Become An Idol By System

Become An Idol By System
Pengakuan Ellios



Ellios tidak memiliki pilihan lain lagi, karena baginya kedai ayam itu sangatlah berarti untuk sang ibu. Ditambah lagi tujuan Ellios datang di tempat ini adalah dengan harapan agar Oichi mau menyerahkan kembali kedai tua itu.


Selama beberapa saat Ellios hanya terdiam membisu, sesekali keningnya juga terlihat berkerut. Seakan dia sedang memikirkan sesuatu.


"Ellios, mengapa kamu hanya diam saja? Ayo, duduklah! Aku akan segera menyiapkan air hangat dan juga beberapa obat untukmu." ucap Oichi membuyarkan angan Ellios.


"Ahhh ... ohh ... i-iya. Baiklah ..." ucap Ellios terbata lalu segera berbalik dan duduk kembali di sebuah sofa panjang


Ellios masih saja terduduk di sebuah sofa panjang dan sesekali memejamkan sepasang matanya. Bahkan dia terlihat seakan sedang berkonsentrasi untuk melakukan sesuatu.


Hingga akhirnya setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Oichi sudah kembali lagi dengan membawa sebuah baskom berukuran sedang yang berisi dengan air hangat. Tak lupa dia juga membawakan sebuah handuk kecil yang akan dia gunakan untuk menyeka dan membersihkan darah.


Oichi meletakkan baskom itu di atas meja lalu duduk di dekat Ellios dan menatapnya masih dengan rasa khawatir.


"Sekarang lepaskan pakaianmu, Ellios. Aku akan membersihkan dan mengobati luka itu ..." ucap Oichi mulai mencelupkan handuk kecil itu ke dalam baskom berisi air hangat itu lalu memerasnya.


Dengan begitu ragu dan terpaksa akhirnya Ellios mulai menanggalkan pakaiannya di hadapan Oichi. Sebenarnya hal ini cukup membuat Ellios merasa malu tingkat dewa. Namun dia tak memiliki pilihan lain saat ini. Dan semua ini hanya demi untuk mendapatkan kembali kedai ayam krispi itu.


Kini Oichi mulai menyeka dan membersihkan darah pada punggung Ellios dengan begitu pelan dan hati-hati. Namun setelah beberapa saat Oichi mulai merasa ada sesuatu yang aneh dan tidak biasa.


Dia menatap punggung Ellios dengan kening yang berkerut. Dia sedang sangat kebingungan saat ini. Karena bekas luka pada punggung Ellios kini sama sekali tak terlihat.


Bahkan punggung Ellios terlihat begitu mulus, tanpa ada bekas tusukan maupun goresan luka sedikitpun. Dan ini tentunya sangat aneh!


Oichi menyentuhnya perlahan dan hanya melihat bercak darah saja. Dan tentu saja semua itu begitu membuat Oichi kebingungan sendiri.


Bagaimana ini bisa terjadi? Darah dan tusukan itu semua terlihat sangat nyata. Bahkan sweater yang dikenakan oleh Ellios saat itu pada bagian punggungnya juga koyak karena pisau lipat dari para berandalan itu. Lalu mengapa kini tak ada luka sama sekali pada punggungnya? Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini? Siapa sebenarnya Ellios? Mengapa dia bisa melakukan ini?


Batin Oichi semakin kebingungan sendiri dan dia juga masih mencari-cari luka itu dengan mengusap-usap di sekitar bekas darah dengan jemari lentiknya yang indah. Dan tentu saja hal itu sedikit membuat Ellios merasa kurang nyaman karena merasa sedikit geli.


"Ellios ... sebenarnya siapa kamu? Mengapa aku tak melihat ada bekas luka pada punggungmu?" tanya Oichi tiba-tiba dengan penuh kecurigaan.


Ellios mulai mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan. Dan kini Ellios juga mulai memutar tubuhnya untuk menghadap Oichi. Dia menatap lekat Oichi, seakan ada yang sedang ingin dia sampaikan.


"Nona Oichi. Sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu kepada nona. Bolehkah aku melakukannya, Nona?" tanya Ellios masih dengan nada bicara seperti biasanya.


Nada dan gaya bicara yang begitu rendah, ramah dan sopan seperti cara bicara Ellios di setiap harinya.


"Katakan saja padaku, Ellios ... aku akan menjawabnya." ucap Oichi masih menatap lekat Ellios dengan penuh kecurigaan.


"Begini, Nona. Uhm ... aku ingin bertanya sesuatu kepada nona. Apakah nona Oichi memiliki sebuah sistem yang tertanam di dalam tubuh nona? Sebuah sistem yang bisa merubah sepenuhnya kehidupan dan takdir dari nona Oichi?" tanya Ellios dengan sangat hati-hati dan masih saja menatap lekat wajah ayu jelita bak bidadari itu.


Mendengar ucapan dari Ellios, sebenarnya sukses membuat Oichi terkejut bukan main. Sepasang mata beningnya yang begitu indah kini terlihat sedikit membulat menatap Ellios tak percaya.


"Da-darimana kamu tau semua itu, Ellios?" tanya Oichi setelah beberapa saat namun masih saja merasa gugup.


Ellios tersenyum tipis dan sesekali melirik tengkuk Oichi. Membuat Oichi mengusap tengkuknya sendiri.


"Ada apa?" tanya Oichi tak mengerti.


"Sebenarnya aku bisa melihat sebuah chip sistem yang tertanam pada tengkuk nona Oichi, Nona. Karena sebenarnya ... aku juga memiliki sebuah sistem sama seperti nona Oichi. Maafkan aku jika saat itu aku berbohong kepada nona Oichi." ucap Ellios dengan nada rendah dan sangat hati-hati, karena Ellios takut untuk menyingungnya.


"Be-benarkah itu, Ellios? Apakah semua itu benar?"


"Hhm ..." Ellios mengangguk pelan.


"Pantas saja saat itu aku seperti melihat chip system milikmu juga.! Dan rupanya aku tidak salah lihat ketika kita sedang berdansa bersama bukan?" sahut Oichi terlihat sangat antusias.


Sebenarnya bisa bertemu dengan sesama pengguna sistem, adalah hal yang selalu Oichi nantikan selama ini. Pasti mereka bisa berteman baik dan sesama pengguna sistem akan bisa memahami satu sama lain karena merasa di dalam satu server yang sama. Begitulah pemikiran Oichi selama ini.


"Hm. Benar sekali, Nona Oichi. Chip system milikku tertanam pada lengan kananku, seperti yang nona lihat saat kita berdansa bersama malam itu." sahut Ellios dengan jujur.


Seketika Oichi terlihat begitu berbinar ketika mendengarkan pengakuan Ellios.


"Akhirnya aku bisa menemukan seseorang yang memiliki nasib sama sepertiku!" ucapnya sumringah. "Sekarang katakan padaku, Ellios! Apakan sistem yang kamu miliki adalah sistem untuk memiliki tubuh yang kebal, kuat, tak terkalahkan dan tak bisa terluka?" imbuh Oichi bertanya Oichi sangat antusias.


Ellios tersenyum tipis dan menggeleng pelan, menandakan semua itu tidak benar.


"Bukan, Nona Oichi. Sistem yang aku miliki bukan sistem untuk menjadi kuat dan kebal tapi ..." ucap Ellios terpotong.


"Panggil aku Oichi saja! Karena kita adalah orang yang memiliki takdir hidup yang sama dan sejalan! Dan di dunia ini hanya kamu yang mengetahui semua rahasiaku ini! Aku harap kita bisa berteman baik, Ellios." potong Oichi dengan cepat.


"Baiklah, Oichi ..." sahut Ellios yang masih merasa kikuk dan cukup kaku, karena merasa kurang sopan jika hanya memanggil dengan sebuah nama saja tanpa sebuah embel-embel apapun.


"Hhm. Begitu lebih bagus dan terdengar lebih bersahabat! Sekarang katakan padaku sistem apa yang kamu miliki, Ellios!" sahut Oichi dengan raut wajah semakin tak sabaran.


Gadis cantik itu terus menatap Ellios dengan wajah berbinarnya yang tidak sabaran untuk mendengarkan jawaban dari Ellios.