Asyifa

Asyifa
Part 55



Sepulang sekolah, intan masih saja menangis. Perempuan itu menangis karena memikirkan sikap orang yang selama ini intan pikir tidak seperti yang lain. Laki-laki itu memang terkenal dengan sifat dingin, cuek, tapi jahil.


Banyak yang bilang dia itu anti dengan perempuan. Awalnya intan tidak percaya tapi karena penjelasan dari temannya bahwa memang dia paling anti dengan perempuan, sering bodo amat jika temannya membahas perempuan. Tapi katanya sudah berubah sejak dekat dengan intan. Sudah tidak cuek, sedikit hangat walau kadang masih tersimpan sifat dingin nya.


Intan yang waktu itu mendengar penjelasan sedikit tak percaya berarti dirinya yang pertama dong di hidup laki-laki itu dan perempuan pertama yang bisa mengubah sifatnya? Ia pikir ia perempuan yang paling beruntung bisa mencairkan sifat dingin laki-laki itu. Tapi itu ternyata salah besar, malah sekarang dengan dirinya sifatnya dingin sedangkan dengan perempuan lain justru kebalikannya.


Intan merasa kecewa, ia pikir laki-laki itu hanya akan menjadi hangat jika bersamanya, keluarganya, atau temannya. Tapi ia tepiskan pikiran itu yang tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan.


"hiks gue kira lo nggak kaya yang lain hiks. Gue pikir hiks lo akan berubah jika bersama hiks gue tapi gue salah hiks ternyata lo malah dingin ke gue tapi nggak hiks ke perempuan lain. Kalau gue pikir hiks nggak seharusnya gue mencintai lo jika pada akhirnya hiks gue nggak berarti di hidup lo hiks" intan terus menangis sesekali menekan dadanya karena ia merasa sesak.


Intan meraih ponsel nya lalu menatap layar ponsel nya dimana terpampang foto dirinya dengan laki-laki itu. Ditatap nya foto laki-laki itu dengan pandangan sendu.


"Maaf kalo gue selama ini nyusahin lo. Mungkin memang kita tidak ditakdirkan untuk bersama" gumam lirih intan.


"Mulai sekarang gue akan jauhi lo supaya gue nggak nyusahin lo lagi. Gue akan pergi dari kehidupan lo. Tapi ingat gue tetap sayang sama lo. Meskipun keadaan yang memaksa. Semoga bahagia"


Intan menghela nafas, mungkin ini jalan terbaik untuk mereka berdua. Ia seharusnya sudah sadar diri sedari awal. Mana mungkin laki-laki tampan, baik, kaya, pokoknya perfect bersanding dengan dirinya yang jauh dari kata sempurna. Cantik nggak, bisa nya nyusahin orang, mungkin itu yang membuat dia jauh.


Mungkin ini cukup berat bagi intan tapi jika dia berusaha tidak mungkin itu menjadi mudah kan? Ya ia akan mencoba melupakan laki-laki itu. Intan yang merasa lelah karena terlalu lama menangis akhirnya ia pun tertidur.


Tanpa sadar bahwa ada yang melihat intan dari awal ia menangis sampai bertekad untuk melupakan seseorang.


'Gue akan hancurin orang yang buat lo nangis. Tunggu pembalasan ku'


***


Berbeda dengan di daerah lain, seorang perempuan sedang sibuk memasak untuk tamu dan dirinya. Dengan lihai ia memasak seakan memasak itu hal mudah baginya. Di meja makan terdapat seorang laki-laki yang sedang menatap perempuan itu tanpa berkedip.


'Udah cocok nih jadi istri' batin orang itu yang tidak tahu bahwa perempuan itu mendengar batinnya.


'Apaan sih bahas istri' batin perempuan itu sedikit merona.


Setelah memasak sekitar 30 menit, ia menghidangkan makanannya di meja makan. Aroma masakan perempuan masuk ke indera penciuman laki-laki itu. Dilihatnya masakan perempuan itu kelihatan nya sangat enak sekali.


"Ini udah matang semuanya, coba dicicip masakan aku" tanya perempuan itu. Tanpa lama laki-laki itu mengambil ayam geprek yang dimasak oleh perempuan dihadapan nya. Ia mengambil satu sendok ayam geprek lalu mengarahkannya ke mulutnya.


"Gimana rasanya zak?" laki-laki yang dipanggil zak atau zaki itu terdiam sembari mengunyah. DAMN. Ini enak sekali, baru pertama kali ia memakan masakan dari perempuan selain ibu nya. Rasanya seperti sedang makan di restoran bintang 5.


Syifa menatap zaki cemas, ia gelisah karena sedari tadi zaki hanya diam. Ia takut jika masakannya tidak enak. Zaki menatapnya dan syifa menatap balik zaki dengan raut wajah penuh harap. Sebelum mengatakan, zaki menghela nafas dan itu membuat syifa semakin takut. Bagaimana jika masakannya tidak enak?. Kan bahaya jika tidak enak malah membuat anak orang sakit.


"Ini....." jeda zaki


Syifa menatap gemas zaki, "Ini.... INI ENAK BANGET YIF" sontak membuat syifa membulatkan matanya, sungguh ia tidak bermimpi kan? Syifa masih menatap zaki tidak percaya.


Syifa menghela nafas lega, ia pikir tidak enak tapi untung lah jika zaki menyukai nya. Lalu syifa ikut makan bersama zaki. Disela-sela makan, tiba-tiba zaki berceletuk.


"Kamu udah cocok jadi istri aku" ucap zaki membuat syifa tersedak. Zaki yang melihat syifa tersedak segera memberikan segelas air dan syifa menerimanya.


"Ka-kamu ngomong apa sih zak" ucap syifa gugup.


"Iya, kamu udah cocok jadi istri..." jeda zaki lalu mendekatkan wajahnya di telinga syifa, "jadi istri aku" tubuh syifa menegang. Setelah zaki mengatakan itu ia segera menjauhkan tubuhnya dan melanjutkan acara makannya yang tertunda. Bahkan sikapnya tenang seakan tidak terjadi apa-apa.


'dia beneran nggak sih ngomong kaya gitu. Kalau bohong kan sama aja dia php gue' batin syifa tanpa sadar. Syifa menatap zaki dengan lekat. Zaki yang merasa ditatap pun mendongak.


Deg


Pandangan mereka bertemu seakan terkunci tidak ada yang ingin memutuskan kontak mata. Mereka menikmati posisi seperti ini tapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


Tok


Tok


Terdengar suara ketukan pintu membuat mereka memutuskan kontak. Suasana menjadi canggung, karena syifa tidak tahan akhirnya ia saja yang membuka pintu.


"Aku lihat dulu ya siapa yang ketuk" yang dibalas anggukan. Lalu syifa segera pergi untuk melihat siapa yang bertamu. Syifa membuka pintu dan ternyata orang tua zaki.


"Eh ada ibu sama bapak, silahkan masuk" syifa mempersilakan mereka untuk masuk. Lalu menyuruh mereka untuk duduk.


"Mau minum apa pak, bu" tawar syifa.


"Eh nggak usah nduk, kita nggak mau ngerepotin kamu" kata bapak zaki


"Iya nak, nggak usah repot-repot kok" imbuh ibu zaki. Tapi syifa tetep kekeh menawarkan mereka ingin minum apa. Akhirnya mereka pasrah karena syifa ngotot. Syifa menuju ke dapur untuk mengambil minuman untuk mereka. Tak lama syifa kembali dengan membawa dua gelas jus.


"Ini bu, pak, jus nya diminum"


"Iya nduk, makasih" syifa menganggukkan kepalanya. Seketika teringat, ada apa mereka berdua kesini. Tumben sekali biasanya dia yang berkunjung ke rumah zaki.


"Em... ngomong-ngomong ada apa ya kalian ke sini?" syifa melihat orang tua zaki saling tukar pandang. Sebelum ibu membuka suara tiba-tiba dikagetkan dengan suara teriakan.


"SYIFA KAMU DIMANA"


***


sorry guys kalau ceritanya menurut kalian nggak jelas atau nggak nyanbung soalnya nih otak udah buntu mau bikin ceritanya kaya gimana. sorry ya guys :))