
Syifa mematung melihat siapa yang ada dihadapannya.
"Bang reyga" gumam syifa.
"Loh syifa kok belum pulang. Ini udah hampir malam loh dek. Nungguin siapa si?" tanya bang reyga kaget ternyata dia syifa adik sepupunya.
"Eh bang rey, em ini lagi nunggu bis tapi dari tadi nggak ada yang lewat. Mau hubungin bang yoga tapi nggak ada sinyal. Yaudah syifa pasrah" keluh syifa
"Yaudah mumpung ketemu sama abang mending abang anterin yuk. Nanti dicariin orang rumah loh. Kan pasti mereka khawatir sama anak perempuannya kok belum pulang. Pasti mereka berpikir macam-macam" reyga terus berbicara ia tidak memperhatikan raut wajah syifa yang berubah sendu.
'Mereka nggak bakalan khawatir sama syifa bang. Mereka kan benci sama syifa. Semenjak mita adik kandung abang tinggal di rumah' batin syifa
Reyga yang baru menyadari ekspresi syifa menjadi sendu membuat ia terheran. Ada apa dengan adik kesayangannya ini? Mengapa ia terlihat sedih? Apakah ia ada masalah? Atau karena dirinya?.
"Dek, kok kamu sedih? Ada apa? Cerita sini sama abang" ucap reyga khawatir
Syifa menatap lekat reyga. Ia ingin mengatakan jika selama ini ia tidak selalu bahagia. Hanya ada kesedihan, luka, kecewa. Ia juga ingin mengatakan bahwa adik kandung reyga lah yang membuat syifa tidak bahagia.
Tapi ia tidak ingin menambah masalah. Biarlah dirinya yang hanya merasakan. Jangan sampai orang yang ia sayang juga merasakan.
"Nggak papa bang, syifa hanya capek aja kok. Yaudah ayo bang anterin aku pulang" balas syifa
Meski masih tak percaya dengan jawaban adiknya tapi ia tidak akan memaksanya untuk cerita sekarang.
"Yaudah ayo"
Syifa langsung menaiki motor reyga. Merasa syifa sudah siap ia melajukan motornya.
Tanpa disadari ada seseorang yang melihat mereka sedari tadi.
"Sial. Kalah cepet lagi gue"
***
Motor yang mereka tumpangi akhirnya sampai di rumah syifa. Syifa turun dari motor reyga.
"Makasih ya bang kalau nggak ada abang pasti tadi syifa di sana sampai malam" ucap syifa
"Iya sama-sama. Lain kali kalau ada apa-apa hubungi abang ya. Pasti abang bantu kok" balas reyga tulus
"Iya bang. Em bang rey" reyga mengangkat alisnya menandakan 'apa'.
Reyga memandang syifa aneh, mengapa tidak jadi? Pasti ini ada apa-apanya. Tapi sekali lagi dia tidak ingin memaksa syifa untuk bercerita.
"Oh iya mau mampir nggak bang?" ajak syifa sambil mengalihkan pembicaraan.
"Lain kali aja ya dek, abang masih ada urusan. Maaf ya dek" tolak reyga tak enak. Sebenarnya ingin mampir tapi ia masih ada urusan.
"Nggak papa bang syifa paham kok" senyum syifa yang dibalas senyum juga oleh reyga. Ini yang ia suka dari sifat syifa.
"Yaudah kalau gitu, ingat pesan abang jangan tidur malam-malam. Kalau ada pr dikerjakan ya. Jangan begadang karena nggak baik untuk kesehatan, ok"
"Iya bang. Abang juga oke. Jaga kesehatan juga"
Reyga yang gemas pun mengacak rambut syifa. "Ih abang mah jadi berantakan kan" ucap syifa sebal.
Reyga hanya terkekeh lalu membenarkan rambut syifa kembali.
"Yaudah ya abang pergi dulu. Titip salam buat mereka yah"
"Iya bang rey. Salam juga buat ayah sama bunda ya"
Reyga menganggukkan kepalanya, lalu menyalakan motornya.
"Hati-hati bang"
Reyga mengacungkan jempol. Lalu ia melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumah syifa.
Syifa menatap punggung reyga yang perlahan menghilang. Ia menghela nafas sejenak sebelum ia masuk ke dalam rumah. Syifa membuka pintu dan langsung disuguhi pemandangan yang menyakitkan. Kalian pasti tahu lah.
Tidak ingin melihat terlalu lama, ia langsung pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Memandang langit-langit kamar ia memutar kembali dimana ketika ia waktu kecil masih bisa merasakan apa itu kebahagiaan.
Tanpa sadar ia tersenyum ketika mengingat dimana ia dulu bermain dengan kedua abangnya. Yang dimana kedua abangnya sangat jahil kepadanya. Tapi ia tidak maeah justru ia merasa bahagia. Tapi raut wajah syifa beruhah menjadi sendu tatkala mengingat ketika ia memasuki masa remaja.
Tidak ada kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Hanya ada kesedihan, kekecewaan yang mendalam. Itu semua karena mita yang tiba-tiba meminta tinggal di sini. Entah apa yang mita bilang kepada orang tuanya hingga membuat ia di benci, di pukul, di tampar bahkan abangnya pun juga ikut membencinya. Walau tidak sampai main fisik.
Syifa menghela nafas kasar mengingat semua itu membuat rasa kantuk menyerangnya. Tanpa sadar ia tertidur.
***