Asyifa

Asyifa
Part 58



Pov Lintang


Hari ini gue bangun lebih awal dari biasanya. Gue nggak tahu kenapa gue terlihat sangat semangat banget. Atau mungkin karena efek gue teleponan sama syifa kali ya. Iya, tadi malam gue teleponan sama dia karena nggak tahu kenapa gue kangen banget ama tuh bocah. Ya walaupun tiap hari gue kangen sih tapi entah kenapa tadi malam tuh rasanya kangen banget.


Sampai-sampai gue teleponan sama dia pukul 01:00. Gila banget nggak tuh. Tapi ya namanya juga kangen kan pasti merasa seakan dunia milik sendiri eh berdua. Gue lagi ngaca melihat penampilan gue. Tambah tampan gue ternyata karena habis teleponan ama syifa. Ah lebay banget gue tapi gue nggak peduli yang penting gue cinta syifa eakkk.


Setelah gue merasa penampilan udah perfect, gue mengambil tas dan langsung turun untuk sarapan. Gue melihat udah ada malaikat yang sangat cantik dan gue sayang sedang menata makanan untuk sarapan keluarganya. Gue mendekati mama.


"Pagi ma" sapa gue mencium pipi mama dan gue langsung duduk.


"Eh abang.. Pagi juga bang" kaget mama membuat gue terkekeh karena melihat reaksi kaget mama.


"Tumben kamu udah bangun dan juga udah rapi aja apalagi muka kamu kelihatan bahagia banget, ada apa sih?"


"Lah emang nggak boleh kalau aku bangun pagi" ucap gue mengerucutkan bibir.


"Ya boleh lah bang, malah bagus itu. Jadi mama nggak perlu repot-repot capek keluarin suara emas mama" kata mama seperti menyindir gue tapi kayanya emang nyindir.


"Ih mama mah" rengek gue. Emang gue kalau udah ama orang terdekat terutama keluarga, sahabat, dan orang yang gue cinta, gue bakal jadi manja.


Sebelum mama menyahut tiba-tiba muncul seorang yang gue anggap sebagai super hero gue.


"Ada apa sih pagi-pagi kok udah ada drama" ucap papa menghampiri mama dan mengecup bibir mama sekilas.


'Apaan sih bikin orang iri aja' umpat kesal gue.


"Ehem... Inget, disini masih ada human ya. Tolong" sindir gue membuat orang tua gue terkekeh. Apanya yang lucu, pikir gue.


Lalu papa duduk di sebelah gue menatap gue antara senang, bingung, heran eh apa bedanya? Au ah intinya itu. Gue yang merasa risih pun protes.


"Ada apa sih pa, lihatin aku kaya gitu banget. Iya lintang tahu kalau lintang itu ganteng tapi nggak usah dilihatin terus dong" PD gue dan gue bisa lihat orang tua gue berlagak seperti orang muntah. Gue merenggut kesal, lalu pandangan gue mengarah kepada mama. Seketika terlintas ide jahil.


"Mama kenapa? Mama mual? Mama sakit kah?" tanya gue khawatir atau pura-pura khawatir.


"Ish.. Apaan sih bang, mama nggak papa kok" kesal mama. Gue menahan tawa, karena ingin menjahili orang tua gue maka gue lanjutin.


"Lah itu tadi mama kaya mual kalau bukan terus apa" mama tambah kesal.


"Kamu kenapa sih" tanya papa ke gue


"Lah itu papa nggak lihat kalau mama tadi mual. Ish.. Masa nggak lihat suami macam apa itu" sindir gue. Gue bisa melihat muka papa merah. Maafin anak mu ini yang ganteng ma, pa, batin gue.


"Apa kamu bilang" ucap papa marah.


"Lah papa nggak denger yang aku bilang? Wah.. Papa harus diperiksa nih telinganya takutnya udah nggak berfungsi" papa menatap tajam ke arah gue dan gue nggak masa bodo. Gue tetap menjalankan rencana gue.


"Ma, itu papa dibawa ke rumah sakit gih. Bawa ke THT takutnya pendengaran nya udah nggak berfungsi kan berabe nanti" gue bisa melihat papa mengepalkan tangannya.


"Sayang, nggak boleh gitu sama papa. Minta maaf gih" gue menggeleng pertanda tidak.


"Lah ngapain aku minta maaf? Kan yang aku bilang bener. Emang aku salah?" tanya gue sok polos.


"Lintang" geram papa. Waduh, bahaya nih si singa udah mau ngamuk. Kabur aja ah keburu singa ngamuk.


"Iya pa, ada apa? Eh papa denger kan apa yang aku bilang" jawab gue. Papa semakin menatap gue tajam. Oke baiklah, sepertinya gue harus pergi.


"Ah papa kelamaan. Ya udah aku berangkat dulu ya ma, pa. Dan bilang juga ke nisa kalau berangkat hati-hati"


Satu


Dua


Tig


"LINTANG ANAK DURHAKA KAMU" teriak papa menggelegar sampai-sampai gue yang udah diluar bisa denger suara cetar papa. Seketika gue tertawa terbahak. Pasti saat ini wajah papa sangat lucu.


Gue memberhentikan ketawa gue, dilirik jam tangan yang berada di tangan gue. Ternyata sudah pukul 06:30. Karena gue nggak mau telat ya walaupun waktunya masih banyak dan gue sering telat tapi sekali-kali kan gue jadi anak teladan.


Gue pergi ke garasi untuk mengambil motor. Lalu gue menaiki motor kesayangan gue. Gue menyalakan motor dan langsung tancap gas.


***


Setelah sekitar 15 menit, akhirnya gue sampai di sekolahan tercinta gue seperti gue cinta syifa eakk. Gue memarkirkan motor gue dan gue turun sambil melepaskan helm yang gue kenakan.


Gue berjalan santai memasuki kawasan sekolah dengan gaya cool dan tatapan datar. Banyak yang menatap gue memuja, berteriak histeris seperti melihat sesuatu yang sangat langka dan berharga. Iya gue tahu kok kalau gue ganteng tapi sorry hati gue udah ada yang punya.


'Kyaaa itu kak lintang semakin hari semakin ganteng'


'Lintang aku padamu'


'Ih kapan sih tuh muka nggak datar pasti kalau nggak datar tambah ganteng'


'Lintang, lo mau kan jadi pacar gue'


'Huaaaa pangeran gue'


'Nggak sia-sia gue datang pagi'


Dll.


Sudah biasa gue dengan teriakan mereka tapi gue hiraukan. Gue malas meladeni mereka karena pasti kalau gue ladenin pasti akan langsung menjadi-jadi. Gue terus berjalan, akhirnya gue sampai di kelas gue. Kosong. Gue heran kenapa masih kosong, lalu gue melihat jam menunjukkan pukul 06:55. Lah udah jam segini kenapa belum pada datang? Aneh. Karena gue malas mikir, gue taruh tas gue dan keluar dari kelas.


Bingung mau kemana gue, terlintas taman belakang sekolah. Gue pun berjalan menuju taman belakang. Sesampainya di taman, gue melangkah untuk mencari tempat duduk yang menurut gue nyaman.


Gue melihat ada pohon yang sepertinya enak untuk gue duduki. Akhirnya gue melangkahkan kaki menuju pohon itu. Tapi tiba-tiba langkah berhenti tatkala mendengar suara seseorang sedang menangis.


Gue merasa tangisan itu berasa dari balik pohon itu deh. Seketika gue merinding, tapi karena gue penasaran dengan sedikit penuh keberanian gue pun mendekati pohon itu.


Semakin dekat dan dekat, gue bisa melihat seseorang yang ternyata perempuan, rambutnya sedikit panjang dan ia terus menangis. Gue menelan ludah kasar, serius gue takut. Tapi kalau diteliti, perempuan itu memakai baju seragam seperti gue.


Sebelum gue mendekat, gue menghela nafas sejenak. Serasa sudah tenang, gue berjalan pelan ke arah perempuan itu. Gue berhenti tepat di belakang perempuan itu. Dengan tangan sedikit bergetar, gue menepuk pelan pundaknya. Dan gue bisa melihat, perempuan itu menegang dan perlahan menengok ke arah belakang lebih tepatnya ke arah gue.


Deg


Gue membulatkan mata, gue terkejut setelah tahu siapa perempuan itu.


"Li-lintang"


***


Sorry kalau semakin lama nggak jelas. udah mentok nih otak aku. sorry ya guys.