Become An Idol By System

Become An Idol By System
Menemui Papa Dan Mama



Seorang gadis remaja yang cantik dengan penampilannya yang sedikit tertutup ( menggunakan masker dan topi ) terlihat sedang duduk di salah satu ruangan VIP sebuah kafe ternama di prefektur Yokohama.


Di seberangnya ada seorang wanita dewasa dan seorang pria dewasa duduk bersebelahan. Sementara di sebelahnya ada seorang pemuda tampan berbadan atletis dan cukup kekar yang mulai saat ini akan bekerja sambilan untuk sang gadis remaja itu. Dia akan menjadi body guard dari gadis remaja cantik itu.


Mereka adalah Oichi, Hakken dan kedua orang tua Oichi. Dan semenjak saat ini Hakken akan selalu menempel pada Oichi, karena menjadi body guard-nya.


Oichi melepaskan masker putihnya dan sukses membuat kedua orang tua angkatnya mematung cukup lama. Mereka sangat terkejut bukan main melihat paras cantik Oichi saat ini yang tentunya sangat berbeda jauh dengan Oichi yang dulu.


Ditambah lagi, mereka terkejut karena melihat sosok Hakken yang datang bersama putrinya. Memang tampan, namun aura dan penampilan Hakken cukup dingin dan datar.


Mengapa anak polos, jelek dan bau itu sekarang bisa sangat berubah drastis seperti ini?! Kini dia sangat cantik dan wangi. Bahkan kulitnya sangat putih dan sangat indah. Ini aneh sekali! Padahal aku hanya meninggalkannya beberapa bulan saja. Hhm. Lalu siapa pemuda ini? Apa dia adalah kekasih Oichi? Terlihat tampan, dingin, angkuh, dan sepertinya kaya. Hehe ... jika dia adalah kekasih Oichi, aku akan sangat beruntung karena mendapatkannya sekaligus.


Batin Mirae masih mengamati Oichi dan Hakken secara bergantian. Sementara suami mudanya masih terdiam dan hanya mengamati kedua anak muda itu, karena dia menyerahkan hal ini kepada istrinya.


Setelah saling terdiam cukup lama, akhirnya salah satu dari mereka mulai membuka perbincangan kembali.


"Sudah cukup lama kita tidak bertemu. Maaf mama baru kembali, Sayang. Oh iya, bagaimana kabarmu?" ucap Mirae dengan manis.


"Kabarku sangat baik, Ma!" jawab Oichi dengan santai, menyilangkan kedua tangannya di bawah dadanya dan bersandar santai pada kursi empuknya.


"Syukurlah jika seperti itu. Jadi, dimana kamu tinggal saat ini, Oichi sayang?" tanya Mirae memasang wajah manis bak seorang mama yang sangat menyayangi putrinya.


"Kenapa? Bukankah selama ini mama tidak pernah peduli aku tinggal dimana? Bahkan setelah mama menjual rumah peninggalan ayah, mama tidak pernah mencariku. Mama tidak pernah peduli bukan? Bahkan mama sengaja mengganti nomor ponsel mama saat itu, hingga aku tidak bisa menghubungi mama."


Tanya Oichi dengan nada manis dan senyum yang menghiasi wajah ayunya, namun sebenarnya itu adalah sebuah tamparan ringan untuk kedua orang tua tirinya.


Seketika Mirae menjadi gelagapan mendengar ucapan dari Oichi.


"Sa-sayang.bukan seperti itu, Sayang. Maafkan mama. Tapi saat itu kami masih belum kembali ke Tokyo. Dan ponsel mama hilang karena dijambret. Maka dari itu mama ganti nomor ponsel." ucap Mirae berusaha untuk membela diri.


"Hhm? Begitu ya? Lalu mengapa baru sekarang mama menghubungiku? Tidak mungkin bukan jika mama baru saja membeli ponsel. Tidak mungkin kan mama tidak memiliki uang untuk membeli ponsel baru? Lagipula mama juga mendapat uang cukup banyak karena menjual rumah peninggalan dari ayah saat itu." ucap Oichi menyudutkan Mirae, dan membuatnya seakan mendapatkan skak mat.


"Sa-sayang. Mama terpaksa menjual rumah itu. Karena sebelum ayahmu meninggal, dia memiliki cukup banyak hutang. Dan para rentainir itu selalu saja menghubungi dan mendatangi mama untuk segera melunasi hutang ayahmu. Jadi mama tidak punya pilihan lain saat itu, hingga akhirnya mama memutuskan untuk menjual rumah itu. Itu semua untuk melunasi hutang ayahmu." ucap Mirae memasang wajah memelas, seakan apa yang baru saja dikicaukan olehnya adalah benar dan nyata.


"Begitukah?" tanya Oichi mendongakkan wajahnya dan menatap wanita itu sedikit menurunkan bola matanya, hingga memberikan kesan angkuh dan sombong ketika Mirae menatapnya saat ini.


"Tentu saja, Oichi sayang ..."


"Tentu saja kami menginginkan untuk hidup bersama denganmu, Oichi sayang. Kemvalilah bersama dengan kami. Karena kami sudah membeli rumah baru. Kamu mau kan, Oichi sayang?"


Oichi tersenyum miring mendengar ucapan dan Mirae dan segera menjawabnya tanpa berpikir panjang lagi, "Aku menolaknya!"


"Oichi, kamu jangan keterlaluan!" tandas papa tirinya yang kini juga mulai berbicara, setelah sejak tadi menahan diri karena menganggap Oichi sebagai seorang anak remaja sudah sangat tidak sopan kepada istrinya.


"Mamamu dari tadi sudah berbicara baik-baik kepadamu. Dan dia mengajakmu untuk kembali ke rumah. Tali kamu malah bersikap tidak sopan seperti ini. Dimana etika dan sopan santunmu?!" tandas sang papa tiri semakin tak bisa menahan diri lagi.


"Sekarang pulang bersama dengan kami! Karena kami masih kedua orang tuamu!" tandas pria dewasa itu berdiri dan menarik tangan Oichi dengan sangat kasar.


"Aku tidak mau!" tandas Oichi tegas, namun sampai pada detik ini Oichi masih saja belum menggunakan kekuatan sihirnya untuk menundukkan mereka.


"Patuhlah dan jangan membantah! Ikut pulang bersama dengan kami!" sang papa tiri semakin kasar menarik tangan Oichi dan membuat Oichi ikut melangkah terpaksa.


"Aku tidak mau! Aku tidak mau tinggal bersama dengan kalian!" Oichi masih bersikeras dengan keputusannya.


GREEPP ...


Hakken segera mencengkeram kuat pergelangan tangan pria dewasa yang saat ini sedang mencengkeram pergelangan tangan Oichi.


"Lepaskan dia, atau aku akan mematahkan tanganmu!!" tandas Hakken dengan tatapan dingin dan tajamnya seperti mata elang. Sementara tangannya masih mencengkeram kuat tangan pria dewasa itu.


"Dasar bocah tak tau sopan santun!! Kamu tidak berhak atas kehidupan Oichi!! Kamilah yang lebih berhak!! Karena kami adalah kedua orang tuanya!!" tandas papa tiri Oichi semakin dipenuhi amarah karena ucapan dari Hakken.


"Kedua orang tua Oichi sudah meninggal! Kalian hanyalah orang lain untuknya, bahkan kalian selalu memperlakukan dia dengan sangat buruk di masa lalu. Kalian juga sudah membuangnya dan tidak mengurusnya, dan malah sibuk sendiri memasukkan kecebongmu pada wanita matre ini! Cih ... apa yang seperti itu pantas disebut sebagai orang tua?!" cibir Hakken dengan tawa meremehkan.


"Dasar bocah kurang ajar!! Kamu masih bocah tapi sangat berani berkata seperti kepada kami yang jauh lebih tua darimu!! Kamu harus diberi pelajaran!!" geram papa tiri Oichi semakin meluap-luap dipenuhi dengan amarah.


Papa tiri Oichi melepaskan tangan Oichi dan bersiap untuk melayangkan tinjunya ke arah tubuh Hakken. Namun Hakken berhasil menangkap tinju itu lalu memutar balikkan tubuh pria dewasa itu dan memplintirnya.


"Cepat enyah dari hadapan kami, sebelum aku benar-benar mematahkan tulang-tulangmu!! Dasar cabul matre!!" ucap Hakken tepat di dekat telinga papa tiri Oichi.


...🍁🍁🍁...