Asyifa

Asyifa
Part 49



Selama di perjalanan syifa hanya diam termenung memikirkan bagaimana nasib ia di kampung nanti. Memikirkan itu semua membuat kepala syifa pusing. Perjalanan masih jauh dan itu membuat syifa bosan. Lama kelamaan mata syifa memberat lalu tak sadar ia pun tertidur.


Mobil syifa pun berhenti karena sudah sampai di kampung. Pak udin selaku supir mobil jemputan syifa, membangunkan syifa yang tertidur pulas.


"Non, bangun ini sudah sampai" ucap pak udin sembari menepuk pelan pundak syifa.


Syifa merasa ada yang mengusik tidur nyenyak nya pun membuka mata.


"Eh ada bapak" kaget syifa saat sadar ternyata ada supir jemputan nya.


"Maaf non, anu itu sudah sampai di kampung" syifa pun langsung mengedarkan pandangannya dan betul ia sudah ada di kampung.


Syifa membuka pintu mobil tak lupa menutupnya. Ia melihat banyak orang yang menjalankan aktivitas. Ia menghirup udara segar tidak seperti di kota nya. Syifa melihat ada anak kecil yang berumur sekitar 5 tahun berlari ke arahnya. Lalu syifa pun berjongkok.


"Halo kakak cantik" sapa anak kecil itu dengan suara yang menggemaskan.


"Halo adik manis, nama kamu siapa nih" sahut syifa sembari mencubit pelan pipi chubby anak itu.


"Nama aku dinda kak, kalo nama kakak cantik siapa"


"Nama kakak syifa. Oh iya kamu ngapain kesini sendiri"


"Aku mau lihat kakak cantik sama mau jemput bapak" sontak syifa menengok ke arah belakang lebih tepatnya pak udin.


"Iya non, dia anak saya" ucap pak udin. Syia mengangguk paham


"Mari non saya antar" ucap Pak udin membawa koper syifa tapi langsung dicegat syifa.


"Biar aku aja pak" mengambil koper dari tangan pak udin. "Nggak papa nih non" syifa menjawab dengan anggukan.


Lalu mereka berjalan menuju ke rumah yang sudah disediakan untuk syifa. Selama di perjalanan, banyak yang menyapa syifa dan dibalas senyum oleh syifa.


Sesampainya mereka, pak udin langsung menyerahkan kunci rumahnya dan meminta maaf karena tidak bisa membantu membereskan barang-barangnya. Syifa pun memaklumi karena pasti pekerjaan pak udin sangat banyak. Lalu mereka pamit untuk pulang. Sebelum mereka pulang dinda - anak pak udin memberikan ia sebuah bunga dan syifa terima.


Dinda melambaikan tangannya yang dibalas juga oleh syifa. Lalu syifa menatap ke arah bangunan rumah yang terlihat sederhana. Sebelum masuk, ia menghela nafas dan menguatkan dirinya. Dibukalah pintu lalu syifa masuk dengan membawa koper tak lupa menutup pintunya kembali.


Syifa mengedarkan pandangannya menelusuri rumah itu. Sederhana tapi membuat ia nyaman dan itu yang membuat ia suka. Ia ingin sekali melihat isi rumah ini tapi karena dirinya sudah sangat lelah maka ia tunda.


Dengan langkah gontai sambil membawa koper ia menuju ke kamar. Dibukalah pintu kamar aroma wangi tercium oleh syifa. Syifa meletakkan kopernya lalu ia berjalan menelusuri kamarnya.


Syifa sangat suka dengan rumah ini karena ia bisa merasakan kenyamanan tidak seperti di jakarta. Syifa terdiam sejenak sebelum ia membulatkan matanya. Panik. Syifa belum mengabari intan kalau ia sudah tidak tinggal di jakarta. Dengan cepat ia mengambil ponsel nya, mmembuka aplikasi chat dan mengetik kontak intan.


Syifa


Tan, gue udah nggak tinggal di jakarta lagi. Sekarang gue tinggal di kampung. Sorry gue lupa ngasih tahu lo.


Setelah mengirim pesan, syifa berharap semoga sahabatnya tidak marah. Tak lama kemudian ponsel nya berbunyi.


Intan


Ish... Gue kira lo kemana kok tumben banget lo nggak masuk. Biasanya kan walaupun telat lo bakalan tetap masuk.


Syifa


Hehe iya maaf ya tan


Intan


Ya udah gue maafin. Eh tapi tadi lo bilang lo udah nggak di jakarta? Dan lo bilang sekaeang lo tinggal di kampung? Emang ada apa sih, kok bisa lo pindah.


Syifa


Intan


Oke. Tapi bener ya nanti lo cerita.


Awas aja kalau nggak cerita!


Syifa


Iya iya bawel banget deh


Syifa mengakhiri chat dengan intan. Diliriknya jam dinding di kamar syifa ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 10:00. Ia ingin beres-beres tapi tubuhnya sangat lelah. Masih pukul 10:00 tidak apa-apa kan ia beristirahat sebentar. Direbahkan lah tubuh syifa ke kasur. Karena memang sudah mengantuk berat akhirnya ia tertidur.


***


Di lain tempat yang tepatnya di sekolahan terdapat seorang laki-laki yang khawatir kepada seseorang. Ia sedari gelisah karena tidak melihat orang yang selama ini sudah mengisi hatinya. Tingkahnya itu membuat teman-temannya heran, apa yang menbuatnya gelisah.


"Lo kenapa sih dari tadi kita liat lo kaya gelisah banget. Ada apa sih?" tanya temannya.


"Iya, lo kenapa sih? Nggak biasanya tahu" ucap temannya yang lain.


Laki-laki ingin menjawab pertanyaan temannya, tapi ia takut jika ia akan ditertawakan. Ia terus didesak untuk menjawab, akhirnya mau mau tak mau ia menjawab. Bodo amat dengan reaksi temannya.


"Gue gelisah karena nggak lihat syifa dari tadi" ujarnya sukses membuat semua temannya melongo.


"Ini beneran kan teman kita" ucap vino kaget


"Sungguh kejadian langka" arka sungguh tak percaya. Lintang memutar bola malas dengan tingkah mereka.


"Nggak percaya juga nggak papa kok" ketus lintang membuat mereka cengengesan.


"Percaya kok lin, ya nggak guys" ucap vano yang dibalas anggukan temannya. Lintang hanya berdeham.


"Kalian dari tadi lihat syif nggak" tanya lintang pada temannya yang dijawab geleng.


Arka sedang berfikir, bebeb intan kan temannya syifa berarti dia tahu dong. Ia baru ingat dan tanpa sadar ia menggebrak meja membuat yang lain kaget.


"Apa-apaan sih lo gebrak meja. Ngagetin tahu" kesal vino


"Iya nih mana kenceng lagi" ucap vano


Sedangkan lintang hanya menatao datar arka dan yang ditatap hanya mengangkat jarinya membentuk peace.


"Em.. Ini kalian ingat nggak sama temannya syifa" yang dibalas anggukan.


"Nah kita coba aja tanya ke temannya" ucapan lintang membuat ia baru ingat tentang intan.


"Wih tumben bener lo pintar, biasanya juga **** mulu" sindir vino membuat teman-temannya tertawa kecuali arka yang kini tengah cemberut.


"Ih babang vino jahat deh sama dedek. Sakit nih hati dedek bang" alay arka yang lain mendengar arka mulai alay berpura-pura tidak dengar. Karena mereka malas melihat tingkah ketidakwarasan arka.


"Ih kalian kok nyuekin dedek sih. Apa yang kalian lakukan jahaddd" sebelum vano mengucapkan kalimatnya bel masuk pun berbunyi dan membuat vano mengurungkan niatnya.


***