
Akhirnya ia perlahan membuka pintu, dan
PLAKKK
Pipinya terasa panas saat menerima tamparan dari pria paru baya yang tak lain adalah papa nya sendiri.
"KAMU DARI MANA SAJA HAH!!! BARU PULANG SAMPAI KAMU BASAH KUYUP!!! APALAGI KAMU PULANG SAMA LAKI LAKI!!! DIBAYAR BERAPA KAMU HAHH!!!" bentak papa syifa
Syifa yang mendengar ucapan papa nya pun tidak terima atas apa yang papa nya ucap
"Maksud papa apa? papa mengira bahwa aku itu kaya *******?!! aku masih punya rasa malu sama aku masih punya harga diri pah, aku ga seperti yang papa pikirkan" ucap syifa menangis
"HALAH KAMU ITU PASTI NGELES KAN?!! MANA ADA MALING NGAKU! APA UANG YANG PAPA BERIKAN MASIH KURANG UNTUK KAMU SEHINGGA KAMU JADI ******!!! KAMU EMANG ANAK TIDAK TAHU DIRI!!!!" bentak papa syifa lalu menampar pipi syifa keras dan membuat ujung bibir nya robek dan mengeluarkan darah
"Sudah lah pah, kamu ngomong panjang sama dia pun nggak pernah ia dengar malah hanya menguras tenaga kamu aja mas" ucap perempuan paru baya yang ada disamping papa nya yang tak lain adalah mama nya
"Benar kata kamu, percuma aku bilang ke anak nggak tahu diri ini. Yasudah lah ayo kita pergi" ajak papa kepada mama
"Ayo mas, aku juga udah muak lihat muka dia" sinis mama melihat wajah syifa
Mereka verdua akhirnya meninggalkan syifa yang saat ini sudah menangis histeris.
"Kenapa hidupku hiks seperti hiks ini hiks. Mengapa cobaan hiks yang kau berikan hiks kepadaku ini hiks sangat berat. Aku hiks sudah tidak tahan hiks dengan semua ini hiks. MENGAPA AKU DILAHIRKAN JIKA AKU DIPERLAKUKAN TIDAK ADIL SEPERTI INI" teriak syifa
Tanpa disadari ada yang melihat kejadian itu dari awal syifa ditampar sampai syifa menangis dan berteriak
'Maafkan abang dek, abang nggak bisa menjaga kamu dan melindungi kamu. Abang ngga bisa karena abang bukan berarti benci sama kamu tapi ada hal yang memang harus abang lakukan. Abang mohon jangan menangis karena abang nggak kuat lihat kamu seperti ini. maafkan abang nggak bisa ada di sisi kamu' batin seorang yang adalah abangnya syifa
Yaa syifa memang memiliki seorang dua kakak itu pun semua laki laki jadi ia perempuan sendiri di keluarganya. Kakak pertama syifa yang bernama Yugo Bramasta yang sangat menyayangi syifa, ia selalu melindungi adik kecilnya itu dari orang yang ingin melukainya bahkan ia tidak tega melihat adiknya itu terluka entah dari fisik maupun batin.
Kakak kedua syifa bernama Helga pramudya. Ia juga menyayangi syifa tapi sekarang ia harus rela berpura pura ikut membenci adiknya itu karena suatu alasan yang orang lain tidak mengetahui mengapa ia membenci adik sendiri.
Kakak pertama syifa, Yugo sekarang tidak berada di indonesia melainkan berada di luar negeri lebih tepatnya di Amerika. Yugo sedang melanjutkan pendidikan nya. Mengapa ia tidak mau di indonesia? karena ia ingin menambah pengalaman dan wawasan dengan kuliah di luar negeri walaupun ia tidak berada di indonesia tapi ia tau kondisi dirumah nya saat ini bagaimana, kondisi adik kecilnya itu bagaimana, ia tau karena ia mengirim mata mata untuk melihat keluarganya apakah ia mencelakakan adik perempuannya itu atau tidak.
Ternyata selama ini ia salah memilih kuliah di luar negeri. Karena ia membiarkan adiknya itu menderita yang dilakukan oleh keluarganya sendiri. Ia ingin pulang tapi ia tidak bisa dikarenakan kuliah nya yang sangat memberatkan ia untuk pulang ke indonesia. Jadi, ia hanya memantau kondisi adiknya itu lewat orang kepercayaannya.
Tanpa sadar air mata syifa turun. Lalu syifa menangis lalu dipeluk foto itu.
Elga yang kebetulan masih di depan pintu kamar syifa, mendengar semua curahan syifa dan wajahnya berubah sendu tatkala ia mendengar ucapan yang untuk dirinya karena ia tidak ada di sampingnya saat ia terluka
"Abang ada disini dek, abang selalu ada di sisi kamu tapi abang tidak berani menampakkan diri abang karena ada masalah yang harus abang selesaikan. jadi abang mohon bersabarlah, jika masalah ini selesai kita akan kembali seperti dulu" lirih Elga lalu berjalan meninggalkan syifa yang masih menangis itu.
Syifa tau kalau abang nya itu tadi melihat ia mencurahkan perasaan yang selama ini ia pendam dan ia juga mendengar ucapan yang abang nya itu ucap karena pendengaran syifa memang begitu tajam jadi walau ia sedang menangis pun ia juga bisa mendengar jika ada orang yang berbicara lirih
"Syifa tau bang ega tadi denger semuanya, syifa juga tau abang pura pura benci sama syifa tapi nggak papa syifa sudah terbiasa dengan semua ini" gumam syifa. Karena terlalu lama ia menangis hingga ia tidak sadar jika ia tertidur dengan posisi duduk sambil memegang foto.
Skipp
Alarm berbunyi sehingga membangunkan seorang gadis cantik dengan mata yang sedikit sembab dan rambut acak-acakan. Ia bangun lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan badan yang sangat lengket itu.
Tidak butuh waktu lama hanya 10 menit, syifa sudah keluar dari kamar mandi nya. Lalu ia membuka lemari pakaiannya dan menemukan baju tidur lalu ia pakai.
Setelah memakai bajunya, syifa keluar dari kamarnya karena ia sangat lapar dari pulang sekolah ia belum memakan apapun.
Syifa menuju dapur untuk mengambil makanannya, karena ia tidak mungkin makan bersama keluarganya.
Sebelum sampai dapur, suara seseorang membuat langkah syifa terhenti.
"Sayang, kamu jangan seperti anak tidak tahu diri itu ya, yang pulang sekolah telat terus bajunya basah pulang sama cowok pula. emang cowok mana yang mau sama anak tidak tahu diri itu. kamu jangan gitu ya sayang" sindir mama nya kepada seorang perempuan yang seumuran dengan syifa. Siapa lagi kalau bukan sepupunya.
"Iya mom, aku nggak gitu kok. aku masih punya harga diri dong nggak kaya si itu" ucap dia
Helga yang mendengar adiknya dihina pun merasa tidak terima. Ia ingin mencekik leher sepupunya itu tapi ia tidak bisa karena ia sedang menjalankan misinya. Elga hanya menghela nafas pelan. Kapan semua ini akan berakhir kasihan adik kecil ku. pikir helga
"Iya bener tuh, jangan kaya si itu. bukannya pulang sekolah langsung pulang eh malah kluyuran dulu sama cowok pula" ucap helga pura pura sinis kepada syifa. Elga harus menjalankan akting nya yang sebenarnya ia tidak mau tapi mau bagaimana lagi.
Syifa yang mendengar semua ucapan keluarganya untuk dirinya hanya bisa menghela nafas. Ia tidak memperdulikan ucapan mereka, lalu ia melanjutkan langkahnya menuju dapur.