
Di dalam penthouse dari Azabu Appartement, terlihat seorang gadis cantik bak bidadari sedang duduk di hadapan meja riasnya dengan wajah penuh binar.
Polesan make up khas dan natural yang dia aplikasikan pada wajah ayunya, membuatnya terlihat fresh and young. Dan tentu saja semua make up yang dia gunakan juga sangat berkelas dan memiliki harga selangit.
Tubuh indahnya yang ramping sudah terbalut menawan dengan gaun berwana putih kombinasi merah muda lembut yang begitu elegan dan glamor. Sangat anggun dan cantik seperti barbie hidup.
Siapa lagi gadis cantik bak bidadari itu kalau bukan Oichi. Idol yang saat ini sedang bersinar paling tetang diantara bintang-bintang lainnya. Dia kembali memoleskan sebuah liptint yang memberikan hasil akhir glossy pada bibir mungilnya untuk make up akhirnya.
Oichi menatap pantulan dirinya melalui cermin di hadapannya dan senyuman smirk menawannya yang biasanya sukses untuk memikat semua orang yang dia kehendaki.
"Ellios Yozhikawa! Aku akan segera mendapatkanmu! Dengan begitu misi jangka panjangku akan terselesaikan." gumamnya lirih penuh percaya diri.
Tok ... tok ... tok ...
Sebuah ritme teratur yang berasal dari pintu kamarnya mulai terdengar dan membuyarkan angan Oichi.
"Masuk!!" titahnya kembali menyisir rambut indahnya pelan.
Seorang pria dewasa berusia kira-kira 30 tahun dengan setelan jas rapi mulai memasuki kamar Oichi. Pandangan pria dewasa itu begitu penuh kekaguman setiap saat dia berhadapan dengan Oichi.
Dia adalah Kei, salah satu pengawal Oichi yang juga selalu mengagumi Oichi. Dia adalah menantu dari seseorang kepala keamanan yang cukup berpengaruh dalam kota ini.
Meskipun selalu dilarang untuk bekerja sebagai pengawal oleh keluarga besarnya, namun dia selalu bersikeras untuk tetap bekerja menjadi pengawal Oichi. Dan sebenarnya hal itu membuat mertuanya cukup marah padanya.
"Kak Kei, ada apa?" tanya Oichi menatap pria dewasa yang sebenarnya cukup tampan dan mempesona itu. Postur tubuhnya juga bagus seperti seorang bina raga.
Dan sebenarnya hampir semua orang yang bekerja di Diamond Entertaiment memiliki paras yang cantik dan tampan. Karena selain memenuhi beberapa kriteria yang sudah ditentukan, mereka memang diharuskan untuk good looking.
"Oichi, semua orang sudah menunggumu di bawah. Ayo turunlah ..." ucap Kei tak bisa untuk tidak menahan senyuman penuh binarnya saat berhadapan dengan gadia muda yang cantik itu.
"Hhm. Aku akan segera turun, Kak. Bisa tolong kamu ambilkan sepatu hak tinggi milikku di walk in closet? Sepatunya berwarna hitam dan di rak nomor 72." jelas Oichi yang kali ini memeriksa ulang riasannya.
"Tentu saja. Tunggu sebentar." ucap Kei bersemangat.
Pria dewasa itu segera menuju ke ruangan walk in closet dan mencari sepatu hak tinggi itu. Setelah beberapa saat dia sudah kembali dan segera duduk bersimpuh di hadapan Oichi.
Dengan sukarela Kei memakaikan satu persatu sepatu hak tinggi itu untuk Oichi. Kaki jenjangnya yang begitu indah dan menggoda tentu saja membuatnya kesulitan untuk menelan salivanya sendiri. Bahkan Kei melakukannya dengan sedikit gemetaran.
Hal itu sangat disadari oleh Oichi, membuat gadis muda itu tertawa renyah melihat salah satu pengawal setianya yang salah tingkah di hadapannya.
"Kak Kei, bukankah kamu sudah memiliki seorang istri? Mengapa kamu masih saja merasa gugup saat di hadapan wanita lain?" ucap Oichi malah menggoda pria dewasa itu dengan tawa renyahnya.
"Semua pria memang sama saja ya! Ckk ... jika sudah mendapatkan apa yang mereka mau, pasti dia akan mencari ikan baru." sungut Oichi.
"Eh? Bukan seperti itu, Oichi. Hanya saja ... aku memang menikahinya karena sebuah perjodohan. Dan aku tidak benar-benar menyukainya ..." ucap Kei mendongak menatap Oichi.
"Tidak menyukainya? Tapi kalian sudah memiliki seorang putri. Dasar kak Kei!" sahut Oichi santai dengan tawa kecilnya.
"Mau bagaimana lagi. Keluarga besar kami selalu meminta seorang cucu."
"Hhm. Tapi aku heran padamu, Kak. Kamu sudah menikah hampir 2 tahun dengan wanita itu. Tapi kamu masih saja tidak menyukainya, atau jangan-jangan kamu malah menyukai wanita lain?" selidik Oichi memicingkan sepasang matanya menatap Kei.
"Ya ... sebenarnya aku memang menyukai seseorang. Sayang sekali dia masih sangat muda dan selalu sibuk dengan karirnya. Sedangkan usiaku saat itu sudah seharusnya menikah." ucap Kei masih mendongak menatap Oichi dalam.
Belum sempat terjadi perbincangan diantara mereka berdua, tiba-tiba seseorang sudah memasuki kamar Oichi.
"Oichi! Ayo turun! Pesta akan segera dimulai. Para tamu undangan sedang menantikanmu." suara seorang pemuda yang terdengar maskulin dan sedikit besar namun jernih mulai terdengar oleh mereka berdua. Membuat mereka berdua menoleh ke arah sang pemilik suara.
"Hakken, oh ... iya ... ayo! Aku juga sudah selesai kok. Dimana kak Yue?" sahut Oichi bangkit dari tempat duduknya lalu meninggalkan Kei begitu saja.
Gadis cantik itu mulai melenggang dengan anggun menghampiri Hakken dan segera meninggalkan kamarnya begitu saja.
"Kak Yue sedang menemani beberapa tamu undangan. Kamu lama sekali berdandan dan merias diri! Perasaan mau merias diri atau tidak pun, kamu tetap sama saja!" sungut Hakken saat mereka melenggang bersama.
"Karena aku selalu tampil cantik di matamu, Hakken. Ahaha ..." sahut Oichi dengan tawa renyahnya dan meninju pelan lengan Hakken.
"Ckk ... percaya diri sekali!" timpal Hakken dingin.
"Memang seperti itu kok kenyataannya." sahut Oichi tak mau kalah dan menjulurkan lidahnya pada Hakken, membuat Hakken hanya menggelengkan kepalanya pelan menyaksikan tingkah idol yang selalu dijaganya selama 3 tahun ini.
Sementara itu ...
Kelap-kelip lampu kekuningan menghiasi halaman apartemen Azabu itu. Beberapa tamu juga terlihat sudah mulai berdatangan dan memasuki aula utama Dan sepertinya sudah cukup banyak tamu yang hadir dan berada di dalam ruangan.
Dan tentu saja tamu undangan kali ini adalah bukan sembarangan tamu. Semua tamu undangan adalah orang berkelas dan bintang papan atas. Pakaian dan segala aksesoris yamg mereka kenakan sangatlah mewah, elegan dan berkelas.
Dan mungkin dari sekian tamu undangan yang sangat berkelas itu, hanya Ellios dan Jullian saja tamu yang begitu super biasa dan hanyalah seorang mahasiswa dari kalangan bawah saja.
Ellios dan Jullian mulai melenggang bersama menyusuri halaman luas itu mengikuti seorang pengawal yang memandu mereka hingga sampai pintu utama dari rumah megah itu.
Di sepanjang perjalanan, kedua pemuda itu mengamati sekelilingnya dengan perasaan takjub. Baru pertama kali di dalam seumur hidup mereka, Jullian dan Ellios menghadiri pesta besar seperti ini. Terlebih ini adalah sebuah pesta ulang tahun seorang idol besar.