Asyifa

Asyifa
Part 36



Bel masuk sudah berbunyi sejak 15 menit yang lalu tapi seorang perempuan masih tetap stay di rooftop tanpa mempedulikan bahwa sudah ada tanda bel.


Ia termenung mengingat ucapan papa nya tadi yang mengatakan bahwa kakak pertamanya akan pulang hari ini. Ia merasa sangat senang karena kakak yang ia sayangi dan ia rindukan akan pulang hari ini.


Siapa yang tidak senang? Orang yang kalian sayang, orang yang kalian tunggu-tunggu kehadirannya akan pulang.


Tapi sesaat ia merasa sedih karena ucapan papa nya yang bahwa ia tidak boleh mengadu ke kakaknya dan lebih parahnya lagi ia harus bersikap biasa saja seakan dirumah tidak terjadi apa apa.


Ia menghela nafas pelan , perlahan memejamkan matanya menikmati angin yang menerpa wajahnya.


Pintu rooftop terbuka menampakkan perempuan cantik tapi cerewet itu berjalan ke arah perempuan yang sedang duduk sambil memejamkan matanya


Dengan jalan yang sangat pelan takut mengganggu perempuan itu. Pelan tapi pasti akhirnya ia mendekati perempuan itu.


"Syif, lo ngga masuk ke kelas?" tanya perempuan itu yang tak lain adalah intan.


Yap, perempuan yang sedang menikmati hembusan angin itu adalah syifa.


Perlahan mata cantik nan indah itu membuka, lalu menatap lawan bicaranya.


"Nggak" singkat syifa


Intan menghela nafas sejenak, lalu ia ikut duduk di samping syifa.


"Lo ada masalah?" tanya intan


Syifa hanya diam tanpa membalas pertanyaan intan.


"Lo kalau ada masalah cerita sama gue, jangan di pendam sendiri. Gue nggak bermaksud ikut campur masalah lo tapi dengan adanya lo cerita ke gue beban lo akan sedikit terangkat. Jangan merasa lo sendiri syif ada gue disini, di samping lo" jeda intan lalu ia menghadap ke arah syifa yang menatap ke arah depan.


"Jangan merasa nggak ada yang sayang sama lo. Banyak kok yang sayang sama lo tapi lo merasa nggak ada satu pun orang yang sayang sama lo. Ada syif yaitu gue, bang edwin, bang aldi, bunda, ayah dan masij banyak lagi terutama lintang" ucap intan lalu tersenyum jahil ke arah syifa.


Syifa yang mendengar nama lintang sontak membuat pipi nya memanas dan salah tingkah.


"A-..apaan sih kok bawa nama dia" kesal syifa mencoba menutupi salah tingkah nya.


Intan mendengar ucapan syifa seketika ia tertawa terbahak.


"Hahaha.. Lo suka kan sama lintang, iya kan kan" ucap intan menggoda syifa


Syifa yang tak kuat intan menggoda nya lalu dengan cepat ia pergi meninggalkan intan yang masih menertawakan dirinya.


"Awas saja kau intan" umpat syifa.


Intan merasa dirinya ditinggal lalu mengejar syifa.


Skip


Sekarang mereka berdua sedang berada di kantin.


"Lo pesan makanan gih, gue pesan bakso sama es teh ya" ucap syifa yang sedang bermain game di ponsel nya.


Intan memutar bola malas, lalu ia pergi ke stand makanan.


Syifa terlalu asyik dengan bermain game nya tanpa sadar ada seseorang yang berada di depannya.


Orang itu berdehem namun syifa tidak menghiraukan.


Melihat syifa tidak merespon dirinya kesal.


"Ternyata game lebih menarik ya daripada gue" sindir orang itu.


Deg


Tatapan tajam yang diberikan dari orang yang di hadapan membuat lidah syifa kelu.


"E-emm... A-ada apa lin?" tanya syifa gugup


Kalian bisa menebaknya sendiri lah ya siapa orang itu.


"Emang game itu lebih menarik ya daripada gue sampai-sampai gue dikacangin" sindir pria itu yang tak lain lintang.


"Ehh.. Enggak kok" jawab syifa menggaruk rambutnya yang tak gatal.


"Halah buktinya aja gue dehem aja nggak nengok tuh" ketus lintang dan langsung saja ia duduk di dekat syifa.


Syifa meringis mendengar jawaban dari lintang. Memang jika ia sedang bermain game seakan dunia milik syifa seorang.


"Hehe.. Iya maafin gue ya" ucap syifa sambil mengeluarkan puppy eyes


Lintang yang melihat syifa seperti itu merasa gemas lalu tanpa sadar ia mencubit pipi gembul syifa.


"Ihh gue gemes deh" ucap lintang mencubit pipi syifa


"Aw-wshh.." ringis syifa


"Ihh lintang lepasin dong sakit ini" rengek syifa kepada lintang.


Lintang yang mendengar rengekan syifa malah membuat ia tambah gemas.


"Ulu ulu pipi ila cakit ya.. Cini cini lintang ium bial ga cakit" ucap lintang menirukan suara anak kecil sambil mencium pipi syifa


Mendapat perlakuan seperti itu dari lintang, sontak membuat pipi syifa memerah.


"Ehh kok pipi lo tambah merah? Lo kenapa? Lo sakit la?" ucap lintang polos atau lebih tepatnya pura pura polos.


Syifa yang mendengar ucapan lintang yang kelihatan dibuat polos membuat ia jengkel.


Melihat syifa jengkel, membuat lintang tertawa.


Tawa lintang membuat semua penghuni dikantin memandangnya. Mereka semua terpesona terutama untuk para siswi karena jarang sekali lintang yang terkenal dengan sikap dingin nya itu tertawa lepas.


Bahkan syifa saja terpesona akan tawa lepas dari lintang.


Lintang yang menyadari bahwa semua memandangnya berdehem.


"Apa liat liat hah?! Mau gue tusuk tu mata!" bentak lintang


Sontak membuat semua yang berada dikantin melanjutkan aktivitas nya.


Syifa masih memandang lintang tanpa berkedip membuat pikiran jahil memenuhi otak lintang.


"Iya gue tahu kalau gue ganteng kok. Nggak usah diliatin mulu nggak bakaln ilang kok gue" goda lintang.


Syifa mendengar ucapan lintang yang tengah menggodanya membuat ia tersadar lalu menatap tajam ke arah lintang yang masih menunjukkan wajah jahil nya.


"Paan sih nggak" ketus syifa mengalihkan pandangannya.


"Masa si-..." ucapan lintang terpotong oleh suara teriakan.


"OH TERNYATA KAMU DI BELAKANG AKU SELINGKUH YAAA"