
Dengan penuh binar, Oichi membuka pintu apartemennya. Seorang pemuda berambut kemerahan dan stylish sudah berdiri dengan tegap di balik pintu.
"Hei Oichi! Apa kamu baik-baik saja? Ponselmu mati dan aku sama sekali tidak bisa menghubungimu! Aku sangat khawatir padamu dan aku takut kenapa-kenapa! Kak Yue juga sama sekali tak menghiraukan pesan dan panggilanku! Membuatku semakin khawatir saja! Huuhh ..." pemuda itu terus saja berkata dengan memperlihatkan ekspresi penuh dengan kekhawatiran.
Oichi tidak menjawabnya, namun memeriksa sekitar apartemennya untuk memastikan tidak ada yang sedang membuntuti mereka. Lalu Oichi malah segera menarik tangan pemuda itu untuk memasuki apartemennya lalu menguncinya kembali.
Oichi menggiring pemuda itu ke ruang tamu dan mereka duduk bersama disana.
"Kak Yue tidak mengijinkan aku untuk menggunakan ponselku untuk saat ini. Makanya semua orang tidak bisa menghubungiku." jelas Oichi pada pemuda itu.
"Lalu, bagaimana dengan keadaanmu? Kamu baik-baik saja bukan? Aku sangat tidak menyangka ada orang yang sejahat itu padamu. Kamu harus tetap semangat dan tidak boleh patah semangat hanya karena mereka, Oichi!" ucap pemuda itu berusaha untuk menghibur Oichi.
"Hhm, aku baik-baik saja kok. Bahkan tuan Raymond akan membantuku kali ini untuk membereskan masalah ini." jawab Oichi penuh karena bos besarnya ternyata malah berbaik hati untuk membantunya, bukannya memarahinya.
"Terima kasih ya, Ken! Karena sudah sangat mengkhawatirkan aku! Aku tak tak tau siapa yang dendam padaku dan sangat tega untuk menyebarkan berita masa laluku itu, aku harap aku bisa segera menemukan dia dan aku harap dia akan mendapatkan hukuman ..." imbuh Oichi menghembuskan nafas kasarnya ke udara.
"Eh? Maksudnya? Apakah semua itu artinya adalah benar, Oichi?" tanya Ken yang terlihat cukup terkejut kali ini.
Karena Ken mengira jika saat ini ada seseorang yang sedang berusaha untuk menjatuhkan Oichi dengan membuat sebuah berita tak masuk akal dan palsu.
Namun kali ini Ken merasa cukup terkejut karena mendengar ucapan langsung dari Oichi. Seakan Oichi mengakui jika semua foto dan video gadis yang sedang tersebar di hampir semua media sosial adalah dia.
Senyuman Oichi seketika memudar dan dia menatap Ken meringis. Namun mengatakan kejujuran tentang semua itu adalah sudah menjadi keputusannya. Dan dia tidak akan berbohong dan menipu semua orang.
"Kamu benar, Ken. Berita yang mereka sebarkan ... sebenarnya adalah benar. Itu semua ... adalah aku. Aku di masa lalu memang sangat berbeda dari aku yang sekarang. Aku di masa lalu sangat jelek, bau, dan seakan semua orang sangat tak menginginkan keberadaaku." ucap Oichi dengan jujur.
Sebuah senyuman tipis namun penuh dengan luka dan duka kini menghiasi wajah cantiknya.
"Kamu pasti sangat terkejut dan tidak mengira bukan? Jika aku ternyata sangat jelek dan sangat tidak enak untuk dipandang ..." ucap Oichi dengan tawa kecilnya, namun dibalik tawa kecil itu tetap saja tersimpan lara.
Mungkin setelah ini, Ken akan membenciku. Atau bahkan mungkin dia akan menjauhiku dan tak akan mau lagi untuk mengenaliku. Karena pasti dia malu dan menyesal telah mengenal dan berteman denganku. Atau mungkin dia akan menganggapku sebagai seorang penipu. Padahal selama ini aku sangat senang berteman dengan dia. Aku merasa sangat nyaman berteman dengannya. Bahkan Ken-lah yang sudah membantuku saat audisi. Huft ... bagaimana ini?
Batin Oichi terlihat murung dan menatap datar sebuah bunga anggrek di hadapannya.
Sementara Ken terdiam selama beberapa saat. Namun pada akhirnya Ken tersenyum tipis.
"Oichi. Jika boleh jujur, yang membuatku nyaman untuk menjadi temanmu adalah bukan karena siapa kamu, dan bagaimana penampilanmu. Aku nyaman berteman denganmu bagaimanapun dan seperti apapun kamu. Kamu tetaplah kamu ... dan aku nyaman dengan semua itu!" Ken menepuk bahu Oichi dan tersenyum manis.
"Terima kasih, Ken!"
"Hhm! Sama-sama!"
"Aku akan membuatkan minum dulu. Kamu mau apa? Kopi? Jus? Yougurt? Smoothie? Atau apa, Ken?"
"Apa aja deh. Kebetulan aku juga sangat haus karena terburu-buru datang ke apartemenmu."
"Oke deh! Tunggu sebentar!" Oichi bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Ken.
Setelah beberapa saat akhirnya dia sudah datang kembali dengan membawa 2 gelas jus plum dan beberapa cemilan. Perbincangan ringan diantara mereka terus berlanjut. Bahkan hingga Yue datang kembali.
...🍁🍁🍁...
Pertandingan final American Football tingkat SMU se-provinsi kali ini adalah antara SMU Gakuen malawan SMU Keio, yang pada akhirnya dimenangkan oleh SMU Gakuen.
Siapa lagi yang bisa mengalahkan si iblis rugby Hakken? Bahkan sejak SMP, Hakken sudah sangat menguasainya. Dan tim rugby yang dia pimpin pasti akan selalu memenangkan pertandingan bola rugby tersebut. Hingga dia mendapatkan predikat iblis rugby atau sebagian ada yang memberikan nama si raja rugby.
Bukan hanya tampan dan kaya! Namun Hakken juga sangat keren dan cool! Dia juga sangat kuat bukan main. Jadi tak heran kalau dia sangat populer, terlebih di kalangan para gadis.
Seorang gadis pemimpin pemandu sorak dari SMU Gakuen mulai menghampiri Hakken dengan wajah berbinar, membuatnya semakin terlihat cantik dan bersinar saja.
"Hakken! Selamat ya! Akhirnya SMU kita menang lagi dan mendapatkan juara pertama! Ini semua berkat kamu! Aku ikut senang!" ucap gadis berpenampilan sangat nyentrik itu bersemangat.
Dia mengenakan setelan seragam pemandu sorak khas SMU Gakuen. Yaitu tank top berwarna biru lembut dengan kombinasi list pinggiran berwarna kuning. Ada kombinasi lain yaitu angka pada bagian dada berwarna putih.
Penampilannya dipadankan dengan rok celana berwarna putih yang hanya memiliki panjang sejengkal saja dari pangkal pahanya. Sehingga kaki jenjangnya yang indah dan putih tanpa noda terlihat begitu saja. Dan tentunya akan sangat menggoda kaum adam.
Tubuhnya juga begitu indah dan ramping. Dia memiliki tinggi sekitar 167 cm dengan berat badan 48 kg.
Hakken tak terlalu menghiraukannya dan masih menikmati minumannya sambil duduk di sebuah bangku. Bahkan Hakken seperti tidak menganggap gadis cantik yang tak lain adalah Sissy, mantan kekasihnya.
"Hakken! Kita harus merayakan kemenangan ini! Bagaimana jika kita makan bersama? Atau karaoke bersama dan minum bersama?" Sissy tak menyerah dan kembali mengusulkan beberapa hal.
"Maaf! Tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan saat ini. Aku akan mengunjungi suatu tempat. Jika ingin merayakan, boleh saja kok. Ajak saja yang lainnya. Mereka pati akan sangat senang." sahut Hakken santai dan bangkit dari duduknya lalu meninggalkan Sissy begitu saja.