Become An Idol By System

Become An Idol By System
Keputusan Hakken



Sissy merasa sangat kesal karena dia diacuhkan oleh Hakken begitu saja. Namun dia masih belum menyerah dan masih berusaha untuk mengejar Hakken hingga menuju ruangan ganti.


Beberapa teman Hakken yang sudah berganti pakaian segera keluar karena melihat Hakken yang sudah memasuki ruangan ganti dan diikuti oleh Sissy. Tentu saja karena mereka tidak mau ikut campur urusan percintaan mereka, karena takut dengan Hakken.


"Hakken, tunggu!" gadis cantik itu berlari untuk mengejar Hakken, dan dia berhasil meraih salah satu tangan Hakken.


"Ada apa lagi?" tanya Hakken malas, namun akhirnya dia berhenti.


"Kamu adalah kapten dari tim rugby SMU kita. Jadi kamu harua menghadiri acara perayaannya juga donk! Sempatkan sedikit saja waktumu untuk teman-temanmu dan rayakan bersama."


Hakken memutar bola matanya dengan malas dan menghembuskan nafas kasarnya di udara.


"Ini adalah urusan tim rugby! Jadi mengapa kamu yang pusing dan repot sendiri?!"


"Ah ... aku hanya menyarankan saja kok. Bukankah biasanya aku juga selalu menyarankan sesuatu untukmu seperti ini, Hakken? Bahkan biasanya kamu yang selalu membujukku untuk menghadiri perayaan." ucap Sissy memperlihatkan ekspresi murungnya.


"Itu dulu! Saat ini kita sudah berpisah dan memiliki jalan masing-masing. Jadi lupakanlah aku ..." ucap Hakken dengan mudahnya.


"Tidak mau!" tandas Sissy kekeh.


"Keluarlah, Sissy! Aku harus berganti pakaian!"


"Ya sudah! Ganti saja dan aku tidak mau keuar!"


Hakken mendengus dan akhirnya mulai melepaskan seragam rugby miliknya. Setelah itu dia melepaskan pengaman yang dipasang pada bagian kedua bahu lebarnya.


Sissy masih saja berada di tempatnya, pandangannya masih tertuju pada Hakken dan sedetikpun tak mau berpaling untuk tidak menatapnya. Sementara Hakken tak mengindahkannya sama sekali, dan dia segera mengenakan kaos putihnya yang masih saja menampakkan sekatan-sekatan nyata pada tubuh atletisnya.


Bahkan Hakken juga mengganti celana di hadapan Sissy, meskipun sebenarnya pemuda pecinta rugby itu sebenarnya masih saja mengenakan celana training pendek santainya.


Dan sebenarnya menyaksikan semua itu, sukses membuat wajah Sissy merona karena malu. Namun dia sungguh tak ingin meninggalkan Hakken. Bahkan kali ini Sissy begitu percaya diri jika Hakken akan kembali lagi pada dirinya.


"Ha-Hakken ..."


"Hhm ..." sahut Hakken malas sembari membenarkan sabuk pinggangnya yang sudah terpasang pada celana jeans warna terang itu


"Apa kamu benar-benar sudah melupakan aku?" tanya Sissy semakin mendekati Hakken. Mendongak dan menatap lekat pemuda yang selalu berwajah datar dan dingin itu.


"Hhm. Aku tidak mau berurusan dengan hal seperti itu dulu."


"Tapi ... bukankah selama ini kamu yang selalu mengejar-ngejarku? Tapi mengapa tiba-tiba saja berubah menjadi seperti ini? Itu sungguh sangat tidak masuk akal! Apa kamu menyukai gadis lain, Hakken?"


"Sudah aku katakan padamu bukan? Aku hanya ingin fokus dengan sekolah dan rugby dulu untuk saat ini. Lagipula sebentar lagi aku akan segera memasuki sebuah universitas. Aku tidak punya waktu untuk mengurus cinta." jawab Hakken dengan santai dan mulai mengenakan jaket kulit leather on leather-nya yang berwarna hitam mengkilap.


"Kamu mengatakan jika tidak punya waktu untukku, namun kamu selalu memiliki waktu untuk Oichi! Bahkan aku mendengar dari Sky jika kamu malah menjadi body guard dari gadis menyebalkan itu!!" ucap Sissy dengan sepasang mata yang sudah menjadi berkaca-kaca.


"Karena apa? Apa kamu menyukai Oichi?!" potong Sissy seolah menyudutkan Hakken.


Hakken tak menjawab ucapan Sissy dan hanya terpaku saat menatap gadis di hadapannya itu. Dia sangat kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Sissy, karena sebenarnya Hakken sendiri juga tidak mengetahui mengapa semua ini bisa menjadi seperti ini.


Beberapa waktu dia begitu mengagumi dan menyukai Sissy. Dan kini tiba-tiba saja perasaan itu menghilang begitu saja. Dan Hakken tidak mengetahui penyebabnya.


"Apa kamu lupa siapa Oichi itu, Hakken? Di masa lalu dia adalah gadis buruk rupa yang sangat jelek dan bau! Apa kamu melupakan semua itu?! Dia sangat berbeda denganku! Kamu tidak boleh meninggalkan aku hanya karena dia!" ucapan Sissy mulai terdengar bergetar.


"Sissy! Jangan bicara omong kosong! Aku tidak menyukai dia!"


"Kalau memang tidak seperti itu, buktikan padaku! Kembali padaku dan cium aku sekarang juga!"


Mendengar ucapan dari Sissy, seketika membuat Hakken melongo dengan kening berkerut. Haklen cukup terkejut mendengarnya. Gadis yang biasanya selalu menjaga image-nya di depan dirinya dan di depan semua orang kini malah mengatakan hal tak terduga seperti itu.


Bahkan selama ini Sissy selalu bersikap berpura-pura cuek dan seolah tak menginginkannya jika Hakken meminta sesuatu seperti sebuah pelukan ataupun ciuman darinya. Namun kini tiba-tiba saja semua sangat berubah.


"Sissy ... kau ..."


"Cepat buktikan padaku jika memang kamu tidak menyukai dia!"


Selama beberapa saat keduanya hanya saling terdiam dan bertatapan dengan pupil yang bergetar. Namun karena Hakken tak juga menjawab atau bertindak, akhirnya Sissy menarik kerah jaket Hakken dan menundukkannya.


Sementara Sissy mulai mendongak dan berjinjit untuk mengimbangi tinggi Hakken. Hakken tak bisa menahannya. Karena pada dasarnya, jauh di dalam lubuk hatinya dia memang masih menyukai Sissy.


Ditambah lagi Sissy tiba-tiba saja menjadi sedikit lebih agresif dan berani. Sentuhan pasif antara kedua bibir itu, seketika berubah. Sissy yang memberanikan diri dan membunuh egonya, kali ini memulai dengan mengecup bibir Hakken.


Hakken dengan reflek membalas ciuman itu bahkan mulai menikmatinya. Salah satu tangannya meraih pinggang ramping Sissy. Dan tangan lainnya meraih tengkuk Sissy untuk memperdalam ciuman itu.


Pada akhirnya Hakken dan Sissy kembali menjalin ikatan mereka sebagai kekasih. Namun Hakken tak bisa memenuhi keinginan Sissy untuk mengundurkan diri sebagai body guard dari Oichi.


Meskipun sebenarnya Sissy masih merasa kesal dan berat dengan keputusan Hakken, namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Karena baginya, sudah bisa kembali lagi untuk mendapatkan cinta Hakken, itu sudah cukup membuatnya merasa senang.


"Sissy, aku harus pergi ke suatu tempat. Kamu juga segera bergantilah pakaian dan pulanglah." ucap Hakken setelah mereka berdua menyudahi waktu bersama di dalam ruangan ganti selama beberapa saat.


"Kamu berhati-hatilah. Aku duluan ..." imbuh Hakken meraih ranselnya dan bergegas meninggalkan ruangan ganti ini.


"Hak-Hakken!!" Sissy berusaha menahan Hakken, namun percuma saja Hakken sudah meninggagalkannya.


Namun betapa terkejutnya Hakken saat melihat teman-teman satu tim rugby-nya berada di depan pintu ruangan ganti. Dan seketika mereka semua menjadi salah tingkah saat melihat kehadiran Hakken. Seolah Hakken sudah memergoki mereka yang berusaha untuk menguping atau mengintip dirinya yang sedang bersama Sissy di ruangan ganti ini.


"Apa yang sedang kalian lakukan disini? Apa kalian sudah bosan hidup?!!" tandas Hakken yang seketika sukses membuat mereka semua meringis dan segera meninggalkan tempat itu dengan berbagai alasan untuk segera melarikan diri dari Hakken.