
3 tahun kemudian ...
Hari demi hari berlalu dengan begitu cepat. Dan nama Oichi semakin melambung. Dia mendapatkan julukan dari para penggemarnya sebagai Dewi Oichi.
Namun dengan apa yang telah dicapainya saat ini, Oichi telah berubah. Dia bukan lagi gadis polos dan lugu yang akan mudah ditindas orang lain lagi. Kini dia telah berada di puncak yang tinggi dan bisa menakhlukkan dunia.
Siapapun akan tunduk dan patuh dengannya. Tak ada pria yang akan bisa berpaling darinya. Semua akan tergila-gila dan mengagumi dirinya. Dan Oichi mulai menikmati hidup dikelilingi oleh banyak cinta dari para penggemarnya.
Hingga pada suatu saat dia menggelar sebuah konser di suatu tempat tertutup, yaitu di Saitama Super Hall Arena, Tokyo. Pada live concert kali ini, agensi Oichi juga memberikan give away berupa beberapa tiket untuk menonton konser ini.
Di ruangan ganti terlihat Oichi yang sudah bersiap dengan sangat cantik dan mempesona. Dia mengenakan sebuah gaun tanpa lengan berwarna biru muda lembut yang menjuntai membalut tubuh indahnya dengan begitu sempurna, menjadikannya terlihat begitu manis dan ayu.
Gaun tanpa lengan itu, sedikit terbuka dan memiliki belahan yang cukup tinggi hingga memperlihatkan paha mulusnya, membuatnya terlihat begitu memukau, cantik, anggun dan begitu bersinar malam ini.
Gaun itu begitu press body, sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang begitu indah dan molek bak gitar spanyol.
Oichi melihat seorang gadis cantik dengan wajah berbinar melalui pantulan dari cermin di hadapannya itu. Dia juga mulai memoleskan sebuat liptint berwarna lembut dan memberikan sentuhan akhir glossy.
Namun disaat Oichi memutar tubuhnya dia melihat resleting gaun sisi belakang, tepatnya pada bagian punggungnya sedikit terbuka dan turun. Disaat dia mau membenarkannya, dia merasa sedikit kesusahan.
Belum sempat dia memperbaikinya, tiba-tiba saja sebuat ritme teratur mulai terdengar dari arah pintu.
Tok ... tok ... tok ...
"Oichi, apa kamu sudah siap?" terdengar suara maskulin seorang pemuda dari arah luar.
"Hakken, aku sudah hampir selesai. Tapi aku sedikit mengalami kesulitan. Bisakah kamu membantuku?" balas Oichi sedikit mengeraskan suaranya dan masih berusaha untuk menarik resleting itu, namun Oichi masih saja kesulitan melakukannya.
CEKLEK ...
Pintu itu terbuka, dan terlihat Hakken yang sudah berpanampilan begitu rapi dan necis dengan setelan jas super mewahnya memasuki ruangan ganti Oichi.
"Ada apa? Kamu mengatakan jika kamu sedang mengalami kesulitan?" tanya Hakken yang sudah berada di dekat Oichi.
Oichi segera berbalik dan membelakangi Hakken. Dia juga menyibak rambut panjang indahnya ke sisi depan. Kini punggung putih dan mulus itu kini terlihat begitu saja, membuat Hakken kesulitan untuk menelan salivanya. Sepasang matanya juga membelalak menyaksikan pemandangan indah itu.
"Ka-kau ... minta aku apakan? Mengapa malah menggodaku?" ucap Hakken berusaha untuk tetap bersikap cool meskipun sebenarnya dia sangat gugup saat ini.
"Jangan menggodaku, Oichi! Aku bisa saja memakanmu jika aku tidak selalu menahan diri. Karena ancaman dari paman Raymond dan kak Yue, aku masih bisa selalu mengendalikan diriku. Namun jika kamu terus saja menggodaku, maka jangan salahkan aku jika aku benar-benar memakanmu!" imbuh Hakken sengaja mengatakannya setengah berbisik dan tepat pada daun telinga Oichi.
Oichi mengangkat kedua bahunya dan membuat tulang selangkanya menjadi lebih jelas. Hal itu membuatnya semakin terlihat sexy di mata Hakken.
"Kau sungguh otak mesum, Hakken! Bukankah di kampus sudah banyak gadis yang selalu mrngejar-ngejarmu? Kamu bisa memakan salah satu dari mereka." ucap Oichi dengan santai dan tawa kecil.
"Lagipula aku hanya ingin kamu membantuku untuk membenarkan resleting gaunku saja kok. Ayo cepat lakukan! Semua penggemarku sudah menungguku." ucap Oichi meniup wajah pemuda yang selalu berwajah datar dan dingin itu.
"Kau ... memanggilku hanya untuk itu?" ucap Hakken mengangkat salah satu alisnya menatap Oichi.
"Aku tidak memanggilmu. Tapi kamu yang datang padaku."
"Cih dasar banyak bicara! Berbaliklah dengan benar!" Hakken mendengus kesal dan mulai sedikit mundur kembali.
Pemandangan indah itu mulai dilihat kembali oleh Hakken. Lagi-lagi dia mulai kesulitan untuk meneguk salivanya. Perlahan jemarinya mulai meraih sisi gaun belakang dan resleting itu meskipun sebenarnya tangannya seakan terasa menjadi begitu berat untuk meraihnya.
Hakken menarik resleting itu naik dengan pelan dan hati-hati, dan perlahan dia meneguk salivanya.
"Su-sudah selesai ..." ucap Hakken terbata dan sebenarnya wajahnya kini sudah merona.
"Huft. Thanks ya ..." balas Oichi tersenyum lebar dan kembali menyibak rambut panjangnya yang indah ke belakang lagi. "Ya sudah, aku harus segera ke depan. Sebentar lagi adalah giliranku bukan?"
"Ehemm ..." Hakken berdehem untuk menutupi kekakuannya saat ini. "Benar, dan aku datang untuk menjemputmu. Ayo ..." imbuh Hakken lalu menemani Oichi untuk segera menuju panggung.
Performance kali ini akan dilangsungkan di sebuah gedung dan tertutup. Venue yang begitu luas dan sudah dihadiri oleh ribuan penggemar dari Oichi ini, tiba-tiba saja menjadi remang-remang dan sedikit gelap, karena semua lighter di dalam venue ini tiba-tiba saja dipadamkan.
Tiba-tiba sebuah denting dari permainan piano mulai terdengar bersahutan dengan permainan biola dan juga gitar. Permainan musiknya terdengar begitu lembut dan manis.
KLAPP ...
Lampu sorot kini mulai menyala kembali dan menyorot tepat di tengah panggung. Beberapa lighter terlihat juga sudah menyala dan mulai menerangi seluruh venue megah dan spektakuler ini.
Kini seorang gadis yang begitu cantik dan mempesona sudah terlihat berdiri di tengah panggung yang begitu megah itu. Gadis itu mengenakan sebuah gaun tanpa lengan berwarna biru muda lembut yang menjuntai membalut tubuh indahnya dengan begitu sempurna, menjadikannya terlihat begitu manis.
Gadis cantik dengan suara emasnya itu mulai menyanyikan salah satu lagunya di atas panggung yang megah itu. Dia adalah Oichi.
Beberapa penonton yang hadir pada konser malam ini, terlihat sesekali ikut bernyanyi bersama Oichi dengan begitu bersemangat dan melambaikan kedua tangannya. Beberapa dari mereka juga bersorak riuh dan mengumandangkan nama Oichi.
Setelah beberapa saat dan setelah Oichi menyanyikan beberapa lagu, tiba-tiba sang MC mulai menyapa para penonton kali ini. Dan sepertinya akan diadakan sebuah undian berhadiah malam ini untuk penonton yang beruntung.
"Baiklah. Salah satu yang akan beruntung malam ini akan mendapatkan kesempatan untuk berduet dengan sang dewi Oichi di atas panggung!" ucap sang MC yang terlihat begitu bersemangat dan antusias. "Baik, sebaiknya langsung saja kita mulai saja ya. Tolong padamkan lampu kembali ya!" imbuh sang MC memerintahkan seorang petugas yang sedang menjaga pencahayaan malam ini.
KLAP ...