
Setelah keluar dari sebuah elevator, Ellios dengan sabar dan hati-hati memapah Oichi untuk menuju penthouse mewahnya. Namun tiba-tiba saja tubuh Oichi terhuyung karena terasa begitu berat dan sudah hampir terjatuh begitu saja, seakan tak memiliki tenaga lagi untuk tetap berdiri.
Dengan cepat Ellios segera menahan tubuh Oichi agar tidak terjatuh. Karena sudah begitu tak berdaya dan sangat tidak bertenaga, akhirnya Ellios berinisiatif untuk menggendong depan Oichi dengan gaya bridal style untuk mengantarkan ke penthouse mewahnya.
Oichi segera mengalungkan kedua tangannya pada leher kuat Ellios dan bersandar pada dada bidang Ellios. Sedangkan Ellios tak terlalu memikirkan akan hal itu, karena saat ini Ellios hanya ingin untuk segera sampai di kamar apartemen Oichi yang berada di lantai paling atas di bangunan bergengsi ini agar Oichi bisa segera beristirahat dengan baik.
"Nona Oichi, bertahanlah dan tunggu sebentar lagi. Sebentar lagi kita akan segera sampai di apartemen nona." ucap Ellios semakin mempercepat langkah kakinya karena mengkhawatirkan Oichi.
"Hhm." jawab Oichi singkat.
"Ellios, tolong antarkan aku ke kamarku. Kamarku berada di ruangan paling ujung setelah ruangan tengah ya ..." ucap Oichi lirih dan semakin mempererat pegangannya.
"Baik, Nona ..."
Ellios semakin mempercepat langkah kakinya kembali hingga akhirnya sudah sampai di depan sebuah kamar apartemen. Namun rupanya kamar itu memiliki kunci sandi.
"Apa paswordnya, Nona Oichi?" tanya Ellios menatap lekat sebuah layar kecil berwarna kebiruan yang berada di samping pintu masuk kamar berwarna serba putih itu.
"Uhm ... sandinya ... 2 ... 7 ... 0 ... 6 ... 9 ...9 ..." ucap Oichi mengeja angka demi angka tersebut lirih. Dan ini adalah pertama kalinya Oichi membiarkan orang asing mengetahui sandi apartemen miliknya.
Ellios mulai memasukkan angka demi angka pada layar kecil itu hingga akhinya mulai terdengar sebuah suara dari alat pemindai itu.
BIIPP ...
CEKLEKK ...
Kunci pintu itu kini mulai terbuka dan Ellios segera membuka pintu itu. Dia segera mengantarkan Oichi ke dalam sebuah kamar dan memasuki kamar tersebut yang dipenuhi dengan nuansa putih dan merah muda lembut itu. Kamar ini juga begitu rapi dan memiliki aroma khas dari Oichi yang begitu manis, harum, lembut dan segar.
Perlahan Ellios mulai menurunkan Oichi di atas tempat tidur berukuran medium dengan bed cover polos perpaduan antara warna putih dan merah muda lembut itu.
"Apakah tidak ada dokter keluarga yang bisa dihubungi, Nona Oichi? Atau apakah nona sedang membutuhkan sebuah obat? Akan aku membelikannya di apotik terdekat jika nona mau. Katakan saja apa yang nona Oichi butuhkan saat ini." tanya Ellios bersikap ramah.
"Tidak, tidak perlu memanggil dokter, Elliios. Aku hanya butuh istirahat saja kok. Dan tolong ambilkan obatku yang berada dalam laci nakasku. Obatnya berada dalam botol kaca bening dengan warna kapsul jingga lembut." Oichi yang masih terduduk dengan kedua kaki yang ditekuk menyauti lirih sambil memegangi keningnya.
Ellios dengan cepat segera mendekati nakas itu dan segera mencari sesuatu di dalam lacinya. Hingga akhirnya Ellios mulai menemukan sebuah botol kecil bening berisi dengan beberapa kapsul berwarna jingga lembut.
Dengan cepat Ellios segera memberikan obat itu untuk Oichi. Tak lupa Ellios juga memberikan air mineral yang sudah tersedia di atas nakas itu.
Jadi ... dia benar-benar tidak memiliki sistem ya? Huft ... apakah mungkin tadi aku hanya salah lihat saja ya. Sepertinya aku benar-benar terlalu kelelahan akhir-akhir ini.
Batin Oichi lalu menyerahkan kembali gelas itu kepada Ellios setelah Oichi meminumnya beberapa teguk.
Namun tiba-tiba saja ekspresi wajah Ellios seketika berubah. Yang awalnya polos dan terlihat khawatir, kini tiba-tiba menjadi sangat serius. Seolah dia sedang memikirkan sesuatu. Oichi menyadari hal itu, namun dia tidak mencurigainya sama sekali.
"Terima kasih, Ellios ..." ucap Oichi dengan seulas senyum manis menatap Ellios.
"Sama-sama, Nona. Uhm ... baiklah, kalau begitu aku akan segera kembali turun dan bergabung bersama dengan yang lainnya." sahut Ellios mulai berpamitan dan berusaha secepat mungkin untuk meninggalkan kamar Oichi.
Namun dengan cepat Oichi segera meraih tangan kiri Ellios dan membuatnya tetap tertahan. Karena membiarkan Ellios pergi, itu artinya misinya kali ini bisa saja akan menjadi gagal. Dan tentu saja Oichi tak menginginkan semua itu.
GREPP ...
"Aku mohon jangan pergi, Ellios. Temani aku dulu disini, Ellios ..." pinta Oichi dengan memperlihatkan mata kucingnya yang begitu memelas menatap Ellios.
Ekspresi yang biasanya selalu sukses meluluhkan hati siapa saja yang menatalnya dan tak akan bisa menolaknya.
"Ta-tapi, Nona. Akan terlihat sangat aneh jika aku terlalu lama disini. Lagipula sebenarnya aku sangat merasa tidak pantas untuk mendapatkan semua perlakuan ini dari nona Oichi. Aku hanyalah seorang mahasiswa biasa, dan seharusnya aku tau diri. Dan seharusnya aku tau batasanku. Sangat tidak pantas untukku berada di dekat nona Oichi. Aku ... permisi ..."
Tolak Ellios dengan halus dan ramah agar Oichi tak merasa kesal dan salah paham lagi kepada dirinya.
"Ellios ... apakah kamu tidak menyukaiku saat memandangku? Tidakkah jantungmu berdebar saat menatapku? Apa kamu benar-benar seorang pemuda yang masih normal? Selama ini tak ada yang bisa berpaling dariku, tapi kamu ... bahkan sejak awal kita bertemu, kamu sudah memperlihatkan semua itu. Seakan kamu sama sekali tidak melihatku sebagai seorang wanita. Seakan kamu sama sekali tidak tertarik padaku."
Ucap Oichi yang pada akhirnya mengeluarkan semua kegundahan yang ada di dalam hatinya.
Ellios yang mendengarkan semua itu, seketika terperangah karena terkejut bukan main. Bagaimana mungkin seorang idol besar seperti Oichi mengatakan hal seperti itu hanya karena Ellios yang memang tidak mengidolakannya?
"Atau jangan-jangan ... kamu memang ... ugh ... tapi itu semua tidak mungkin ..." imbuh Oichi lagi menepis pemikiran anehnya terhadap Ellios dan membungkan mulutnya dengan jemari lentiknya.
"Semua pria yang normal pasti akan merasakan semua itu, Nona Oichi. Karena nona Oichi memang sangat cantik dan sempurna." ucap Ellios dengan hati-hati dan jujur.
Jika boleh jujur, tentu saja berada di dekat Oichi akan membuat Ellios merasa sedikit aneh juga. Dia adalah pemuda normal yang juga mengakui paras Oichi yang cantik luar biasa bak bidadari.
Namun Ellios selalu saja berusaha untuk menghindarinya selama ini. Bahkan saat kejadian di ruang ganti itu. Tentu saja itu memperlihatkan jika Ellios masih normal. Seluruh bagian tubuh dari seorang wanita sangat indah, dan Ellios mengakui semua itu. Dan Ellios hanya ingin menjaga dirinya saja.