
Di rooftop ada seorang laki-laki yang tengah duduk dengan menatap ke arah depan lebih tepatnya ia sedang melamun. Pikirannya kosong entah apa yang sedang ia pikirkan.
Lintang tidak percaya bahwa gadisnya pergi tanpa memberitahu dirinya. Tunggu, memang lintang siapanya syifa? Hanya sebatas teman tapi jika kita berusaha yang awalnya teman bisa berubah menjadi orang spesial kan?.
Lintang masih dengan pikirannya, tidak sadar jika sedari tadi ponsel nya berbunyi.
Drtt
Lintang tersadar dari lamunan nya, lalu mengambil ponsel nya di celananya. Matanya membulat melihat nama sang penelepon.
'My syifa' ya memang lintang sengaja menamainya itu agar orang yang melihat paham bahwa syifa adalah miliknya.
Dengan gesit ia mengangkat telepon dari orang yang selama ini berarti baginya.
"Halo syif" lintang tidak mendengar suara syifa.
"Syif"
"Eh ha-halo lin" lintang terkekeh mendengar suara syifa gugup.
"Iya ada apa syif telepon gue. Tumben banget, Kangen ya" goda lintang. Lintang yakin pipi syifa pasti memerah.
"Eh e-enggak kok siapa yang kangen sama lo juga. Geer banget jadi orang"
"Ah masa. Yakin nih nggak kangen gue" lintang menggoda syifa lagi.
"Au ah bete gue sama lo" kesal syifa membuat lintang terkekeh geli.
"Hahah iya deh, lo nggak kangen cuma gue yang kangen sama lo" hening. Tidak ada suara dari syifa. Lintang menjadi panik ia tidak ingin gadisnya terjadi sesuatu.
"Halo syif, lo masih di sana kan?"
"Em.. Iya lin" lintang menghela nafas lega. Syukurlah syifa tidak terjadi apa-apa.
"Syukurlah gue kira lo kenapa-napa"
"Enggak lin gue nggak papa kok" lalu mereka mengobrol seperti biasa. Terkadang lintang membuat lelucon agar syifa tertawa.
***
Saat ini syifa sedang suntuk karena ia sendirian tinggal di rumah ini. Tidak ada teman yang bisa ia ajak mengobrol. Sebenarnya ia ingin menghubungi intan tapi takut mengganggu. Tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba syifa rindu kepada lintang. Entah keberanian dari mana ia menelepon lintang dulu. Ia mengambil ponsel nya lalu mengetik nama lintang dan langsung menelepon.
Tidak diangkat atau mungkin ia sedang ada guru. Syifa menghela nafas kasar lalu ia mematikan teleponnya. Sebelum ia mematikan, tiba-tiba terdengar suara.
"Halo syif"
Deg
Tubuh syifa menegang, hatinya berdebar kencang. Itu suara lintang kan? Pikir syifa karena tak percaya lintang mengangkat telepon darinya. Padahal tadi ia sudah pasrah tapi ternyata tuhan mengerti bahwa ia merindukan seseorang yang sudah mengisi hari-harinya.
"Syif" suara lintang membuyarkan lamunan syifa.
"Eh ha-halo lin" sial. Kenapa ia gugup sih. Ia bisa mendengar di seberang lintang tertawa.
"Iya ada apa syif telepon gue. Tumben banget, Kangen ya" goda lintang membuat pipi syifa memanas. Untung lintang tidak ada di hadapannya.
"Eh e-enggak kok siapa yang kangen sama lo juga. Geer banget jadi orang"
"Ah masa. Yakin nih nggak kangen gue" lintang menggoda syifa lagi. DAMN! Pipi syifa tambah memerah dan itu semua gara-gara gombalan receh lintang.
"Au ah bete gue lama-lama sama lo" pura-pura kesal.
"Hahah iya deh, lo nggak kangen cuma gue yang kangen sama lo" syifa diam. Ia tak percaya bahwa lintang mengatakan seperti itu. Sebenarnya ia juga merindukan laki-laki itu makanya ia menelepon tapi ia gengsi untuk mengatakan hal itu. Jika ia bilang pasti ia akan di ledek.
"Halo syif, lo masih di sana kan?" syifa lalu tersadar. Ia bisa mendengar nada khawatir dari laki-laki itu.
"Em.. Iya lin" ia bisa mendengar lintang menghela nafas.
"Syukurlah gue kira lo kenapa-napa" ucapan lintang seperti lega, memang jika ia terjadi apa-apa lintang akan khawatir? Mustahil.
***
Syifa sedang bersiap-siap, karena ia ingin berjalan-jalan di sekitar kampung. Mungkin ia bisa mendapat teman agar ia nanti tidak bosan.
Dirasa selesai ia pun mengambil ponsel nya lalu pergi tak lupa ia mengunci pintu rumah. Ia berjalan santai sambil menyapa orang-orang yang berlalu lalang.
"Pagi bu" sapa syifa ramah pada ibu-ibu yang sedang menyapu.
"Eh pagi juga. Kamu orang baru ya disini?"
"Heheh iya bu saya baru di sini"
"Oh.. Lalu kamu mau kemana? Sendirian?"
"Mau jalan-jalan aja bu, bosan saya di rumah sendiri" ibu itu kaget sepertinya mendengar bahwa ia sendirian di sini.
"Kamu di sini sendiri?" tanya ibu itu yang dibalas anggukan.
"Emang kamu nggak takut nyasar? Apalagi kan kamu baru di sini"
"Ya semoga saja tidak lah bu" syifa terkekeh
"Oh iya ibu punya anak laki-laki siapa tahu mau menemani kamu daripada kamu sendirian kan"
"Eh nggak usah bu. Ngerepotin malah nanti" tolak syifa
"Udah nggak papa. Bentar ya ibu panggil kan dulu" lalu ibu itu masuk ke dalam rumahnya. Syifa menunggu sembari membuka ponsel nya.
Lalu ia melihat ibu tadi berjalan menghampirinya dengan diikuti seorang laki-laki yang pasti itu anaknya.
"Ini anak ibu" syifa hanya tersenyum.
"Nah kamu sana temani dia keliling soalnya dia orang baru. Ibu takut kalau dia nyasar" perintah ibu itu pada anaknya.
"Siap bu. Kalau orangnya cantik gini sih aku mau banget bu" goda laki-laki itu lalu ibunya mencubit anaknya membuat sang empu meringis.
"Ya udah bu kita pergi duluan takutnya keburu sore" ucap syifa
"Iya hati-hati ya kalian. Dan kamu jaga baik-baik anak orang" yang dibalas anaknya dengan gaya hormat membuat syifa terkekeh.
Lalu mereka berdua pamit, di jalan tidak ada yang membuka suara. Syifa sedang fokus melihat aktivitas orang di sini jadi. Sesekali syifa membalas sapaan mereka. Sedangkan laki-laki itu hanya diam sambil memandang syifa. Satu kata yang ada di pikiran laki laki itu, cantik. Ya jika dilihat-lihat syifa sangat cantik entah itu dari dalam maupun luar.
Laki-laki itu bingung ingin memulai percakapan seperti apa. Dan ia baru ingat bahwa mereka belum saling mengenal nama. Jadi laki-laki itu putuskan untuk bertanya.
"Em.. mbak, boleh kenalan nggak? Maksudnya kan kita baru pertama kali bertemu, masa kita dari tadi diam aja nggak ada ngobrol gitu" syifa yang sedang fokus pun kaget. Lalu menatap ke sampingnya. Ia baru sadar bahwa ia sedang tidak berjalan sendiri.
"Eh maaf mbak bukannya saya mau ngagetin mbak. Tapi saya bingung karena dari tadi kita hanya diam" syifa menjadi bersalah karena mendiamkan laki-laki itu.
"Nggak papa mas, malah saya yang minta maaf" maaf syifa
"Iya nggak papa mbak, oh iya jadi nama mbak siapa?"
"Nama saya syifa, kalau mas?"
"Saya zaki mbak" syifa mengangguk paham.
"Jadi mbak orang baru di sini" tanya zaki malah membuat syifa terkekeh. Zaki bingung mengapa syifa tertawa tapi ia malah terpesona dengan syifa.
"Kamu jangan kaku dong. Panggil aku syifa aja" zaki menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh heheh oke mb-eh syifa" lagi-lagi syifa terkekeh. Selama perjalanan mereka mengobrol dari dimana asal syifa tinggal, mengapa ia bisa pindah ke sini dan masih banyak lagi.
Syifa merasa nyaman saat mengobrol dengan zaki. Ia bisa melihat bahwa zaki orangnya ramah, baik, dan jangan lupakan bahwa ia jahil. Akhirnya ia mempunyai teman walaupun laki-laki tapi tidak masalah kan?.
***
wah jangan-jangan nanti syifa punya rasa nih sama zaki atau malah zaki yang ada rasa hihi.