Become An Idol By System

Become An Idol By System
Berdansa Bersama Ellios



Belum sempat terjadi perbincangan diantara ketiga pemuda itu lagi, tiba-tiba saja seorang gadis cantik bak barbie sudah menghampiri mereka bertiga.


"Hai ..." sapanya dengan manis dan memperlihatkan senyum andalannya. Sebuah senyuman pemikat yang biasa dia gunakan untuk memikat semua orang, terlebih para penggemarnya agar selalu memujanya.


Ketiga pemuda itu kini segera beralih menatap sang gadis yang tak lain adalah Oichi. Dan kehadiran Oichi yang sedang menyapa mereka saat ini, seketika membuat Jullian membulatkan sepasang matanya dan mematung karena begitu syok atas kehadiran dari sang idola yang secara tiba-tiba datang dan menyapanya terlebih dulu. Ini sungguh seperti mimpi saja bagi Jullian.


Sementara Hakken yang masih berdiri di samping Oichi hanya memicingkan sepasang matanya menatap Jullian dan Ellios yang masih cukup asing untuknya. Karena mereka belum pernah bertemu sebelumnya.


"Hai, Oichi ..." balas Ken yang ramah seperti biasanya.


"Hai, Ken! Rupanya kalian sudah saling mengenal ya?" tanya Oichi bergantian menatap Ken, Ellios dan Jullian yang masih saja melongo menatap sang bidadari yang selama ini menjadi pujaan hatinya.


"Yeap. Kami belajar di universitas yang sama. Hanya saja kami mengambil jurusan yang berbeda." jelas Ken mulai mencari sesuatu di salam saku jas hitam mewahnya. "Oh iya. Selamat ulang tahun ya, Oichi. Maaf aku tidak pandai memilih beberapa hadiah bagus. Jadi aku hanya bisa membeli ini." imbuh Ken sambil mengulurkan sebuah bingkisan kecil berwarna silver mengkilap untuk Oichi.


Oichi segera menerima hadiah pemberian dari Ken dengan wajahnya yang sangat berbinar. Karena hadiah dari Ken sebenarnya adalah sebuah gelang keluaran terbaru dan sangat limited edition dari subuah perusahaan perhiasan nomor 1 di Jepang ini, Ruby Shine.


"Terima kasih, Ken! Hadiah dari kamu sungguh sangat luar biasa!! Aku sangat menyukainya!!" ucap Oichi dengan wajahnya yang begitu berbinar menatap Ken.


"Sama-sama, Oichi ..." sahut Ken dengan ramah.


"Oh iya, aku ... aku juga membawakan hadiah untukmu Dewi Oichi. Uhm ... semoga kamu juga menyukai hadiah dariku." kali ini Jullian memberanikan diri untuk berbicara dan menyodorkan sebuah bingkisan berukuran sedang untuk Oichi.


Dia sangat berusaha dan berjuang untuk bisa berbicara keren di hadapan idola pujaannya. Namun tetap saja Jullian masih saja terlihat kaku dan terbata saat mengatakannya. Jantungnya berdegup seperti drum, dan sepasang matanya tak bisa sedetikpun berpaling dari Oichi.


"Uhm ... okay! Terima kasih, Jull ..." ucap Oichi menggantung karena sedikit melupakan nama Jullian.


Yang dia ingat hanyalah nama Ellios, karena di matanya Ellios sangat berbeda dari pemuda-pemuda yang pernah dia temui sebelumnya. Meskipun terlihat polos, namun bisa dikatakan Ellios terlihat masa bodoh dan cuek terhadap apapun di sekelilingnya.


"Jullian. Namaku adalah Jullian ..." potong Jullian dengan cepat dan bersemangat, karena sepertinya Oichi memang sedikit melupakan namanya. Dan hal ini sangat dimakhlumi oleh Jullian.


"Hhm. Iya. Terima kasih, Jullian. Aku pasti akan menyukainya." sahut Oichi dengan ramah lalu mulai beralih menatap Ellios yang masih memasang wajah polosnya.


"Uhm ... maaf. Tapi aku tidak membawa apapun untuk hadiah, karena aku tidak sempat untuk membelinya." ucap Ellios mengusap tengkuknya karena merasa sedikit malu dan kikuk karena hanya dirinya yang tak membawakan hadiah untuk Oichi. Padahal semua orang memberikan hadiah yang sangat fantastis untuk Oichi.


"Ya. Itu karena Ellios kemarin seharian berada di rumah sakit. Dan dia tidak sempat pergi kemanapun selain hanya beristirahat saja." ucap Ken menjelaskan seadanya.


"Ellios berada di rumah sakit? Siapa yang sakit? Apakah itu kamu, Ellios?" tanya Oichi terlihat begitu penasaran dan khawatir.


Ucap Ellios yang sebenarnya merasa sedikit kurang nyaman jika banyak orang yang mengetahui rahasia besar di dalam hidupnya terungkap, jika kesehatannya yang kurang baik saat ini.


Bahkan seorang dokter pernah memberikan vonis kepadanya, jika usianya hanya bertahan tak lama lagi. Dan selama ini Ellios selalu menyimpannya seorang diri, hingga pada akhirnya teman-teman dekatnya mulai mengetahuinya.


"Ellios yang ..." ucap Ken menyela, namun belum sempat menyelesaikan ucapannya dengan sempurna Ellios memotongnya.


"Uhm ... sebenarnya aku hanya merasa tidak enak badan saja kok. Dan sekarang sudah merasa lebih baik." sela Ellios dengan cepat agar tidak memperpanjang pembahasan hal ini.


"Oh, begitu ya ..." gumam Oichi seadanya.


Belum ada perbincangan kembali diantara mereka, tiba-tiba sang pembawa acara mulai berseru untuk membuka pesta ulang tahun malam ini.


"Baik. Karena nona Oichi sudah hadir bersama dengan kita, maka perayaan pesta ulang tahun malam ini akan segera dimulai. Untuk mengawali acara pada malam ini akan dibuka oleh sebuah tarian dansa nona Oichi bersama ..." ucap sang MC yang rupanya sudah mulai membuka acara pesta ulang tahun ini di tengah-tengah aula.


"Karena malam ini kamu tidak membawakan hadiah untukku, maka kamu harus menemaniku menari bersama, Ellios! Ayo!!" tiba-tiba saja Oichi segera menarik tangan Ellios tanpa memberikan sebuah kesempatan untuk Ellios menjawabnya.


Oichi malah menariknya dan menggiringnya ke tengah-tengah aula yang sudah dikelilingi oleh para tamu undangan.


Kini semua mata tertuju kepada Ellios dan Oichi yang saat ini sudah berada di tengah aula megah itu. Sebenarnya hal ini cukup membuat Ken dan Jullian merasa begitu terkejut melihat semua ini, namun mereka juga tak bisa berkata-kata saat ini dan hanya bisa menatapnya dari kejauhan.


"Baiklah. Nona Oichi akan segera berdansa bersama temannya untuk membuka acara pesta ulang tahun malam ini." ucap sang MC lagi bersemangat. "Mainkan musiknya ..." imbuhnya memerintahkan kepada para pemain orkestra malam ini yang sudah bersiap dengan alat musiknya masing-masing.


Permainan dari beberapa alat musik itu kini mulai terdengar saling bersahutan satu sama lain. Lantunan dari sebuah melodi indah, manis dan menenangkan hati ini seketika membuat siapa saja yang mendengarkannya menjadi begitu tenang dan melayang dalam buaian masing-masing.


Oichi masih saja terlihat tenang dan santai, sementara Ellios terlihat sangat kikuk oleh semua tatapan dingin yang begitu menusuk itu. Karena jika dilihat, Ellios hanyalah pemuda biasa dengan penampilannya yang tentunya super biasa.


"Uhm ... nona Oichi ... tapi aku sama sekali tidak bisa berdansa. Jangan sampai aku mempermalukan nona dan membuat acara malam ini menjadi berantakan." ucap Ellios begitu pelan dan masih merasa kikuk.


"Tenang saja, Ellios! Kamu cukup mengikuti instruksi dariku saja! Kamu akan menari bersama denganku dengan sangat baik. Percayalah padaku!" sahut Oichi setengah berbisik. Dia terlihat begitu yakin dan penuh percaya diri.


"Tap-tapi ... bagaimana jika aku mengacaukan semuanya dan ... bagaimana jika semua akan menjadi berantakan. Aku tidak ingin mempermalukan nona Oichi."


Ucap Ellios masih merasa jika dirinya tak akan bisa melakukan semua itu dengan baik. Karena seumur hidupnya dia tidak pernah berdansa.


"Cukup lakukan saja sesuai dengan instruksi dariku, maka semua akan baik-baik saja." ucap Oichi mendongak dan tersenyum misterius menatap Ellios.