Because Only You

Because Only You
Sakit(2)



Pagi menyapa dan mulai menampakan sinarnya. diruangan yang didominasi warna putih itu sepasang mata indah menatap langit langit kamar dengan sorot penuh kerinduan.i



Gadis itu tampak merindukan seseorang,yang selama beberapa bulan terakhir ini telah mengisi hidup nya.


siapa lagi jika bukan kaisar!.


Jika saja ia tak memilih pergi darinya mungkin saat ini,kaisar lah yang akan menemaninya ditempat terkutuk ini.


What tempat terkutuk?memang nya siapa yang betah berlama lama dirumah sakit?Tidak ada!.


Gadis cantik itu tampak menyesali keputusan bodoh nya,dia berfikir dengan dia pergi semua akan baik baik saja.tapi ternyata ini begitu menyiksa dia benar benar sudah bergantung pada kaisar.


Sejauh apapun dia pergi tetap saja ia akan kembali pada kaisar,namun kali ini gadis itu tampak ragu.


Dia ragu apakah kaisar masih tetap akan menjaga hatinya setelah apa yang terjadi?bahkan sampai saat ini kaisar belum sama sekali mencari nya.


Jangan kan mencari menghubunginya pun dia tak pernah sama sekali.


Oke,ini bukan saat memikirkan semua itu.ini adalah resiko yang harus dia tanggung sendiri karna dia sendiri lah yang memutuskan itu semua bahkan dengan sepihak.


Gadis itu hanya tersenyum miris karna menyesal pun tak ada gunanya saat ini.dia hanya pasrah kepada tuhan apapun yang terjadi saat ini semoga itu yang terbaik.


"Sebaiknya telpon dia,jika kau benar benar merindukannya".Bariton suara itu menarik perhatiannya.


"Apakau tak bisa menge--?"Orang itu menyela cepat pembicaraanya,seakan sudah mengerti apa yang akan dia ucapkan.


"Kupikir kau sedang memikirkan hal erotis aku tak mau mengganggumu,kau lihat kurang baik apa aku ini".ujar nana dengan nada mengejeknya,dia menyombongkan diri nya seakan apa yang dia lakukan adalah hal yang benar.


Netih berdecih mendengar perkataan nana.itulah nana gadis tak tau malu dengan wajah tanpa dosanya.semua itu sudah melekat dan mendarah daging jika semua sifat itu hilang mungkin dia harus ganti nama.


"Ck,jangan samakan aku dengan dirimu dude".Cibir netih dengan wajah garang nya.


"Ya ya ya,aku lupa kalau kau itu adalah gadis yang polos.bahkan saking polos nya kau bahkan selalu tertipu dengan kata kata manis pria hidung belang".nana tergelak dengan wajah tanpa dosanya,dia mengatakan semua itu dengan enteng nya.


gadis itu sadar apa yang nana katakan benar dan sedikit menyentil hati nya.wajah yang tadinya garang kini berubah menjadi mendung bahkan mungkin sebentar lagi akan turun hujan air mata.


Oke,kali ini bukan waktu nya untuk mengajak nana beramah tamah karna netih sudah tau tidak akan ada ujung nya,ditambah lagi dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik.


Dia memilih mengalah dan menjadi waras kali ini,karna kalo dia membalas cibiran nana itu artinya dia sama gila nya dengan nana.


"ck,bukankah ini keputusanmu?ini kan yang kau inginkan?jangan mengeluh apalagi menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi saat ini karna kunci utama semua itu adalah dirimu sendiri.pikiran pendek dan sifat kekanakan mu lah yang membuat semua nya jadi rumit seperti ini.aku tau kau kecewa tapi seharusnya kau juga menggunakan otak mu untuk menjadi dewasa".kata kata menyakitkan itu keluar begitu saja dari mulut nana,ingin sekali rasanya netih menyumpal mulut nana dengan sepatunya.


Tapi gadis cantik itu sadar jika apa yang nana katakan semuanya benar.meskipun sangat menyakitkan.


"nana aku kira dengan aku pergi semua akan baik baik saja,aku tak menyangka jika semuanya akan serumit ini.gara gara keegoisanku aku harus kehilangan kaisar.nana apa dia akan kembali lagi padaku?"sorot mata indah itu menatap lekat sekeliling ruangan yang saat ini ia pijaki.


Nana sadar dengan apa yang telah dia ucapkan.dia tahu netih terluka,dia sengaja menjatuhkan nya karna jika tidak seperti netih tak akan pernah sadar akan kesalahannya.


Lihat karna pemikiran egois nya lah semua jadi rumit seperti,bahkan nana harus membatalkan semua pemotretan nya hanya untuk datang dan menemaninya ditempat ini.


Dan pada akhirnya dia sendiri lah yang harus menderita karna keegoisannya.


"kau lihat apa semua baik baik saja?kau pergi untuk lari dari masalah mu kan?kau marah padanya dan melampiaskan semuanya pada dirimu sendiri.kau lihat apa yang terjadi sekarang kau terbaring lemah disini dan membuat semua orang khawatir.kau hanya memikirkan kemarahan mu kau itu egois tak pernah memikirkan orang orang yang peduli padamu."nana melirik gadis disebelahnya mata nya tampak berkaca kaca dan siap mengeluarkan cairan kesakitanya.


Nana menghela nafas kasar sebenarnya dia juga sama terluka nya mengatakan semua itu.


"Aku tau aku egois aku minta maap,tapi kau bisa mengatakan semua itu karna kau tak ada diposisiku nana.aku sangat kecewa saat itu".


"dan aku tak perlu ada diposisi mu untuk merasakan semua itu.kesalahan terbesarmu adalah kau selalu menggunakan hati dalam menyesaikan masalahmu".


Sontak tangis nya pecah mendengar apa yang baru saja nana ucapkan,nana benar masalah akan semakin rumit jika kita menyelesaikan nya menggunakan hati dan bukan otak.


"Maaf".hanya satu kata itulah yang keluar di sela sela tangis nya.


Gadis cantik yang berprofesi sebagai super model itu menghembuskan nafas kasar lalu memeluknya.


"aku mengatakan semua itu bukan untuk menyakiti mu,aku hanya ingin kau sadar dimana letak kesalahan mu.sekarang kau tau kan jika keegoisan mu bukan hanya berakibat pada dirimu sendiri tapi orang lain juga ikut merasakan nya.termasuk orang orang yang peduli padamu".Nana mengusap lembut rambutnya,seolah netih saat ini adalah anak kecil yang sedang rapuh.


"Lalu aku harus apa nana?".Ucapnya disela tangis nya.


"Apa kau berani menemuinya dan meminta maaf padanya?".


Hening.


"Dengar jika kau memang mencintainya maka kesamping semua ego dan gengsi mu karna itu semua akan menghambat kebahagiaan mu.apa dengan kau berdiam diri seperti ini itu akan merubah keadaan?tidak bukan?".


Netih menggeleng kan kepala nya pertanda setuju dengan apa yang nana ucapkan.


"Aku akan meminta maap padanya nana,aku berjanji".gadis cantik itu membuka suara nya diiringi dengan senyum yang terpatri apik.