
Sesampainya di uks, intan mengambil P3K untuk mengobati luka di tangan syifa. Ia dengan telaten mengobati luka yang ada di tangan syifa.
"Lo gimana sih, biasanya juga lo ngelawan kenapa tadi diem aja sih kan gini jadinya tangan lo luka. Untung gue bisa nahan emosi gue kalo ga udah masuk rumah sakit tu orang" cerocos intan membuat telinga syifa panas mendengar ocehan intan.
"Bacot banget deh lo, yang kena juga gue kenapa lo yang heboh" kata syifa santai
"Ihhh.. gue kan khawatir sama lo apa gue ga boleh nge khawatirin sahabat gue sendiri. Liat lo begini walaupun lukanya cuma segitu tapi gue tetap khawatir sama lo. Apalagi lo punya masalah dengan keluarga lo dan gue sering liat muka lo penuh luka. Please, jangan maksa gue untuk ga khawatirin lo karena kalo lo luka sedikit pun sama aja gue berasa ga becus jaga sahabat gue ini" ucap intan sedih dan khawatir. Ya intan sudah mengenal syifa lama dari mereka kecil makanya ia selalu khawatir jika sahabatnya itu kenapa-napa. Ya walaupun syifa bisa bela diri tapi kalau ada luka walau itu kecil sama saja bukan bikin siapa saja khawatir.
"Hufttt... iya deh gue tau lo khawatirin gue tapi tenang aja gue bisa jaga diri gue sendiri lo kan tau gue udah biasa dapet luka kaya gini kadang juga lebih kan" ucap syifa miris dengan hidupnya.
"Jadi lo ga usah khawatir sama gue. insya allah gue bisa jaga diri" lanjut syifa dengan berusaha menenangkan intan
Intan menghela napas pelan, sahabatnya ini memang begitu keras kepala tapi dia salut kepadanya karena dia begitu kuat menghadapi masalah dengan keluarga nya, sekolahnya bahkan hidupnya sendiri. Mungkin jika dia yang mengalaminya ia bisa saja langsung bunuh diri karena tidak kuat menghadapi masalah yang begitu berat. Tapi syifa? dia begitu tegar dengan masalah yang ia hadapi.
"Iya intan, makasih banyak karena selama ini lo selalu ada di samping gue setiap duka maupun suka. Gue beruntung punya sahabat kaya lo. Dan gue minta sama lo, lo terus selalu ada di samping gue karena gue udah ga punya siapa-siapa lagi ya walaupun gue masih punya keluarga tapi gue merasa mereka ga pernah peduli sama gue" ucap syifa dengan memelankan kalimat terakhir
Memang, syifa tidak pernah dianggap oleh keluarganya. Ia selalu dikucilkan oleh keluarganya. Karena ia tidak bisa seperti sepupu perempuannya. Ia ingin menyalahkan sepupunya karena berani sekali mengambil semua apa yang ia miliki. Tapi ia sadar, ia juga tidak bisa seperti sepupunya itu. Makanya iya selalu sabar menghadapi keluarganya.
"Iya gue janji, gue selalu ada disamping lo karena lo sahabat terbaik yang gue punya" ucap intan tulus
Akhirnya mereka berdua berpelukan. Dan dilanjutkan dengan obrolan ringan. Sesekali mereka bercanda dan tertawa bersama. Tapi tanpa mereka sadari ada yang mendengar percakapan mereka berdua.
'ternyata dia punya masalah dengan keluarganya. Sampai-sampai temannya bilang kalau dia bisa lihat luka yang ada di tubuhnya. Gue jadi kepo deh'