
Setelah selesai menonton tv ia menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Sesekali ia bersenandung kecil tapi langkahnya berhenti karena mendengar percakapan seseorang di dalam kamar kakak nya.
Sebenarnya ia malas untuk menguping pembicaraan orang lain tapi saat ia mendengar namanya disebut membuat ia kepo.
"Bang, kita harus cepet cepet selesaikan masalah ini gue nggak mau adik gue syifa sedih terus apalagi gue tau dia bukan hanya hatinya yang sakit tapi mentalnya. Gue nggak mau terus-terusan kaya gini malah membuat syifa sakit terus" ucap helga kepada yugo
"Iya gue tau tapi kita nggak boleh gegabah el. Lo tau kan disini ada mita pasti dia juga bakalan ngawasin kita terus terutama mita. Gue tau selama ini mita bersandiwara saat dia salah tapi malah nyalahin syifa, dia juga merebut kepercayaan dan kasih sayang orang tua kita dari syifa kan?" ucapan yugo membuat helga diam.
Yugo menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Gue tau el, gue tau semua. Gue tau saat mama sama papa ngebentak syifa apalagi sampai main fisik. Gue tau, tau banget malah. Dan lo cuman diam tanpa ngebantu syifa. Saat gue tau lo nggak ngebantu disaat itu juga gue marah banget sama lo, sama mama papa dan diri gue sendiri. Kenapa? Karena gue nggak bisa ngelindungin adik gue yang paling gue sayang dari orang orang yang mau nyakitin dia"
"Gue benci sama diri gue sendiri, kenapa gue nggak bisa nolongin orang yang gue sayang. Gue pengin banget nyelesain masalah ini tapi sekali lagi kita nggak boleh gegabah el. Kalau kita gegabah mita bakalan nyakitin adik kita lebih dalam. Jadi abang mohon ya sabar tahan emosi kamu, abang yakin semua ini akan berakhir" ucap yugo
Helga menghela nafas kasar, "Tapi gue nggak akan maafin tu orang jika sedikit saja menggores tubuh adik ku walau hanya sedikit gue akan habisin tu orang. Gue nggak peduli dia keluarga gue, orang lain ataupun sahabat gue. Gue nggak peduli, yang gue pedulikan adalah adik gue" tekad helga
Yugo hanya mengangguk pelan. Terserah helga mau berbuat apa yang pasti adik kecilnya tidak terjadi apa apa.
Lalu mereka mengobrol biasa. Tanpa disadari adik kecil mereka mendengar semuanya.
Syifa mendengar semuanya, tanpa sadar air matanya keluar. Karena tak ingin membuat kakak nya curiga ia berlari ke kamarnya dan langsung menutup pintunya.
Ia terduduk di pintu dengan air matanya yang masih mengalir.
"hiks kenapa mita lakuin hiks hal jahat ke ifa hiks padahal dulu waktu kecil hiks ifa selalu baik hiks ke mita tapi kenapa sekarang hiks mita jahat ke ifa hiks ifa salah apa. Bang elga hiks ternyata sayang ke ifa hiks ifa kira abang nggak sayang sama ifa hiks karena sikap abang selama ini hiks yang cuek ke ifa hiks. Ternyata ifa salah hiks ifa sayang abang hiks sayang kalian berdua hiks makasih udah mau jagain ifa hiks ifa sayang kalian" syifa menghapus air matanya walau masih sesenggukan tapi tidak seperti tadi.
Ia berjalan ke arah meja belajarnya dan mengambil foto keluarganya.
Ia menatap foto itu dari mulai mama, papa, helga, yugo dan dirinya yang menampilkan senyum bahagia.
Air matanya yang tadi sempat berhenti kini malah terus mengalir, ia mengusap pelan foto itu dan memeluknya.
"Ifa hiks kangen sama kalian hiks walau kalian berada di sisi ifa hiks tapi kalian seperti hiks orang lain hiks tapi walaupun begitu hiks ifa tetep sayang kok hiks sama kalian ifa kangen sama kalian hiks" syifa terus menangis tanpa sadar ia tertidur sambil memegang foto keluarganya.
~~
Pagi hari yang cerah, cahaya matahari menyeruak memasuki celah jendela kamar seorang gadis yang masih tertidur nyenyak dalam selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya.
Alarm berbunyi dengan nyaring, tapi tidak mampu membangunkan tidur nyenyaknya. Terdengar suara ketukan dari luar kamar. Tak lama kemudian seorang pria yang terbilang masih muda muncul dari balik pintu, berjalan mendekati gadis itu sambil mematikan alarm.
"Princes, ayo bangun sudah pagi nanti kamu terlambat masuk sekolah" ucap pria itu sambil mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
Gadis itu menggeliat kecil diatas kasur nya dengan mata yang masih terpejam.
"Limat menit lagi yaa" gumam gadis itu
Pria itu yang gemas pun mencium seluruh wajah gadis yang masih setia terpejam.
Karena merasa ada yang mengganggunya ia pun terbangun.
"Hoammm... Siapa sih yang berani cium cium enak saja main cium. Ini juga jam berapa sih alarm nya juga nggak kedengaran" ucap gadis itu sambil mengucek matanya yang masih terasa ngantuk padahal alarm sudah berbunyi sejak tadi.
Pria itu yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
"Ini udah jam 6:20 sayang" mendengar hal itu membuat gadis itu terlonjak kaget dan lebih kagetnya ternyata ada orang di kamarnya.
"Ih abang ngapain disini. Kok nggak bangunin aku dari tadi sih" cemberut gadis itu kepada pria yang tak lain abang nya.
"Loh kirain abang kamu udah bangun, jadinya abang nggak bangunin kamu tapi pas abang mau ke kamar denger suara alarm dan itu suaranya dari kamar kamu. Jadi abang ke kamar kamu deh eh malah ternyata kamu masih molor padahal alarm nya bunyinya kenceng loh" jelas pria itu panjang lebar
Gadis itu berdecak sebal, lalu ia menuju ke kamar mandi.
"Bang yugo keluar sana aku mau mandi" teriak gadis itu yang ternyata syifa dan pria tadi adalah yugo.
"Lah mandi tinggal mandi kok repot" balas yugo santai
"IHH ABANG KELUAR NGGAK"
Yugo yang berhasil mengerjai adiknya tertawa puas. Lalu ia pergi dari kamar adiknya takut macan betina ngamuk. Tak lupa ia menutup pintu kamar adik nya.
Lalu ia turun untuk sarapan. Disana sudah ada orang tuanya, helga dan jangan lupa mita.
Melihat bocah tengik itu disana membuat ia malas.
"Pagi juga sayang/boy" balas mereka
"Pagi el"
"Pagi juga bang"
Yugo langsung duduk dan mengambil makanannya.
Mita melihat yugo tidak menyapanya pun kesal. Mama yang melihat mita kesal pun bertanya
"Kamu kenapa mit? Kok kesal?" tanya mama
"Ih itu ma masa bang yugo nggak nyapa aku sih" ucap mita memanyun kan bibirnya.
Yugo dan helga melihat itu membuat mereka ingin muntah.
"Kamu ini kok nggak sapa mita sih" ucap mama
"Aku lupa ma" balas yugo santai
"Kamu ini lain kali jangan diulangi ya"
"Iya ma"
Lalu mereka makan dengan hening sebelum ada suara yang memecahkan keheningan.
"Pagi kalian semua" sapa syifa lalu menuju ruang makan
"Pagi juga princes" balas yugo
Yang lain tidak ada yang menjawab membuat yugo heran.
"Kok kalian nggak bales sapa syifa sih?" tanya yugo
Mereka masih diam tidak ada yang menyahut. Syifa yang melihat itu hanya menghela nafas. Ia pasti sudah menduga ini akan terjadi. Karena sudah tidak mood untuk makan, akhirnya ia pamit untuk pergi ke sekolah.
"Yaudah aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum" pamit syifa
"Waalaikumsalam.. Eh dek nggak mau diantar abang nih? Atau kamu nggak nungguin elga kan kalian satu sekolah" ucap yugo
"Nggak usah bang aku bisa berangkat sendiri kok. Yaudah ya aku berangkat dulu bang" lalu syifa pergi meninggalkan meja makan.
"Ehm.. Aku juga berangkat sekolah dulu ma, pa, bang" helga langsung menyalimi orang tuanya.
"Iya hati hati ya sayang" ucap mama
Helga hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka.
Mita yang tak ingin berangkat seperti kemarin ia mengejar helga
"Yaudah aku juga betangkat ya.. Aku udah ditinggal bang helga nih.. Dahhh ma, pa, bang" ucap mita dan langsung menyusul helga.
Sekarang di meja makan tersisa yugo, dan kedua orang tuanya.
Yugo menghela nafas sejenak sebelum ingin bertanya kepada orang tuanya.
"Ma, pa sejak kapan kalian bersikap seperti itu kepada syifa?" tanya yugo
Orang tuanya diam. Bingung harus menjawab apa. Yugo berharap jawaban yang diberikan tidak sesuai yang dipikirkan.
"Kan kita lagi makan sayang, kamu tau kan kalo lagi makan nggak boleh ngomong" jawab mama yang sedikit masuk akal tapi ia yakin bukan ini alasannya. Tapi karena tak ingin membuat mereka jadi tak enak karena pertanyaannya membuat ia me ngurungkan nya.
"Yaudah ma, pa aku ke kamar dulu ya" pamit yugo
Mereka hanya mengangguk. Lalu yugo langsung saja pergi ke kamarnya untuk menenangkan pikirannya.
Sinta dan varrel - papanya syifa bertukar pandang sebelum mereka menghela nafas pelan.
"Kapan ini berakhir" gumam sinta, mama syifa.
"Berdoa saja ya" ucap varrel mengelus tangan sinta.