Become An Idol By System

Become An Idol By System
Pahlawan Kecil



Oichi mulai beralih menatap Jullian dengan serius, namun seakan sedang menahan sebuah senyuman.


"Oh ya? Lalu bagaimana jika ternyata kamu juga seperti salah satu seperti mereka, Jullian? Bagaimana jika ternyata kamu adalah salah satu dari fans fanatik itu, Jullian?" ucap Oichi masih menatap Jullian masih dengan ekpresi yang sama. Serius namun terlihat seakan sedang menahan senyuman.


Sedangkan Jullian yang sedang ditatap seketika tercengang dan kebingungan untuk menjawab ucapan dari Oichi. Selain cukup terkejut karena pertanyaan dari Oichi, sebenarnya Jullian merasa cukup gugup karena telah ditatap oleh gadis yang selalu dipujanya selama ini.


Dewi Oichi benar-benar sangat cantik. Dia begitu sempurna dan seperti bidadari. Aku sungguh tidak menyangka jika aku bisa berbincang dan bertatap muka cukup lama seperti ini dengannya. Bahkan saat ini kami hanya berduaan saja. Terima kasih, Ellios. Aku akan mentraktirmu setelah malam ini!!


Batin Jullian malah kembali terlihat begitu berbinar saat menatap Oichi. Dia tak bisa menyembunyikan kegamumannya dan kebahagiaan yang tak tertakar lagi itu. Wajahnya begitu berseri-seri, namun dia sudah tak menyadarinya jika sudah cukup lama dia menatap Oichi.


"Jullian! Hello! Apa kamu mendengarku?" Oichi melambaikan kedua tangannya di hadapan Jullian dan seketika sukses membuyarkan angan Jullian.


"Ehh? I-iya ... maaf. Aku malah melamun. Maaf Oichi ..." ucap Juliian mengusap tengkuknya dengan wajah yang sudah merona menahan malu. "Dan ... tentu saja aku tidak akan seperti mereka, Oichi. Memang benar aku sangat mengidolakanmu. Namun aku tak akan berbuat sesuatu yang berlebihan yang tentunya yang bisa membahayakanmu." imbuh Jullian dengan tulus.


"Hehe, santai saja! Aku hanya sedang menggodamu saja kok." Oichi menyauti dengan santai dan tertawa kecil.


"Kamu harus lebih berhati-hati. Aku mendengar dari Ellios jika kamu dan para idol lain disekap saat itu. Bahkan mereka juga memakai alat peledak. Huft ... bahaya sekali!" gumam Jullian terlihat sangat khawatir.


"Hhm. Dan karena Ellios yang berhasil menjinakkan alat peledak itu, sehinha kami semua bisa selamat."


"Hhm. Dia memang sangat genius. Dan selama ini belum ada yang bisa menandingi kemampuan otaknya." puji Jullian teringat dengan sosok sahabat baiknya selama ini.


Namun tiba-tiba saja keceriaan dan tawa Oichi mereda begitu saja saat dia melihat sebuah gelang berwarna hitam yang sedang Jullian kenakan saat ini. Gelang sederhana dengan tali double berwarna hitam dan memiliki sebuah liontin lonceng kecil dan astronot yang sedang meraih sebuah bintang.


Ekspresi wajah Oichi yang seketika berubah, tentu saja membuat Jullian menatapnya dengan rumit.


"Oichi, ada apa? Apa kamu baik-baik saja? Ataukah kamu sedang sakit?" tanya Jullian terlihat sangat mengkhawatirkan Oichi.


"Darimana kamu mendapatkan gelang itu?" tanya Oichi masih menatap gelang Jullian dengan ekspresi serius.


"Eh? Ini?" Jullian mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan gelang sederhana itu.


"Sebenarnya aku tak terlalu mengingatnya dengan baik sih. Hanya saja aku masih mengingat ... jika aku selalu memakainya dari dulu sekali. Uhm ... sepertinya sejak aku kecil aku sudah memakainya." jawab Jullian berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu.


"Ju-an-chan? Apakah itu adalah nama panggilanmu saat kamu kecil, Jullian?" ucap Oichi dengan ragu-ragu dan sangat berhati-hati.


Untuk beberapa detik Jullian terdiam dan menatap Oichi rumit. Namun setelah berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu, akhirnya dia berhasil mengingatnya sedikit.


Selama beberapa detik, Oichi seperti kehilangan kesadarannya. Hingga akhirnya setelah mendapatkan kesadarannya kembali, Oichi tersenyum penuh binar sambil mengangkat dan menyibak lengan pakaian panjangnya sebelah kiri.


Terlihat gelang yang sama seperti yang sedang dikenakan oleh Jullian. Hanya saja liontin astronot milik Oichi sedang memeluk sebuah bintang. Kedua gelang itu begitu sama persis, dan memiliki usia yang sama. Dan kedua gelang itu terlihat seperti sebuah gelang pasangan.


"Kak Ju-an! Apakah kamu melupakanku?" ucap Oichi tiba-tiba.


Tampaknya Jullian memiliki sebuah ingatan yang sangat buruk. Dia sama sekali tak mengingat Oichi. Sehingga dia hanya terdiam dan kebingungan harus menjawab apa.


"Saat itu usiaku adalah 5 tahun. Di sekolahan teman-temanku selalu menghinaku dan membuatku menangis. Namun saat itu kak Ju-an yang sedang melihatku membantu dan membelaku. Kak Ju-an bahkan membawakanku permen kapas saat itu untuk menghiburku dan membuatku berhenti menangis. Dan aku sungguh sangat terharu saat itu. Lalu ... aku memberikan gelang itu untuk kakak karena aku sangat menyukai kakak saat itu!"


Ucap Oichi yang sungguh membuat Jullian membeku.


Jullian sungguh syok dan tidak menyangka jika Oichi yang ada di hadapannya saat ini adalah gadis yang pernah ditemuinya di masa kecil.


Jullian melihat mereka sangat berbeda. Oichi disaat kecil memang tidak secantik sekarang. Ditambah lagi Oichi kecil selalu berpenampilan kumel dan kotor. Bahkan saat itu dia memperkenalkan namanya menggunakan nama Chichi, dan bukan Oichi. Tentu saja Jullian sangat tidak mengenalinya.


"Kak Ju-an pasti sangat bingung. Karena saat itu aku benar-benar sangat jelek dan bau. Hehe ..." ucap Oichi tertawa kecil.


"Ehh? Buk-bukan seperti itu ..." Jullian yang terdiam membeku selama beberapa saat yang lalu, kini meringis dan mengusap tengkuknya lagi.


"Sejak saat itu aku begitu mengagumi kak Ju-an! Kak Ju-an adalah orang pertama yang begitu baik dan tulus untuk menolongku saat itu. Bahkan kak Ju-an tak melihat penampilanku saat itu, dan menolongku dengan tulus." ucap Oichi lagi penuh binar.


"Namun sayang sekali. Saat kedua orang tuaku bercerai aku ikut bersama ayah dan harus pindah bersama ayah dan keluarga barunya. Dan aku juga harus pindah sekolah. Aku sangat sedih karena aku kembali tak memiliki teman. Dan tak ada lagi yang menolongku sejak saat itu. Dan aku sangat berharap agar bisa bertemu kembali dengan kak Ju-an. Namun rupanya aku tak pernah memiliki kesempatan itu. Hidupku semakin terpuruk sejak saat itu, dan sangat mengenaskan ..." imbuh Oichi terlihat sangat murung.


"Tapi tidak aku sangka kini aku malah bertemu dengan kak Ju-an disini! Makasih ya, Kak ... Karena kak Ju-an masih memakai gelang pemberian dariku. Jika kakak melepasnya, mungkin aku tak akan mengenali kakak lagi."


Ucap Oichi lagi yang kali ini mengangkat tangan kirinya untuk melihat gelang miliknya.


"Gelang ini aku beli saat di pasar malam malam. Untungnya aku masih sempat memberikannya untuk kakak saat itu ..." ucap Oichi kembali masih berbinar.


Jullian sungguh tak bisa berkata-kata. Dia masih sangat tidak menyangka semua ini. Gadis yang selalu dipuja dan selalu diidolakannya selama ini, ternyata adalah gadis yang selama ini selalu mengagumi dirinya. Bahkan sejak mereka masih kecil, Oichi begitu mengaguminya. Karena bagi Oichi, Jullian adalah pahlawannya disaat mereka masih kecil.