
Hakken celingukan menatap ke arah jendela dengan kain gorden yang masih sedikit terbuka. Karena dia masih merasa penasaran, siapayang baru saja dikunjungi oleh Oichi.
Oichi yang menyadarinya, kini segera berinisiatif untuk mengajak Hakken meninggalkan tempat ini.
"Aku baik-baik saja kok. Ayo kita pergi!" Oichi segera menarik tangan Hakken untuk meninggalkan halaman rumah kedua orang tiri Oichi, sebelum masalahnya akan menjadi semakin panjang nantinya.
Hakken menurut saja dan mereka sudah meninggalkan halaman rumah tersebut. Hingga kali ini Hakken yang malah menggiring Oichi untuk memasuki mobil sport kesayangannya yang sudah terparkir di depan rumah itu.
"Hakken, aku naik taxi saja! Kamu boleh pulang kok ..." ucap Oichi berniat untuk keluar kembali dari mobil Hakken. Namun ucapan dari Hakken sukses menahannya dengan ucapannya.
"Jangan mempersulit dan menambah pekerjaanku! Aku tidak mau kerepotan lagi hanya untuk mencarimu lagi! Jadi aku akan mengantarmu sampai di apartemenmu!" tandas Hakken yang sukses membuat Oichi mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil Hakken.
Hingga akhirnya mau tak mau, Oichi kembali duduk di kursi samping kemudi.
Cornor, ini semua gara-gara kamu deh! Andai saja tidak ada misi untuk menjadikan Hakken sebagai seorang body guard! Pasti aku tidak akan selalu terjebak dengan pria dingin bertubuh seperti om-om ini deh! Dia itu cukup menyeramkan tau!
Batin Oichi merasa kesal kepada Cornor, pemandu sistemnya.
[ Nona Oichi tidak perlu merasa takut dan khawatir kepada Hakken. Dia tak akan menyakiti nona. Melainkan dia malah akan selalu melindungi nona. ] sahut Cornor.
"Hufftt ..." Oichi mendengus kesal karena mendengar jawaban dari Cornor yang seakan menganggap remeh dan enteng semua ini.
"Ada apa? Kenapa kamu mendengus kesal seperti itu?" tanya Hakken melirik Oichi tanpa mengurangi konsentrasinya saat mengemudi.
"Tidak ada kok." sahut Oichi seadanya sambil menatap sebuah kotak kayu yang berada di atas pangkuannya.
"Hhm? Aku ingin meminta bayaranku di muka!" ucap Hakken tiba-tiba yang sukses membuat Oichi melongo menatap Hakken.
"Bayaran di muka?" tanya Oichi seolah tak percaya.
Padahal kemarin Hakken mengatakan tidak terlalu membutuhkan dan tidak terlalu mempermasalahkan soal bayarannya sebagai seorang body guard. Namun kini tiba-tiba saja Hakken meminta bayarannya di muka?!
"Tentu saja! Kamu mempekerjakan aku! Jadi kamu harus membayarku bukan?" tanya Hakken melirik Oichi dengan mengangkat salah satu alisnya.
"Eh? I-iya ... tentu saja aku akan membayarmu." Oichi meringis saat menjawabnya, karena khawatir uangnya masih belum cukup untuk membayar Hakken.
Padahal uang yang dimiliki oleh Oichi saat ini sudah cukup banyak.
"Good!! " sahut Hakken tersenyum simpul dan mulai menambah kecepatan laju dari mobilnya.
NGUUNGG ...
.
.
.
.
.
"Dua es krim coklat full cream. Silakan ..." seorang penjual es krim memberikan 2 cup es krim coklat untuk Hakken.
"Hhm. Thanks ..." setelah membayarnya, Hakken segera menerima 2 cup es krim itu.
Lalu Hakken mulai memberikan salah satu es krim itu untuk Oichi yang masih berdiri bersandar pada mobil Hakken. Karena kedai penjual es krim berada tak jauh dari tempat Hakken memarkir mobil.
Eh? Jadi bayarannya kali ini cuma es krim saja??
Batin Oichi malah terdiam dan menatap tangan Hakken yang sedang menyodorkan satu cup es krim coklat full cream.
"Apa kamu tidak menyukai es krim?" tanya Hakken karena Oichi tak segera menerima es krim tersebut. "Atau kamu mau rasa lainnya? Strawberry? Anggur? Vanila? Atau apa? Katankan saja padaku ..."
Ketika lamunan Oichi mulai buyar, dia segera menerima es krim tersebut.
"Aku suka es krim coklat kok. Uhm ... tapi ... di cuaca malam yang dingin seperti ini ... apakah tidak apa-apa jika kita makan es krim?" ucap Oichi dengan hati-hati.
"Ehh? A-ada apa? Mengapa kamu malah membuang es krim itu, Hakken? Sayang sekali, padahal kita sama sekali belum memakannya." ucap Oichi tak mengerti dan sangat kebingungan.
"Apa yang telah kamu katakan adalah benar. Kamu harus selalu menjaga tenggorokanmu. Jadi sebaiknya aku meminta bayaran lainnya saja. Ayo!"
Tanpa memberi kesempatan untuk Oichi menjawab, Hakken langsung meraih tangan Oichi dan menggiringnya untuk mendatangi sebuah kedai lainnya lagi yang berada tak jauh dari mereka.
.
.
.
.
.
"Dua porsi ramen uddon spesial pedas level 7 dan matcha hangat sudah siap! Silakan, Tuan, nona ..." seorang pelayan wanita mengantarkan pesanan tersebut di sebuah meja, dimana Hakken dan Oichi duduk di meja tersebut.
"Hhm. Thanks!" sahut Hakken menyodorkan semangkok ramen uddon dan segelas matcha hangat untuk Oichi. "Makanlah! Makanan ini cocok dengan cuaca saat ini."
"Darimana kamu tau aku suka makanan pedas, Hakken?"
"Hhm? Tidak penting aku tau darimana! Cepat habiskan semua itu dan kita segera pulang!" sahut Hakken.
"Hehe ... tapi aku tidak bisa memakan ini, Hakken ..."
"Ada apa lagi?! Apakah kamu tidak menyukai ramen uddon?" tanya Hakken memicingkan sepasang matanya menatap Oichi, auranya begitu dingin dan datar.
"Hehe, sebenarnya bukan seperti itu."
"Lalu?"
"Ramen uddon ini terlalu panas untukku." ucap Oichi menatap Hakken dengan memperlihatkan ekspresi bak anak kucing.
Hakken mendengus masih dengan ekspresi datar dan dingin. Lalu dia meraih semangkok ramen uddon milik Oichi dan memandanginya selama beberapa saat.
Hingga akhirnya Hakken mulai meniup semangkok ramen uddon milik Oichi selama beberapa saat, membuat Oichi mematung tak percaya jika Hakken yang galak, dingin dan cuek bisa bersikap manis seperti ini. Meskipun sebenarnya sikap manis itu sama sekali tidak terlukis pada wajahnya sih.
"Makanlah. Ini sudah tidak panas lagi." ucap Hakken sembari menyodorkan semangkok ramen uddon itu untuk Oichi.
"Hhm. Terima kasih ..." ucap Oichi denga tulus.
Mereka berdua mulai menikmati makan malam itu bersama-sama, namun belum menghabiskan sepenuhnya makan malam tersebut, tiba-tiba saja mulai terdengar sebuah notifikasi diikuti oleh suara Cornor, membuat Oichi menghentikan makan malamnya.
DING ...
[ Misi akan segera dimulai, Nona. Misi selanjutnya adalah menyelamatkan seorang gadis kecil yang sedang menyebrang dan hampir tertabrak oleh sebuah mobil. Jika nona Oichi gagal dalam misi kali ini, bukan hanya nona yang akan mendapatkan pinalti saja, namun gadis kecil itu juga dalam bahaya. ]
Ucap Cornor tiba-tiba.
Hmm? Misi yang cukup mendebarkan. Dimana posisi gadis kecil itu sekarang, Cornor?
Batin Oichi bertanya.
[ Maaf, Nona. Tapi aku tak bisa mengatakannya. Namun mobil yang melaju dari arah Niigata yang akan menabrak gadis kecil itu akan berada di sekitar tempat ini sekitar 10 menit lagi. Itu artinya nona Oichi hanya memiliki waktu selama 10 menit lagi untuk menyelesaikan misi kali ini. ]
Sahut Cornor lagi.
Apa? Sepuluh menit saja? Ini gawat sekali!! Aku harus segera menemukan gadis kecil itu sebelum terlambat!!
Batin Oichi langsung bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan tempat itu begitu saja, membuat Hakken kebingungan dan juga kesal.
"Oichi!!! Kau mau pergi kemana?!" teriaknya memanggil Oichi, namun Oichi tak menghiraukannya sama sekali.