
Usai pertandingan final permainan bola rugby melawan SMU Keio, Hakken segera mengunjungi suatu tempat karena baru saja melihat sebuah berita pada sosial media secara tak sengaja.
Seketika raut wajahnya terlihat begitu khawatir dan dia segera meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang. Namun nomor itu tidak bisa dihubungi karena tidak aktif.
"Cih!! Kemana dia?! Disaat seperti ini malah tidak bisa dihubungi! Sungguh selalu merepotkan orang lain saja!" Hakken menggerutu dan sangat kesal.
Dia semakin mempercepat laju mobilnya dan tak mempedulikan lagi peraturan lalu lintas. Lagipula tak akan ada yang berani melaporkan atau menangkapnya.
Jika pun masih ada yang melakukannya, itu berarti dia adalah orang baru yang tidak mengetahui Hakken dan seluruh keluarga besarnya yang mendominasi hampir seluruh bidang dan aspek di wilayah Jepang.
.
.
.
.
.
.
"Kau kemana saja, Oichi?!! Ponselmu mati dan aku tidak bisa menghubungimu!! Kamu selalu saja berbuat hal sesuka hatimu sendiri!" geram Hakken kesal, saat dia baru saja sampai di apartemen Oichi. Dia langsung menghempaskan tubuh atletisnya di atas sebuah sofa berwarna cream lembut.
"Itu salah kak Yue. Aku sama sekali tidak diijinkan untuk memegang atau mengaktifkan ponsel. Huft ...!" sungut gadis cantik itu mengerucutkan bibirnya beberapa senti ke depan.
"Itu demi kebaikanmu sendiri, Oichi!" sahut Yue tak terima dan menikmati cemilan yang dibawakan oleh Hakken.
"Jadi bagaimana? Apakah sekarang masalahnya sudah beres?" tanya Hakken.
"Besok pagi akan ada jumpa pers untuk klarifikasi. Dan mengenai pelaku penyebaran foto dan video masih diselidiki." sahut Oichi seadanya.
"Huft, syukurlah jika pihak agensi tidak mempermasalahkannya. Lagipula mau bagaimana lagi? Mau bagaimanapun masa lalu tidak akan bisa dirubah. Memiliki wajah yang jelek di masa lalu seperti kamu hanya bisa apa, kecuali merubahnya dengan merawatnya? Benar-benar sungguh orang yang tidak memiliki pekerjaan saja yang melakukan semua ini! Cih ..." sungut Hakken.
"Hei! Kamu ini mau mengatakan apa sebenarnya? Sangat berbelit dan tidak seperti membelaku sepenuhnya. Dan malah mengatakan seperti itu ..." sungut Oichi kesal.
"Tapi itu memang benar bukan, Oichi?" ucap Hakken mengangkat salah satu alisnya menatap Oichi.
"Huuft ..." Oichi mendengus kesal dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Sudah-sudah! Jangan berantem!" sela Ken menengahi. "Aku tidak menyaksikan pertandingan final rugby antara SMU-mu melawan SMU-ku, karena aku malah langsung mengunjungi Oichi. Siapa yang menang, Hakken?" tanya Ken ingin tau.
Meskipun kurang menggemari olahraga yang selalu mengandalkan kekuatan dan kecepatan itu, namun Ken tau jika hari ini ada pertandingan final antara SMU Keio melawan SMU Gakuen.
"Bukankah jawabannya sudah jelas, Ken?" jawab Hakken tersenyum simpul dan begitu percaya diri.
Dia mulai menuangkan minuman ke dalam gelas kecilnya lalu meneguknya dengan sekali teguk.
"Apakah itu artinya SMU Gakuen menang lagi tahun ini?" tanya Ken yang lebih menyerupai sebuah kesimpulan.
Belum sempat Hakken menjawabnya, Yue segera menyelanya.
Sementara yang dilirik malah menyilangkan kedua tangannya dan bersandar dengan santai, dan sesekali melirik Yue dengan senyuman miringnya penuh percaya diri.
"Tapi ngomong-ngomong kamu ini benar-benar murid SMU bukan sih? Kok lama-lama aku jadi curiga ..." imbuh Yue mengkerutkan keningnya masih menatap Hakken, dan kali ini tatapannya lebih detail, dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Tentu saja aku masih SMU. Usiaku bahkan masih 17 tahun." sela Hakke yang kali ini menikmati sweet potatoes miliknya.
"Tapi postur tubuh dan wajahmu sungguh seperti seorang pria dewasa saja. Malah seperti om-om ... ahaha ..." Yue tertawa renyah dan diikuti oleh Oichi dan Ken yang juga tertawa renyah.
"Enak saja! Mana ada om-om yang memiliki paras seperti aku! Aku bahkan belum memiliki ID card! Karena aku memang masih berusia 17 tahun!" sungut Hakken tak terima karena mereka mengatakan jika Hakken mirip seperti om-om.
Perdebatan mereka terus saja berlanjut, hingga akhirnya Oichi mulai menatap bibir Hakken selama beberapa saat karena merasa ada sesuatu yang aneh. Bahkan Oichi juga menudingnya dengan tatapan polosnya.
"Ada apa?" Hakken yang menyadari mendapatkan tatapan itu seketika memegangi bibirnya sendiri.
"It-itu ..." Oichi masih menudingnya.
"Ada apa? Apa kamu mau merasakannya?" ucap Hakken dengan konyol, membuat Yue langsung menimpuknya dengan sebuah majalah yang kebetulan sedang berada dalam genggamannya.
PLAKK ...
"Ahh ... mengapa malah memukulku?! Jelas-jelas Oichi yang ..."
"Awas saja jika kamu berani macam-macam dengan Oichi! Pagar harus selalu menjaga tanamannya! Bukan merusaknya!" tandas Yue kembali memukulkan gulungan majalah itu pada kepala Hakken.
"Kepalaku ini sangat berharga! Selalu menyimpan segala strategi dan teknik untuk mengalahkan musuh dalam setiap pertandingan! Jangan sembarangan menyentuhnya Yue!" Hakken mendengus kesal dan melindungi kepalanya dari serangan Yue.
"Cih! Dalam urusan rugby saja kamu bisa genius, tapi untuk urusan pelajaran sekolah otakmu beku!"
"Karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seperti Ken yang genius dalan hal musik. Oichi yang genius dalam menyanyi dan menari. Kamu yang ahli dalam mengatur artis-artismu. Sementara kelebihanku adalah dalam bola rugby, dan aku juga memiliki kekurangan di dalam mata pelajaran." ucap Hakken dengan jujur.
"Kamu benar sekali, Hakken." sela Ken dan tak sengaja melihat ada sesuatu yang aneh pada wajah Hakken. "Tapi ngomong-ngomong sejak kapan kamu memakai lipstik?" imbuhnya masih menatap lekat wajah Hakken, namun hanya fokus pada bibirnya.
"Eh? Lipstik??" gumam Hakken menyentuh bibirnya dengan jemarinya tak mengerti.
"Ini, lihatlah ... bukankah aku sudah mengatakannya sejak dari tadi padamu?!" sungut Oichi memberikan sebuah cermin kecil untuk Hakken.
Hakken menerima cermin dengan penutup lucu itu lalu menggunakannya untuk memeriksa wajahnya. Keterkejutan sangat terlihat jelas pada wajah Hakken setelah dia menemukan keanehan pada wajahnya.
Bagaimana mungkin ada lipstik pada bibirku? Di seumur hidupku, aku sama sekali tidak pernah memakai benda semacam itu. Lalu mengapa benda ini bisa menempel pada bibirku? Atau jangan-jangan ... ini adalah lipstik Sissy yang menempel saat kita berciuman tadi?
Batin Hakken menyentuh bibirnya dan malah kembali teringat dengan ciuman pertamanya dengan Sissy, hingga membuat wajahnya sedikit merona.
Oh tidak!! Ini sangat memalukan jika sampai diketahui mereka! Bisa-bisa mereka malah memperolokku! Harus segera dibersihkan!!
Batin Hakken mengambil sebuah tisu dan segera membersihkan bibirnya.
"Aku harus segera pergi karena masih ada sebuah urusan! Besok aku akan datang lagi saat pagi!! Bye!!" Hakken memutuskan untuk berpamitan dan meninggalkan mereka untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh yang mungkin akan diberikan oleh Ken, Oichi, maupun Yue.