
Aku memejamkan mata, terbayang kenangan bersama alvin saat bulan madu.
Kala itu aku merasa sangat beruntung menjadi wanita yang di cintainya, kebahagiaanku sungguh tak terkira.
Tapi takdir menghancurkannya dengan sekejap mata, kenapa aku harus mengenal cinta dan mencintai, kalau akhirnya aku kembali kehilangan dan sendirian.
Alangkah lebih baik kalau aku menjadi penjajah cinta saja, tanpa menggunakan hatiku, sehingga aku tidak perlu merasakan sakit ini!.
Sekarang aku harus menjalani kehidupan di kelilingi rasa takut.
Aku harus lari dari keluarga alvin, harus lari dari keluarga mantan suamiku devin, dan aku masih di hantui ketakutanku sejak kecil setiap bertemu dengan pamanku yang telah memperkosaku itu, dan sekarang dia tinggal begitu dekat denganku hanya berjarak beberapa meter saja.
Aku beranjak dari tempat tidur, aku berjalan ke dapur dan mencari- cari sesuatu.
Tubuhku mulai gemetar, keringat dingin mengucur dari dahiku.
Akhirnya kutemukan pisau yang kucari, sekarang aku akan menaruh pisau ini di bawah bantalku.
Mulai sekarang aku harus terbiasa melindungi diriku sendiri, aku harus berperang melawan ketakutanku sendiri.
Kupejamkan mata, aku masih mengigil entah karena apa, mungkin karena pikiranku yang sakit,
aku harus tetap waras demi kehidupan baru di dalam rahimku.
Pagi hari bude halimah datang dengan seorang wanita paruh baya, dia mengenalkanku dengannya .
Dia yang akan menemaniku selama tinggal di sini,
" nama saya mbok nah, begitu saja kalau mbak alicyaa memangil saya."
Aku tersenyum dan menjabat tangannya, " mbok nah bisa segera membantu saya, kalau bisa mbok nah tinggal di sini saja"
mbok nah mengangguk, tanda setuju.
Bude halimah menjelaskan kalau mbok nah tinggal di kampung sebelah dia seorang janda yang tinggal sendirian.
Anak - anaknya sudah berumah tangga dan tinggal terpisah darinya.
Sementara mbok nah menuju dapur, bude halimah mendekatiku yang masih belum bangun dari tempat tidur.
"Lic, sebenarnya bude masih bingung, kenapa devin masih mencari- carimu sedangkan dia sudah menikah lagi?" terlihat bude halimah begitu penasaran,
" entahlah bude, aku juga tidak mengerti."
Sebenarnya aku takut kembali ke kota ini, kota yang sama dengan tempat tinggal devin, tapi aku tidak punya pilihan lain, selain ke sini.
Kesehatan bayiku sekarang lebih kuprioritaskan daripada ketakutanku, aku tidak bisa pergi dan melakukan perjalanan terlalu jauh, itu saran dokter."
Bude halimah membantuku untuk bangun dari tempat tidur, " hidupmu sangat berliku lic, entah apa dosa yang dilakukan orang tuamu sampai kamu harus mengalami nasib yang malang ini!"
kata- kata bude halimah mulai meracuniku, mungkin benar aku harus menanggung karma perbuatan orang tuaku?!!
tapi aku pun bergelimang dosa dan itu tidak bisa kupungkiri.
Bertahun- tahun aku hidup bagaikan binatang, bergonta- ganti pasangan dan selalu terlibat percintaan di ranjang dengan mereka.
Semua di picu kemarahanku terhadap pamanku itu, yang telah memperkosaku saat kecil dulu, harusnya dia juga bersalah atas nasibku, harusnya aku membenci bude halimah juga karena pemerkosa itu adalah suaminya!.
Semua bersalah atas nasibku termasuk diriku sendiri, hikkkkss hikkkk.
Dan orang yang menolongku keluar dari lembah nista, kini telah pergi untuk selamanya.
Alvin mencintaiku tanpa syarat apapun dia juga bisa menerima masa laluku yang kelam.
Alvin !!
Melihatku tenggelam dalam lamunan, bude halimah pun berpamitan pulang.
Mungkin dia tidak ingin membuatku merasa sedih,
" kamu mandilah lic, kemudian segeralah sarapan, aku tadi sudah mengajak mbok nah belanja, jadi dia hanya perlu memasak apa yang tadi bude sudah beli."
Aku mengangguk dan membiarkan bude halimah pergi, aku pun juga lebih senang sendirian.
Kutatap bayangan diriku di cermin,
Sekarang sudah hilang semangat merias diri, terlihat penampilanku yang berantakan, selera rasa pun telah hilang dan aku pun lupa terakhir aku makan.
Bahkan untuk sekedar mandi itu pun malas ku lakukan, gairah hidupku lenyap, aku seperti telah binasa jiwaku kini kosong.
Tapi aku harus tetap hidup!
mbok nah menatapku dan mulai menyuapiku, tanpa banyak bicara dan bertanya , dia terus melakukannya.
Makanan ini rasanya pahit di lidahku, butuh perjuangan membiarkannya lewat di tenggorokanku, rasanya ingin kumuntahkan saja, tapi mbok nah dengan sabar melakukannya, seakan dia sudah terbiasa melakukan hal ini.
Aku harus sabar di atas tempat tidur ini, demi buah hati yang akan hadir di dunia ini, hasil cintaku dan alvin.
Hikkkss hikkkkk, sayangnya alvin tidak akan ada di sini menemaniku dan merawat anak kami kelak, itu harus kulakukan sendiri tanpanya, aku tidak tahu apa aku akan bisa?.
Tak terasa sudah satu bulan aku disini, hanya tiduran saja.
Aku jarang sekali bertemu matahari dan menghirup udara segar di luar rumah, aku lebih suka menyendiri di dalam kamar, berteman dengan tembok yang setia mendengar keluh kesahku, dan dengan mbok nah yang setia merawatku nyaris 24 jam, dia tak banyak bicara tapi dia memiliki tangan ajaib dalam merawatku, dia membuatku merasa nyaman di sini.
Apalagi bertetangga sama sekali belum ku lakukan, selama aku di sini bude halimah lah yang membelikan semua barang yang ku butuhkan.
Kondisiku semakin hari semakin membaik, berkat asupan gizi yang bagus dan makanan yang teratur ku konsumsi, mbok nah sangat berpengalaman menyediakan makanan buat orang hamil muda sepertiku, sehingga aku tidak perlu kerepotan dengan rasa mual yang pada umumnya di rasakan orang hamil muda.
Pagi ini aku ingin berjalan - jalan di halaman rumah, sekedar menghirup udara segar dan membiarkan matahari membakar kulitku yang mulai pucat.
Aku pun menoleh dan seketika aku gemetar, senyuman dari gigi yang berjajar rapi dan mata yang tajam itu milik pamanku, orang yang paling kuhindari selama berpuluh- puluh tahun.
Aku tak mampu berkata- kata, menatapnya sebentar dan aku bergegas masuk ke dalam rumah.
Dari celah jendela aku masih melihat pamanku tetap berdiri di tempat yang sama.
Aku gemetar, dadaku berdetak tak beraturan, aku takut sekali.
Aku tidak takut pada manusia manapun di muka bumi ini, tapi tidak dengannya.
Sejak kecil aku selalu mimpi buruk tentangnya, aku dirundung ketakutan seumur hidupku karenanya.
Malam ini aku di rumah sendirian, mbok nah ke rumah bude halimah untuk membantunya mempersiapkan hajatan buat besok, di kampung itu sering di lakukan bergiliran tiap bulan dari rumah ke rumah.
Aku takut dan terus memegangi pisau yang kusembunyikan di bawah bantal, membayangkan akan ada orang jahat yang masuk kedalam rumah , untuk menghabisiku dan juga bayi dalam kandunganku.
Mataku terus terjaga, tatapanku tajam ke arah pintu,
terdengar bunyi decit pintu yang di buka pelan,
aku sedang tidak bermimpi, aku benar- benar mendengarnya.
Kupegang erat- erat pisau dari bawah bantalku, dan benar saja aku melihat bayangan besar masuk perlahan ke kamarku yang gelap .
Perlahan dia mendekat ke arahku, dan beph!
dia berusaha membekap wajahku dengan sesuatu yang menutup mulut dan wajahku, aku tak bisa melihat wajahnya.
Aku meronta dan seketika ku hujamkan pisau yang sedari tadi kupegangi dari bawah bantal,
kearah punggungnya bertubi- tubi.
Pegangannya terlepas, dia jatuh ke lantai bersimbah darah.
Aku meloncat bangun menuju ke arah saklar lampu, saat suasana terang alangkah terkejutnya aku,
dia yang bersimbah darah adalah pamanku yang tadi pagi bertemu denganku di halaman rumah.
Aku mendekatinya yang meringis kesakitan, kulihat sebentar dan aku menghujamkan lagi pisau di tanganku beberapa kali ke arah perutnya.
Seakan kulampiaskan kemarahan berpuluh - puluh tahun yang kupendam sendiri selama ini.
Melihatnya tak berdaya aku merasa begitu puas, kubuka sarung penutup tubuh bagian bawahnya, yang menyembul tanpa celana dalam.
"Sekarang aku paham apa sebenarnya yang kamu akan lakukan malam ini, pemerkosa tak berhati!."
Pisau bersimbah darah masih di tanganku, kupotong kemaluanya, dia berteriak histeris.
Potongan itu ku lempar ke mukanya! aku tersenyum puas dan ku dekati dia sejenak untuk menunjukkan wajahku yang bahagia melihat penderitaannya itu.
Dalam kepanikan aku mencari tas ranselku, aku bersiap untuk lari sebelum semua orang datang karena teriakannya itu, di ransel itu berisi nyawaku tidak boleh sampai ketinggalan.
Aku keluar dari pintu belakang, sebelum keluar aku menatap kembali rumah nenek yang penuh kenangan pahit, sejenak aku diam.
Aku kembali masuk ke dalam rumah menuju dapur, kulepaskan selang gas elpiji dan ku biarkan , ku ambil korek api, kunyalakan dan kulempar kedekat tabung gas, api pun terpercik,
aku berlari keluar.
Aku berlari cepat tanpa melihat ke kiri dan ke kanan, saat aku mulai terengah- engah kusempatkan menoleh ke belakang, kulihat rumah nenek telah terbakar,
kobarannya menjulang tinggi di langit yang gelap.
Tamat riwayatmu pemerkosa jahanam
bagiamana kamu bisa berfikir untuk menyakitiku dan juga bayi dalam kandunganku yang pasti binasa kalau malam ini kamu berhasil memperkosaku !
Inilah akhir yang pantas untukmu!.
Aku berdiri di pinggir jalan menunggu kalau seandainya ada kendaraan yang lewat , malam ini aku akan pergi dari sini, kemana ? entah ?! yang terpenting aku pergi saja.
Tak seberapa lama ada sebuah mobil yang berhenti, aku pun masuk meminta pertolongan untuk di antar kesuatu tempat, yang aku sendiri belum mengetahuinya.
Aku duduk di dalam mobil, kurasakan ada yang mengalir dari selangkanganku, kuraba dan terlihat darah di tanganku, seketika aku panik.
Aku meminta pertolongan kepada orang yang memberiku tumpangan untuk mengantarku ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, aku langsung masuk UGD, kulihat orang yang memberiku tumpangan, yang belum sempat kutanyakan namanya itu juga terlihat panik.
Dia mengantarku masuk dan menungguiku sebelum aku mendapatkan penanganan, setelah dokter sampai dan menanganiku, barulah dia meminta ijin untuk pamit pulang.
Aku mengulurkan padanya beberapa lembar uang untuk mengganti waktu dan tumpangan yang telah dia berikan , tapi dia menolaknya.
Aku berterima kasih dan mencium tangan pria paruh baya itu, dia seumuran dengan ayahku, masih ada orang baik di dunia ini, yang menolong tanpa pamrih.
Aku bersyukur, kandungankku baik- baik saja,
pendarahan tadi terjadi karena aku kecapekan.
Memang aku tadi berlari sampai aku lupa kalau aku sedang hamil.
Kamu harus kuat nak, kita akan berjuang hidup
Mama akan menjagamu dari apapun yang akan menyakitimu, mama janji.
Kuelus- elus perutku, tak terasa airmataku menetes di pipiku, terselip kebahagiaan di dalam hatiku, ada getaran aneh yang kurasakan saat aku berusaha berkomunikasi dengan kehidupan di dalam perutku ini, kamu anakku, kamu semangatku!.