
Setelah beberapa saat, akhirnya taxi berwarna kuning lembut itu memasuki sebuah kompleks perumahan di prefektur Yokohama, lalu mulai menepi dan berhenti di depan sebuah rumah yang memiliki radius sedikit jauh dari rumah lainnya. Rumah ini juga berada di paling ujung dan belakang.
Setelah memberikan beberapa lembar uang untuk supir taxi itu, Oichi segera turun. Dia memandangi rumah itu selama beberapa saat. Namun akhirnya lamunannya buyar ketika ponselnya berdering.
Saat melihat layar ponselnya, rupanya nomor baru itu lagi yang menghubunginya saat ini. Karena Oichi memang belum menyimpan nomor tersebut.
"Hallo. Aku sudah sampai. Dan aku sudah berada di depan rumah." ucap Oichi masih mengamati rumah di hadapannya yang tergolong minimalis.
"Hhm. Masuklah! Pintu tidak dikunci! Dan aku akan segera memberikan benda itu untukmu!" ucap seorang wanita dewasa dari seberang line.
"Hhm ..." Oichi segera mengakhiri panggilan itu dan memantapkan hatinya untuk memasuk halaman rumah itu.
Ketika dia baru saja memasukinya, sudah terlihat seorang wanita dewasa dan pria dewasa sedang duduk di sofa ruang tamu sedang menantikan dirinya. Tangan pria dewasa itu sedang mamakai sebuah gips, karena cedera.
"Dimana barang itu, Ma? Berikan padaku ..." ucap Oichi masih berdiri di tempatnya.
"Aku akan memberikannya untukmu! Namun ada syaratnya!!" sahut wanita dewasa yang tak oain adalah Mirae.
"Apa syaratnya?"
"Berikan aku 5 juta yen! Maka aku akan memberikah benda itu padamu!" ucap Mirae tersenyum miring menatap Oichi.
"Apa?! 5 juta yen? " tanya Oichi sangat syok mendengarkan nominal yang menurutnya sangat besar itu.
"Tentu saja! Uang itu sangat kecil bukan untukmu?" sahut papa tirinya tersenyum miring menatap Oichi. "Dan uang itu juga sebagai ganti untuk biaya pengobatanku, karena temanmu yang sudah membuat tulangku patah!!"
"Aku tidak punya uang sebanyak itu! Dan tolong kalian jangan berlebihan! Benda itu adalah milik dari mendiang ayahku!! Dan itu artinya aku juga berhak atas itu! Berikan benda itu padaku! Dan lagi, bukankah Hakken sudah memperingatkan kalian sebelumnya? Jadi itu bukan salah dia!!" tandas Oichi menatap kedua orang tua tirinya kesal.
"Wah-wah ... sudah berani sekali kamu ya?! Mentang-mentang sudah menjadi seorang idol, kamu menjadi berubah sombong dan sesuka hatimu sendiri ya?! Benar-benar tak tau diri sekali!" cibir papa tiri Oichi bangkit daru tempat duduknya lalu melenggang mendekati Oichi.
Sementara Oichi mulai mundur karena waspada dam siaga. Meskipun salah satu tangannya sedang cedera dan sedang memakai gibs, namun tak menutup kemungkinan jika pria dewasa itu masih sangat berbahaya.
Hingga akhirnya Oichi memutuskan untuk menggunakan kekuatan sihirnya untuk menakhlukkan mereka berdua.
"Dengar dan patuhi perintahku! Berikan benda berharga milik ayahku itu!!" tandas Oichi pelan, namun penuh dengan penekanan.
Sepasang matanya menatap lekat mama dan papanya penuh dengan intimidasi. Seketika aura angkuh dan kelicikan dari mata papa dan mama Oichi menghilang dan berubah menjadi linglung dan kosong saat menatap Oichi.
Mirae yang sedang duduk seketika bangkit dan mendekati Oichi, lalu menyodorkan sebuah kotak kayu kecil kepada Oichi.
Senyuman penuh kepuasan menghiasi wajah ayu nan manis Oichi sambil menerima kotak kayu dengan ukiran ilalang tipis itu.
Mama dan papa tiri Oichi mengangguk pelan dengan tatapan kosongnya. Sementara Oichi mulai bergegas untuk meninggalkan rumah itu masih dengan senyuman merekah penuh dengan kemenangan menghiasi wajah ayu nan manis itu.
Namun baru saja keluar dari rumah itu dan menutup pintu itu kembali, dia menabarak tubuh seorang pria ketika Oichi baru saja berbalik kembali.
DUAKK ...
"Arghh ..." rintih Oichi memegangi keningnya yang kesakitan karena menabrak tubuh yang menurutnya sangat keras dan atletis itu.
Seketika Oichi membeku dan masih menunduk menatap sepasang sepatu sport putih pria itu. Ketika menyadari ada seorang pria yang sudah berdiri dengan tegap di hadapannya, seketika Oichi kembali khawatir, karena ada seorang berandalan yang kembali mengincarnya kali ini.
Tanpa mengatakan sepatah kata apapun, dan tanpa menatap pria itu, Oichi memutuskan untuk segera berlari dan melarikan diri dari pria itu. Namun rupanya pria itu malah menahan Oichi dengan meraih salah satu tangannya.
"Lepaskan aku! Aku tidak punya urusan denganmu!" ucap Oichi sembari melepaskan cengkeraman dari pria itu masih tak menatap wajah dari pria itu saking takutnya.
"Lepaskan aku!! Apa kamu tidak mendengarnya?! Aku harus segera pulang ke rumah! Lepas!!"
Pria itu mendengus kesal melihat tingkah laku dari Oichi.
"Lepaskan aku! Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku? Aku miskin dan tidak punya banyak uang!! Jika ingin merampok cari saja anak orang kaya! Kamu minta tebusan kepada keluargaku-pun, mereka tak akan pernah peduli denganku! Daripada nyawaku, mereka akan lebih menyayangi uang mereka! Jadi sebaiknya kamu mencari target yang lain saja deh!" ucap Oichi masih berusaha untuk melepaskan dirinya. "Lepaskan aku!! Atau aku akan teriak!!"
"OICHI!!"
Mendengar hardikan dari pria itu, seketika Oichi menghentikan rengekan dan terdiam begitu saja. Dia mulai mendongak, dan akhirnya melihat sosok seorang pemuda yang sangat dia kenali selama ini.
Dia adalah Hakken, yang sudah berdiri dengan gagah di hadapanya. Namun tatapannya menatap tajam Oichi. Sebuah tatapan yang penuh dengan intimidasi, seakan Oichi sudah melakukan sebuah kesalahan.
"Ha-Hakken ... ka-kamukah ini? Mengapa kamu ada disini? Apa yang sedang kamu lakukan disini?" tanya Oichi kebingungan. "Atau kamu tinggal di daerah sini?"
"Tidak mungkin aku tinggal di kompleks perumahan kecil seperti ini? Kompleks perumahan ini bahkan hanya sebesar halaman rumahku saja." ucap Hakken melepaskan tangan Oichi dan kembali memasang wajah dingin.
"Ehh ... benar juga ya. Kamu adalah tuan muda, dan kedua orang tuamu juga pasti sangat kaya. Hehe ... maaf. Hmm ... lalu ngomong-ngomong apa yang sedang kamu lakukan disini?"
"Cckk ... rupanya berguna juga pemasangan aplikasi itu di ponselmu." sahut Hakken dengan santai.
"Aplikasi? Kemu menyadapku dan kamu menguntitku?" ucap Oichi membulatkan sepasang matanya menatap Hakken syok.
"Tentu saja! Bukankah saat ini aku adalah body guard-mu? Aku melihatmu meninggalkan apartemen Azabu dan menuju ke tempat ini. Sedangkan tak ada satupun teman kita yang tinggal di daerah sini. Dan lagi kamu tidak memiliki kedua orang tua lagi ataupun keluarga lainnya lagi, kecuali mama dan papa tirimu. Jadi aku khawatir jika kamu akan dalam bahaya kali ini. Apakah mereka melakukan sesuatu hal lagi?" ucap Hakken berbalik bertanya.