
DING ...
[ Misi akan segera dimulai, Nona Oichi. Misi kali ini adalah mengabulkan harapan teman terdekat nona saat ini. Semoga beruntung. ]
Ucap Cornor tiba-tiba.
Eh? Misi dadakan? Itu artinya aku harus memenuhi permintaan Ellios saat ini. Hhm. Baiklah, aku sudah cukup baik mengenal Ellios. Seharusnya permintaannya tidak akan aneh-aneh bukan?
Batin Oichi sambil meneguk kembali minumannya. Lalu meletakkan kembali setelah meneguknya beberapa tegukan.
"Katakan saja padaku, Ellios. Aku akan mengabulkan permintaanmu." ucap Oichi akhirnya.
"Hm. Begini, Oichi. Jadi ini soal Jullian. Sebentar lagi dia akan berulang tahun. Dan aku ingin sekali mewujudkan salah satu harapannya."
"Jullian? Apakah itu teman kamu yang menggantikan kamu saat itu ketika berduet denganku?" tanya Oichi menyela ucapan dari Ellios.
"Hhm. Benar sekali. Dia adalah Jullian yang aku maksud." jawab Ellios berbinar menatap Oichi.
Ellios terlihat begitu senang karena Oichi masih mengingat sahabatnya.
"Hhm. Baiklah. Katakan saja. Aku harus melakukan apa?"
"Jadi begini. Selama ini dia sangat mengagumimu. Tapi sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu jika aku terlalu lancang dan berlebihan, Oichi. Tapi aku hanya ingin sedikit membuatnya merasa senang."
"Katakan saja padaku, Ellios. Jangan merasa sungkan padaku. Bukankah selama ini kita sudah saling mengenal luar dan dalam?" Oichi tertawa kecil sambil berkata.
"Saling mengenal luar dan dalam?" ucap Ellios sedikit membulatkan sepasang matanya menatap Oichi, dan kali ini pikirannya malah sampai kemana-mana.
"Maksudku adalah kita sudah saling memperlihatkan status satu sama lain. Dan kita juga saling mengetahui jika kita sesama pengguna sistem. Hehe ..."
"Ahaha ... begitu ya." Ellios tertawa kaku sambil mengusap tengkuknya karena malu.
"Okay, sekarang katakan padaku! Apa yang harus aku lakukan untuk temanmu Jullian?"
"Begini, Oichi ..."
Ellios mulai menyampaikan sesuatu kepada Oichi, sedangkan Oichi hanya terdiam lalu menarik sudut-sudut bibirnya dan mengangguk pelan.
"Baiklah. Jadi kapan aku harus melakukannya?" tanya Oichi setelah mengiyakan permintaan dari Ellios.
"Lusa. Untuk tempat, aku akan mengirimkan lewat pesan untukmu."
"Okay!!"
...🍁🍁🍁...
Dua hari kemudian ...
Seorang pemuda berpenampilan rapi dan wangi terlihat sudah berada di bangku VVIP di salah satu restoran bergengsi di prefektur Yokohama. Sesekali dia terlihat melirik jam tangan rantai silvernya yang sudah melingkar dengan manis di pergelangan tangan kirinya.
Pemuda yang memiliki tahi lalat tipis di bawah bibirnya sudut kiri, mendengus kesal karena sudah cukup lama menunggu sahabatnya yang mengajaknya bertemu malam ini.
"Lebih baik pulang saja deh!" gumamnya masih diliputi rasa kesal karena sahabatnya tak kunjung datang juga.
Dia segera bangkit dari tempat duduknya dan berniat untuk meninggalkan tempat ini, namun tiba-tiba saja seorang gadis cantik dengan penampilannya yang begitu mencolok namun anggun, mulai menghampirinya.
Kedatangan gadis berparas cantik itu sukses membuat pemuda itu membeku dan dalam sekejap mengurungkan niatnya kembali untuk pergi.
"Hai, maaf aku terlambat!" sapa gadis cantik itu yang kini sudah duduk di salah satu kursi yang sudah berlapiskan dengan kain berwarna putih mengkilap itu.
"De-dewi Oichi ... benarkah itu adalah kamu?" ucap pemuda itu masih saja menatap Oichi tak percaya.
Bahkan ucapan dari Oichi terlihat seakan-akan mereka memang sudah memiliki sebuah janji bertemu untuk malam ini. Tapi bagaimana bisa? Selama ini pemuda yang tak lain adalah Jullian sama sekali tak pernah berbincang melalui aplikasi apapun.
Yah, meskipun sebenarnya diam-diam Jullian sudah menyimpan nomor ponsel dan selalu melihat status pribadinya selama ini. Namun Jullian hanyalah sebagai pengagum saja tanpa berani menyapanya. Dan tentu saja hal semua itu didapatkannya dari Ellios yang memang sering berkomunikasi dengan Oichi.
"Benar. Ini adalah aku. Duduklah, Jullian!" ucap Oichi membuyarkan angan Jullian.
"Eeh?? I-iya ..." ucap Jullian terbata saking gugupnya karena bisa bertemu bersama sang idola.
Dia masih mengingat namaku? Dan kini dia menemuiku? Ini keren sekali!! Ya-ta!! Tapi pasti ini adalah ulah Ellios deh! Bukankah seharusnya Ellios yang datang? Karena dia yang mengundangku untuk datang ke tempat ini. Hhm. Itu artinya dia sudah mengatur semua ini. Ellios, kamu adalah benar-benar sahabat terbaikku. Aku tak akan melupakan semua ini. Aku akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik!
Batin Jullian berbinar dan satu detikpun pandangannya tak bisa berpaling dari Oichi.
"Selamat ulang tahun ya, Jullian. Ini adalah hadiah dariku. Dan maaf karena malam ini aku datang terlambat karena jalanan sedikit macet." ucap Oichi sembari menyodorkan sebuah bingkisan kecil untuk Jullian.
"Eehh?? Untukku?" ucap Jullian kembali melongo.
Dia bahkan mengucapkan selamat ulang tahun untukku? Oh! Semoga saja aku masih bisa tetap menjaga kesadaranku dengan baik! Jangan sampai Oichi menilaiku sebagai pria aneh!
Batin Jullian lalu membenarkan posisi duduknya semakin lebih tegap dan dia berdehem sekali untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Terima kasih banyak, Dewi Oichi. Dan terima kasih banyak karena sudah meluangkan waktu untuk datang ke restoran ini. Maaf ya, jika Ellios mempersulitmu dengan semua ini. Lain kali jika kamu memang sedang sibuk, maka tak perlu untuk melakukan hal seperti ini. Maaf ..." ucap Jullian merasa segan.
Mendengar ucapan dari Jullian, membuat Oichi tersenyum manis.
"Kebetulan aku sedang senggang malam ini. Jadi tidak masalah dong jika aku datang menemuimu. Bukankah selama ini kamu sangat mengidolakanku? Jadi tidak ada salahnya dong jika sesekali aku melakukan hal seperti ini untuk penggemarku." ucapnya dengan tawa kecil.
"Tapi biar bagaimanapun kamu harus lebih berhati-hati, Oichi. Di luar sana juga banyak penggemas fanatik yang terkadang sangat tidak masuk akal dan malah lebih terlihat seorang psyco. Ellios bahkan pernah mendapatkan seorang penggemar fanatik yang seperti itu. Padahal Ellios bukanlah seorang idol, namun hanya kebetulan menjadi terkenal karena sesuatu hal." ucap Jullian mulai mengingat kejadian beberapa hari yang lalu yang sempat terjadi di depan kedai ayam krispi milik ibu Elios.
"Apalagi kamu yang memiliki ribuan penggemar dari berbagai kota dan negara. Pasti tak akan menutup kemungkinan jika ada hal gila seperti itu terjadi." imbuh Jullian lagi dengan ekspresi serius menatap Oichi.
"Oh ya? Lalu bagaimana jika ternyata kamu juga seperti salah satu seperti mereka, Jullian?" ucap Oichi mulai menatap serius Jullian.
Sedangkan yang ditatap seketika tercengang dan kebingungan untuk menjawab ucapan dari Oichi.