
"Eungh" suara lenguhan menyadarkan intan dari lamunannya. Ia mengangkat wajah dan bernafas lega akhirnya syifa sadar.
Dengan cepat ia memberikan teh hangat kepada syifa. "Ini diminum dulu syif" lalu syifa pun meminum teh hangat yang diberikan intan. Lalu ia meletakkan di atas meja.
"Em.. Tan, kok gue bisa ada di uks sih?" tanya syifa bingung
"Tadi lo pingsan saat lo jalani hukuman gara-gara lo telat" balas intan
Syifa hanya berohria menanggapi jawaban dari intan.
"Oh iya syif ini ada bubur titipan dari david dimakan ya. Juga lo jangan lupa kalau pagi itu sarapan nanti lo kena maag" ucap intan menyerahkan bubur dan juga obat.
Syifa mengambil mangkuk berisi bubur dari intan dan mulai menyantapnya. Walau enggan tapi ia harus menghargai david. Bubur yang ia makan habis lalu meletakkan di atas meja. Mengambil obat tanpa air ia langsung menelannya.
Intan melihat itu bergidik ngeri. Gimana rasanya minum obat tanpa air? Pasti itu sangat pahit. Syifa memandang intan aneh ada apa dengan dia?.
"Lo kenapa kok gitu ngeliatin gue?" heran syifa
"Eh.. Em nggak papa kok syif hehe" intan menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Oh.. Kirain lo kenapa" intan hanya nyengir bodoh.
"Lo udah mendingan kan? Yuk pulang soalnya udah bel" ajak intan
"Yuk"
Di koridor mereka mengobrol tentang bagaimana hubungan intan dengan erlan, hubungan dirinya dengan lintang, dan hal-hal yang tidak berfaedah.
"What! Erlan nembak lo? Terus lo terima nggak tuh?" kepo syifa
Intan mengangguk pelan sambil menyembunyikan pipi nya yang memerah.
"Cie... Jadi, sahabat gue ini udah nggak jomblo lagi dong. Cie" goda syifa menoel pipi intan malah membuat pipi nya bertambah merah.
"Hahaha cie pipi nya merah tuh" goda syifa lagi.
"Ih udah jangan goda gue lagi dong. Sekarang gue tanya si lintang udah nembak lo belum?" pertanyaan intan membuat syifa yang sedang tertawa menjadi diam.
"Kok diam? Wah jangan-jangan dia belum nembak lo ya? Atau dia belum menyatakan perasaannya sama lo nih?"
"Apaan sih kok malah bahas lintang. Udah yuk pulang keburu sore banget" ucap syifa mengalihkan pembicaraan.
Intan memicingkan mata curiga pada syifa. Syifa yang ditatap seperti itu berusaha untuk tetap tenang agar temannya tidak curiga.
"Ayo ih tan lama banget" tanpa menunggu jawaban intan, ia langsung menarik tangan intan.
***
Di sebuah ruangan terdapat seorang pria bertubuh tegap dan terkenal dengan ketegasan nya. Kini dia sedang duduk dengan memegang sebuah gelas berisi minuman bir sambil memandang foto seorang gadis cantik dengan senyum manisnya.
Diambilnya foto itu, dipandangi dengan penuh rindu dan diusapnya lembut.
"Sabar sweetie semua akan baik-baik saja. Dan tunggu aku kembali"
Lalu meletakkan kembali foto itu dengan bersamaan pintu terbuka. Muncullah sosok pria yang umurnya masih dibilang cukup muda itu menghampiri tuannya.
"Tuan, saya mendapat informasi bahwa gadis itu sedang dekat dengan seorang pria yang saya tahu namanya adalah lintang dan juga sepupu laki-lakinya telah kembali" jelas pria muda itu.
Pria yang dipanggil tuan itu mengangguk kepalanya. "Lalu ada lagi?"
"Ada tuan, sepupu perempuannya berencana akan menjebak gadis itu" jawab pria muda
"Kapan?"
"Besok malam di club? Menarik" pria itu tersenyum miring.
"Kau boleh pergi. Terus kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Kau awasi terus wanita itu dan juga awasi yang bernama lintang"
"Baik tuan" lalu ia pergi meninggalkan tuannya yang masih menampilkan senyum miringnya.
***
Di kamar terdapat seorang gadis dan seorang laki-laki. Mereka sedang bermain game di ponsel mereka masing-masing. Sedari tadi gadis itu terus mengumpat karena ia terus kalah dari laki-laki itu.
"Ih abang ngalah dong sama syifa. Masa dari tadi syifa kalah mulu sih" cemberut syifa
Laki-laki yang dipanggil abang terkekeh lalu mencubit gemas pipi gembul adiknya itu.
"Iya iya abang ngalah deh sama adik kecil abang daripada nanti nangis hahaha"
"Ih bang yugo mah. Aku nggak nangis ya"
Yugo yang tak kuat menahan tawanya akhirnya pecah. "Hahaha masa sih kamu nggak nangis. Dulu siapa ya kalau ditinggal abang sebentar aja udah nangis kejer hahaha" ejek yugo
Syifa memanyunkan bibirnya. Yugo yang sangat gemas dengan pipi adiknya itu pun mencubit dengan gemas.
"Awsh... Sakit bang. Woy lepasin tangan lo dari pipi gue" teriak syifa sambil berusaha melepaskan tangan abang nya dari pipi nya.
"Nggak mau ah gue gemas soalnya sama pipi lo" yugo semakin keras mencubit pipi nya.
"Abang!!!! Lepasin nggak tangan lo dari pipi gue atau gue akan aduin ke kak dila kalau abang punya selingkuhan" ancam syifa membuat yugo langsung melepaskan tangannya.
"Eh iya dek udah abang lepas tuh. Maafin abang ya dek tapi kamu jangan bilangin dila dong. Masa iya kamu tega sama abang sih" ucap yugo memelas. Ia tidak ingin dila tahu bahwa ia punya selingkuhan kan bisa berabe.
"Nggak mau maafin abang ah. Abang nakal sama aku. Aku mau aduin ke kak dila biar abang tahu rasa" ucap syifa sambil melipat tangan di depan dada.
'Sesekali ngerjain abang nggak papa dong hihi' batin syifa
"Yah dek jangan gitu dong. Ya udah kamu mau apa abang turutin deh"
"Beneran nih? Nggak bohong?" syifa memicingkan matanya untuk memastikan bahwa abang nya tidak berbohong. Meski ia tahu abang nya tidak pernah bohong. Tapi bisa saja kan?.
"Iya abang nggak bohong" pasrah sudah yugo tapi ia ingin adiknya itu bahagia jadi apapun ia akan lakukan.
"Yey!!! Oke kalau gitu aku nggak bilang ke kak dila padahal si aku nggak bakalan ngomong sama dia hahaha" yugo membulatkan matanya. Jadi, dirinya telah ditipu oleh adiknya? Wah tidak bisa dibiarkan ini.
Syifa masih dengan tertawa nya tidak menyadari bahwa abang nya akan balas dendam. Mari kita hitung
Satu
Dua
Ti
"Hahaha abang lepasin hahaha sakit bang hahaha ih abang woy hahaha" yugo terus menggelitik syifa tanpa ampun.
"Hahaha... Ampun, bang! Ampun! Hahaha"
Setelah itu, keduanya tertawa bersama. Menikmati momen yang sangat langka ini. Mereka berharap agar semuanya kembali seperti awal. Tidak ada kata kesedihan, kekecewaan hanya ada kebahagiaan. Ya semoga saja.
Tanpa sadar helga melihat semua itu. Helga bersyukur adiknya bisa tertawa lepas hanya karena yugo menggelitik nya. Dia berdoa semoga tidak ada masalah lagi yang datang ke keluarga mereka. Cukup masalah dengan bocah tengil itu yang kini mereka hadapi. Jangan sampai ada masalah besar lagi. Semoga.
***