Asyifa

Asyifa
Part 61



Sudah satu bulan, lintang dan intan semakin dekat bahkan orang-orang mengira bahwa mereka berpacaran. Tapi mereka berdua tidak peduli dengan omongan orang-orang. Ya bagaimana tidak, mereka selalu kemana-mana bareng. Seperti anak ayam yang mengikuti induknya kemana pun.


Bahkan tak jarang jika lintang ada acara seperti kumpul bersama teman, acara keluarga, atau meminta bantuan pun selalu mengajak intan. Jadi, gimana tidak orang-orang menuduh mereka berpacaran atau memiliki hubungan serius.


Seperti saat ini, lintang sedang mengajak intan untuk menemani membeli belanjaan sang bunda.


"Kurang apalagi lin?"


"Em... Apa lagi ya, bentar" lintang mengecek nota yang diberikan oleh bunda nya.


"Oh ini kurang kecap"


"Terus sama apa? Sekalian biar nggak ribet"


"Sama--" ucapan lintang terhenti saat melihat apa yang kurang.


Intan menoleh, "Sama apa lin" lintang merasa lidahnya kelu. "Em... I-ini"


Intan menatap lintang aneh, ada apa dengan lintang? Mengapa sikapnya menjadi aneh.


"Sini gue lihat" lintang langsung memberikan nota nya kepada intan. Intan mengerutkan alisnya saat melihat apa yang kurang.


Lalu dilirik nya lintang dan lintang salah tingkah. Oh, jadi ini yang membuat dia aneh, pikir intan.


"Ap-apaan sih liatin gue" ucap lintang gugup.


Intan terkekeh melihat lintang gugup, menurutnya itu sangat lucu. "Nggak papa, emang nggak boleh kalau gue liatin lo"


"Y-ya nggak papa sih" lintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung ingin menjawab apa.


Intan tertawa, "Hahah... Ya sudah ayo kita selesaikan belanja nya" yang dibalas anggukan oleh lintang.


Lalu mereka segera menyelesaikan belanjaan yang kurang.


"Ini udah selesai kan?" tanya lintang.


"Kayanya udah deh"


"Ya udah kalau gitu kita ke kasir" mereka berjalan menuju kasir.


"Wah pacar nya ya mas" celetuk mba kasir.


Mereka berdua membulatkan matanya saat mendengar ucapan sang kasir.


"Eh bukan mba, ini bukan pacar saya. Saya sama pacar saya lagi ldr mba. Ini cuma teman saya." jelas lintang.


"Oh saya kira dia pacar mas, soalnya kalian cocok jadi sepasang kekasih." intan hanya tersenyum. Tapi tidak dengan lintang.


"Ye mba nya malah bilang cocok. Kalau cocok dalam artian 'sahabat' atau 'teman' si nggak papa." ketus lintang. Karena ia tidak suka saat ada yang bilang bahwa dirinya cocok dengan teman perempuan nya. Padahal dia juga sudah mengklaim seseorang.


"Lah kalau mas sudah punya pacar, kenapa malah jalan sama cewek lain? Wah, jangan-jangan mas nya selingkuh ya." tuduh mba kasir.


Lintang menatap tajam sang kasir, "Apaan sih kalau ngomong itu dijaga! Lagian dia hanya teman saya. Emang nggak boleh ya kalau saya pergi sama teman saya entah itu cewek, cowok, atau banci sekalipun? Itu hak-hak saya dong! Yang penting saya bisa menjaga hati saya untuk pacar saya!"


"Dan saya sebenarnya tidak suka saat anda bilang bahwa saya cocok dengan dia sebagai kekasih! Saya tekankan lagi saya.itu.sudah.punya.pacar! Jadi saya mohon tidak usah bicara yang tidak-tidak!" setelah mengucapkan itu, lintang langsung pergi sembari menahan rasa emosi yang ingin ia keluarkan.


Intan menatap lintang sejenak lalu beralih menatap penjaga kasir diam yang mungkin masih syok.


"Ehem... Jadi, semuanya berapa ya mba?" bisa dilihat penjaga kasir itu kaget saat intan membuka suara.


"Eh.. Total nya rp 350.000 mba" lalu intan mengeluarkan uang dalam dompetnya. Untung ia membawa uang kalau tidak tambah masalah nanti.


"Ini mba uang nya"


"Terima kasih mba. Semoga datang kembali"


"Sama-sama" sebelum pergi, intan mengatakan sesuatu.


"Nggak usah difikirkan. Dia memang suka begitu. Suka emosi an" ucap intan sambil tersenyum lalu pergi menyusul lintang yang mungkin sudah berada di dalam mobil.


Intan masuk dalam mobil dan ia melihat lintang yang kini tengah diam tapi bisa dilihat jika dia sedang menahan emosi.


"Sudah lah lin, nggak usah dipikirin kata penjaga kasir itu. Mungkin niat nya cuma bercanda." intan mencoba menenangkan lintang.


Tapi sayangnya bukannya reda tapi malah membuat lintang semakin emosi.


"Lo ngomong nggak usah dipikirin? Emang lo terima kalau lo di tuduh orang lain kalau lo selingkuh? Emang lo terima? Pasti nggak kan? Sama itu yang gue rasain."


Intan paham dengan ucapan lintang. Memang intan tahu, lintang tidak pernah menyakiti seseorang sekalipun itu perempuan tapi mungkin lintang lupa atau tidak tahu kalau dirinya sudah menyakiti hati seseorang. Entah lewat perkataan atau perbuatan.


"Ya udah tapi nggak usah pakai emosi juga dong. Nggak baik lo bawa mobil sambil emosi. Itu bisa bikin nyawa lo dalam bahaya apalagi kalau lo bawa orang. Lo mau masuk penjara, gara-gara udah ngilangin nyawa orang dengan cara bawa kendaraan kebut-kebuttan" perlahan lintang menetralkan emosinya. Benar kata intan, jika ia membawa mobil atau kendaraan lain dengan rasa emosi itu bisa membuat nyawa dirinya atau seseorang bahaya.


"Makasih ya tan, dan sorry soal tadi"


"Iya nggak papa kok, santai aja. Oh iya, gue minta lo sebisa mungkin kontrol emosi lo deh"


Lintang menghela nafas panjang, "Gue usahain"


"Nah gitu dong" ucap intan tersenyum yang dibalas juga dengan senyuman.


Lintang langsung menyalakan mobil nya dan melajukan mobil nya.


***


Mobil mereka berdua berhenti tepat di rumah intan.


"Makasih ya lin, udah mau anterin pulang"


"Seharusnya gue yang minta makasih karena lo udah mau bantuin gue"


"Sama-sama lin. Kita kan teman, jadi sudah seharusnya kita saling bantu"


"Hahah.. Iya benar"


'Iya kita cuma teman nggak lebih. Itu pun mustahil.' batin seseorang.


"Oke, sekali lagi makasih ya" intan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Intan membuka pintu mobil lalu turun dan tak lupa menutup pintu kembali.


"Kalau gitu gue duluan ya"


"Hati-hati ya lin" yang dibalas acungan jempol. Lalu tak lama mobil lintang pun melesat pergi. Meninggalkan intan yang menatap mobil lintang yang sulit di artikan.


***


Di lain tempat, terdapat sebuah rumah yang di bilang mewah tidak, di bilang jelek pun tidak. Di rumah itu sepertinya sedang ada rapat, tidak bukan rapat tapi semacam pertemuan antara keluarga.


Tapi tidak kedua belah pihak, hanya satu pihak. Mereka semua sedang duduk di ruang tv karena tidak ada ruang keluarga. Tapi itu tidak masalah bagi mereka yang terpenting kenyamanan satu sama lain.


"Bagaimana kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya seorang wanita paruh baya yang sudah berumur 40 an tapi masih tetap cantik pada gadis cantik dihadapan nya.


Gadis cantik itu menghela nafas panjang sesaat lalu tersenyum, "Yakin bu"


"Ya sudah kalau kamu yakin, ibu tidak maksa"


"Kapan nih nikah nya" celetuk seorang pemuda berumur 20 tahun yang berada di sebelah wanita paruh baya tadi.


"Ishh.. Kamu ini kalau tanya, kita aja belum mengadakan acara tunangan malah langsung nikah"


"Halah nggak usah pakai acara tunangan segala langsung nikah aja. Kan bisa mantap-mantap" kata pemuda itu yang langsung dijewer oleh seseorang.


"Aws... aduh aduh.. sakit woy"


"Apa hah! Mau bilang apa kamu?" lalu pemuda itu menatap ke arah pelaku dan saat melihat siapa sang pelaku dirinya hanya cengengesan tidak jelas.


"Heheh.. Enggak kok ma, willy nggak mau bilang apa-apa"


Semuanya hanya geleng-geleng kepala melihat adegan antara seorang ibu dengan anak itu. Lalu mereka tertawa bersama. Di ujung sana tanpa ada yang menyadari bahwa ada seseorang melihat mereka dengan tatapan sendu.


'Apakah ini semua sudah benar?'


***


Halo guys, hari ini aku up lagi yeyy!!! akhirnya aku bisa up setelah 1 mingguan kalau nggak salah. gimana nih ceritanya? semoga ceritanya tetap seru yah walau mungkin ada yang nggak nyambung heheh.


oh iya kalian jangan lupa tinggalkan jejak oke? entah itu vote, komen, like. dan jangan lupa kalian follow instagram mereka ya.


Syifa : syi.falaila


Lintang : lintangar_


yang lain menyusul. oke, byebye!!!