
Kini helga dan yugo sedang berada di kamar yugo. Mereka masih tidak percaya dengan apa yang papa nya katakan. Bagaimana bisa orang tuanya terutama papa nya memutuskan sepihak tanpa ada diskusi.
Flashback on
"APA?!!!!" teriak mereka berdua.
Bagaimana tidak papa nya bilang akan mengirim syifa ke kampung dan hanya sendirian.
"Iya papa akan mengirim syifa ke kampung tapi dia hanya sendiri. Tidak di temani siapapun" ucap papa
"Kenapa harus syifa pa? Kenapa nggak aku aja? Lagian aku udah nggak sekolah, sedangkan syifa masih sekolah pa" ucap yugo
"Iya benar pa, kalau nggak aku aja deh. Lagian sebentar lagi aku hampir lulus jadi nggak perlu mikirin gimana sekolah aku" helga tidak terima jika syifa pindah ke bandung. Walaupun ia cuek, tapi jika sedang terjadi seperti ini mana ada seorang kakak yang tega.
"Nggak. Mama sama papa udah bahas ini. Kami sepakat untuk mengirim syifa ke kampung" ucap papa tetap dengan pendiriannya.
"Iya sayang, kami sudah membicarakan ini sebelumnya." jawab mama lembut
"Lagian dengan papa mengirimnya di sana pasti dia akan mandiri" tambah papa
Yugo membulatkan matanya, ia tidak salah dengar? Memang selama ini syifa tidak pernah mandiri. Padahal yang tidak pernah mandiri itu mita bukan syifa. Ah ia lupa kalau mita anak kebanggaan mereka. Yugo ingin memprotes tapi helga sudah dulu berbicara.
"Loh emang syifa selama ini nggak pernah mandiri? Setahu helga, dia mandiri terus. Nggak seperti anak kesayangan kalian itu" ucap helga yang bingung dengan perkataan papa nya dan memelankan kalimat terakhir.
DAMN! Ucapan helga membuat kedua orang tuanya diam tak berkutik. Memang yang diucapkan helga benar. Syifa memang selalu mandiri tapi pokoknya syifa harus tetap pindah, pikir mereka.
Yugo tersenyum senang dengan perkataan adiknya itu yang membuat orang tuanya bungkam. Keadaan menjadi hening.
"Pokoknya papa sama papa tetap mengirim syifa ke kampung!" ucap papa membuka percakapan.
"Nggak! Aku tetap nggak setuju! Apa-apaan ini kalian memutuskan tanpa bertanya dulu kepada kita. Itu sama saja tidak adil!" tolak yugo. Enak saja mereka memutuskan sepihak tanpa membicarakan dengan mereka berdua.
Papa bangkit dari duduknya, "Tidak ada penolakan! Sekali papa bilang tidak ya tidak! Jangan sekali-kali kalian membantah ucapan papa jika kalian tidak ingin papa macam-macam!" tegas papa
"Oh iya keberangkatan nya lusa" tambah papa lalu pergi meninggalkan mereka.
Mama menepuk pundak kedua putranya. "Sudah turuti saja perkataan papa mu" kata mama menyusul papa meninggalkan kedua anaknya yang kini tengah frustrasi.
"Sial! Bagaimana ini" umpat yugo
Helga hanya terdiam. Ia memikirkan bagaimana caranya agar papa nya itu membatalkan acara mengirim syifa ke kampung.
Flashback off
"Bagaimana ini bang, gue nggak mau kalau syifa jauh sama kita. Nanti kalau syifa di sana kenapa-napa gimana? Terus kalau di jahat in gimana?" cerocos helga panik
Mereka terus berfikir keras, bagaimana cara agar mereka bisa membatalkan ide konyol papa nya itu. Mereka masih terus berfikir tanpa menghiraukan adanya suara ketukan.
Tok
Tok
"ABANG!!! YUHU!!! BUKA IN PINTUNYA DONG!!! ABANG MASIH HIDUP KAN? BELUM IS DEAD KAN?!" teriak orang itu dari luar membuat mereka berhenti.
Yugo beranjak dari duduknya dengan wajah kesal. Siapa yang berani menggedor pintu kamarnya seenaknya terus ia juga bilang apakah dirinya masih hidup atau tidak. Dengan tidak sabar yugo melangkahkan kakinya lebar menuju pintu. Yugo sudah bersiap akan memarahi orang yang sudah seenaknya. Lalu ia pun membuka pintu.
Cklek
"Apaan sih teriak-teriak nggak jelas. Mau ngapain lo kes-..." ucapan yugo terhenti ketika ia melihat siapa yang ada di hadapannya.
Sekarang di hadapannya ada seorang gadis cantik dengan baju tidurnya yang berganbar doraemon kini tengah berdecak pinggang sembari menatap tajam ke arah nya.
"Abang lama banget sih buka pintunya. Pegal tahu nggak syifa nunggu in. Kaya lagi malam pertama aja abang buka pintunya" ucap syifa mengerucut kan bibirnya.
Yugo hanya menunjukan deretan giginya lalu mempersilakan syifa untuk masuk tak lupa ia menutup pintunya kembali. Sebelum menutup pintu, ia kembali mengingat perkataan syifa. Oh shit! Apa katanya tadi kaya sedang malam pertama?!. Dari mana pikiran itu berasal dari otak syifa.
Syifa dengan rasa kesal menyelimuti dirinya lalu ia mendudukkan tubuhnya di sofa tempat tadi yugo dan helga duduk.
"Bang, tahu nggak aku kesal banget tuh sama bang yugo. Masa aku ketuk-ketuk pintu nggak di buka-buka. Eh sekali buka malah orangnya cuma nyengir. Kesal nggak tuh bang kalau lo jadi gue" curhat syifa pada helga yang kebetulan ia masih duduk di situ.
Helga diam tidak menanggapi ocehan syifa. Ia terus memandang syifa yang terus mengoceh tanpa henti sesekali ia me manyun kan bibirnya dan itu membuat helga gemas. Ah kemana saja helga selama ini? Kenapa baru mengakui kalau adiknya ini menggemaskan malah sangat menggemaskan.
Syifa berhenti ketika ternyata helga terus menatapnya. Syifa tersenyum kikuk lalu memalingkan wajahnya karena malu kepada abang nya. Karena helga tak tahan dengan tingkah menggemaskan adiknya lalu ia mengacak-acak rambut syifa membuat sang empu kesal.
"Ih apa sih bang, malah acak-acak rambut aku. Lihat jadi berantakan nih" kesal syifa sembari membenarkan rambutnya.
Helga terkekeh kecil, lalu ia membenarkan kembali rambut syifa. Perlakuan kecil dari helga membuat syifa diam tapi tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Udah nih udah abang benarin. Udah nggak usah manyun gitu ah jadi jelek kamu. Terus nanti nggak ada yang suka sama kamu" ledek helga membuat syifa tambah memajukan bibirnya lalu helga mencubit gemas bibir syifa. Lalu terjadilah aksi cubit-cubitan sesekali mereka tertawa.
Di kejauhan yugo menatap mereka tersenyum lebih tepatnya senyum bahagia. Akhirnya mereka kembali akur walau ia tahu sebenarnya mereka tidak bertengkar tapi keadaan lah yang memaksa mereka.
Yugo kembali mengingat perkataan papa nya. Dia menghela nafas panjang, sungguh ia tidak ingin terpisah jauh dari adik kecilnya itu. Ia terus berdoa agar syifa selalu diberi kebahagiaan dan dijauhkan dari segala masalah. Lalu yugo ikut bergabung dengan mereka. Mereka terus tertawa, bercanda ria, jahil meski syifa akan merajuk tapi itu malah membuat mereka terus tertawa bersama.
Dalam hati, mereka meminta agar terus seperti ini. Tidak ada kata sedih yang ada hanyalah kebahagiaan tapi tidak ada yang tahu kan kapan masalah akan menyerang ke kehidupan kita. Dan kita sebagai manusia harus mesti tetap terus bersabar, berdoa kepada tuhan agar kita selalu dilindungi.
***