Asyifa

Asyifa
Part 41



"BERHENTI MITA"


Sontak membuat seluruh siswa yang ada di kantin menatap ke arah seorang siswa yang berteriak termasuk mita.


Mita yang mengenal suara itu menegang.


"Abang" gumam mita


Seseorang itu berjalan cepat dengan menahan emosi yang ia tahan.


Plakk


Semua siswa tidak percaya apa yang dilakukan seseorang itu termasuk mita.


"Awsh.. Apa-apaan sih bang datang-datang lo nampar gue. Sakit tahu nggak" ringis mita. Ia sebenarnya sedikit tak percaya bahwa abang nya akan menampar nya.


"GUE UDAH BILANG JANGAN BULLY ORANG! APALAGI SEORANG NERD! LO TAHU DENGAN LO KAYA GINI MEMBUAT GUE SEMAKIN MUAK DENGAN KELAKUAN LO YANG KAYA SAMPAH!! bentak orang itu.


Mita kaget dengan bentakan abang nya. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya.


"Terserah gue mau ngapain. Mau bully orang kek mau bunuh orang kek itu terserah gue. Hak hak gue. Kenapa lo larang? Emang apa peduli lo sama gue? Emang lo pernah gitu peduli sama gue? Nggak kan? Malah nggak pernah sama sekali. Jangankan peduli, lo sayang sama gue aja nggak" jawab mita getir membuat orang yang ia panggil abang terdiam.


"Oh iya gue lupa lo kan sayangnya cuman sama adik kesayangan lo itu yang padahal hanya adik sepupu. Sedangkan adik kandungnya malah nggak dianggap. Miris banget hidup gue" ucap mita sambil menekankan kata adik kesayangan.


Semua murid langsung membicarakan mereka. Ada yang kasihan kepada mita, ada yang menghujat, ada yang menyalahkan orang itu.


"Ihh kasihan ya mita"


"Iya gue baru tau malah dia nggak dianggap adik oleh kakaknya"


"Alah paling dia ngedrama"


"Betul kan dia ratunya drama"


"Kakaknya **** milih orang lain daripada adik kandungnya"


"Orang kaya gitu nggak pantas disebut kakak"


"Cih drama murahan"


Orang itu yang sedari tadi diam entah menahan amarah atau yang lain akhirnya membuka suara.


"DIAM" bentak orang itu membuat siswa yang dari tadi mengkomentari langsung bungkam.


"Abang peringatkan sekali lagi kalau kamu ngebully orang lagi atau hal yang aneh. Abang benar-benar nggak anggap kamu adik abang selamanya!" setelah mengucapkan itu, ia langsung pergi meninggalkan mita yang menegang.


Tunggu, apakah mita tidak salah mendengar perkataan abangnya. Apa tadi? Jika ia membully orang lagi dia tidak akan dianggap adiknya lagi? Sungguh miris nasib mita.


Semua murid mulai meninggalkan kantin, kecuali mita. Ia masih berdiri dengan tangan yang mengepal. Dendamnya semakin bertambah. Ia tidak terima jika abangnya tidak akan menganggapnya lagi hanya karena sepupu sialan nya itu.


'Tunggu pembalasan gue syifa. Gue akan hancurin hidup lo! Gue ingin lo ngerasain apa yang gue rasain selama ini! Tunggu gue' batin mita.


***


Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu. Tapi masih ada beberapa siswa yang berada di sekolahan. Entah karena eskul, pelajaran tambahan, pacaran, dan lain-lain.


Seperti syifa dan intan mereka masih berada di kelas. Mereka sedang piket. Tidak, lebih tepatnya hanya intan yang piket. Syifa hanya duduk diam dengan pandangan kosong.


Ia masih memikirkan kejadian tadi di kantin. Ia tidak menyangka bahwa abang sepupunya juga bersekolah disini. Tapi yang ia pikirkan mengapa abangnya menampar mita? Memang kelakuan mita kelewatan karena membully orang apalagi seperti nerd.


Ia masih tidak percaya yang apa tadi ia lihat. Mulai dari abangnya juga sekolah disini lebih tepatnya abang sepupu, terus abangnya menampar mita, dan ancaman untuk mita yang tadi mengatakan bahwa abangnya tidak akan menganggap mita sebagai adiknya lagi membuat ia sedih.


Ia sedih karena pasti ini ulah syifa. Syifa tidak pernah mengambil perhatian mereka dari mita, ia bersikap sesuai dengan pribadinya. Tapi, mengapa mita malah membenci nya? Sungguh memikirkan masalah tadi membuat syifa pusing.


Intan yang sedang menjalankan tugas piket pun, sejenak memandang syifa. Intan tau apa yang sedang dipikirkan syifa pasti karena masalah tadi. Ia juga kaget melihat sepupu syifa yang ternyata sekolah disini.


Dirasa intan sudah selesai ia pun menghampiri syifa.


"Syif, yuk pulang. Gue udah selesai piketnya kok" ucap intan


Tak ada respon, membuat intan menghela nafas. Ia pun menepuk pundak syifa. Syifa yang sedang melamun pun kaget dan menatap intan bingung.


"Gue udah selesai, mau pulang nggak?" tanya intan


Syifa hanya mengangguk. Intan berusaha untuk bersabar. Akhirnya mereka berdua keluar dari kelas. Suasana canggung, karena intan yang tak tahan pun mencoba mencairkan.


"Ehmm... syif gue boleh nanya nggak? Kalau boleh sih" ucap intan


"Boleh kok, emang mau tanya apa?" jawab syifa yang bingung dengan tingkah sahabatnya ini. Biasanya intan ceplas-ceplos tapi hari ini kenapa aneh.


"Emmm..." intan ragu untuk menanyakan tentang sepupunya itu. Syifa yang tahu intan ragu ia coba meyakinkan intan.


"Huft.. Sebenarnya gue mau tanya kok bisa dia disini?" tanya intan meski ragu tapi ia tidak bisa menahan ke kepoannya.


Syifa sudah menduga hal akan itu.


"Gue juga nggak tahu syif. Kenapa bang reyga ada disini. Perasaan dia ada di bandung. Tapi tadi dia ada disini apalagi pakai baju seragam sekolah kaya kita" jawab syifa.


Dia juga bingung mengapa abangnya bisa ada disini. Ah sudahlah daripada ia pusing mending nanti ia tanya ke orangnya langsung.


Setelah intan bertanya seperti itu, mereka melanjutkan obrolan mereka sampai mereka berada di depan gerbang sekolah.


"Eh syif gue udah dijemput tuh. Gue duluan nggak papa nih atau lo bareng gue aja" ajak intan karena ia tidak meninggalkan syifa sendirian.


"Nggak papa tan lo duluan aja. Kan kita nggak searah. Kasihan dong supir lo. Udah nggak papa sana" tolak syifa karena tak ingin merepotkan.


"Bener nih nggak papa?" intan kurang yakin. Syifa menganggukan kepalanya pertanda iya tidak papa.


"Yaudah gue duluan ya, hati-hati kalo lo mau pulang. Kalau ada apa-apa kabarin gue ya" gini nih kalau sudah muncul sifat cerewet intan.


"Iya intan udah sana kasihan noh supir loh"


"Yaudah bye


"Bye"


Mobil intan pun akhirnya meninggalkan sekolahan. Tersisa syifa dan beberapa orang yang selesai ekstra.


Sudah 30 menit ia menunggu tapi ia tidak melihat angkutan umum atau bis lewat. Diliriknya jam tangannya sudah pukul 16:30.


Dia akhirnya membuka hp nya siapa tau ada yang bisa ia hubungi. Karena terlalu asyik dan dilanda panik ia tidak sadar bahwa ada motor yang berhenti di depannya.


Tin


Tin


Syifa yang tersadar mendengar suara klakson motor pun mendongak.


Deg


'Ehh kok dia ada disini' batin syifa


***


Hayo kira-kira siapa nih? Hihihi


Coba komen dibawah.


Penasaran kan? Makanya jangan lupa vote, like dan komen yaw biar aku semangat nih lanjutin ceritanya.