Asyifa

Asyifa
Part 53



Sudah satu bulan syifa tinggal di kampung dan seminggu itu syifa dan zaki semakin dekat. Tapi syifa hanya menganggap zaki sebagai sahabatnya karena selama ini ia tinggal di kampung, zaki sering membantunya. Lain di zaki, ia tidak menganggap syifa sebagai teman atau pun sahabat. Kalian pasti tahu lah.


Zaki sudah menyimpan rasa sejak syifa tiba di kampung. Ia ingin memiliki syifa tapi ia sadar diri siapa dia dan siapa syifa. Tapi zaki bersyukur walau hanya dianggap sebagai sahabat itu sudah cukup. Zaki terus berdoa, berharap syifa adalah jodoh nya jika bukan ia akan menjaga jodoh orang dengan baik.


Sebenarnya syifa tahu kalau zaki menyimpan rasa untuknya. Tapi ia bersikap biasa saja. Takut jika ia bersikap berlebihan malah membuat zaki semakin berharap kepadanya. Ia juga sebenarnya nyaman dengan zaki.


Tapi entahlah ia menyukai zaki atau tidak itu urusan nanti.


Hari ini zaki sedang menemani syifa pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan yang syifa butuhkan. Mereka berdua sibuk memilih. Kadang terjadi perbedaan pendapat padahal syifa yang membutuhkan. Tapi zaki tidak ingin syifa memilih kebutuhannya salah.


Seperti memilih bahan makanan. Zaki benar-benar memilih bahan yang segar, sehat dan higienis. Karena zaki tidak ingin syifa salah memilih dan malah berakibat pada kesehatannya.


Banyak yang membicarakan mereka karena seperti seorang suami istri apalagi zaki yang terlihat benar-benar perhatian.


'ih itu suaminya perhatian banget sih'


'iya ya perhatian banget sama istrinya'


'aduh pasangan yang romantis ya jarang-jarang loh suami mau nemenin istrinya belanja'


'wah suami idaman'


'mereka kelihatannya masih muda ya'


'*cocok sekali mereka, yang satu cantik yang satu tampan pasti anaknya bakal lebih cantik / tampan dari mereka'


'emang ya kalau nikah muda itu bikin semua orang iri aja'


'iya benar, kadang yang udah tua nggak mau kalah sama yang muda*'


Dll.


Sebenarnya syifa risih tapi karena tidak ingin membuat keributan jadi ia hanya acuh. Berbeda dengan zaki, malah ia mengaminkan apa yang ibu-ibu bicarakan. Semoga syifa benar-benar jodohnya. Zaki melihat sepertinya syifa terlihat risih.


"Syif, udah belum? Kalau udah yuk pulang" yang dibalas anggukan. Setelah mereka selesai berbelanja, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


***


"Makasih ya zak udah mau temani aku untuk belanja"


"Dan maaf juga aku ngerepotin kamu terus" sungguh syifa sangat tidak enak pada zaki karena selama ini zaki lah yang membantunya.


Zaki tersenyum, "Santai aja lah syif kaya sama siapa aja. Kalau kamu lupa kata ibu, kita kan keluarga jadi harus saling membantu"


Syifa sungguh beruntung bertemu dengan keluarga sebaik keluarga zaki. Ia berutang budi pada keluarga zaki. Jika ia tidak bertemu mereka pasti sekarang syifa tidak akan betah tinggal di sini.


"Sekali lagi makasih ya zak"


"Iya sama-sama" tiba-tiba zaki mempunyai ide untuk nama panggilan mereka.


"Eh syif, boleh nggak kalau kita punya nama panggilan khusus" syifa mengernyitkan dahi sebelum ia mengangguk paham.


"Boleh kok"


"Aku manggil kamu yifa boleh?"


"Yifa?" tanya syifa bingung


"Iya yifa kan nama kamu syifa nah aku buang aja hurus depan kamu. Jadinya kan yifa" syifa berohria.


"Kalau kamu panggil aku apa?" zaki penasaran. Syifa tengah berfikir nama panggilan untuk zaki yang pas itu apa. Aha syifa menemukan nama panggilan yang pas untuk zaki.


"Em.. Kalau kiki gimana? Ya walau kelihatan kaya nama perempuan sih" zaki terdiam. Kiki ya?. Syifa berharap jika zaki tidak menolaknya. Cukup lama zaki diam dan itu membuat syifa was-was.


"Ya udah nggak papa kamu panggil aku kiki" syifa membulatkan matanya, zaki menerima nama panggilan yang ia buat. Tanpa sadar ia memeluk zaki.


Deg


Tubuh zaki mendadak kaku. Ia tidak tahu jika syifa akan memeluknya. Beberapa saat syifa tersadar dengan yang dia perbuat. Ia melepaskan pelukan nya lalu memalingkan wajahnya. Sungguh syifa sangat malu.


Zaki yang mengerti syifa malu hanya terkekeh geli. "Loh kok dilepas pelukan nya, padahal lama juga nggak papa kok" goda zaki yang membuat pipi syifa memerah.


"Loh itu pipinya kenapa kok merah?" zaki semakin gencar menggoda syifa. Syifa yang dirinya di goda terus-terusan membuat ia kesal.


Zaki tertawa puas akhirnya ia mengerjai Syifa. Ia sangat senang saat syifa kesal atau cemberut, karena menurutnya itu sangat lucu. Syifa yang merasa dipermainkan, menatap tajam zaki. Sedangkan yang ditatap hanya nyengir. Tanpa diduga syifa menggelitiki zaki. Zaki yang tidak siap untuk kabur pun tertawa kembali sembari memohon.


"Hahah ampun yif hahah ampun" syifa menghiraukan suara zaki. Ia terus menggelitiki zaki.


"Nih makan tuh. ****** nggak hah! Berani nya ngerjain orang! Makan tuh" syifa terus menggelitiki zaki tanpa ampun. Zaki terus memohon agar syifa berhenti.


Syifa yang tak tega pun memberhentikan aksinya. Ia menatap zaki yang sedang menetralkan nafas nya. Syifa berfikir apa ia keterlaluan? Sepertinya iya memang keterlaluan. Dan syifa menjadi merasa bersalah.


"Em zak... Aku.. Aku minta maaf, mungkin aku sudah keterlaluan" ucap syifa menundukkan kepalanya. Zaki masih mengatur nafas nya. Dirasa sudah normal, ia berjalan mendekati syifa. Syifa merasa zaki menghampirinya hanya pasrah. Mungkin ini balasannya karena sudah keterlaluan.


Langkah zaki semakin dekat dan jantung syifa berpacu sangat cepat. Zaki berhenti tepat di hadapan syifa. Ia mendekatkan tubuhnya. Syifa bisa merasakannya deru nafas zaki. Semakin dekat, dekat, dan..


"Hahaha ampun ki hahaha ampun. Lepas in tangan kamu hahaha dari aku hahaha" ternyata zaki membalas perbuatannya dengan menggelitik syifa.


"Nih balasan dari aku karena kamu tadi gelitiki aku tanpa ampun" zaki terus melancarkan aksinya dan syifa terus memohon. Dan akhirnya mereka berdua tertawa lepas.


Syifa merasa sangat bahagia selama satu bulan ini. Ia bahagia karena bertemu dengan orang seperti zaki apalagi dengan keluarganya. Zaki pun begitu, ia bersyukur karena tuhan mengirimkan sosok perempuan yang membuat hidupnya berwarna. Mereka berdua menikmati momen ini. Sebelum masalah menghampiri mereka berdua.


***


Berbeda dengan di jakarta atau tepatnya di sekolahan syifa. Terdapat seorang perempuan yang sedang galau karena ditinggal pergi oleh sahabatnya. Sudah satu bulan ini mereka jarang ber komunikasi.


Ia sempat berfikir apakah sahabatnya itu melupakannya atau mungkin sedang sibuk. Tapi seharusnya se sibuk apapun itu, setidaknya mengabari dirinya lah. Ah memikirkan itu membuat kepalanya pusing.


"Permisi, intan nya ada?" tanya seseorang pada siswa yang berada di kelas.


Semua siswa tidak ada yang menjawab malah mereka memandang orang itu dengan tatapan memuja. Bagaimana tidak seorang most wanted datang ke kelas mereka itu sungguh keajaiban.


"Ehem" deheman itu membuat mereka tersadar. "Eh.. intan ada kok"


"Dia dimana?" dingin orang itu. Farah yang kebetulan teman bangku mita pun menyenggol lengan intan membuat intan menatapnya.


"Ada apa"


"Itu ada yang nyariin lo" intan penasaran lalu menatap ke arah pintu.


Deg


'mama tolong in intan'


***