
"Apa?! Melakukan performance di kedai ayam krispi milik temanmu? Kedai ayam biasa?? Apa kamu serius ingin melakukannya, Oichi?? Ini akan cukup berbahaya untukmu? Ini bisa menurunkan pamormu! Disana pasti akan banyak orang dan keamanan akan kurang terjamin."
Yue terlihat sangat keberatan disaat Oichi menyampaikan niatnya untuk melakukan performance di kedai ayam krispi milik ibu Ellios.
"Hhm. Tentu saja aku serius, Kak. Bukan menurunkan pamor, Kak. Tapi menurutku ini akan menjadikan citraku semakin baik. Please bantu aku mengurus semua ini, Kak! Agar tuan Raymond memberikan ijin untukku. Lagipula aku tidak sampai mengganggu schedule lainnya kok. Aku melakukan hal ini di luar jadwal yang sudah ditentukan kok. Please ... hanya kamu yang bisa membantuku saat ini, Kak!"
Pinta Oichi penuh harap dan memperlihatkan sepasang mata kucing andalannya.
"Huft. Baiklah-baiklah ... aku akan membantumu deh!" sahut Yue tak bisa menolak permintaan dari Oichi.
"Yata!! Kau memang yang terbaik, Kak Yue!! Terima kasih banyak, Kak!!" sahut Oichi kegirangan dan langsung memeluk erat Yue hingga membuat Yue kesulitan untuk bernafas.
"Oichi, lepaskan! Apa kau ingin membunuh kakak? Kakak kesulitan untuk bernafas!"
"Hehe ... sory deh!" sahut Oichi segera melepas pelukannya masih dengan wajah berbinar.
"Tapi ngomong-ngomong mengapa kamu sangat ingin melakukan sebuah performance disana?akhir-akhir ini kakak lihat kamu semakin dekat dengan pemuda suoer biasa bernama Ellios itu." selidik Yue memicingkan sepasang matanya penuh curiga menatap Oichi.
"Apa? Benarkah itu?" tanya Oichi mengangkat kedua alis indahnya.
"Hhhm! Ini sungguh tidak seperti biasanya. Apakah jangan-jangan ..."
"Jangan-jangan apa?" potong Oichi dengan wajah polosnya tanpa dosa sembali mengambil sebuah kue yang ada di atas meja.
"Jangan katakan kamu menyukai pemuda super biasa itu!"
"Apa? Memangnya kenapa, Kak? Apa aku sama sekali tidak boleh menyukai seorang pria?" timpal Oichi dengan sengaja.
Padahal selama ini Oichi memang hanya menganggap Ellios sebagai teman satu servernya. Sampai saat ini dia tak pernah benar-benar berdebar ketika berada di dekat pemuda manapun.
Dari seorang pemuda biasa seperti Ellios hingga seorang model atau idol kelas atas seperti Li Zeyan atau Zie Jun Ze, Oichi hanya menganggap semua pemuda itu sebagai partner kerja saja.
"Apa? Jadi apakah itu benar?? Apakah kamu benar-benar menyukai Ellios?" ucap Yue semakin membulatkan sepasang matanya saking syoknya.
"Huft ... apaan sih kakak ini tiba-tiba membicarakan hal seperti ini. Tentu saja semua itu tidak benar, Kak! Aku hanya akan memberikan hatiku untuk seseorang yang benar-benar tulus kepadaku. Seseorang pemuda baik yang memiliki hati yang tulus dan lembut dan bisa menerimaku apa adanya. Ellios memang baik. Tapi aku tak melihat kebaikan lain untukku kecuali sebagai seorang sahabat." ucap Oichi mulai bangkit dari tempat duduknya.
"Hhm? Sebenarnya cukup banyak pemuda yang menyukaimu, bahkan menggilaimu. Tapi mereka semua memujamu sebagai seorang Dewi Oichi. Karena kamu adalah seorang idol besar sekarang."
"Hhhm. Mereka hanya mengidolakanku. Bukan mencintaiku dengan tulus. Huft ... sudahlah! Mengapa malah membicarakan hal tak berguna seperti ini, Kak? Aku tidak terlalu terburu-buru untuk hal ini kok ..." ucap Oichi dengan santai dan tersenyum samar menatap menara baja berwarna merah putih yang tinggi menjulang dengan kokoh di hadapannya.
"Ya sudah, aku akan segera mandi dulu, Kak." imbuhnya lagi lalu melenggang meninggalkan Yue.
...🍁🍁🍁...
Seorang gadis berkacamata fashion berlensa hitam yang begitu cantik dan anggun, terlihat turun dari sebuah mobil sport super mewahnya yang limited edition berwarna merah menyala d8 depan sebuah kedai ayam krispi kecil.
Dia mengenakan blouse terusan press body berwarna cream lembut yang membentuk lekuk tubuh indahnya yang ramping.
Pakaian lembut yang membalut tubuh rampingnya yang memiliki panjang sejengkal di atas lutut itu, membuatnya terlihat begitu mempesona, cantik, simple namun tetap terlihat elegan dan berkelas. Seperti dirinya yang memang sangat cantik dan berkelas.
Semua orang terlihat mulai berkerumun dan sangat antusias untuk menyambut kehadiran sang dewi Oichi yang begitu mereka kagumi dan sangat mereka idolakan saat ini. Namun karena pengawalan yang begitu ketat, sehingga mereka tak bisa menyentuh Oichi sedikitpun. Mereka hanya bisa memotret dari kejauhan saja.
Kini Oichi mulai melepaskan kacamata hitamnya yang sejak dari tadi sudah bertengger manis di atas tulang hidungnya yang cukup mancung dan tinggi. Pandangannya kini mulai beralih menatap seorang pemuda yang sudah berdiri tak jauh darinya. Dia adalah Ellios.
Senyum manisnya mulai terlukis menghiasi wajah ayunya. Oichi mulai melenggang dengan langkah anggunnya mendekati Ellios. Ritme dari hentakan sepatu hak tingginya terdengar begitu teratur dan elegan.
"Wah cantik sekali dewi Oichi. Wajahnya begitu mungil seperti boneka saja. Dan dia juga memiliki tubuh yang begitu ramping dan sangat sempurna. Whoa ... memang sangat cantik!" ucap salah satu pengunjung wanita yang masih cukup muda menatap kagum ke arah Oichi.
"Dia memang benar-benar sangat sempurna! Aku saja yang seorang gadis begitu mengaguminya. Apalagi mereka para pria. Pasti mereka akan sangat tergila-gila padanya" celutuk pengunjung wanita lainnya.menyauti.
"Oh! Andai saja aku memiliki kekasih seperti Dewi Oichi. Pasti hidupku akan menjadi lebih berwarna dan sempurna. Hehe ..." seorang pengunjung pria juga mulai berandai-andai dengan tatapan konyol karena angannya.
"Jangan mimpi deh kamu! Mana mau dewi Oichi menjadi kekasihmu?! Kamu itu pemuda yang sangat biasa-biasa saja dan tidak menonjol sama sekali! Berkaca sana!!!" timpal seorang pengunjung wanita sambil mendorong bahu pria itu.
"Hehe. Cinta itu buta dan tak beralasan. Apapun bisa terjadi. Kemanapun cinta berlabuh tak ada yang pernah mengetahuinya. Siapa tau dia adalah jodohku. Hehe ..." sahut pria itu dengan tawa kecil.
"Cihh!! Jangan mimpi deh kamu!! Aku saja tidak akan pernah mau untuk menjadi kekasihmu! Apalagi Dewi Oichi yang begitu sempurna!!" celutuk gadis itu meremehkan.
"Ckkk ... percaya diri sekali kamu ini! Aku juga tidak akan mau untuk menjadi kekasihmu kok!!" timpal pria itu kesal.
"Wah, cantiknya. Kaki jenjangnyanya juga begitu indah, wajahnya begitu cantik dan mempesona, dan dia memiliki tubuh tinggi dan sangat ramping. Cantik dan sempurna sekali ... benar-benar seperti boneka barbie hidup." dari sisi lainnya seorang pengunjung wanita juga terdengar begitu mengagumi Oichi.
Masih banyak sekali pujian-pujian dari mereka untuk Oichi. Dan semua itu didengar oleh Ellios yang memang saat ini sedang berdiri dan berada di antara mereka semua.
"Eh ... tapi ngomong-ngomong mengapa tiba-tiba Dewi Oichi mau melakukan performance di kedai kecil seperti ini ya? Ini aneh sekali loh!!" celutuk salah satu pengunjung gadis sangat penasaran.
"Aku dengar dia mengenal dekat putra dari pemilik kedai ini. Dan aku dengar mereka juga berteman baik. Mungkin karena itu dia mau melakukan performance disini." celutuk salah satu gadis lagi.
"Tapi aku dengar kedai ini pernah dibeli oleh Oichi, namun kini sudah menjadi milik bibi Suzuna sepenuhnya. Atau ... apakah jangan-jangan berita itu benar? Berita jika Oichi memiliki hubungan lebih dengan putra bibi Suzuna?" celuttuk gadis lainnya.
"Hah?? Apa?? Putra bibi Suzuna yang bernama Ellios? Ellios yang kolot dan niasa-biasa saja itu yang kalian maksud? Dia? Jangan bercanda deh!!" ucap salah satu gadis sambil menuding Ellios yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Sstt ... benar sekali! Tapi jangan keras-keras! Bagaimana jika dia mendengar kita?" bisik salah satu gadis lirih.