
Di dalam sebuah kamar penthouse dari aparetemen Azabu, seorang gadis cantik bak barbie hidup, tersenyum penuh binar saat menerima sebuah pesan dari salah satu anak buahnya.
Dia segera merapikan penampilannya kembali, membenarkan pakaian serta make up-nya agar terlihat sempurna seperti biasanya. Dia tak pernah bosan untuk menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin di hadapannya.
"Ellios, akhirnya kamu akan segera datang menemuiku! Aku tau, kamu sangat menyayangi ibumu. Dan kamu akan melakukan apapun untuk ibumu. Kamu tak akan bisa lagi menghindariku ..." gumam wanita cantik itu kembali mengukir senyum penuh percaya diri.
Sementara itu ...
Beberapa pria ber-jas yang tak lain adalah anak buah Oichi itu masih mengawal Ellios untuk menuju ke apartemen Azabu, tepatnya pada penthose-nya.
Hampir setiap harinya apartemen ini terlihat tidak terlalu ramai, dan hanya ditempati dan dikunjungi oleh kalangan atas saja. Dan sebenarnya Ellios masih saja merasa tidakk pantas untuk bisa mengunjungi dan menginjakkan kakinya di tempat berkelas ini.
Namun Ellios kembali teringat oleh sang ibu dan kedai ayam krispinya. Hingga akhirnya Ellios mulai memantapkan dirinya kembali untuk tetap menemui Oichi dan meminta maaf dengan benar kepada Oichi.
Setelah menggunakan elevator VIP dan berhenti di lantai tertinggi dari gedung ini, mereka semua keluar dari elevator dan menyusuri sebuah lorong panjang. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah kamar apartemen tunggal yang berada di lantai atas itu.
Salah satu pria dewasa ber-jas super necis itu kini mulai mempersilakan Ellios untuk memasuki kamar apartemen itu, karena tak mau Oichi menunggunya terlalu lama.
"Silakan masuk, Tuan Ellios. Nona Oichi sudah menunggu tuan di dalam apartemennya." ucap salah satu dari pria itu mengulurkan tangan kanannya ke arah pintu kamar apartemen dan sedikit mundur untuk memberikan jalan kepada Ellios
"Baiklah. Terima kasih sudah mengantarku, Tuan." ucap Ellios dengan ramah.
"Sama-sama." pria dewasa itu menyauti dan segera meninggalkan Ellios.
Sebenarnya mereka tidak benar-benar meninggalkan Ellios, namun mereka masih berjaga di sekitar apartemen Oichi.
Setelah menekan sebuah bel dan menunggu selama beberapa saat, akhirnya pintu itu mulai terbuka. Terlihat seorang gadis cantik menyembul dari balik pintu dengan senyuman miringnya menatap Ellios.
"Uhm ... hallo, Nona Oichi. Selamat sore ..." sapa Ellios dengan ramah namun masih kaku dan terbata karena marasa kikuk.
"Hhm. Ayo! Masuklah! Kita berbicara di dalam saja!" ucap Oichi berbalik dan memasuki kamar apartemennya lagi.
Ellios juga mengekori Oichi dan menatap sekitar apartemen itu. Meskipun sudah pernah melihatnya sebelumnya, namun sebenarnya Ellios masih saja merasa cukup takjub akan hal-hal yang serba mewah ini.
Karena semasa hidupnya, Ellios tidak pernah memasuki tempat tinggal seseorang yang sangat mewah. Tempat tinggal Oichi-lah tempat tinggal paling mewah yang pernah dia kunjungi secara langsung selama ini.
"Duduklah, Ellios!" titah Oichi menunjukkan sofa panjang berwarna cream lembut di dalam apartemennya.
Wajah ayunya terlihat sedang tersenyum tipis namun seakan masih ditahannya, agar Ellios tidak menyadarinya. Karena Oichi merasa menang dan senang, hingga akhirnya bisa membuat Ellios datang kembali kepadanya.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku, Ellios?" tanya Oichi datar dan masih berpura-pura tak terjadi masalah apapun. Dia sedang berakting.
"Nona Oichi ini mengenai kedai ayam krispi ibuku. Aku mohon biarkan ibuku tetap berjualan disana. Dan sebenarnya aku datang kemari untuk meminta maaf kepada nona jika selama ini sikap ataupun segala ucapanku pernah ada yang menyinggung nona Oichi. Namun aku benar-benar tidak bermaksud sedikitpun untuk menyinggung atau berniat buruk kepada nona Oichi."
Ucap Ellios dengan tulus dan berharap Oichi akan merubah keputusannya. Dia sangat berharap Oichi akan memberikan kesempatan untuk ibunya tetap berjualan di kedai tua itu.
"Hhm?" Oichi mengangkat salah satu alisnya menatap Ellios. "Apa kau sungguh ingin meminta maaf dan berharap aku akan membiarkan ibumu untuk tetap berjualan di tempat itu?" tanya Oichi dengan senyuman yang masih penuh dengan misteri.
Ellios mengangguk pelan dan berusaha untuk menjawab ucapan dari Oichi dengan lebih baik dan lebih sopan, agar Oichi sedikitpun tidak akan tersinggung kembali oleh ucapan maupun sikapnya yang sebenarnya Ellios sendiri tak berniat buruk sama sekali kepada Oichi.
"Iya, Nona Oichi. Tempat itu sudah cukup lama disewa oleh ibuku. Dan tempat itu juga sudah menyimpan cukup banyak kenangan untuk kami. Kenangan adalah sesuatu yang sangat berharga. Aku harap nona Oichi bisa membiarkan ibuku untuk tetap memakai tempat itu untuk berjualan." ucap Ellios penuh harap.
"Hhm? Baiklah! Aku akan membiarkan ibumu tetap memakai tempat itu, Ellios. Tapi dengan satu syarat!" ucap Oichi dengan senyuman miring yang begitu misterius.
"Baiklah. Katakan saja syaratnya padaku, Nona. Aku akan berusaha untuk melakukannya jika aku memang bisa melakukannya." ucap Ellios masih dengan nada rendah dan berharap dia bisa memenuhi permintaan dari Oichi.
Oichi mulai tersenyum penuh kemenangan, karena mengira dia akan segera mendapatkan salah satu yang sudah menjadi keinginannya saat ini. Sebuah obsesi dan rasa penasaran terhadap Ellios yang menurutnya sangat berbeda dari pemuda-pemuda lain yang pernah dia temui sebelumnya. Begitu misterius, menarik, namun juga selalu membuat Oichi merasa kesal.
Namun belum sempat Oichi mengatakan syarat itu, tiba-tiba pintu kamar apartemen Oichi terdengar terbuka dengan paksa oleh seseorang. Seperti seseorang yang sudah berusaha untuk mendobrak dan merusaknya.
BBRRAAKK ...
GUBRAKK ...
Pintu utama apartemen Oihi kini akhirnya mulai terbuka. Segerombolan pria sangar dengan setelan T-shirt press body berwarna hitam yang dipadankan dengan celana bermotif army, kini mulai memasuki kamar apartemen ini dengan masing-masing membawa sebuah senjata tajam, seperti pisau lipat, senjata api, maupun senjata lainnya.
Oichi dan Ellios seketika terkejut bukan main akan kedatangan rombongan pria sangar yang itu. Mereka segera berdiri dan menatap kelima pria sangar yang berpenampilan seperti seorang gangster menyeramkan itu.
"Siapa kalian? Dan bagaimana kalian bisa memasuki apartemenku?!" ucap Oichi menatap waspada kelima pria itu yang sudah berjalan semakin mendekatinya.
Namun tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertayaan yang diberikan oleh Oichi. Salah satu dari mereka kini mengangkat tangan kanannya ke udara untuk memberikan sebuah instruksi kepada teman-temannya agar segera menjalankan rencana mereka.