
Di sebuah taman terdapat seorang perempuan yang sedang duduk termenung. Ia menatap lurus dengan pandangan kosong. Ia masih tidak percaya dengan kejadian tadi.
Dimana seorang laki-laki yang ia anggap sahabatnya menemani ia di runah, lalu sepasang suami istri datang ke rumahnya dan memergoki mereka di rumah hanya berdua, tatapan kecewa dari seorang wanita paruh baya yang ia sudah anggap sebagai ibu nya sendiri dan ajakan konyol dari sahabatnya yang mengajak dirinya menikah.
Syifa masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh zaki. Seakan kejadian tadi seperti kaset rusak.
Flashback on
"Aku tahu cara menyelesaikan masalah ini dengan cara..." jeda zaki membuat syifa penasaran.
"Kita menikah"
Deg
Perkataan zaki membuat seluruh tubuh syifa membeku. Apa tadi, zaki mengajak dirinya menikah? Tidak salah? Ia kira menikah itu gampang apa? Syifa seakan tak percaya dengan ucapan konyol zaki pun bertanya.
"Menikah?" zaki mengangguk, "Iya kita menikah jadi kita nggak perlu mikirin soal ucapan ibu tadi dan kita juga udah sah bakalan lakuin apa aja"
Syifa membulatkan matanya, apa katanya? Enteng sekali dia menjawab, dia kira menikah itu hanya kata sah saja apa?.
"Kamu kira menikah itu gampang hah?!! Kamu kira menikah itu hanya kata sah lalu bebas melakukan apa saja?! Kalau kamu punya pikiran kaya gitu sudah dari dulu aku menikah kalau hanya ucapan sah! Lagipula aku masih ingin bersekolah" teriak syifa tidak terima dengan perkataan zaki.
Zaki terdiam, bukan begitu maksudnya.
"Bukan begitu maksud aku syif"
"Bukan maksud kamu gitu gimana hah?! Tadi kamu bilang kita nggak perlu mikirin ucapan ibu dan kalau sudah menikah kita bebas melakukan apa saja!? Kamu pikir menikah itu hanya terbebas dari perbuatan zina hah?! Kamu nggak mikir gimana nanti kebutuhan kita, apalagi kalau kita punya anak. Kalau kita nggak kerja, anak kita gimana sekolahnya terus mau makan apa kita nanti!" lagi dan lagi zaki dibuat diam. Ia diam karena bingung ingin bicara apa, ia takut salah bicara dan membuat syifa semakin marah.
Syifa melihat zaki diam tersenyum sinis. Ia paham maksud diamnya zaki.
"Kalau kamu pengin cepat-cepat nikah karena ingin bebas melakukan apa saja, silahkan nikah saja dengan yang lain lagu perempuan tidak hanya aku" setelah mengucapkan itu, syifa pergi meninggalkan zaki yang masih terdiam.
'Maafin aku syif'
Flashback off
Syifa menghembuskan nafas panjang, memijat kepalanya yang pusing memikirkan masalah yang tak henti-hentinya menghampirinya. Bukannya ia tidak mau menikah apalagi dengan zaki tapi ia masih ingin bersekolah sampai ia benar-benar sukses. Dan untuk zaki, ia hanya menganggap zaki sebagai sahabat karena selama ini hanya zaki yang menemani dirinya. Soal perasaan? Entah lah syifa belum tahu perasaannya kepada zaki lagipula ia sudah menyukai seseorang.
Terlalu fokus dengan pikirannya hingga tidak sadar jika ponsel nya sedari tadi berbunyi.
Drtt
Syifa mengalihkan pandangannya ke ponsel nya yang tergeletak di sampingnya. Lalu mengambil dan membuka siapa yang menghubunginya.
'Intan'
Ternyata intan yang menghubunginya. Ada apa intan menghubunginya tumben sekali, pikirnya. Tanpa menunggu lama ia membuka pesan dari intan.
Intan
Lo sibuk nggak?
Dahi syifa mengernyit, ada apa dengan sahabatnya ini jika ada masalah pasti langsung to the point. Karena kepo ia pun langsung membalas pesan intan.
Syifa
Nggak sih, ada apa emang nya?
Tumben banget lo, biasanya juga langsung ngomong.
Send.
Tidak ada balasan dari intan, lah kemana nih bocah? 5 menit kemudian ponsel syifa berbunyi.
Intan
Ya gue takutnya ganggu lo.
Syifa
Dih kaya sama siapa aja sih.
Syifa
Ada apa? Lo ada masalah? Sini cerita sama gue siapa tahu gue bisa bantu.
1 menit, 5 menit, bahkan sudah 10 menit intan tak kunjung membalas pesan syifa. Apa mungkin intan sudah tidur? Tapi tidak mungkin apalagi sekarang masih pukul 9 malam.
Ting
Suara ponsel syifa pertanda ada pesan.
Lintang di langit
Hai syif, apa kabar lo?
What?!! Lintang menghubungi dirinya? Tumben sekali ni anak.
Syifa
Hai juga, baik. Lo sendiri?
Tidak butuh waktu lama lintang membalas.
Lintang di langit
Gue lagi nggak baik.
Syifa mengernyit, lintang kenapa? Jangan-jangan dia lagi sakit. Tiba-tiba syifa menkadi panik.
Syifa
Lo kenapa?
Syifa
Lo lagi sakit?
Syifa
Sakit apa lin?
Syifa
Lin?
Drt
Syifa merasakan ponsel nya bergetar dengan gesit ia membuka.
Lintang di langit
Gue sakit syif
Syifa
What?!! Serius!!! Lo sakit apa lin?
Lintang di langit
Gue sakit rindu
Syifa
Sakit rindu? Emang ada? Jangan ngaco deh lo.
Lintang di langit
Iya gue sakit rindu. Rindu sama lo.
Lintang rindu dengan dirinya? Sontak membuat pipi syifa memanas.
Syifa
Ah ngaco deh lo. Mana mungkin lo kangen sama gue.
Lintang di langit
Nggak percaya ya udah, nggak maksa juga sih.
Apa lintang marah dengan dirinya?
Lintang di langit
Gue nggak marah sama lo
'Cenayang ya nih orang' batin syifa
Lintang di langit
Gue bukan cenayang
'what? Kok dia tahu sih. Wah jangan-jangan bener nih'
Lintang di langit
Udah gue bilang gue bukan cenayang.
Lintang di langit
Ah udah lah nggak penting, gue boleh telepon lo kan?
Syifa
Iya boleh
Tak lama kemudian ponsel syifa bergetar menandakan ada panggilan dari lintang. Lalu tanpa pikir panjang ia mengangkat.
'Halo'
'Eh halo lin'
'Lagi apa nih'
'Lagi duduk aja sih, kalau lo'
'Kalau gue sih lagi kangen sama seseorang'
Syifa terdiam, tapi setelah itu ia bicara.
'Wah iya? Kalau boleh tahu kangen sama siapa nih'
'Sama orang yang sekarang lagi jauh banget sama gue. Nggak tahu kapan dia balik'
'Emang nya orangnya kaya gimana sih?' entahlah syifa mendadak kepo.
'Ih kok kepo'
'Loh emang nggak boleh. Kalau nggak boleh ya udah sih' sewot syifa
Syifa bisa mendengar kekehan dari sana.
'Hahah boleh kok boleh' Syifa diam menunggu lintang melanjutkan ucapannya.
'Dia cantik, imut, pinter, penyabar ya gitu lah pokoknya. Anaknya gemesin deh. Makanya gue kangen dia'
Deg
'Jadi, gue udah nggak punya harapan nih?' batin syifa sendu. Pupus sudah harapannya. Yap, syifa memang menyukai lintang sejak awal mereka bertemu. Awalnya ia pikir itu hanya perasaannya saja tapi ternyata setelah ia dan lintang dekat rasa itu mulai tumbuh pada syifa. Syifa tidak terlalu berharap jika lintang juga memiliki rasa padanya. Tapi, apa salahnya kan jika kita juga mengharapkan seseorang yang kita suka juga suka balik kepada kita.
'Syif?'
'Eh iya lin, gimana?'
'Lo nggak mau tahu siapa namanya?'
'Em.. Emang boleh'
'Ya boleh lah'
'Kalau gitu siapa namanya'
'Namanya....' jeda lintang malah membuat syifa penasaran.
'Syifa'
***