
Aku menunggu cukup lama, sendirian duduk di sofa membuatku begitu bosan dan lelah, dan mataku pun tak mampu lagi bersinar, sedikit demi sedikit redup dan aku terlelap.
Entah berapa lama aku tertidur sampai sebuah tangan hangat menyentuh pipiku, seketika membuatku terjaga.
Anakku sudah berdiri di hadapanku, " ibu tertidur?" mulut mungilnya mulai bertanya, aku mengangguk sambil mengumpulkan kesadaranku.
" Nenek mengajak kita makan! ayo aku sudah lapar."
Aku bangun dari dudukku, dan mengikuti al fatih yang setengah menarikku menuju tempat yang dia maksud yaitu meja makan.
Di meja sudah tersedia berbagai menu makanan yang sudah siap menunggu kami, tapi aku tidak melihat ibu alvin! kata anakku dia mengajak kami makan tapi dia entah di mana?!.
Al fatih terus merengek minta di suapin, tapi aku harus menunggu tuan rumah! tak pantas rasanya kalau aku mengambil makanan sementara yang punya rumah belum hadir di meja makan.
Kemana ibu alvin?
Tak tega rasanya membuat anakku menunggu, dan kulihat dia mulai memonyongkan mulut mungilnya.
Aku berdiri dan berjalan mencari seseorang yang mungkin bisa memberitahukan kepadaku dimanakah nyonya rumah berada?! aku bertanya kepada bibik yang sedari tadi sibuk di dapur, "maaf bik, saya mau bertanya di mana nyonya? maksud saya ibu nya alvin?!"
wanita ini menghentikan pekerjaannya dan menghampiriku yang tengah berdiri di pintu dapur, " nyonya tadi pergi naik mobil non, saya tidak tahu dia pergi kemana? cuma tadi dia berpesan kepada saya untuk menyediakan makanan di meja."
Hemmmz baiklah!
aku akan menyuapi anakku dulu, dia sudah kelaparan.
Aku masih penasaran pergi kemana ibunya alvin itu, tadi dia terlihat rapuh tak berdaya, tapi sekarang dia bisa bepergian seperti orang normal saja! benar- benar sulit di tebak kepribadiannya.
Melihat anakku makan dengan lahap, membuatku sudah merasa kenyang, meskipun tak ada sesuatu pun yang masuk kedalam perutku.
Makanan begitu melimpah di meja tapi tak ada seorang pun yang bisa menikmati semua ini, sungguh mubazir!.
Aku mencoba untuk makan sesuatu, melihat semua makanan lezat ini sama sekali tidak membuatku berselera, berbeda dengan di rumah ayah, meskipun hanya makan nasi dan tempe goreng saja tapi sudah begitu lezat rasanya.
Selesai menyuapi anakku, aku berencana untuk memakan sesuatu tapi belum terlaksana niatku, aku mendengar langkah seseorang yang mendekat, aku menoleh ternyata itu ibu alvin dan seorang wanita, yang membuatku terkejut adalah bahwa aku baru menyadari wanita yang datang bersama ibu alvin itu adalah alexandra istri pertama alvin.
Melihatnya terbayang lagi apa yang pernah dilakukannya dulu, dia lah yang telah menembak alvin sampai akhirnya alvin pergi untuk selamannya.
Emosiku seketika tersulut kembali, tubuhku gemetar menahan amarah, melihatku begitu ibu alvin berjalan mendekatiku " alicyaa aku sengaja mengajak alexandra kesini agar kalian bisa berdamai dan mengakhiri pertikaian yang pernah ada, alexandra juga tidak pernah bisa hidup tenang selama masih menyimpan amarah padamu! begitu juga dengan mu licy!"
Sementara aku masih mencoba meredam amarahku, aku melihat alexandra diam terpaku, wajahnya dingin tatapanya tajam, melihatnya begitu aku seperti berada di depan gunung es.
Entahlah kenapa ibu alvin mengajaknya kesini! aku baru saja bisa berdamai dengannya, itu hal yang tak mudah untuk kulakukan, dan sekarang aku pun harus berdamai dengan pembunuh itu?! rasanya itu tidak mungkin akan kulakukan.
" Licy, saya sudah tidak punya siapapun lagi, seandainya kalian berdua bisa berdamai dan menjadi anak perempuan saya pengganti kehadiran alvin, tentunya itu akan sangat membahagiakan saya.
Alvin pasti menginginkan hal yang sama, aku mohon mengertilah! demi cinta kalian kepada alvin! kalian harus mengakhiri permusuhan kalian.
Dan kamu alexandra berhentilah memburu alicyaa, dia sekarang seorang ibu dari cucuku, aku tidak rela kalau kamu menyakitinya, karena ada darah dagingku bersamanya! dan alexandra kamu harus meneruskan hidupmu, lupakan hal yang menyakitkan dan biarkan masa lalu itu berlalu!."
Oh, aku baru tahu kalau selama ini alexandra memburuku!
apa yang di inginkannya dariku? apa dia ingin melenyapkanku?! sampai ibu alvin harus setengah memohon perdamaian padanya?! begitu berbahaya kah dia?!
Tatapan alexandra tetap dingin tanpa ekspresi, bahkan dia tak merespon saat al fatih memberikan tangannya untuk bersalaman dengannya.
"Alexandra tolong, penuhi permintaan ibu! stop permusuhan ini, biarkan alvin tenang di surga jangan bebani dia dengan bara kemarahan antara kalian berdua!."
Alexandra menatap tajam pada anakku! matanya yang melotot membuat anakku ketakutan, al fatih berlari menuju ke arahku, sikapnya itu sontak membuatku begitu emosi.
Aku menggendong al fatih dan berjalan mendekati alexandra " aku tidak akan berdamai denganmu, dan satu hal yang perlu kamu tahu aku tidak pernah takut padamu! kamu tak perlu mencari- cari keberadaanku karena aku tidak akan bersembunyi darimu, cam kan itu!."
Aku berlalu dan beranjak meninggalkan rumah alvin, namun ibu alvin mengejar dan menghentikan langkahku.
Melihat hal itu, sekarang alexandra yang setengah berlari pergi meninggalkan rumah alvin, dan tak ada yang bisa menghentikan kepergiannya.
Suara deru mobil meninggalkan pekarangan rumah alvin, dari suara mesin mobil itu aku tahu alexandra pergi dengan kemarahan yang luar biasa.
Ibu alvin terduduk lemas, hilang sudah harapannya mendamaikan kami.
Aku pun tak mungkin bisa melupakan apa yang sudah di lakukan alexandra pada alvin, karena perbuatannya itu hidupku hancur dan aku harus terpisah dari kekasihku itu.
Setelah ibu alvin bisa menguasai diri dia bangun dari duduknya dan mengajakku masuk kembali.
Dia mengajakku ke lantai atas dan mengajakku masuk ke sebuah kamar, saat masuk aku di sambut sebuah foto alvin yang sangat besar terpasang di atas tempat tidur.
Melihatnya aku seperti tak sanggup menahan tangisku, ini pasti kamar almarhum alvin, tapi aku tak boleh menangis di depan anakku.
" Malam ini kamu dan anakmu bisa tidur di sini, ini kamar alvin dulu, aku sengaja tetap menyimpan semua barang alvin di sini untuk mengobati saat- saat aku merindukan kehadirannya, kamu istirahatlah! aku akan ke kamar ayah alvin untuk melihat keadaannya."
Ibu alvin berlalu, dan aku terpaku di kelilingi oleh kenangan tentang alvin di kamar ini.
Aku meletakkan al fatih di kasur, dan aku menatap tajam foto alvin yang terpajang di atas tempat tidur.
"lihatlah nak, itu foto ayahmu! lihatlah betapa tampan dan gagahnya dia, kelak kalau kamu sudah dewasa kamu pasti seperti dirinya."
Anakku menatap juga ke arah foto alvin, matanya nanar! tergambar dia sangat penasaran atau ada yang begitu ingin di ketahuinya.
Setelah puas melihat foto ayahnya, al fatih kemudian memelukku dan membenamkan kepalanya di dadaku,
" ibu, kenapa ayah pergi ke surga terlebih dahulu tanpa mengajak kita bersamanya?'
mendengar pertanyaannya itu membuatku terdiam, sungguh aku tak punya jawabannya.
Melihatku diam tak bicara al fatih terus menerus menanyakan hal yang sama, dan itu membuatku harus mencari jawaban yang tepat, karena aku tahu dia tidak akan berhenti sebelum aku menjawab pertannyaannya itu.
" Kita semua akan ke surga sayang, cuma waktunya yang tidak sama karena kita harus punya tabungan untuk pergi kesana! kamu tahu apa tabungan itu yaitu kebaikan dan kasih sayang."
Al fatih mengangguk dan tersenyum sepertinya dia puas dengan jawaban yang ku berikan, " baiklah sayang, kemarilah ibu akan menemanimu istirahat, saat lelahmu nanti hilang kita akan menemui kakek lagi, supaya dia cepat sembuh dan bisa bermain lagi denganmu, al fatih meletakkan kepalanya di pangkuanku, dan aku membelai manja rambutnya yang lebat.
... ...
Tidurlah sayang! lupakan yang tadi sudah terjadi di depan matamu, lupakan wajah- wajah orang yang penuh kebencian yang bisa menghancurkan jiwamu yang murni.