
Seharian ini, Yue masih di apartemen Oichi untuk menemaninya. Hal ini sungguh membuat Oichi merasa kurang leluasa, karena Oichi sama sekali tak diijinkan untuk memainkan ponselnya. Padahal sebenarnya dia sangat merasa bosan.
TRING ...
Ponsel Yue berbunyi, dan setelah membaca pesan tersebut dia segera beranjak dari tempat duduknya di atas sofa.
"Oichi, kakak harus pergi sebentar. Tapi kakak akan mengusahakan untuk segera kembali. Apa tidak masalah jika kakak meninggalkanmu?" tanya Yue menatap Oichi penuh dengan rasa khawatir.
"Hm. Kak Yue tenang saja. Aku akan baik-baik saja kok. Kakak pergilah dan jangan khawatirkan aku." ucap Oichi dengan santai dan sudah mulai tersenyum.
"Janji ya, kamu tidak akan akan melakukan hal aneh! Diam di apartemen dan jangan pergi kemana-mana! Hakken juga akan segera datang kemari! Kakak akan menghubunginya!" ucap Yue bersiap untuk menghubungi Hakken.
Namun dengan cepat Oichi segera menahannya dengan ucapannya.
"Jangan, Kak! Hakken sedang ada pertandingan final melawan SMU Keio. Lagipula aku akan aman kok disini sendirian. Kakak pergi saja dan jangan khawatirkan aku. Hehe ..." ucap Oichi sambil mendorong tubuh Yue ke arah pintu keluar.
"Tapi kamu harus janji tidak akan melakukan hal yang aneh ya!! Atau tuan Raymond akan benar-benar marah dan akan mengirim kakak ke Afrrika!!" ancam Yue sedikit menoleh ke belakang disaat Oichi masih mendorong tubuhnya.
"Iya-iya! Kakak tenang saja. Kak Yue hati-hati di jalan!" sahut Oichi mulai menutup pintu apartemennya kembali disaat Yue sudah keluar dari apartemennya.
Oichi segera masuk kembali dan mencari ponselnya di dalam nakas. Dia menghidupkan kembali koneksi ponselnya yang beberapa saat yang lalu baru saja dimatikan oleh Yue, seperti dengan apa yang telah diperintahkan oleh Raymond.
Setelah menunggu selama beberapa saat, akhirnya ponsel mewah dengan simbol strawberry itu mulai menyala kembali. Beberapa notifikasi mulai terdengar beruntun, menadakan ada cukup banyak pesan yang diterimanya.
Oichi mengabaikan semua pesan itu. Dia segera mencari kontak seseorang dan segera menghubunginya. Jujur saja, Oichi tak bisa berdiam diri dan hanya mengandalkan pihak agensinya saja untuk menyelidiki kasus ini.
Bukannya tidak mempercayai mereka, namun Oichi juga mengambil sebuah inisiatif jika akan terjadi seauatu ke depannya, maka Oichi juga memiliki sebuah bukti.
Karena untuk menemukan dan membalas sang pelaku kali ini adalah juga merupakan bagian dari misinya kali ini. Jadi lebih baik dia juga mencari tau dan memastikannya sendiri.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya panggilan itu segera diangkat oleh seorang pemuda dari seberang line.
"Hallo, Oichi! Ada apa? Mengapa tiba-tiba saja menghubungiku? Apa kamu sedang tidak sibuk? Tumben sekali ..."
Terdengar ucap seorang pemuda dari seberang, seorang pemuda yang selalu berusaha bersikap dingin dan cuek kepadanya, padahal sebenarnya dia mulai peduli. Dan pemuda itu merupakan teman sekelas Oichi yang cukup genius.
"Aku sedang membutuhkan bantuanmu. Apa kamu bisa membantuku?" tanya Oichi to the point.
"Jika aku bisa melakukannya, maka aku akan membantumu. Katakan saja padaku, bagaimana aku bisa membantumu?" tanya pemuda itu sudah bisa dipastikan jika dia sedang memasang wajah serius di seberang line sana.
"Aku ingin kamu menyelidiki dan mencari tau tentang orang yang menyebarkan foto dan video masa laluku. Apa kamu bisa melakukan semua ini?" tanya Oichi penuh harap.
"Hhm? Mencari orang di dalam dunia digital ya? Hal itu sangat mudah untuk aku lakukan." jawab pemuda itu dengan santai dan meremehkan. "Eh, tunggu dulu! Kamu tadi mengatakan jika foto dan video masa lalumu tersebar bukan? Apakah itu artinya kamu ... yang dulu itu?"
"Ehh? Hal seperti itu sebenarnya sangat wajar kok. Jangan bersedih, Oichi!" ucap pemuda itu menghibur Oichi. "Aku akan memberitahukan kebiasaan burukku saat kecil, tapi kamu tidak boleh memberitahukannya kepada siapapun ya."
"Eh? O-okee ..."
"Dulu saat pra TK, aku pernah mengenakan pakaian seorang gadis. Karena mamaku sangat menginginkan seorang putri, akhirnya mama mendandaniku seperti itu. Ughh ... itu hal yang paling memalukan di dalam hidupku!" ucap pemuda itu dengan suara yang semakin lirih.
Dan sudah bisa dibayangkan, jika wajah pemuda itu kini sangat merona, bersemu merah sambil menutupinya dengan jemarinya.
"Wah! Kamu pasti terlihat sangat lucu dan menggemaskan saat itu ya, Alecio! Ahaha ... bolehkah aku melihat fotonya? Aku ingin sekali melihatnya. Pasti lucu sekali ..." Oichi tak bisa lagi menahan tawanya karena membayangkan Alecio kecil yang memakai pakaian wanita.
Meskipun sebenarnya Alecio merasa sedikit kesal dan malu, namun dia juga tak bisa menolak keinginan Oichi.
"Kamu akan melihatnya disaat kita bertemu nanti. Saat ini bukankah aku harus menemukan penjahat digital itu terlebih dulu? Aku harua menemukannya dan membantumu." Alecio memberikan sebuah pertanyaan retoris untuk Oichi.
"Hehe benar juga. Terima kasih sebelumnya ya ..."
"Tidak perlu berterima kasih. Aku selalu senang melakukan sesuatu jika itu memang adalah hobiku. Santai saja, Dewi Oichi ..." ucap Alecio terdengar begitu cool namun santai.
"Ahaha ... mengapa kamu juga memanggilku seperti itu? Mereka yang memanggilku seperti itu biasanya adalah fans yang sangat menggilaiku loh. Ahaha ..." Oichi tertawa renyah menggoda Alecio.
Sebenarnya di masa lalu, Alecio tidak tergolong pemuda yang membuli Oichi. Namun di masa lalu Alecio pernah merasa kesal dengan Oichi, karena Oichi tak sengaja menabraknya dan membuat pakaiannya kotor.
Dan tentu saja hal itu membuat Alecio yang tergolong seorang pemuda tipikal metroseksual merasa kesal dan marah. Hingga akhirnya dia mendorong tubuh Oichi sampai Oichi terjatuh.
"Aku tidak tau soal hal itu. Aku hanya mendengar dan melihat orang-orang saja memanggilmu seperti itu. Bahkan Sky juga memanggilmu seperti itu." ucap Alecio menyangkal.
Belum sempat terjadi perbincangan kembali di antara mereka berdua, kini suara bel apartemen Oichi mulai terdengar. Menandakan jika sedang ada tamu di luar. Hingga akhirnya Oichi mulai mengakhiri panggilan itu.
"Ada orang datang. Aku akan memeriksanya dulu ..." ucap Oichi sudah berdiri kembali dan bersiap untuk mematikan ponselnya lagi karena dia merasa khawatir jika yang datang adalah Yue.
"Hhm. Baiklah. Aku juga akan segera menyelidiki kasusmu. Kamu berhati-hatilah ..."
"Hhm. Bye ..."
"Bye ..."
Oichi segera mengakhiri panggilan itu dan segera mematikan kembali koneksi ponselnya sebelum Yue kembali dan mengetahui jika Oichi malah menggunakan ponselnya. Meskipun sebenarnya Oichi hanya menggunakan ponselnya untuk menghubungi Alecio saja, dan bukan untuk berselancar di media sosial.
Oichi melihat sang tamu dari sebuah kamera CCTV, senyumnya mulai mengembang ketika melihat seorang pemuda berpakaian stylish dan fashionable dengan gaya rambut yang keren sudah berdiri di balik pintu.