yang luar biasa.
Alvin, tidakkah kamu bahagia melihat pemandangan ini?
seandainya kamu di sini, kebahagiaan ini akan sempurna, sayang.
Ayah memelukku, kami berdua terpesona dengan pemandangan yang mengharukan itu, semua orang pun terlihat bahagia, lenyap sudah ketegangan yang terjadi selama bertahun- tahun, semua karena kehadiran al fatih.
Aku menghampiri mereka berdua, " sekarang ibu bebas untuk bisa bertemu anak alvin,"( ibu alvin mengangguk senang).
Aku mengajak al fatih untuk pergi, tapi ibu alvin menghalanginya " alicyaa kalau kamu tidak keberatan, maukah kamu dan anakmu datang ke rumah? aku ingin anakmu bertemu dengan kakeknya."
Aku menatap ayah mencoba meminta persetujuannya, dan ayah mengangguk tanda setuju.
Sesampai di rumah alvin, aku mengajak al fatih dan ayah masuk, mengikuti ibu alvin yang masuk terlebih dahulu,
rumah alvin sepi seperti tidak berpenghuni.
Sejenak aku mulai bisa merasakan betapa mereka pastinya kesepian sejak kepergian alvin, bukan hanya aku yang menderita, ternyata mereka juga pastinya.
Ah, alvin maafkan aku! selama ini aku sibuk memikirkan dukaku sendiri tanpa mau tahu perasaan orang tuamu, aku terlalu egois.
Suara roda besi bergesekan dengan lantai marmer membuyarkan lamunanku, seorang lelaki paruh baya duduk tak berdaya di atas kursi roda itu, tatapannya kosong!.
siapakah dia? aku mulai penasaran !
Ibu alvin menghampiri lelaki itu dan mendorongnya mendekatiku, " dia ayah alvin, dia mengalami stroke sudah puluhan tahun, aku tidak tahu apakah dia bisa mendengar kita, sejak kondisinya begini dia sudah tidak bisa bicara lagi."
Aku mendekatinya membungkuk dan berusaha melakukan kontak mata dengannya, aku berharap dia bisa merespon kehadiranku, tapi tatapannya kosong, hanya ada kehampaan di sana, dia hanya memandang ke satu titik saja!.
Melihatnya begitu aku kehilangan kata- kata yang tadinya sudah kurangkai di pikiranku, sekedar bertegur sapa dengan ayah alvin untuk pertama kalinya.
Tapi aku tetap berniat untuk mengenalkan al fatih padanya, meskipun aku tidak yakin dia akan meresponnya.
Aku mengajak al fatih mendekatinya dan ku intruksikan dia untuk meraih tangan kakeknya itu untuk di cium, anakku menurutinya.
Al fatih selesai mencium tangan kakeknya, dan dia menatap sebentar pada wajah lelaki yang mulai keriput di makan usia itu, tiba - tiba tubuh ayah alvin gemetar hebat, semua orang panik terutama ibu alvin.
Sementara semua orang panik! ibu alvin menyuruh suster yang merawat ayah alvin untuk sesegera menelpon dokter.
Suster buru - buru membawa ayah alvin ke kamarnya untuk memberi pertolongan pertama sembari menunggu kedatangan dokter.
Ayah alvin tergeletak lemas, entah apa yang sudah terjadi padanya?!, suster pun terlihat sibuk sedangkan ibu alvin hanya bisa menahan tangis sembari menggigitt bibirnya kuat- kuat, aku bingung apa yang harus aku lakukan, aku tak berani melangkahkan kaki untuk mendekati ibu alvin, aku takut tindakanku itu malah bisa membuatnya semakin tidak nyaman.
Ya Allah tolonglah dia! semoga tidak terjadi hal buruk padanya karena kehadiran al fatih, pastinya anakku yang akan di salahkan kalau sampai terjadi hal buruk pada ayah alvin, karena tadi dia kejang- kejang setelah alvin mencium tangannya, tolonglah aku ya Allah! sekarang apa yang harus kulakukan? apakah aku harus pulang? atau bertahan di sini?!
Aku menatap ibu alvin sejenak, kemudian aku beralih melihat kondisi ayah alvin, mungkin sebaiknya aku pulang!.
Aku akan berpamitan untuk pulang, aku lihat suasana di sini mulai tegang, aku takut mereka merasa tidak nyaman dengan kehadiranku dan keluargaku di sini, mungkin semua orang butuh suasana tenang.
Ibu alvin menganggukan kepala saat aku berpamitan, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, entahlah apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya.
Aku melangkah gontai keluar dari kamar ayah alvin, perasaanku campur aduk.
Ayah memegang tanganku seakan dia tahu apa yang ada dalam pikiranku sekarang, " licy kalau memang kamu ingin melakukan sesuatu untuk mereka lakukan saja nak! tak ada yang akan menghalangimu, dengarkan saja suara hatimu!"
Aku menatap ayah, mencoba mencerna kata- katanya barusan.
"Ayah, aku akan di sini untuk beberapa waktu sampai kondisi ayah alvin membaik, ayah bisa pulang duluan! aku berharap setidaknya ada yang bisa kulakukan disini untuk sekedar memberi motivasi kepada orang tua alvin itu, aku tahu sekarang mereka berdua sedang goncang!"
ayah mengangguk tanda setuju, "baiklah licy, besok ayah akan menjemputmu."
Aku tahu sekarang kondisi yang sulit untuknya, arogansinya seketika lenyap, menatap suaminya membuatnya tidak berdaya, seandainya ada yang bisa kulakukan untuk menghilangkan kesedihannya.
Aku pun tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, tiba- tiba keheningan menghilang saat al fatih berjalan sendiri mendekati ayah alvin.
" Kata ibuku engkau kakekku? kenapa engkau diam saja? ayo bangunlah saya ingin bermain denganmu!"
Kata- kata anakku membuatku trenyuh?? kata- kata yang polos keluar dari mulut anak berumur 5 tahun, ini adalah hari pertama anakku mengenal keluarga ayahnya, pastinya dia begitu penasaran dengan mereka.
Mendengar kata- kata al fatih ibu alvin mulai sesenggukan lagi dan dia tak mampu membendung airmatanya, dia mendekati anakku dan memeluknya.
Suasana dingin di sini mulai menghangat, ibu alvin mengangkat alvin dan meletakkannya dalam pangkuannya, mereka berdua duduk di dekat kepala ayah alvin.
Aku berjalan keluar dari kamar, aku ingin memberi mereka kesempatan bertiga, semoga kehadiran anakku akan memberikan semangat baru kepada mereka berdua, aku berharap al fatih bisa mengisi kekosongan yang selama ini mereka alami.
Dokter datang dengan tergopoh- gopoh, aku yang berjalan keluar kamar berbalik arah mengikuti langkah dokter itu dari belakang.
Dokter itu mulai memeriksa kondisi ayah alvin, " benar! dia merespon, ini kemajuan yang luar biasa saya menyebutnya ini adalah keajaiban."
Dokter itu bicara sendiri di depan ayah alvin, kemudian dia menatap ibu alvin sambil tersenyum.
" Pupil matanya membesar dan mengecil bu saat saya memberikan cahaya, itu artinya dia bisa merespon apa yang di lihatnya!"
Ibu alvin tertawa sambil menutup mulutnya, seakan dia tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
"Ini berkat dirimu nak, kakekmu akan segera sembuh!" dia mengusap rambut al fatih.
Kami semua tersenyum lega, aku pun ikut larut dalam kebahagiaan yang tengah di rasakan ibu alvin itu.
Keajaiban terjadi karena anak kita sayang, alvin hanya ini yang bisa kulakukan untuk orang tuamu, aku akan melempar egoisku demi untuk melihatmu tersenyum dari surga, aku yakin kamu pun bahagia kalau orang tuamu juga bahagia.
Dokter menyarankan agar ayah alvin banyak di ajak untuk berinteraksi dan berkomunikasi, dan mungkin sekarang saat yang tepat, di sini ada al fatih anakku, semoga dia bisa menjadi magnet kesembuhan ayah alvin.
Ibu alvin berbicara pada suaminya, dan anakku nyaman di pangkuan neneknya itu, mereka begitu asyik sampai mungkin tak menyadari kehadiranku.
Aku keluar kamar, aku ingin memberikan mereka waktu untuk bersama.
Aku turun kebawah menuju dapur, kerongkonganku terasa kering aku ingin mencari sendiri air minum, karena aku tahu tuan rumah ini sedang tidak memperdulikan hal lain.
Di dapur aku bertemu dengan pembantu rumah ini, padanya aku meminta segelas air.
"Bibik sudah lama kerja disini?" aku mulai berbasa- basi, kulihat wanita ini memberiku minum tanpa bicara.
Dia mengangguk, sekali lagi tanpa bicara membuatku jadi penasaran dengan sikapnya itu?!
" kenapa bibik diam saja? apa ada yang salah dengan saya?"
pembantu itu takut- takut menatapku, dan dia mulai terbata- bata mengeluarkan suaranya" kami semua pegawai di rumah ini dilatih hanya untuk menuruti perintah tanpa banyak bertanya non! maafkan saya."
pembantu itu tertunduk dan berlalu dariku.
Hemmmmz seperti ini ternyata kondisinya di sini, sungguh kaku kehidupan di rumah ini, beginikah potret kehidupan orang kelas tinggi.
Rumah mewah yang hampa, tak ada kasih sayang yang terpancar di sini, sekarang aku baru menyadari kenapa alvin begitu betah berlama- lama di dekatku, mungkin di rumahnya dia hidup seperti sebuah robot.
Aku menyesal alvin sayang, harusnya dulu aku menghujanimu dengan kasih sayang di tiap detik kebersamaan kita, tapi aku justru yang selalu bermanja dan mengharap kasih sayang darimu, tak kusangka kita memiliki nasib yang hampir sama, haus kasih sayang! seandainya waktu bisa kuputar kembali.
Hikssss, hikkkkkk
aku tak mampu menahan air mataku, begitu dalam lukaku akibat kehilanganmu alvin! luka yang mungkin tidak akan pernah sembuh.