Asyifa

Asyifa
Part 29



Syifa terus berlari tanpa henti membuat ia menabrak orang yang sedang berjalan. Ia tidak memikirkan umpatan yang diberikan kepadanya. Yang ia pikirkan sekarang adalah ia ingin meluapkan semua perasaan yang ia pendam selama ini.


Ia terus berlari sampai ia sudah berada di depan pintu rooftop. Tanpa babibu ia langsung menendang pintu dengan kasar


Brakk


Lalu ia berjalan dan berdiri di dekat pembatas tembok.


Langsung saja ia berteriak


"GUE BENCI!!! GUE BENCI HIDUP!!! KENAPA GUE HIDUP KALO CUMA MENDAPAT PERLAKUAN TIDAK PANTAS!!! KENAPA GUE LAHIR!!! KENAPA NGGAK ADA SATUPUN ORANG YANG MAU MENERIMA GUE APA ADANYA!!! GUE BENCI KELUARGA GUE!!! GUE BENCIII!!!!" teriak syifa tanpa sadar air matanya turun deras.


"hikss kenapa hikss gue dilahirkan hikss kalau hikss cuman di hina hikss di perlakukan hikss tidak baik hikss KENAPAA" teriak syifa menangis histeris


Ia menjambak rambutnya, ia tidak peduli dengan penampilannya yang ia butuhkan sekarang adalah orang yang mau menjadi sandaran nya. tidak cuman itu, ia ingin memiliki orang yang selalu ada di sampingnya, menjadi bentengnya saat ia terluka atau sedih, atau menjaganya.


Tapi ia tidak mendapat orang yang seperti itu. Ayahnya yang sering kita sebut sebagai super hero nyatanya syifa tidak merasakan bahwa ayahnya seperti itu. Kakak nya pun sama, yang kata orang bahwa mempunyai kakak perempuan atau laki laki bisa menjadi tameng bagi kita, bisa bertukar cerita.


Apalagi seorang kakak laki laki yang seharusnya menjadi tameng, melindungi adiknya dari bahaya apapun, yang mau mendengar keluh kesah dari sang adik, yang mau memberikan semangat untuk adiknya. nyatanya ia juga tidak merasakan itu.


Tidak kakaknya, tidak ayahnya bahkan keluarganya pun tidak ada yang mau menjadi pelindungnya. Setidaknya mau mendengar keluh kesah saja sudah bersyukur.


Tapi syifa? ia tidak mendapatkan itu semua. Ia ingin pergi jauh sejauh jauhnya dari keluarganya. Tapi ia bisa berbuat apa? uang pun tidak punya.


Jadi ia hanya pasrah dan diam menerima semua kenyataan pahit ini.


Syifa masih menangis, tapi hanya sesenggukan tidak seperti tadi.


Tapi tanpa disadari, seseorang memgikuti syifa dari ia lari sampai ia berteriak dan menangis histeris.


Ia ingin mendekat lalu memeluk tubuh mungil itu, memberikan kekuatan dan mengatakan bahwa masih ada yang peduli padanya, menyayangi nya.


Tapi ia hanya laki laki pengecut yang tidak bisa melakukan itu.


Saat ia mendengar ucapan syifa, hatinya teriris seakan bisa merasakan apa yang syifa rasakan.


Apalagi saat syifa menangis membuat ia ingin sekali merengkuh tubuh kecilnya itu.


Tapi ia hanya bisa diam tanpa melakukan apa yang ia ingin lakukan.


Sungguh ia sangat ingin membawa gadis itu pergi jauh dan hidup berdua dengannya.


Dan sekali lagi ia hanya bisa melihat gadis itu.


'kumohon jangan menangis seperti itu. itu malah membuat hatiku sakit. dan maafkan aku yang tidak bisa memberikan kekuatan untuk mu. katakan saja aku laki laki pengecut. itu memang benar. tapi aku berjanji saat masalah ku selesai aku akan membawa mu pergi yang ingin kau inginkan. tunggulah aku' batin seseorang yang sedari tadi mengikuti syifa.


Karena tak kuat melihat syifa dengan kondisi seperti itu, lalu ia pergi meninggalkan syifa yang masih menangis di rooftop.


Skipp


Di dalam kelas, ada seorang perempuan yang sedang dilanda gelisah. Ia gelisah karena orang yang selama ini ia sudah anggap sebagai keluarganya tidak masuk.


Ia berkali kali menelfon orang itu. Lagi lagi yang ia dapat hanya operator. Ia juga sudah chat berkali kali tapi tidak mendapat respon.


Sungguh ia sangat khawatir. Ia takut jika terjadi apa apa. Jika memang terjadi sesuatu, ia akan sangat menyesal karena tidak bisa menjaga orang yang selalu menemaninya selama ini.


"Aduh lo dimana sih syif, gue khawatir tau" ucap perempuan itu yang tak lain adalah intan, sahabat syifa.


Intan khawatir kepada syifa, karena syifa tidak masuk sekolah. jika syifa sakit atau sedang ada acara lain pasti dia akan menghubungi intan.


Tapi ini? tidak ada kabar darinya. Apalagi tadi ia sempat menelfon bik inah atau pembantu syifa. Kata bik inah syifa sudah berangkat, tapi jika syifa sudah berangkat mengapa ia belum sampai? dan itu jelas sudah membuat intan tambah khawatir.


"Plisss syif, lo dimana" cemas intan.


Tak lama datang seseorang yang intan tunggu sedari tadi. Tapi tunggu? kenapa penampilannya acak acakan, dan kenapa matanya sembap atau jangan jangan ia habis menangis.


Sungguh itu membuat khawatir intan bertambah. saat syifa sudah duduk dibangkunya, langsung saja ia bertanya kepada syifa.


"Lo habis darimana? kok lama banget. tadi gue sempet telfon bik inah katanya lo udah berangkat tapi gue cek ke kelas lo, lo nya nggak ada. teruss itu kenapa penampilan lo acak acakan? dan kenapa juga mata lo sembap? lo ada masalah? cerita dong ke gue" cerocos intan tapi ia sangat khawatir


Syifa yang baru saja duduk, langsung menghadap sahabatnya itu. seketika ia tersenyum tipis.


Iya lupa masih ada sahabatnya yang masih setia berada di sampingnya.


Syifa bertekad akan melindungi sahabat satu satunya itu, ia tidak peduli jika nyawanya yang menjadi taruhan nya yang terpenting ia sudah membalas budi.


Intan yang melihat syifa tidak merespon ucapannya membuat ia tambah khawatir.


"Lo kenapa syif? kok diem aja? lo lagi ada masalah atau apa? kalo ada masalah cerita dong ke gue. jangan bikin gue tambah khawatir" panik intan


Syifa yang mendengar ucapan intan hanya terkekeh. intan yang melihat syifa terkekeh hanya merenggut kesal.


"Ishhh lo mah, malah ketawa. di tanyain malah nggak jawab. nggak tahu apa kalo gue khawatir. lo nya juga biasanya kalau ada apa apa pasti chat gue lah ini nggak gue kan takut lo kenapa napa. apalagi saat bik inah bilang lo udah berangkat tapi lo belum sampe kelas" ucap intan sedih+khawatir


Syifa yang melihat raut wajah intan, merasa kasihan dan merasa bersalah.


Kenapa ia begitu ceroboh. Ia lupa jika sahabatnya itu sangat peduli kepadanya.


"Iya iya gue minta maaf kalo gue nggak ngabarin lo. tadi gue ke rooftop cuman mau nenangin diri. gue bisa jaga diri kok, jadi lo nggak usah khawatir sama gue" ucap syifa


Intan menghela nafas pelan, "iya gue maafin, tapi janji ya lo kalau ada apa apa cerita ke gue jangan kek tadi" ucap intan


Syifa tersenyum, "iya gue janji kok. sekali lagi gue minta maaf" ucap syifa tulus


"Iya syif nggak papa kok" balas intan


"Oh iya ngomong ngomong kenapa lo di kelas gue? emang kelas lo nggak ada guru? atau jangan jangan lo bolos ya?" tuduh syifa


Intan yang mendengar tuduhan syifa hanya berdecak kesal, "apaan sih kok lo nuduh gue. gue disini ya karena gue nyariin lo dan kelas gue nggak ada gurunya karena semua guru lagi rapat" jawab intan kesal


"Hehehe.. ya maaf lah kan kirain lo bolos, kalo lo bolos gue ikut dong" ucap syifa menyengir


"Ck, itu mah lo nya yang emang mau" ketus intan


Syifa cengar cengir tidak jelas


"Ehh syif, temenin gue ke kantin yuk. gue laper nih" ucap intan


"Yaudah ayok"


Akhirnya mereka berdua keluar kelas dan menuju ke kantin.